IMG-LOGO
Nasional

Surat Penerapan FDS SMPN 1 Blitar Ini Bantah Pernyataan Jokowi dan Muhadjir

Selasa 15 Agustus 2017 12:27 WIB
Bagikan:
Surat Penerapan FDS SMPN 1 Blitar Ini Bantah Pernyataan Jokowi dan Muhadjir
Surat Penerapan FDS di SMPN 1 Blitar.
Jakarta, NU Online
Penerapan kebijakan lima hari sekolah (five day school) di sejumlah kabupaten dan kota berdasarkan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 bukan isapan jempol. Hal ini disoroti di tengah Perpres yang sedang digodok Istana untuk menggantikan Permendikbud tersebut namun tetap diterapkan di sekolah.

Berdasarkan penelusuran NU Online, hal itu terlihat ketika Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Blitar, Jawa Timur mengedarkan surat pemberitahuan penerapan lima hari sekolah kepada orang tua/wali murid.

Surat pemberitahuan penerapan lima hari sekolah tersebut mendasarkan diri pada Surat Keputusan Walikota Blitar No. 188/217/HK/410.010.2/2017 tanggal 22 Mei 2017 tentang Pelaksanaan Pendidikan Lima Hari di Kota Blitar dan Permendikbud No. 23 Tahun 2017 tanggal 12 Juni 2017 tentang Hari Sekolah.

Dalam surat tertanggal 15 Juli 2017 yang ditandatangani Kepala SMPN 1 Blitar, Kateman tersebut dijelaskan bahwa lima hari sekolah mulai berlaku di SMPN 1 Blitar pada tahun pelajaran 2017/2018 dengan jam masuk sekolah pukul 07.00 WIB sampai dengan 15.00 WIB sebagai standar pelayanan minimal.

Praktik yang terjadi di lapangan tersebut mendapat sorotan tajam jika mengingat pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam video wawancara yang didampingi Mendikbud Muhadjir Effendy. 

Dalam kesempatan tersebut, Jokowi menyatakan bahwa tidak ada keharusan untuk menerapkan lima hari sekolah. Namun kenyataanya Pemerintah Kota Blitar dan Dinas Pendidikannya mengeluarkan surat keputusan dan surat edaran pemberitahuan pelaksanaan lima hari sekolah.

“Perlu saya sampaikan, perlu saya tegaskan lagi bahwa tidak ada keharusan untuk lima hari sekolah. Jadi tidak ada keharusan full day school, supaya diketahui. Dan yang selama ini enam hari silakan lanjutkan tidak perlu berubah sampai lima hari. Dan untuk yang lima hari kalau itu diinginkan oleh semua pihak ya silakan diteruskan. (Maksudnya) kalau diinginkan masyarakat, diinginkan oleh ulama, silakan. Jadi Perpres sedang kami godok dengan Pak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nanti selesai akan kita umumkan,” ujar Jokowi dalam video berdurasi 48 detik tersebut.

Terkait dengan jam masuk sekolah yang jelas disebutkan dalam surat pemberitahuan lima hari sekolah SMPN 1 Blitar yaitu mulai pukul 07.00-15.00 WIB juga perlu mendapat perhatian ketika Mendikbud Muhadjir Effendy justru menjelaskan dalam pernyataan klarifikasinya bahwa untuk SMP selesai pukul 13.20 WIB ketika lima hari sekolah diterapkan.

“Kemendikbud sudah membuat model jadwal lima hari sekolah. Perhari hanya menambah sekitar 1 jam 20 menit dibanding 6 hari sekolah. Berarti untuk SD sudah selesai jam 12.10 sedang untuk SMP sekitar jam 13.20. Jadi dalam kaitannya dengan Madrasah Diniyah (Madin) siswa tetap bisa belajar di Madin sebagaimana biasa,” kata Muhadjir dalam klarifikasi tertulisnya.

Soal penerapan lima hari sekolah di beberapa daerah tersebut diamini oleh Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) HA. Helmy Faishal Zaini. Dia mengungkap sejumlah data yang masuk ke PBNU mengenai sejumlah daerah yang menerapkan lima hari sekolah yang tadinya enam hari sekolah dengan mendasarkan diri pada Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017.

“Kami sudah menerima laporan contoh di salah satu sekolah itu yang tadinya sudah enam hari tiba-tiba dari dinas kirim surat soal ketentuan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 itu tentang pelaksanaan sekolah lima hari dan sekolah itu mengubah kebiasaannya,” ujar Helmy Faishal, Senin (14/8) saat dikonfirmasi NU Online.

Ditanya soal data jumlah kabupaten dan kota yang sudah menerapkan lima hari sekolah, Helmy mengungkap bahwa berdasarkan data yang masuk ke dirinya, di Jawa Tengah ada sekitar 15 kabupaten/kota yang sudah menerapkan lima hari sekolah.

“Ada laporan yang masuk ke saya dari Jawa Tengah dan Jawa Timur yang sudah menerapkan lima hari sekolah sejak Permendikbud Nomor 23 tahun 2017, kemudian datang surat kawat dari dinas ke sekolah-sekolah untuk menerapkan,” jelas Helmy. (Fathoni)
Bagikan:
Selasa 15 Agustus 2017 23:0 WIB
Kesan Peserta Pelatihan Kader Penggerak Aswaja Muslimat NU DKI Jakarta
Kesan Peserta Pelatihan Kader Penggerak Aswaja Muslimat NU DKI Jakarta
Jakarta, NU Online
Pelatihan Kader Penggerak Aswaja yang Berwawasan Kebangsaan yang dihelat Pimpinan Wilayah Muslimat NU DKI Jakarta, Senin dan Selasa, 14-15 Agustus 2017  di Hotel Bintang, Jakarta Pusat berlangsung sukses. Sedikitnya 150 orang mengikuti kegiatan tersebut.

Mereka adalah perwakilan PP Muslimat NU, PW Muslimat NU DKI Jakarta, PW Muslimat NU Lampung, PC Muslimat NU se-DKI Jakarta, IPNU, IPPNU, Fatayat, dan GP Ansor.

Maghfiroh, aktivis Muslimat NU dari Kecamatan Matraman Jakarta Timur, mengungkapkan ada pengalaman-pengalaman baru yang ia dapatkan dari kegiatan tersebut.

“Paling menarik tentang keaswajaan, itu sangat penting bagaimana kita sebagai aktivis Muslimat NU mengenalkan keaswajaan kepada anak-anak muda,” katanya.

Menurutnya anak-anak muda sekarang banyak yang jauh dari pengenalan keaswajaan ala NU karena lebih terpukau dengan penampilan yang mereka lihat dari kelompok di luar NU.

“Kita sebagai orang NU harus memberikan contoh sebagai anutan. Kalau kita contohkan yang baik tentu mereka akan suka,” katanya saat ditanya bagaimana mengenalkan keaswajaan yang ia dapatkan dari pelatihan.

Peserta lainnya, Kholifah, aktivis Muslimat NU Jakarta Barat, mengungkapkan materi dalam pelatihan semakin memantapkan dan menambahkan wawasan.

“Terutama pengetahuan bahaya terorisme dan adanya paham-paham radikal. Penting kita ketahui dan kenalkan kepada masyarakat agar waspada,” ungkapnya.

Pelatihan menghadirkan KH Musthofa Aqil Siroj dari Syuriyah PBNU, perwakilan BNPT, Kemenag, dan Pemda DKI Jakarta. (Kendi Setiawan/Fathoni)
Selasa 15 Agustus 2017 22:27 WIB
Ini Tuntutan 15.000 Santri Tasikmalaya Terkait Kebijakan FDS
Ini Tuntutan 15.000 Santri Tasikmalaya Terkait Kebijakan FDS
Tasikmalaya, NU Online
Kebijakan lima hari sekolah atau Full Day School (FDS) Kemendikbud mendapatkan berbagai penolakan di berbagai daerah, salah satunya dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Tasikmalaya bersama sekitar 15.000 santri yang menyampaikan lima tuntutan di depan Kantor Bupati Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (15/8).

Dibawah tugu lam alif dan disaksikan langsung oleh Bupati Tasikmalaya, Ketua PCNU Kabupaten Tasikmalaya, KH Atam Rustam menyampaikan, dengan tetap diberlakukannya Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017, PCNU Tasikmalaya menyatakan:

1. Menolak memberlakukan lima hari sekolah oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan karena tidak sesuai dengan keragaman dan kondisi geografis dan sosiologis masyarakat Indonesia.

2. Meminta Pemerintah Pusat untuk nencabut Permendikbud Nomor 23 tahun 2017 yang mendasari kebijakan lima hari sekolah.

3. Meminta Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya untuk membatalkan rencana tambahan jam pelajaran di tingkat sekolah SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA/SMK di wilayah Kabupaten Tasikmalaya.

4. Meminta komponen bangsa khususnya pemegang kuasa publik untuk senantiasa menjaga stabilitas bangsa dengan menjauhkan diri dari kontroversi yang tidak semestinya.

5. Mendorong seluruh masyarakat khususnya warga Nahdliyin untuk tetap menjaga ketenangan dan ketentraman di tengah kontroversi besar yang ditimbulkan oleh kebijakan Kemendikbud dengan tetap berkarya dan berkinerja baik dalam penyelenggaraan pendidikan.

KH Atam Rustam yang juga cucu Pahlawan Nasional KH Zainal Musthafa itu melanjutkan, dengan lima tuntutan tersebut, maka santri dan warga NU Tasikmalaya meminta Bupati Tasikmalaya untuk segera menindaklanjuti tuntutan tersebut. (Husni Mubarok/Fathoni)
Selasa 15 Agustus 2017 22:2 WIB
Ini Alasan Prof Kato Pakai Baju Koko Saat ke Indonesia
Ini Alasan Prof Kato Pakai Baju Koko Saat ke Indonesia
Jakarta, NU Online
Ada yang unik saat Guru Besar Universitas Chuo, Profesor Hisanori Kato, bersama 23 mahasiswanya berkunjung ke Indonesia. Guru besar yang bersahaja ini memakai baju khas Muslim Indonesia, yakni baju koko.

Menurut dia, memakai baju khas penduduk setempat merupakan wujud penghormatan. Dengan berpenampilan seperti kaum muslimin Indonesia, ada rasa kedekatan dalam dirinya.

“Saya banyak pakai batik atau baju koko ketika bertemu dengan orang Muslim Indonesia. Hanya ingin ekspresikan hormat atau respect kepada mereka,” ujar Kato di Jakarta, Selasa (15/8).

Saat ditanya bedanya Muslim Indonesia dengan Muslim di negara lain yang pernah ia kunjungi, pria berkaca mata ini mengatakan pada dasarnya tidak begitu berbeda. Meski demikian, kemampuan berbahasa Indonesia membuat dirinya lebih dekat dengan WNI.

“Tapi mungkin karena saya paham bahasanya jadi merasa lebih dekat. Saya respect agama apa pun. Tapi kalau Muslim Indonesia menurut saya baik. Karena itu, saya selalu respect mereka. Dengan kata lain, merekalah yang membuat saya menghomati mereka,” ujarnya.

Pria yang pernah mengajar di Universitas Nasional Jakarta selama empat tahun ini menambahkan, dirinya tertarik dengan fenomena sosial di Indonesia, terutama mengenai Islam. Sejumlah riset telah ia buat tentang dunia Islam di Indonesia. Salah satu bukunya, “Agama dan Peradaban” ia tulis dalam bahasa Indonesia.

“Dari situ juga saya kenal dengan Gus Dur. Saya dekat dengan Gus Dur sampai akhir hayatnya. Kami saling berkunjung. Saya juga sudah mengajak beliau ke Sakai,” tutur Kato.

Selama hampir 20 tahun berjibaku di Indonesia, Kato kini tinggal di Sakai dan mengajar di Universitas Chuo, Tokyo, Jepang. Universitas yang berusia lebih dari 100 tahun ini merupakan perguruan tinggi tertua di Jepang yang berdiri pada tahun 1800-an.

Bagi Kato, kenangan tentang Indonesia sangat mendalam. Lika-likunya menaklukkan ibukota sangat menginspirasi. “Tak akan pernah pudar. Untuk mengenang kisah hidup saya di sini juga telah saya rampungkan buku berjudul Kangen Indonesia,” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG