IMG-LOGO
Tokoh

Kiai Syarfuddin Abdus Shomad, Ulama Sumenep yang Istiqomah di Jalur Kultural

Senin 31 Juli 2017 19:30 WIB
Bagikan:
Kiai Syarfuddin Abdus Shomad, Ulama Sumenep yang Istiqomah di Jalur Kultural
Kiai Syarfuddin Abdus Shomad.
Jika sebagian pengamat berkata bahwa mayoritas para kiai pesantren sudah terserap dalam dunia politik praktis, maka anggapan itu tak sepenuhnya benar. Beberapa bulan terakhir, saya lumayan rajin beranjangsana berjumpa dengan banyak kiai pesantren yang masih konsisten di jalur pendidikan. Mereka sibuk melakukan kerja-kerja sosial, mengedukasi masyarakat, tak terpesona dengan hiruk pikuk perebutan politik kekuasaan. Para kiai yang berjuang di jalur kultural, membimbing umat Islam, umat Nabi Muhammad SAW. 

Mari kita berkunjung ke pulau Madura. Dari Pelabuhan Kalianget Sumenep, kita bergerak ke timur. Dengan menaiki kapal laut selama tiga jam, maka kita akan tiba di gugusan pulau-pulau nan indah. Dari deretan pulau-pulau itu, Pulau Kangean adalah yang terbesar. Di tengah pulau itu ada seorang kiai sepuh. Usianya sudah mencapai 92 tahun. Di kelilingi ratusan santri. Sang kiai masih istiqomah menjadi imam shalat berjemaah lima waktu. Membimbing para santri membaca kitab-kitab Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Beliau adalah KH Syarfuddin Abdus Shomad, lahir pada 1925, Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Huda Duko Lao’ Arjasa Kangean Sumenep Madura, Jawa Timur. Silsilahnya adalah Kiai Syarfuddin ibn Kiai Abdus Shomad ibn Kiai Daud ibn Kiai Damsyiah ibn Kiai Abdul Bari. Menurut Kiai Syarfuddin, Kiai Abdul Bari adalah murid Sunan Giri yang diutus untuk menyebarkan Islam hingga ke Pulau Kangean. 

Melanjutkan khittah perjuangan leluhurnya, Kiai Syarfuddin tak bosan membimbing masyarakat agar mereka mengerti pokok-pokok ajaran Islam. Hari-harinya penuh dengan aktivitas peribadatan, dari habis subuh hingga malam. Di samping mengerjakan yang wajib, beliau sangat rajin mengerjakan perkara-perkara sunnah. Bahkan, doa-doa di setiap basuhan dan usapan dalam wudhu’ seperti dianjurkan Imam Ghazali, beliau amalkan. 

Tak mudah menemukan sosok kiai seistiqomah Kiai Syarfuddin. Coba perhatikan aktivitas kesehariannya. Selesai shalat subuh, Kiai Syarfuddin memanjangkan wiridnya hingga matahari terbit di ufuk timur. Berlanjut dengan membaca kitab-kitab utama buat para santri seperti kitab Bidayatul Hidayah dan Fathul Qarib. Selesai melaksanakan shalat dhuha 8 rakaat, sang kiai mengajar di madrasah hingga menjelang shalat zuhur. 

Tidur qailulah sebentar, lalu menjadi imam shalat zuhur. Usai shalat, Kiai Syarfuddin memberi pengajian kitab yang lebih tinggi seperti kitab Mutammimah dan Ibnu Aqil. Usai menjadi imam shalat ashar, kembali ke madrasah hingga menjelang maghrib. Usai shalat maghrib, menerima setoran bacaan al-Qur’an para santri hingga Isya’. Usai shalat Isya’, menerima para tamu dari berbagai desa hingga larut malam. Habis Isya’, pada malam Selasa dan Jum’at, beliau membaca Kitab Kifayatul Atqiya’.

Sementara pada hari libur pesantren, seperti Hari Jum’at, waktu Kiai Syarfuddin sepenuhnya didedikasikan buat masyarakat. Menyelesaikan soal-soal kemasyarakatan, mulai dari kasus-kasus keluarga hingga kasus kriminal. Konflik-konflik keluarga bisa mudah ditangani karena kepercayaan tinggi masyarakat kepada beliau. Begitu juga, kasus kriminal seperti carok yang kerap terjadi bisa dilerai dan diselesaikan sehingga tak berujung pada kematian salah satu pihak. Pada hari-hari tertentu, beliau kerap terjun sendiri memimpin kerja gotong royong memperbaiki jalan yang rusak, menata bendungan perairan sawah yang jebol, dan lain-lain.

Begitulah hari-hari Kiai Syarfuddin yang dijalaninya selama puluhan tahun. Mencengangkan, beliau menjalani aktivitas pembelajaran dan kerja kemasyarakatan itu dalam keadaan berpuasa. Ia meneladani para orang tuanya yang berpuasa sepanjang masa. Ketika ditanya, “bukankah puasa dahr itu dilarang?”. Kiai Syarfuddin menjawab, “saya sebenarnya mengikuti puasa Nabi Daud. Bedanya, jika hari ini diniati berpuasa, maka besoknya sekalipun tidak makan dan minum tidak diniati berpuasa”. Beliau mengisahkan, “pernah dicoba beberapa kali, sehari berpuasa dan sehari berikutnya makan, maka justru jatuh sakit”. 

Sejak tahun 1973 sepulang dari menjalankan ibadah haji, Kiai Syarfuddin memilih tidak makan dan tidak minum di siang hari. Alias berpuasa sepanjang masa, kecuali pada hari-hari yang betul-betul diharamkan berpuasa seperti pada dua hari raya. Itu pun beliau hanya meminum segelas air mineral saja, sekedar membatalkan puasa. Walau aktivitas beliau bergerak sejak terbit matahari hingga larut malam, tak tampak guratan kelelahan di wajahnya. Padahal, di samping berpuasa, Kiai Syarfuddin adalah salah seorang kiai yang istiqomah qiyamul lail. Mungkin berkah puasa dan tahajud juga, beliau sangat jarang sakit.

Melihat kemampuan fisik Kiai Syarfuddin yang kuat itu membantu saya memahami stamina fisik Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya yang sangat prima. Jika disebut dalam sejarah bahwa Perang Badar berlangsung ketika umat Islam menjalankan ibadah puasa, maka itu bukan mitos belaka. Jika dikisahkan bahwa Nabi SAW dan para Sahabatnya pernah melakukan perjalanan darat dari Madinah ke Tabuk (jarak seribu kilometer), maka itu bukan sesuatu yang mustahil. Keimanan yang kuat akan kebenaran ajaran Islam bisa menambah kekuatan dan stamina umat Islam dalam mendakwahkan ajaran Islam. Kiai Syarfuddin sudah membuktikan itu.

Belakangan memang tipe ulama seperti Kiai Syarfuddin ini sudah kian berkurang, yaitu ulama yang tak hanya cakap memberi mau’idah hasanah melainkan juga sanggup menjadi uswah hasanah. Di tengah usianya yang sudah sepuh ini, kita berdoa: semoga Kiai Syarfuddin selalu sehat wal afiat, panjang umur seperti ayahandanya dan para kakek buyutnya yang usianya bisa seratusan tahun lebih. Kita juga berharap akan tumbuhnya kiai-kiai istiqomah seperti Kiai Syarfuddin Abdus Shomad. Amin ya mujibas sa’ilin.

Abdul Moqsith Ghazali, Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU, Dosen Program Pascasarjana UNU Jakarta, Dosen Tetap Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Tags:
Bagikan:
Selasa 25 Juli 2017 12:48 WIB
Ajengan Haur Kuning dan Enam Wasiatnya
Ajengan Haur Kuning dan Enam Wasiatnya
Pendiri Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haur Kuning, KH Saefuddin Zuhri selalu menitipkan NU melalui pondok pesantren. Bagi dia, nilai-nilai Ahlussunnah wal-Jamaah NU tidak akan berdiri tegak secara benar, kecuali bersandar pada nilai-nilai pendidikan di pondok pesantren. 

Tak heran kemudian, sang ajengan itu mewasiatkan kepada anak-cucunya untuk menjalani pendidikan di pondok pesantren dan tidak boleh berhenti mengaji. 

Ajengan Saefuddin telah memberikan contoh ketika masa mudanya. Ia tergolong santri yang haus ilmu pengetahun dengan menjadi santri kelana. Ia pernah nyantri di Pesantren Cibeuti, Cilendek, Ciharashas, Bantar Gedang, Keresek, Sayuran, Sadang, Sagaranten, dan Sirnasari.  

Menurut salah seorang putranya, KH Busyrol Karim, Ajengan KH Saefuddin Zuhri mewasiatkan enam hal kepada anak cucu dan santri-santrinya. Wasiat itu disampaikannya saat pertemuan alumni pondok pesantren setahun sebelum ia meninggal. 

Pertama, wajib mempertahankan aqidah, syariah, akhlak Ahlussunah wal Jama'ah. 


Kedua, wajib shalat berjamaah awal waktu di masjid. 


Ketiga, ulah eureun ngaji (jangan berhenti mengaji, red).


Keempat, anak, incu (cucu) wajib dipasantrenkeun (menjalani pendidikan pondok pesantren) 


Kelima kudu jadi NU (harus menjadi NU). 


Keenam, hate ulah nyantel kana dunya, sing nyantel ka akherat (hati jangan tertaut pada urusan duniawi, tapi kepada urusan akhirat, red). 


Dalam catatan seorang santrinya, Husni Mubarok, di akhir hayatnya, Ajengan Saefuddin Zuhri juga menyampaikan pesan tentang pentingnya shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Ia menyampaikan hal itu kepada para santri dan masyarakat sekitar yang turut mengaji ketika membahas kitab Nashoihud Diniyyah, Jumat 30 Agustus 2013.

Ajengan Saefuddin memberikan berpesan tentang pentingnya shalawat melalui syair dalam kitab Marqotul Mahabbah dan langsung diikuti oleh seluruh jamaah pengajian.

Inilah syairnya:

الاايهاالاخوان صلوا وسلم # على المصطفى فى كل وقت وساعة

He sakabeh dulur-dulur urang sing getol tadakur (wahai seluruh saudara, kalian harus rajin tadzakur)

Maca shalawat jeung salam ka Nabi nu langkung masyhur (membaca shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad yang sangat masyhur)

فان صلاة الهاشمي محمد # تنجي من الاهوال يوم القيامة

Saenyana sholawat teh eta nu jadi wasilah (sesungguhnya membaca shalawat kepada Nabi Muhammad adalah jalan)

Salamet tina pakewuh riweuhna poe kiamah (selamat dari bencana pada hari kiamat)

Seusai pengajian, ajengan kemudian berjamaah Isya seperti biasanya. Kemudian ia shalat shunat ba’diyah. Namun, ketika bangun dari ruku’ menuju i’tidal, ia jatuh ke belakang tepat di pangkuan seorang santri. Ia sempat akan dibawa salah seorang dewan santri, tapi ketika keluar masjid menuju rumah, kiai ahli ilmu alat itu mengembuskan napas terakhirnya.

Kiai yang kala itu menjadi musytasyar PCNU Kabupaten Tasikmalaya pada subuh hari itu sempat mengumpulkan seluruh santri dan memberikan 3 amanat, yaitu sing pinter ngaji dua (harus pintar ngaji dan berdoa), sing alus akhlaq (harus berakhlak baik, dan ketiga, getol ibadahm (rajin beribadah).

Ajengan Saefuddin meninggalkan 4 putra dan 3 putri serta ribuan santri pada usia 75 tahun. Kini tampuk kepemimpinan pesantren dilanjutkan putra tertuanya, KH Busyrol Karim. (Abdullah Alawi)

Ahad 23 Juli 2017 17:3 WIB
KH Mohammad Tolhah bin Sulaiman Sosok Ahlul-Qur’an
KH Mohammad Tolhah bin Sulaiman Sosok Ahlul-Qur’an
Di Kecamatan Laweyan Kota Surakarta, masyhur dengan pondok pesantren penghafal Al-Qur’an. Nama-nama pondok Al-Muayyad, Al-Qur’aniyy, begitu tersohor hingga ke luar daerah. Bila waktu subuh maupun maghrib, dari pondok tersebut, sering pula kita dengarkan lantunan syahdu para santri yang tengah mendaras Kalamullah. Belum lagi ditambah para ustaz serta ustazah di langgar maupun masjid, yang selalu setia menemani para santri mengaji Kitab Suci.

Di daerah penghasil batik itu, terdapat sejumlah tokoh ulama ahlul-Qur’an. Siapa yang tidak kenal KH Ahmad Umar bin Abdul Mannan, KH Ahmad Musthofa (Mbah Daris), KH Ahmad Asy’ari, KH Asfari (Mbah Bei), dan masih banyak lagi nama yang kiranya dapat disebutkan.

Termasuk di dalamnya, yakni KH Muhammad Tolhah bin Sulaiman, seorang ulama Ahlul-Qur’an yang tinggal di daerah Tegalsari, Kelurahan Bumi, Laweyan. Pribadi yang memiliki sifat lemah lembut ini dikenang sebagai sosok yang rendah hati.

“Beliau Bicaranya halus, tidak pernah ingin jadi yang di depan,” kenang Ketua Yayasan Ta’mirul Masjid Tegalsari, KH Idris Shofawi, saat ditemui As-Shofwah di kediamannya, belum lama ini (16/5).

Kiai Idris juga masih ingat pesan singkat yang diberikan KH Muhammad Sulaiman, kala dirinya hendak pergi haji, tahun 1991 silam. “Dadiya lemah, lemah diidak meneng tapi akeh manfaate (Jadilah seperti tanah, yang diam meski selalu diinjak, di sisi lain memiliki banyak manfaat,-red.)

Produktif Menulis
Di sela-sela kesibukannya mengajar, KH Muhammad Sulaiman juga produktif dalam menghasilkan karya tulisan. Salah satu yang cukup populer yakni kitab tafsir al-Quran berbahasa Arab : Jami’ul Bayaan. Sebuah ringkasan dari berbagai kitab tafsir, yang konon populer dan dicetak hingga ke luar negeri.

Selain kitab tafsir tersebut, Mbah Muhammad yang pernah berguru kepada KH Dimyathi Tremas, KHR Munawwir Krapyak, dan lainnya itu menulis beberapa buku antara lain : Khulasoh Min Shuwaril Qur’an (1992), Asmaul Husna dan Syarahnya (1991), Bukti Al-Quran Sebagai Wahyu (1989).

Ia juga memiliki jadwal rutin mengajar di Masjid Tegalsari, yakni pengajian Tafsir Jalalain (Selasa pagi) serta Shahih Bukhari, di serambi masjid. Sepeninggalnya, rutinan ini dilanjutkan KH Naharussurur, kemudian estafet berpindah sampai ke KH Abdul Halim Naharussur yang berjalan hingga sekarang.

Begitulah, sosok kiai panutan umat ini, tutup usia pada Sabtu Pon 28 Shofar 1412 H atau bertepatan dengan 7 September 1991 pukul 13.30 WIB di RS Kasih Ibu. Jenazahnya dikebumikan keesokan harinya, di Makam Pulo Laweyan, berdekatan dengan makam KH Ahmad Shofawi. Lahumu al-fatihah! (Ajie Najmuddin)


Selasa 18 Juli 2017 6:0 WIB
Kiai Muchit Muzadi dan Kegemarannya
Kiai Muchit Muzadi dan Kegemarannya
Mbah Muchit begitu beliau akrab disapa. Pria kelahiran 4 Desember 1925 di Bangilan, Tuban itu, terlahir dengan nama lengkap Abdul Muchit. Ketika dewasa, ia menisbatkan nama ayahnya dibelakang namanya, sehingga menjadi Abdul Muchit Muzadi.

Bagi warga NU, nama Mbah Muchit tak asing. Ia dikenal sebagai pengawal khittah NU setelah ditetapkan pada muktamar NU tahun 1984 di Situbondo. Saat itu, kakak kandung Ketua Umum PBNU 1999 - 2009 KH Hasyim Muzadi itu, menjadi sekretaris pribadi Rais ‘Aam PBNU KH Achmad Siddiq. Konon, teks Khittah An-Nahdliyah yang dipresentasikan oleh Kiai Siddiq saat itu, ia yang mengetiknya.

Sepanjang hidupnya ia dedikasikan dirinya untuk NU. Bahkan, beberapa saat sebelum kembali ke haribaan Allah SWT, 6 September dua tahun yang lalu, beliau masih sempat "cawe-cawe" menenangkan hiruk pikuk pasca Muktamar 33 NU.

Namun, dibalik kiprahnya di NU dan masyarakat, ada sisi yang menarik dari sosok Mbah Muchit. Ia merupakan sosok yang gemar membaca dan menulis. Sampai di penghujung usianya, ia masih berlangganan beberapa surat kabar nasional di kediamannya di Jember. Setiap pagi ia rajin membaca koran dan juga majalah.

Selain itu, ia juga gemar membaca berbagai literatur. Tak hanya literatur yang sefaham, bahkan ia juga mengkaji literatur lintas madzab dan lintas kajian. Pada sebuah kesempatan ia pernah bercerita. Kawan-kawannya di Muhammadiyah Jember tak pernah mendebatnya. Meski, anatara NU dan Muhammadiyah kerap kali berbeda pendapat. Apa pasalnya?

"Mereka tidak berani berdebat karena referensi kemuhammadiyahannya lebih lengkapan saya," tuturnya sembari tersenyum.

Berkat kegemarannya membaca ini, beliau juga penulis yang cukup produktif. Banyak artikelnya yang dimuat di media massa. Terutama tentang ke-NU-an. Selain itu, juga ada beberapa buku yang berhasil diselesaikan oleh beliau. 

Di antaranya adalah Fikih Perempuan Praktis (Khalista), Mengenal Nahdlatul Ulama (Khalista) dan NU dalam Perspektif Sejarah dan Ajaran (khalista).

Selain yang sudah terbit, ketika beliau wafat, masih banyak pula tulisan-tulisannya yang masih berupa manuskrip. Belum pernah dipublikasikan dan tersimpan di perpustakaan pribadinya di Jember.

Tak hanya membaca dan menulis, sisi literasi Mbah Muchit yang menarik adalah tentang kegemarannya membagikan buku. Untuk hal ini, ada beberapa cerita sebagaimana yang ditulis oleh Muhammad Subhan dalam "Berjuang Sampai Akhir: Kisah Seorang Mbah Muchit".

Suatu ketika, Mbah Muchit menggelar pengajian setiap malam Sabtu di Masjid Sunan Kalijaga di samping rumahnya yang tak jauh dari Kampus UNEJ tersebut. Pengajian yang ia ampu adalah tentang keaswajaan. Yang menjadi rujukan dalam pengajian tersebut, adalah "Aswaja dalam Persepsi dan Tradisi NU" dan "Wawasan Umum Ahlussunnah wal-Jama'ah" yang keduanya ditulis oleh KH Tolchah Hasan.

Kedua buku tersebut ternyata sudah jarang beredar di toko-toko buku. Adanya hanya di penerbitnya yang berada di Jakarta. Mbah Muchit pun memesan buku yang harganya Rp. 50 ribu per ekslempar itu. Lalu, ia membagikannya kepada para jama'ahnya. Sayangnya, setelah buku itu dibagikan, malah tak banyak jama'ahnya yang kembali datang untuk mengkaji buku tersebut.

Tak hanya itu, pada 2006 Mbah Muchit membagikan bukunya sendiri yang berjudul "Mengenal Nahdlatul Ulama". Buku yang setebal 60 halaman dan dicetak dengan biaya sendiri itu, ia bagikan ke pengurus MWC dan Cabang NU se-Jawa Timur. Juga kepada pengurus PWNU dan PBNU yang saat itu sedang mengadakan pertemuan di kantor PWNU di Surabaya. Total ada 1.200 ekslempar buku yang ia bagikan dari 1.500 buku yang dicetak.

Honorium yang didapatnya dari penerbit ketika menerbitkan buku, juga tak pernah beliau ambil. Mbah Muchit lebih senang mengambilnya dalam bentuk buku. Lalu, ia bagikan kepada orang lain yang datang bertamu atau saat ada acara.

Desember 2005, ketika ulang tahunnya ke-80, Mbah Muchit juga membagikan bukunya yang berjudul "Fikih Perempuan Praktis". Saat itu, ia sedang mengadakan acara di Pesantren KH Wahid Hasyim, Bangil, Pasuruan. Begitu pula saat Munas dan Konbes NU di Surabaya pada 2006. Saat itu, beliau membagikan buku "NU dalam Perspektif Sejarah dan Ajaran".

Untuk buku yang terakhir ini, saya pernah mendapatkannya pula. Gratis pula. Saat itu, saya diberi oleh seseorang di pondok. Setelah cukup lama saya pelajari dan nangkring di rak buku, ada teman yang meminjamnya. Sampai saat ini, buku itupun tak kunjung balik. Mungkin, ada lagi yang meminjamnya dari teman saya tersebut. Tak balik juga. Dan terus bergulir demikian.

Seperti itu, mungkin yang diharapkan oleh Mbah Muchit atas buku-buku yang ia bagikannya. Ia tidak rela jika buku yang dibagikannya tersebut sampai tidak terbaca. Maka, ketika buku itu sudah nangkring dan tak dibaca lagi, buku itu pun berpindah tangan. Bisa jadi, bukan? (Ayunk Notonegoro)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG