IMG-LOGO
Pesantren

Menteri Khofifah Dorong Pesantren Perangi Narkoba

Ahad 23 Juli 2017 21:26 WIB
Bagikan:
Menteri Khofifah Dorong Pesantren Perangi Narkoba
Mojokerto, NU Online
Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mendorong kepada pesantren yang ada di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur untuk bersama-sama memerangi bahaya narkoba yang saat ini sudah cukup meresahkan.

"Kewaspadaan harus terus ditingkatkan, mulai dari lingkungan yang paling kecil seperti dari lingkungan keluarga, termasuk juga dari pesantren ini," katanya sebagaimana dilaporkan Antaranews.com saat mengunjungi Pondok Pesantren Ummul Muminin di Mojokerto, Jawa Timur, Ahad (23/7).

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU itu mengemukakan, perlindungan keluarga terhadap bahaya narkoba memang harus terus dilakukan dan jangan sampai lengah.

"Jangan sampai masyarakat lengah, kemudian setelah kebobolan baru kemudian bergerak lagi," ujarnya.

Menurutnya, sekitar tiga tahun yang lalu terdapat narkoba jenis baru yakni berupa sabu-sabu berjenis crocodile di mana penggunanya akan mengalami hal-hal yang cukup mengerikan," katanya.

Salah satunya, kata dia, ujung jari dari penggunanya ini akan mengalami kehitaman kemudian terlepas dengan sendirinya.

"Begitu juga dengan tulang-tulangnya juga akan mengalami kehitaman, kering dan akhirnya akan terlepas sendiri," ucapnya.

Dari data yang ada, kata dia, saat ini terdapat 40 sampai dengan 50 orang per harinya yang meninggal dunia akibat mengkonsumsi narkoba.

"Saat ini terdapat 5,9 juta yang terindikasi sebagai pengguna narkoba dari jumlah tersebut terdapat pengguna aktif dan juga pengguna yang menjadi korban penyalahgunaan narkoba," ujarnya.

Dalam kesempatan itu dirinya mengatakan, saat ini terorisme adalah bukan mereka yang membawa senjata atau juga membawa bom.

"Tetapi narkoba juga merupakan teror yang cukup luar biasa, karena membuat orang menjadi ketagihan, dan setelah ketagihan orang tersebut akan meninggal dunia," ujarnya.

Selama kunjungannya ke Mojokerto dirinya juga menyempatkan diri untuk memberikan bantuan nontunai program keluarga harapan di Kabupaten Mojokerto. (Red: Abdullah Alawi)

Bagikan:
Jumat 21 Juli 2017 23:0 WIB
Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Kukuhkan 34 Tuanku
Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Kukuhkan 34 Tuanku
Padangpariaman, NU Online
Sebanyak 34 tuanku dikukuhkan Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Pakandangan, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Selain itu, juga diberikan ijazah kelulusan kepada 111 tamatan pondok pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan tingkat tsanawiyah, Bustanul Muhaqqiqin (Ma’had A’ly) sebanyak 5 orang. 

Demikian disampaikan Ketua Yayasan Pendidikan Imraniyah Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Idarussalam Tuanku Sutan, Rabu (19/7/2017) di komplek Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan. Pengukuhan gelar tuanku sekaligus peringatan manyaratuih (seratus) hari wafatnya pendiri Ponpes Nurul Yaqin Ringan-Ringan Abuya Syekh H. Ali Imran Hasan.

Tuanku yang dihasilkan Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan, merupakan kader ulama yang memiliki kemampuan menggali sumber-sumber hukum dan ajaran Islam dari berbagai literatur   klasik yang dikenal dengan kitab kuning. “Santri di Ponpes Nurul Yaqin Ringan-Ringan dibekali dengan pengetahuan dan kemampuan membaca kitab kuning yang banyak ditulis oleh ulama-ulama terdahulu yang hingga kini isinya masih relevan,” kata Idarussalam.

Menurut Idarussalam, ada tiga kompetensi yang dimiliki Nurul Yaqin diajarkan kepada santrinya. Pertama, keilmuan yakni ilmu kitab sebanyak 16 bidang. Kedua, skill, yakni kemampuan yang dimiliki santri yang diperlukan dalam kehidupan keseharian di masyarakat. Dimana santri bisa berdoa, jadi imam di masjid/surau/mushalla, berdakwah dan  menjadi guru mengaji. Ketiga, karakter. Santri diajarkan dan dibiasakan dengan  sopan santun, etika dan  mengaplikasikan ibadah. 

“Inilah bedanya Pesantren Nurul Yaqin dengan sekolah lainnya. Di Pesantren Nurul Yaqin, Santri dituntut punya ilmu, skill dan berkarakter yang sangat mendukung dalam kehidupan bermasyarakat,” kata Idarussalam.

“Pesantren Nurul Yaqin tetap mengharapkan dukungan semua pihak, baik alumni, masyarakat, maupun Pemerintah Daerah Kabupaten Padangpariaman,” kata Idarussalam. 

Dengan wafatnya pendiri Nurul Yaqin Ringan-Ringan Syekh Ali Imran, maka terdapat dua pimpinan, yakni pesantren dan keilmuan. Pelaksanaan pesantren diserahkan kepada Drs. Almuhdil Karim Tuanku Bagindo. Sedangkan di  dibidang  keilmuan, paham, jamaah, tarekat dan wirid,  dipimpin oleh khalifah yang dinamakan Khalifah Imrani. Untuk pertama kali khalifah Imrani ini dipercayakan kepada Syekh Muda Zulhamdi Tuanku Kerajaan, murid langsung dari Syekh Ali Imran Hasan. 

Wakil Bupati Padang Pariaman Suhatri Bur yang menghadiri acara pengukuhan tersebut mengatakan, para lulusan Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan yang sudah dikukuhkan sebagai tuanku diharapkan menjadi ulama yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. “Ilmu yang sudah diperoleh selama belajar di pesantren ini tentu diharapkan dapat bermanfaat bagi diri sendiri, maupun masyarakat di lingkungannya,” kata Suhatri Bur.

Dikatakan, sebagai ulama tentu prioritas utama adalah untuk terus menggali ilmu agama. Sehingga pemahaman tuanku akan sesuai dengan kondisi masyarakat yang dihadapinya. “Pemkab Padang Pariaman memberikan apresiasi terhadap kehadiran Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan. Amanah dari pendiri pesantren ini memang Pemkab agar memperhatikan perkembangan Pesantren ini. Ini tentu menjadi perhatian kita semuan,” kata Suhatri Bur menambahkan. (Armaidi Tanjung/Abdullah Alawi)

Rabu 19 Juli 2017 1:5 WIB
Nusron Wahid Sebut Indonesia Hadapi Tiga Tantangan Serius
Nusron Wahid Sebut Indonesia Hadapi Tiga Tantangan Serius
Pati, NU Online
SMK Pesantren Cordova dan Pesantren Mathaliul Huda AlKautsar, Kejan Margoyoso Pati, Jateng menyelenggarakan Apel Bendera Iftitahussanah atau pembukaan kegiatan pendidikan tahun ajaran 2017 di halaman SMK berbasis pesantren tersebut, Senin (17/7). Kurang lebih 1700 santri-santriwati mengikutinya.

Hadir pada apel tersebut Kepala Badan Negara Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia H. Nusron Wahid yang memberikan pembekalan kebangsaan dan ke-NU-an.

Nusron menegaskan bahwa saat ini bangsa Indonesia menghadapi tiga tantangan serius, yaitu kebinekaan, kemiskinan, dan korupsi. Tantangan kebinekaan karena makin maraknya gerakan yang bertujuan memperlemah Pancasila sebagai dasar negera Indonesia.

Generasi muda Aswaja, kata dia, harus menjawab tantangan tersebut melalui penguatan keyakinan bahwa Pancasila merupakan dasar negara yang tidak bertentangan dengan Islam dan bahkan merupakan penjabaran dari ajaran Islam.

“Generasi muda NU juga harus dibekali dengan nilai-nilai dasar ke-NU-an sehingga tidak mudah terpengaruh oleh gerakan atau pemikiran radikalisme Islam,” tegasnya.

Nusron juga meminta agar lembaga-lembaga pendidikan di lingkungan NU termasuk SMK pesantren agar sebaiknya membentuk Komisariat IPNU dan IPPNU agar para pelajar belajar pola berorganisasi sesuai tradisi NU.

Sementara Pengasuh  Pesantren Mathaliul Huda Al-Kautsar KH Ahmad Zakcy Fuad Abddullah menegaskan agar para santri mempunyai sifat-sifat para nabi, yaitu siddiq, amanah, tabligh dan fathonah. Dengan membekali diri dengan sifat-sifat kenabian tersebut, insyaallah para santri akan mudah mendapatkan keberkahan dalam mencari ilmu di pesantren.

Pada Apel Bendera tersebut, mars Ya lal Wathon dan lagu Syukur dinyanyikan bersama oleh para siswa dan santri dengan penuh penghayatan. Apel bendera yang juga menandai kegiatan pengenalan lingkungan sekolah dan pesantren tersebut berjalan khidmat.

Selama satu minggu ke depan, para siswa dan santri baru diberikan orientasi sekolah dan pesantren meliputi peraturan sekolah dan pondok, ke-NU-an, nilai-nilai perdamaian dan anti-kekerasan, bahaya ancaman narkoba di lingkungan sekolah, ancaman radikalisme agama, mengkritisi budaya hoax di media sosial dan bahaya sex di luar nikah. Pihak sekolah dan pesantren dalam menyelenggarakan kegiatan tersebut bekerja sama dengan instansi terkait di wilayah sekitar pesantren. (Niam Sutaman/Abdullah Alawi)

Selasa 18 Juli 2017 17:3 WIB
Menuntut Ilmu di Pesantren Akan Mengangkat Derajat Orang Tua
Menuntut Ilmu di Pesantren Akan Mengangkat Derajat Orang Tua
Cirebon, NU Online
Sejak Sabtu, (15/7/2017), ratusan peserta didik baru madrasah di lingkungan Pondok Buntet Pesantren mengikuti rangkaian Masa Taaruf Siswa Madrasah (Matsama) 2017. Selama tiga hari, mereka diberikan pembekalan sebelum masa aktif belajar dimulai.

Di hari terakhir, Senin, (17/7/2017), para peserta Matsama diagendakan sowan ke kiai-kiai sepuh Buntet Pesantren guna mengalap berkah dan nasihatnya.

Di kediamannya, Ketua Umum Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Buntet Pesantren KH Adib Rofiuddin Izza menyampaikan bahwa para peserta didik baru di madrasah Buntet Pesantren itu orang yang beruntung.

“Kalian mengambil ilmu di pondok pesantren Buntet adalah sebuah keberuntungan bagi kalian karena kalian akan mengangkat maqom (kedudukan) derajat orang tua.,” ujarnya.

Mengutip dawuh ulama, Kiai Adib menjelaskan, bahwa seseorang tidak akan mendapatkan seluruh ilmu pengetahuan meskipun dia belajar selama seribu tahun sebab ilmu itu seperti lautan. Maka ambil yang terbaiknya saja. Karena ilmu itu laut, diambil oleh siapapun dan seberapa banyak pun orang mengambil air dari laut, airnya tidak akan habis.

“Ilmu itu diibaratkan laut. Orang sedunia mengambil air dari laut, laut akan bergeming, laut tidak akan keruh, laut tidak akan asat (surut),” katanya.

Selain itu, kiai yang juga salah satu mustasyar PBNU itu menyampaikan bahwa untuk mencapai ilmu itu harus mendapatkan restu dan juga takzim kepada kiai dan guru.

“Untuk menghormati kiai dan guru adalah dengan meningkatkan kualitas belajar,” ungkapnya.

Tidak cukup hanya belajar, Kiai Adib mengingatkan agar para santri juga mendaras atau mutalaah. Dari mendaras itulah, ilmu diterima oleh akal, lalu dimasukkan ke dalam fuad (hati). Fuadlah yang akan menyetir jawarih (anggota tubuh).

“Kalau itu bisa kalian kerjakan, maka jaminannya adalah ilmu yang bermanfaat, ilmu yang lebih baik, dan ilmu yang akan menyelamatkan kehidupan kalian, baik di dunia maupun di akhirat,” pungkasnya.

Selain sowan pada Kiai Adib, para peserta Matsama juga sowan pada KH Abdul Hamid Anas, KH Hasanuddin Kriyani, dan KH Amiruddin Abkari. (M. Rikays/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG