::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Bahas Gangguan Jiwa, Mahasiswa Universitas NU Lolos ke Pekan Ilmiah Nasional

Jumat, 04 Agustus 2017 18:02 Nasional

Bagikan

Bahas Gangguan Jiwa, Mahasiswa Universitas NU Lolos ke Pekan Ilmiah Nasional
Surabaya, NU Online
Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) akan berlangsung di Kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Sulsel akhir bulan depan, tepatnya 23-28 Agustus 2017. Dengan adanya even nasional, lima mahasiswi Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) lolos dan ditetapkan sebagai peserta Pimnas.

Mahasiswi yang lolos ini berasal dari Fakultas Keperawatan dan Kebidanan.

Ketua tim, Alfi Nur Hanifah, mengatakan, pihaknya mengangkat persoalan gangguan jiwa seperti fenomena bola salju, semakin hari semakin membesar.

"Maka dari itu, Unusa mengusulkan pembentukan kader kesehatan jiwa (Karsewa) dengan lokasi di Kelurahan Wonokromo," kata Alfi saat mempresentasikan materi kepada pembimbing, Jumat (4/8) ini.

Kelurahan Wonokromo menjadi perhatian mahasiswi Unusa. Tahun 2016 lalu ada sekitar 24 kasus dan di tahun ini meningkat menjadi 37 kasus yang menderita gangguan jiwa di kelurahan ini. "Dengan data yang bersumber dari Puskesmas Kel Wonokromo, tim kader kesehatan jiwa turun ke bawah," kata mahasiswi semester enam ini.

Melihat fenomena itu, rasa kepedulian pun terlihat dari mahasiswi Unusa. Alfi mengusulkan pembentukan kader kesehatan jiwa sebagai program kreativitas mahasiswa pengabdian masyarakat (PKMM) ke Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

"Kami menerima dana hibah sebesar 10 juta, lalu dilakukan monev dan dinyatakan lolos untuk mengikuti Pimnas," lanjutnya.

Dengan dikukuhkannya Karsewa, tugas kelima mahasiswa Unusa ini selain memberikan pelatihan juga menyiapkan modul dan liflet sebagai pegangan para kader untuk terjun ke masyarakat.

"Kami berharap dengan modul dan liflet ini masyarakat akan makin terbuka untuk melaporkan gejala penderita gangguan jiwa, karena memang bukan penyakit yang meresahkan dan menjadi aib bagi keluarga," pungkas Alfi. (Rof Maulana/Alhafiz K)