IMG-LOGO
Nasional

Kirim Santri Ke Mesir, Inilah Motif Syekh A Khotib Minangkabau

Senin 31 Juli 2017 14:3 WIB
Bagikan:
Kirim Santri Ke Mesir, Inilah Motif Syekh A Khotib Minangkabau
Jakarta, NU Online
Di antara ulama Nusantara yang menjadi imam besar di Mekkah adalah Syekh Ahmad Khatib Minangkabau. Selain mengajar di sekitaran Ka‘bah, ia juga mengarang beberapa kitab dengan berbagai macam bidang ilmu keislaman.

Syekh Ahmad Khatib Minangkabau memang tidak secara langsung menulis nasionalisme di dalam karya-karyanya, tetapi ia memiliki semangat nasionalisme. Hal itu ia buktikan dengan pengiriman murid-muridnya ke Mesir untuk menimba ilmu di sana dan menyerap semangat nasionalisme yang sedang menguat di Mesir.

Demikian disampaikan Zainul Milal Bizawie usai acara Kajian Turats Ulama Nusantara dengan tema Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Kemilau Nusantara di Tanah Mekkah di Islam Nusantara Center (INC) Ciputat, Tangsel, Sabtu (29/7).

"Motif yang dilakukan Syekh Ahmad Khatib mengirim santrinya ke Mesir, saya pikir untuk menimba semangat nasionalisme," ujar Gus Milal.

Senada dengan Penulis buku Masterpiece Islam Nusantara itu, Pemateri diskusi A Ginanjar Sya'ban menerangkan, saat itu menjadi pusat pergerakan belajar Indonesia yang sedang belajar di sana untuk menyuarakan kemerdekaan Indonesia di dunia internasional.

"Ini bisa disimak dari dua majalah. Pertama, Majalah Seruan Al-Azar yang ditulis dalam Arab pegon berbahasa Melayu tahun 1925 sampai 1927 dan diterbitkan oleh Thohir Jalaluddin, Mahfud Yunus, dan Idris Marbawi. Kedua, Majalah Merdeka," urainya.

Alumni Al-Azhar Kairo Mesir itu menambahkan, terjadi korespondensi antara dua majalah tersebut dengan majalah pelajar Indonesia yang ada di Belanda, Bintang Timur. Mereka bertugas menyebarkan gagasan terkait dengan cara memerdekakan Bumi Putera.

"Semangat kemerdekaan ini terus diperjuangkan oleh para murid Syekh Ahmad Khatib Minangkabau. Dengan melobi para pejabat kerajaan Mesir," ungkapnya.

Lebih lanjut, Ginanjar menceritakan bahwa setelah Perdana Menteri Mesir saat itu Nukrashi Pasya mengetahui bahwa ada negara yang penduduk Muslimnya besar. Lalu kemudian, Nukrashi bersama dengan Sekjen Liga Arab mengampanyekan kemerdekaan Indonesia di koran-koran Negara Arab, bahkan dibawa ke dalam sidang Liga Arab.

"Liga Arab mendukung penuh dan berhasil menekan PBB. Sampai PBB menekan Belanda agar menghentikan agresi militernya. Makanya kemerdekaan Indonesia pada 1949, merdeka secara total," terangnya.

Menurut Dosen Turats STAINU itu, ini juga tidak lepas dari perjuangan santri-santri Nusantara yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari tempat di mana mereka belajar.

"Tentang nasionalisme Syekh Ahmad Khatib sangat jelas sekali traknya," tegas Direktur INC itu. (Muchlishon Rochmat/Alhafiz K)

Bagikan:
Senin 31 Juli 2017 23:1 WIB
LPBINU Fasilitasi Penyusunan Sistem Peringatan Bencana Dini di Wajo
LPBINU Fasilitasi Penyusunan Sistem Peringatan Bencana Dini di Wajo
Wajo, NU Online
Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) memfasilitasi penyusunan sistem peringatan dini tingkat kabupaten dan desa/kelurahan di Wajo, Sulawesi Selatan pada Jumat-Senin (28-31/7) dalam bentuk workshop dan FGD yang diikuti oleh stakeholder terkait tingkat kabupaten dan desa/kelurahan.

Kegiatan ini dilaksanakan selama 4 (empat) hari, diawali dengan workshop yang diikuti oleh stakeholder tingkat kabupaten, ditindaklanjuti dengan FGD yang diikuti oleh stakeholder tingkat desa/kelurahan. 

Rangkaian kegiatan tersebut menghasilkan dokumen Standar Operational Procedure (SOP) Peringatan Dini di Kabupaten Wajo. Sementara di tingkat desa/kelurahan, sistem peringatan dini desa/kelurahan. 

Selain itu, di sini juga dihasilkan peta dan jalur evakuasi untuk Kelurahan Salomenraleng, Kelurahan Laelo, dan Desa Pallimae yang merupakan pilot project dari Program Slogan-Steady yang sedang dilaksanakan oleh LPBINU di Sulawesi Selatan. 

Hadir dalam kegiatan tersebut Ansyar (Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Sulawesi Selatan; Siswanto (BMKG Wilayah IV Makassar); dan Leonardy Sambo (Konsultan DFAT Sulawesi Selatan) sebagai narasumber.

Kegiatan Workshop Penyusunan Sistem Peringatan Dini di Kabupaten Wajo dibuka oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Sulawesi Selatan. Dalam sambutannya, Ansyar menyampaikan bahwa Sulawesi Selatan termasuk urutan 26 dari sekitar 36 provinsi yang rawan bencana. 

“Diproyeksikan sekitar 18 miliar kerugian jika terjadi bencana. Sedangkan di Wajo, banjir merupakan ancaman yang paling tinggi,” ujar Ansyar.

Ansyar juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada LPBI NU atas support yang telah yang diberikan dalam bentuk pelaksanaan program Slogan-Steady yang telah berlangsung selama satu tahun untuk meningkatkan kapasitas dan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana. 

Di akhir sambutannya, Ansyar menekankan bahwa bencana tidak hanya tanggung jawab pemerintah tetapi tanggung jawab kita bersama. 

Sementara itu, Deputi Program Manager Slogan-Steady LPBINU, Rurid, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pasca pelaksanaan kegiatan ini, LPBI NU akan memfasilitasi pemasangan alat peringatan dini banjir di 3 (tiga) desa/kelurahan yang menjadi target program. 

Penanggulangan bencana tidak hanya cukup dengan niat baik tetapi ada alat-alat yang memang dibutuhkan untuk mendeteksi bencana tersebut. Kita harus meluruskan strategi bagaimana membuat sistem sesuai kebutuhan dan persoalan yang ada. Kita tidak ingin bencana datang tetapi kita baru membuat persiapan. 

Lebih lanjut, Rurid mengatakan bahwa semua pihak mempunyai tanggung jawab untuk menyebarluaskan informasi dan kesadaran kepada masyarakat. Informasi adalah hak semua masyarakat tanpa kecuali. 

Orang-orang dengan kebutuhan khusus juga harus menerima informasi. Jadi harus ada orang khusus yang bisa menyampaikan kepada mereka. Orang yang terganggu dalam melihat, mendengar dan susah berjalan harus dibuatkan sistem yang baik bagaimana cara mengevakuasi mereka. Kapan kemudian kelompok-kelompok rentan harus siaga?

Inilah yang menjadi alasan mengapa kita menyusun sIstem. Tidak sekedar memasang alat agar sirine berbunyi, tetapi kita harus menyesuaikan dengan alat atau hal yang mudah diakses oleh semua pihak di masyarakat. (Red: Fathoni)
Senin 31 Juli 2017 21:30 WIB
Alissa Wahid Paparkan Cara Menangkal Kelompok Ekstremis
Alissa Wahid Paparkan Cara Menangkal Kelompok Ekstremis
Alissa Wahid.
Jakarta, NU Online
Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Alissa Wahid menjelaskan, ada dua hal yang harus dilakukan untuk menangkal dan melawan kelompok-kelompok jihadis ekstremis yang terorganisir dengan sistematis. Pertama, membangun aliansi antar semua elemen bangsa, baik ormas Islam, LSM, dan elemen lainnya.

“Kemudian membangun kerja sama. Misalnya NU bekerjasama dengan Muhammadiyah, dengan komunitas lintas iman, dan dengan komunitas-komunitas lainnya yang senafas,” kata Alissa selepas acara diskusi Meredam Ekstremisme-Kekerasan dengan Buku di Cikini Jakarta, Senin (31/7).

Kedua, membangun narasi-narasi Islam Indonesia. Menurut dia, ormas-ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, dan lainnya yang sejalan memiliki tugas dan tanggungjawab untuk membuat dan mengkampanyekan model Islam Indonesia.
 
“Narasi Islam Indonesia itu yang seperti apa. Menjadi orang Islam di Indonesia itu seperti apa. Itu harus disiapin. Kalau tidak, kita tidak akan bisa menjawab tantangan narasi yang usung oleh gerakan Islamis radikal,” urainya.
   
Semangat yang diusung oleh gerakan Islam radikal, jelas Alissa, yaitu orang Islam harus bersatu untuk memperjuangkan sistem yang Islami melalui gerakan Islam politik. Ia tidak sepakat dengan narasi ini. Baginya, Islam menjadi kuat di Indonesia bukan karena lewat politik, tetapi tumbuh dari sosial masyarakat.
 
“Kalaupun gerakan politik, gerakan politiknya bukan Islam sebagai agama tetapi Islam sebagai semangat. Semangat keadilan sosial, semangat kemaslahatan umat,” terangnya.

Selain itu, lanjut Alissa, mengungkapkan ada dua narasi besar yang dikampanyekan oleh kelompok-kelompok jihadis. Pertama, umat Islam Indonesia sedang tertindas. Baginya itu tidak lah jelas karena orang Islam Indonesia memiliki ekspresi keagamaan yang besar di Indonesia.
  
“Yang kedua, hanya ada satu Islam yaitu Islam yang murni. Praktik Islam di Indonesia dianggap tidak murni dan harus dimurnikan,” ungkapnya.

Lebih jauh, Putri Sulung KH Abdurrahman Wahid itu menyebutkan bahwa narasi-narasi tersebut berujung dan mengajak umat Islam untuk memusuhi demokrasi, masyarakat yang ada saat ini, dan sesama muslim yang tidak sejalan dengan mereka. Oleh karena itu, permusuhan antar sesama umat Islam tidak terhindarkan lagi. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)
Senin 31 Juli 2017 21:25 WIB
Tidak Benar NU Lebih Mesra dengan Non-Muslim
Tidak Benar NU Lebih Mesra dengan Non-Muslim
Jakarta, NU Online
Saat ini, banyak serangan-serangan yang dialamatkan ke Nahdlatul Ulama (NU) karena organisasi yang didirikan KH Hasyim Asy’ari itu dianggap mesra dengan umat agama lain dan galak dengan ormas sesama Islam. 

Menanggapi hal itu, Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Alissa Wahid menjelaskan bahwa pada dasarnya NU itu menjalin hubungan perasaudaraan dengan semua pihak, baik sesama umat Islam ataupun umat agama lain. 

Namun demikian, Alissa mengaku dilema dengan kelompok-kelompok yang ingin meniadakan NU dan bahkan ingin merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

“Bagaimana caranya kita membangun persaudaraan dengan orang-orang yang ingin meniadakan NU karena NU dianggap tidak Islam,” kata Alissa di Cikini, Jakarta, Senin (31/7).

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa tradisi Islam di Indonesia itu pada dasarnya ramah, damai, dan menghormati adat budaya setempat. 

Namun setelah datangnya paham-paham transnasional yang menganggap praktik keislaman di Indonesia itu tidak lah benar karena tidak murni lagi, maka ‘perselisihan’ itu menjadi tidak terhindarkan lagi.

“Tradisi Islam Indonesia itu merangkul dan menjalin persaudaraan, bukan memukul,” jelasnya. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG