IMG-LOGO
Pustaka

Membela Kehormatan Nusantara di Timur Tengah

Jumat 4 Agustus 2017 11:3 WIB
Bagikan:
Membela Kehormatan Nusantara di Timur Tengah
Orang-orang Nusantara pada abad 17 hingga19 banyak menimba ilmu di Haramain. Tak sedikit para santri itu di kemudian hari mencapai keilmuan yang setaraf ulama internasional. Mereka menjadi khatib, imam, memimpin pengajian dengan murid dari berbagai negara. Tak hanya itu, keilmuan mereka ditunjukkan dengan menulis banyak karya. Di antara ulama yang mencapai taraf seperti itu adalah Syekh Mukhtar Atharid Al-Bughuri. 

Meski demikian, komentar miring kadang sering dilontarkan orang Arab kepada orang Nusantara dengan perkataan “Ya Jawah-jawah baqar. Ya jawah, ya jawah ya’kul hanasy, hai orang Jawa, hai orang jawa yang seperti sapi. Hai orang Jawa, hai orang Jawa yang memakan sejenis ular. (hal.93)

Konon pada masa Syekh Mukhtar Atharid Al-Bughuri berkiprah di Masjidil Haram, terjadi polemik tentang hukumnya belut yang sering dikonsumsi orang-orang Nusantara. Pada masa tersebut, ulama Timur Tengah ada yang mengharamkan memakan belut karena dianggap sebagai bagian dari jenis ular. Syekh Mukhtar Atharid mengatakan:

“Pada permulaan tahun 1329 H, terjadilah debat di antara orang yang disandarkan kepada ilmu dengan orang selevelnya dari para ulama Jawa mengenai masalah belut. Di antara mereka terjadilah korespondensi tanya jawab. Salah satu di antara mereka berdua berkata mengenai keharaman belut. Dia menyandarkan hal tersebut dengan beberapa hal samar yang akan saya terangkan serta sanggahannya, tanpa menukil pendapat ulama madzhab dan kitab-kitab mereka. Sedang pihak lain menyanggah jawaban tersebut dan berkata mengenai kehalalan belut itu dengan bersandar bahwa belut termasuk dalam keumuman halalnya hewan laut, di mana yang dikehendaki adalah air secara mutlak seperti keterangan yang akan datang, dengan menukil dari kitab-kitab tafsir dan tidak mampunyai hewan itu hidup di daratan.” (hal. 1-2) 

Sebagai orang Nusantara yang pernah memakan dan menyukai belut, Syekh Mukhtar Atharid Al-Bughuri memberikan penjelasan dalam bentuk karya “As-Shawa’iqul Muhriqah lil Auhamil Kazibah fi Bayani Hillil Baluti war Raddu ‘ala man Haramahu”. Karya yang diselesaikan pada 8 Muharram 1329 H itu kini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Amirul Ulum dan Khairul Anwar. Pada kitab itu, ia membela kehormatan orang-orang Nusantara. 

Kitab tersebut disusun ke dalam 10 bagian. Bagian pertama pengantar dari pengarang yang menjelaskan asal-mula polemik masalah belut tersebut. Bagian kedua membahas hal-hal yang berkaitan dengan belut yaitu pembagian jenis-jenis hewan. Bagian ketiga membahas tentang makna lautan yang disandarkan pengarang kepada ulama-ulama lain. 

Pada bagian ini, pengarang menyebutkan, bahwa firman Allah dalam surat Al-Maidah: 96, sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir Jamal yang mengutip Tafsir Khazin; yang dimaksud lautan adalah semua air, baik yang tawar maupun asin, sungai, lautan, ataupun kolam. (hal. 29). 

Pada bagian keempat, pengarang menjuduli babnya dengan “Ancaman Terlalu Mudah Memberi Hukum Halal atau Haram atas Suatu Perkara Tanpa Dalil Syar’i”.  

“Bagi orang yang tidak memiliki kemampuan berfatwa, tidak diperkenankan berfatwa mengenai perkara yang tidak dia temukan tertulis dalam kitab. Walaupun dia menemukan satu perkara yang sama, atau beberapa perkara. Orang yang ahli dalam faqih adalah orang yang ahli dalam kaidah ushul imamnya, semua bab dari ilmu Fiqih. Sekiranya dia mampu menganalogikan suatu perkara yang tidak dinash oleh imamnya. Ini adalah suatu kedudukan yang sangat agung, dan tidak ditemukan pada saat ini. Karena itu adalah kedudukan para Ashab al-Wujuh, dan mereka telah terputus sejak masa 400 tahun.” (hal. 33)

Bagian lima, pengarang menukil penjelasan Imam Ibnu Hajar dalam kitab “Fatawi Kubra” yang menukil Imam Nawawi dalam kitab “al-Majmu” yang berkaitan dengan cara berpendapat dalam hukum agama. Bagian keenam membahas pendapat para imam mengenai kehalalan hewan seperti belut dan belut itu sendiri. Bagian ketujuh membahas bentuk dan dingkah laku belut. Pada bagian kedelapan, menyebutkan bahwa belut adalah hewan yang hidup di air.  

Pada bagian kesembilan, barulah pengarang menetapkan hukum belut. Pada bagian ini, pengarang mencantumkan berbagai pendapat ulama yang mengatakan haramnya belut. Kemudian pengarang membantahnya dan menjelaskan argumentasinya. Sementara bagian kesepuluh, pengarang menjelaskan hukum memakan beberapa jenis hewan seperti remis, keong, tutut. 

Pada versi terjemahan Amirul Ulum, dicantumkan naskah asli “As-Shawa’iqul Muhriqah lil Auhamil Kazibah fi Bayani Hillil Baluti war Raddu ‘ala man Haramahu”, tapi sayangnya tidak terlalu jelas. 


Peresensi adalah Abdullah Alawi

Data Buku
Judul asli : As-Shawa’iqul Muhriqah lil Auhamil Kazibah fi Bayani Hillil Baluti war Raddu ‘ala man Haramahu
Penulis : Syekh Mukhtar Atharid Al-Bughuri
Judul terjemahan : Kitab Belut Nusantara
Penerjemah : Amirul Ulum dan Khairul Anwar
Tebal : xii+98 halaman
Cetakan : Juli, 2017
Penerbit : CV. Global Press
ISBN : 978-602-61890-0-4

Bagikan:
Rabu 2 Agustus 2017 14:0 WIB
Ideologi Partai Politik Islam tentang Dasar Negara
Ideologi Partai Politik Islam tentang Dasar Negara
Di Indonesia, hubungan Islam dan negara memiliki sejarah yang sangat panjang. Akar-akar geneologisnya dapat dilacak hingga pada awal penyebaran Islam di Nusantara. Perjalanan panjang Islam dengan politik di negeri ini dapat dikataka Islam telah menjadi bagian integral dari perkembangan dan sejarah politik Indonesia. Sekalipun Islam telah menjadi bagian penting dalam perjalanan politik Indonesia, namun mengurai hubungan antara keduanya tidaklah mudah.

Mayoritas masyarakat Indonesia berpandangan bahwa diskusi tentang Pancasila sebagai dasar negara Indonesia telah udai. Faktanya, sebagian kecil umat Islam masih ada yang menginginkan ideologi lain, di luar Pancasila hingga sekarang ini. Kelompok ini mulai muncul dan tumbuh subur pasca reformasi. Keadaan keterbukaan dan demokrasi menjadi era baru yang dinikmati oleh seluruh komponen bangsa, tidak terkecuali sebagian kecil umat Islam yang ingin menggantikan dasar negara secara terang-terangan.

Di pertengahan tahun ini, keadaan demikian --yang merupakan akibat dari era demokrasi-- dirasa oleh pemerintah semakin genting yang pada akhirnya pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Undang-undang Organisasi Masyarakat. 

Kehadiran Perppu ini dirasa penting oleh pemerintah dan mayoritas masyarakat Indonesia untuk mengatasi menghilangkan penyebaran ideologi dan ajaran yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Agar menghindari gangguan terhadap persatuan dan kesatuan bangsa, yang dapat berdampak pada disintegritas bangsa. Sebab penyebaran ideologi anti-Pancasila ini cenderung dikemas dan disisipkan dalam berbagai bentuk, seperti Organisasi Masyarakat (Ormas), Organisasi Keagamaan, dan mungkin partai politik. Sementara UU Ormas yang ada tidak efektif untuk menerapkan sanksi bagi Ormas yang melanggar.

Hadirnya buku ini sebagai wujud kegelisahan dan kekhawatiran terhadap keadaan Pancasila sebagai dasar negara. Menurut Abu Rokhmad --penulis buku ini-- berasumsi selamat atau tidaknya Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa sangat tergantung dengan peran partai politik. Dimana mereka --setelah melalui pemilu-- menempatkan wakilnya di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang salah satu haknya adalah menyusun undang-undang (legislasi). Sehingga keadaan demikian ini dirasa belum aman sepenuhnya, sebab perdebatan tentang hubungan Islam dan negara, termasuk soa dasar negara, secara formal diwakili oleh elit-elit partai politik tersebut, (hal.15).

Potensi ancaman

Salah satu pilar demokrasi, kehadiran partai politik merupakan aktor yang penting dalam usaha menjaga, melindungi dan melestarikan Pancasila. Tanpa peran mereka, Pancasila bisa jadi akan menjadi catatan sejarah berbarengan dengan hancurnya Indonesia, yang dikarenakan Pancasila diganti dengan ideologi lain. Oleh karena itu, dalam buku ini mengupas tentang peta dan gerakan ideologi partai politik Islam dan berbasis masa Islam yang berpotensi dapat membahayakan dasar negara. Selain itu, buku ini juga mengurai secara detail pandangan partai politik Islam dan berbasis masa Islam tentang Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, (hal. 16).

Berdasarkan penelitian lapangan (field reseacrh) terhadap empat partai politik Islam, yakni Partai Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Partai Amanat Nasional (PAN) di Jawa Tengah, buku ini menyimpulkan bahwa peta dan gerakan ideologis partai politik Islam dan berbasis masa Islam, yakni PKB dan PAN menggunakan asas kebangsaan, namun tidak meninggalkan karakter keislamannya. Kedua partai ini relatif tidak memiliki orientasi ideologi Islam dan menjadikan Pancasila sebagai dasar ideologi negara yang sudah final. Dalam kegiatan kepartaian, dua partai ini lazim menggunakan simbol-simbol kebangsaan, (hal 189).

Sedangkan yang berhubungan dengan PPP dan PKS, dua partai ini menggunakan asas Islam dan dalam perjalanan kepartaian, tegaknya negara Islam kadang-kadang masih menjadi cita-cita para kadernya. Sekalipun secara formal partai tetap menjadikan Pancasila sebagai dasar negara, (hal. 189).

Adapun pandangan partai politik Islam dan berbasis masa Islam, dari keempat partai yang menjadi subyek dalam kajian ini berpandangan bahwa Pancasila merupakan dasar negara Indonesia. Secara formal, mereka menyatakan bahwa pada kader tidak ada yang mencita-citakan berdirinya negara Islam. Khusus yang terkait dengan PKS, buku-buku yang dipublikasikan para kadernya tampak secara eksplisit mengusung cita-cita yang berseberangan dengan ideologi Pancasila, (hal. 190).

Di sini, partai politik Islam dan berbasis masa Islam –termasuk partai politik non-Islam-- memiliki tugas besar dan penting demi keutuhan bangsa ini. Partai-partai ini hendaknya memegang teguh amanah konstituen da para pendiri bansa untuk menjaga dan memelihara perjanjian suci kebangsaan –Pancasila- sebagai payung kehidupan bersama. Mereka juga perlu mendidik kader untuk tidak mempertentangkan antara keindonesiaan-kebangsaan dengan Islam.

Hal ini sangat penting, mengingat partai politik memiliki peran strategis untuk mengawal keutuhan NKRI. Sebab mereka yang memiliki wakil-wakil di parlemen. Wakil partai politik yang berkumpul di Majelis Permusyawaratan Rakyat, salah satu tugasnya adalah mengamandemen UUD 1945. Tugas ini sangat mulia dan sangat menentukan nasib bangsa selanjutnya. Sehingga partai politik ini harus mengarahkan dan mendidik para kader yang sejalan dengan falsafah bangsa.

Walhasil, buku yang berbobot ini layak untuk dibaca oleh semua kalangan agar mampu mengenali dan memahami ancaman --khususnya, potensi ancaman yang bergerak melalui jalur legislasi-- terhadap Pancasila. Dengan demikian, hadirnya buku ini sebagai upaya untuk membangunkan kesadaran seluruh elemen bangsa, tentang pentingnya menjaga konsensus suci warga bangsa. Karena, Pancasila adalah perjanjian suci yang memayungi semua warga negara, apapun agama, suku, ras dan etnisnya.

Peresensi adalah Muhamad Zainal Mawahib, Alumni Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo Semarang.

Data Buku
Judul : Islam dan Negara: Pergulatan Ideologi Partai Politik (Berbasis) Islam tentang Dasar Negara di Era Reformasi
Penulis : Abu Rokhmad
Tebal : xi+240 halaman
Cetakan : Januari, 2017
Penerbit : eLSA Press
ISBN : 978-602-6418-05-0


Senin 31 Juli 2017 10:0 WIB
Naik Haji ‘Bersama’ Kekasih Allah
Naik Haji ‘Bersama’ Kekasih Allah
Ibadah haji menempati urutan terakhir dari beberapa rentetan rukun Islam, haji sedikit berbeda dengan rukun-rukun Islam yang lain. Ibadah haji hanya diwajibkan sekali seumur hidup, dan itupun berlaku kepada orang yang mampu saja, baik secara fisik maupun materi. Keadaan atau keputusan Islam ini memacu semangat juang sebagian kaum muslim yang berada pada taraf ekonomi menengah ke bawah, mereka berusaha sekuat tenaga dan sabar dalam mengumpulkan dana untuk menjadi tamu Allah.

Pada tahun 2017 ini, ada beberapa kisah calon jamaah haji yang taraf ekonominya bisa dibilang cukup rendah, akan tetapi mereka berhasil mendaftar haji dengan menabung selama puluhan tahun. Di Klaten Jawa Tengah misalnya, Ngadiman Yitno Samito, seorang tukang becak ini berhasil melaksanakan rukun Islam yang terakhir setelah menabung selama 20 tahun dari hasil mengayuh becak. Lebih lama menabung dari Ngadiman, ada Mansyur yang berprofesi sebagai tukang jahit, pria yang berasal dari Banjarnegara Jawa Tengah itu bisa melaksanakan ibadah setelah menabung selama 27 tahun. Selain untuk membiayai keluarga, hasil kerja keras dari usaha kecil-kecilan mereka sisihkan untuk menabung. Sungguh proses dan usaha yang begitu lama mereka lakukan hanya untuk memenuhi rukun Islam yang kelima.

Perjuangan dan kerja keras untuk mengunjungi Rumah Allah tidak hanya terjadi pada sebagian warga Indonesia saat ini, akan tetapi Nabi Muhammad dan para sahabatnya dulu juga mengalami hal serupa. Pada tahun 6 H/628 M Rasulullah bersama sekitar 1.400 kaum Muslim yang berangkat dari Madinah berniat untuk mengunjungi Makkah, setibanya di Hudaibiyah kedatangan mereka ditolak oleh kaum musyrik Quraisy yang menguasai kawasan Makkah waktu itu. Terjadilah perundingan di antara kedua belah pihak, dan disepakati beberapa perjanjian Hudaibiyah, salah satunya Rasulullah beserta rombongannya baru bisa mengunjungi Kota Makkah selama tiga hari pada tahun berikutnya (hal. 255).

Perjalanan panjang yang sangat melelahkan harus ditambah dengan kekecewaan yang mendalam, Umar ibn Al-Khattab termasuk sahabat yang merasa tidak puas dengan isi perjanjian Hudaibiyah, karena kaum Muslim seperti direndahkan, padahal kaum Muslim berada pada kebenaran sedang orang-orang musyrik berjalan di atas kebatilan. Umar ibn Al-Khattab pun mengajukan beberapa keberatannya kepada Rasulullah dan Abu Bakar, akan tetapi Rasulullah tetap berpegang pada isi perjanjian Hudaibiyah, sehingga pada tahun itu beliau bersama rombongannya harus kembali ke Madinah.

Hal ini nampaknya memberikan isyarat kepada kaum Muslim, bahwa terkadang memang tak mudah untuk menapakkan kaki di Tanah Suci Makkah, butuh perjuangan dan tekad yang bulat, apalagi bagi mereka yang memiliki taraf ekonomi rendah. Kisah Ngadiman Yitno Samito dan Mansyur di atas mungkin sedikit bisa memberikan motivasi bagi mereka yang taraf ekonominya rendah tetapi memiliki keinginan yang luar biasa untuk menjadi tamu Allah.

Dalam sejarah disebutkan bahwa Rasulullah pertama kali melaknasanakan ibadah haji pada tahun 10 H. pada akhir-akhir bulan Dzulqa’dah Rasulullah mulai berkemas-kemas untuk berangkat, menyiapkan bekal perjalanan, memakai wangi-wangian, dan mengenakan mantel. Sebelum niat berihram, beliau terlebih dahulu mandi, kemudian ‘Aisyah binti Abu Bakar Al-Siddiq memercikkan wewangian ke tubuh dan kepala beliau, hingga tetesan wewangian itu terlihat meleleh di anak-anak rambut dan jenggot, dan beliau tidak membasuh tetesan wewangian itu. Pada tanggal 4 Dzulhijjah 10 H, setelah memasuki Masjid Al-Haram beliau langsung melaksanakan tawaf mengelilingi Ka’bah, lalu dilanjutkan dengan melaksanakan sa’i antara Shafa dan Marwah tanpa bertahallul, karena beiau berniat melaksanakan Haji Qiran (hal. 268).

Selain menjelaskan tentang bagaimana kisah Rasulullah bersama para sahabat menunaikan ibadah haji yang dikemas dalam 20 bab, penulis juga mengutip pesan Ali Syariati dalam karyanya, Haji. Menurut Ali Syariati, yang terpenting dari ibadah haji adalah kesungguhan untuk menangkap pesan sejarah dari tokoh-tokoh yang diperankan, dengan tokoh utamanya: Nabi Ibrahim. Perjalanan hidup beliau senantiasa dicurahkan hanya kepada Allah, meski begitu beliau tetap harus menerima beberapa cobaan dan ujian dari Allah, dengan diperintahkannya menyembelih putra kesayangannya (hal. 251). 

Dengan kata lain, Muslim sejati dan apalagi sudah berpredikat sebagai “pak haji” harus selalu tabah dan memasrahkan semuanya kepada Allah ketika ia ditimpa suatu musibah, bisa saja saat itu Allah menguji kesabarannya. Muslim sejati tidak bisa berlomba-lomba dengan ketetapan dan ketentuan Allah.

Ibadah haji juga sebagai simbol kesederajatan sesama manusia, karena pada waktu pelaksanaannya semua jamaah haji sama-sama berdiri di hadapan Khalik-Nya dalam pakaian yang sama, tanpa perbedaan satu dengan yang lain. Sikap ini selayaknya harus tetap dipelihara sampai kembali pada kampung halamannya, sehingga “pak haji” tidak merasa “tinggi” sendiri dan tidak serta merta merendahkan dan apalagi menghina orang-orang di sekitarnya. Para kerabat, sanak family, dan tetangga sebenarnya mengharap “pak haji” atau orang yang pulang dari Tanah Suci sebagai sosok Nabi Ibrahim di kampung halaman mereka.

Data Buku
Judul : Pesona Ibadah Nabi: Shalat, Zakat, Puasa, Haji
Penulis : Ahmad Rofi’ Usmani
Penerbit : Mizan Pustaka
ISBN : 978-602-1337-35-6
Tebal : 346 Halaman
Peresensi: Saiful Fawait, Mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika), Sumenep.

Rabu 26 Juli 2017 20:2 WIB
Panggilan Selamat KH Habib Utsman Al Aydarus
Panggilan Selamat KH Habib Utsman  Al Aydarus
Panggilan selamat merupakan bunga rampai tulisan karangan KH Habib Utsman Al-Aydarus yang tertuang dalam buletin yang diterbitkannya bernama Panggilan Selamat. Ia menulis di buletin tersebut selama lebih dari satu dasawarsa (1974-1985). 

KH Habib Utsman merupakan tokoh NU Jawa Barat. Ia adalah Rais Syuriyah PWNU dari tahun 1960 hingga 1970. Jalur dakwahnya, selain melalui lisan, ia lakukan juga melalui lembaga pendidikan Assalaam. Sementara dakwah melalui tulisan ia sampaikan melalui Sumber Pemdaban,Al Muslih, Tutungkusan, dan Panggilan Selamat. (halaman 3).

Panggilan Selamat diterbitkan dua hingga empat kali sebulan. Edisi perdana dikeluarkan pada 21 Juli 1974 (l Jumadil Awwal 1384 H.) dengan pokok bahasan mengenai “Hidup” dan terakhir terbit dengan nomor 255 yang berisi uraian tentang Rabbana aatina fiddunyaa hasanah, wafil akhirati hasanah wa qinaa adzaban naar. 

Menurut putranya, KH Habib Syarif bin Utsman, judul tulisannya itu seolah-olah isyarat dia akan meninggal dunia pada1985 pada usia 75 tahun. Tulisan itu dipersiapkan seminggu sebelum wafatnya. 

Secara garis besar, khazanah pemikiran Habib Utsaman terbagi ke dalam beberapa topik, antara lain, Islam sebagai agama yang haq (benar), hakikat manusia, hakikat kehidupan, arkanul iman dan implikasinya dalam amal saleh, arkanul Islam berikut hikmah amaliahnya, akhlaq dan tasawuf, peristiwa-peristawa besar yang sarat makna, asmaul husna, dan kapita selekta tentang kehidupan sehari-hari. 

Panggilan Selamat yang ada di tangan penulis ini hanya memuat 135 tulisan yang dimulai dari tulisan kesatu Kemerdekaan dan yang terakhir Lebaran. 

Pada tulisan Kemerdekaan, ia memulainya dengan ungkapan seperti berikut ini: 

Alhamdulillah! Kita bersyukur dan berterima kasih kepada Allah Yang Maha Besar dan Maha AGung yang telah menjadikan kita jadi manusia, bukan dijadikannya kayu, batu, dan bainatang. Ditambah dengan diberi-Nya akal dan iman, diberi-Nya kemerdekaan, bahkan menjadi umat Nabi Muhammad. (halaman 12)

Ia menyebutkan bahwa kemerdekaan itu harus dijaga sebagai rasa syukur bangsa Indonesia kepada Allah. Ia mengimbau untuk waspada dari musuh luar dan dalam. Insyafkanlah kalau itu berada di dalam bangsa kita, usirlah kalau lain bangsa. 

Tulisan itu ditutup amanat dia kepada angkatan muda sebangsa, senegara, dan seagama, terutama yang beragama Islam, wajib kiranya merenungkan 6 pasal ini: 

Benar dan kuat benteng iman
Teguh dan jaza, keyakinan dan pendirian
Lurus bersih beres barisan
Terus maju, tidak mundur setapak kaki pun hingga selesai jihad dan perjuangan 
Insyafilah kekurangan terutama kesalahan
Lekaslah dan banyak-banyak bertaubat kepada Allah 

Kumpulan tulisan-tulisan Habib Utsman ini menambah khazanah keilmuan tokoh-tokoh NU yang kurang dikenal warganya ini. Padahal pada masanya Habib Utsman merupakan salah seorang tokoh yang turut membantu mendirikan Universitas Nahdlatul Ulama (UNNU) yang sekarang menjadi Universitas Islam Nusantara (Uninus) Bandung, anggota Dewan Kurator Universitas Islam Bandung (Unisba).


Info Buku
Judul             : Panggilan Selamat 
Penulis                     : KH Habib Utsman Al-Aydarus
Penerbit                     : Yayasan Assalam Bandung
Jumlah halaman     : 618 halaman 
Cetakan Pertama        : tanpa tahun
Peresensi              : Abdullah Alawi

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG