::: NU Online memasuki hari lahir ke-14 pada 11 Juli 2017. Semoga tambah berkah! ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Khofifah Tekankan Aspek Spiritual Masuk dalam Semua Mata Pelajaran

Senin, 17 Juli 2017 17:00 Nasional

Bagikan

Khofifah Tekankan Aspek Spiritual Masuk dalam Semua Mata Pelajaran
Jakarta, NU Online
Ketua Pimpinan Pusat Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa menjelaskan, seharusnya aspek spiritualitas bisa diajarkan di dalam semua mata pelajaran, termasuk di dalam pelajaran ilmu-ilmu umum seperti matematika, fisika, kimia, dan lainnya agar mereka memiliki semangat nasionalisme dan memiliki pemahaman yang baik tentang hubungan antara agama dan negara. Namun demikian, ia menyadari bahwa hal itu masih belum begitu diperhatikan oleh para tenaga pengajar.

Sejauh ini ada beberapa hasil survei yang menyatakan bahwa ada sekitar empat persen siswa sekolah yang anti-Pancasila. Oleh karena itu, Khofifah berharap, siapapun tidak menganggap enteng hasil survei tersebut. 

“Ada (hasil survei dari) SMRC, ada Wahid Institute, ada Setara, ada penelitian Kemenag, ada UIN. Ini sudah cukup menjadikan kita mempertimbangan dari format proses pendidikan terutama di SMP, SMPA, dan perguruan tinggi yang bisa mengintegrasikan berbagai macam bidang studi dengan format bangunan nasionalisme,” urainya.

Khofifah menekankan, seharusnya format NKRI, Pancasila, dan cinta tanah air menjadi satu kesatuan di dalam proses belajar mengajar di sekolah-sekolah. 

Ia menilai, selama ini proses pengajaran kita masih belum sepenuhnya terintegrasi antara satu mata pelajaran dengan nilai-nilai spiritualitas. Ia mencontohkan, seorang guru yang mengajar pelajaran Matematika hanya akan mengajar Matematika saja tanpa disusupi dengan nilai-nilai spiritualitas.

“Kita tidak mengaitkan pada saat anak-anak diajari Matematika, Fisika, Kimia, dan lainnya, pada saat yang sama aspek spiritualitas seharusnya sudah dibangun. Anak-anak harus mendapatkan guru yang bisa mensinergikan bagaimana hubungan antara agama dan negara,” jelasnya.

Ia mengakui, guru yang memiliki kualifikasi sebagaimana yang disebutkan di atas tidak lah banyak. Namun demikian, ia yakin guru yang memiliki kompetensi yang integral tersebut akan memadahi kalau mereka diberikan pelatihan pendidikan dan kependidikan terkait hal tersebut.

Perempuan yang kini menjabat sebagai Menteri Sosial ini menyebutkan, sistem pendidikan yang berintegrasi bisa menjadi contoh dalam membuat sistem pendidikan yang integral. “Misalnya seperti ini, kalau guru mengajar tentang gravitasi. Kalau integrated system, kenapa ada gravitasi bumi? Karena di situ ada kekuatan Allah,” katanya. (Muchlishon Rochmat/Zunus)