IMG-LOGO
Pesantren

Ini Cara Kesebelasan Jersey Sirojut Thalibin FC Tampil Syar'i

Selasa 12 September 2017 21:4 WIB
Bagikan:
Ini Cara Kesebelasan Jersey Sirojut Thalibin FC Tampil Syar'i
Grobogan, NU Online
Jika dilihat sekilas, mungkin seragam punggawa asal Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo Tanggungharjo Kabupaten Grobogan ini layaknya seragam olahraga sepakbola pada umumnya. Namun, cobalah perhatikan dengan seksama.

Di bagian celana terlihat motif garis oranye yang terputus. Alias tidak sampai pada ujung kain celana yang menjuntai ke bawah menutupi kedua lutut para pemain.

Setelah dikonfirmasi oleh NU Online, CEO SIRBIN FC Muhammad Mudrik menerangkan bahwa hal tersebut dikarenakan ada penambahan kain hitam di bagian bawah celana.

"Hal tersebut merupakan syarat yang ditetapkan oleh KH Muhammad Shofi Al-Mubarok selaku pengasuh pesantren, bahwa santri meskipun dalam keadaan berolahraga, tetapi juga harus tetap menjaga syariat agama dengan berusaha untuk selalu menutup auratnya," terangnya.

Ia juga menjelaskan bahwa ketentuan tersebut telah ditetapkan sejak keikutsertaan Pesantren Sirojuth Tholibin yang pertama, yaitu tahun 2016.

Jadi penambahan kain itu bertujuan agar celana yang dikenakan para pemain tetap relevan jika dipandang dalam koridor syariat Islam. Karena telah diketahui bersama bahwa kewajiban seorang Muslim laki-laki adalah menutup auratnya, yaitu anggota tubuh  mulai dari kedua lutut hingga ke atas menuju pusar dalam keadaan apapun baik sedang berolahraga maupun dalam aktivitas yang lainnya.

Mungkin, hal ini bisa menjadi inspirasi bagi panitia LSN ke depannya. Jangan sampai di tengah geliat mendakwahkan Islam dan santri yang juga mampu berkompestisi. Hal-hal sederhana tetapi sangat intim seperti menutup aurat malah diabaikan dalam pelaksanaannya. (Ulin Nuha Karim/Alhafiz K)

Tags:
Bagikan:
Senin 11 September 2017 14:1 WIB
Baitul Arqom Terinspirasi dari Basecamp Dakwah Nabi
Baitul Arqom Terinspirasi dari Basecamp Dakwah Nabi
Santri putri Baitul Arqom selepas mengaji (dok. NU Online)
Bandung, NU Online 
Lembaga Dakwah PBNU bersilaturahim kepada pesantren tua di kabupaten dan kota Bandung Jumat lalu (8/9). Pesantren pertama yang dikunjungi adalah Baitul Arqom, Lemburawi, Kecamatan Pacet. Pesantren tersebut didirikan KH Muhammad Fakih (Mama Fakih) bin KH Muhammmad Salim sekitar tahun 1922. 

Rombongan diterima salah seorang pengasuh pesantren tersebut, KH Athoillah. Setelah rehat dan berbincang, kemudian berziarah ke kompleks pemakaman keluarga pesantren. Di kompleks pemakaman, Kiai Athoilah mengatakan, nasab leluhurnya masih bersambung dengan Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Mama Faqih merupakan keturunan ke-17 dari wali Cirebon tersebut. 

Saat ini Baitul Arqom memiliki sekitar 1.500 santri. Mayoritas berasal dari kabupaten-kabupaten di Jawa Barat. Namun, hampir dari setiap provinsi, dari Aceh hingga Papua, ada yang mondok di pesantren itu. Jika ditambahkan dengan mahasiswa dan mahasiswi di STAI pesantren, bisa mencapai 2.500 orang. 

Menurut Kiai Athoillah, salah satu faktor adanya santri dari berbagai wilayah adalah karena jejaring para kiai pendahulu yang merupakan dai keliling ke daerah-daerah. KH Ali Imron dan KH Yusuf Salim adalah dai populer yang tak henti-hentinya menyebarkan ajaran Islam. 

KH Yusuf Salim sering berdakwah hingga ke luar Jawa. Selepas berdakwah itulah, ada orang tua yang menitipkan anaknya di Baitul Arqom.

Terispirasi dari Sahabat Nabi
Sebagaimana umumnya pesantren tua, kiai pendiri hampir tidak menamakan pesantren secara khusus. Pesantren hanya dikenal dengan nama kampungnya. Di Jawa Barat misalnya dikenal Pesantren Gentur (sebuh tempat di Cianjur) Gunung Puyuh (di Sukabumi).

Di Jawa juga seperti itu, pesantren Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari  lebih dikenal nama kampung tempat pesantren itu berdiri, Tebuireng. Baitul Arqom, masa kepemimpinan Mama Faqih hanya dikenal sebagai Pesantren Lemburawi. 

Pada tahun 1964, Mama Faqih wafat meninggalkan sembilan keturunan, buah pernikahannya dengan Hj. Maryamah. Putra-putrinya adalah Hj. Anisah Mabruroh, H. Rd Sofwan, Hj.Nyimas Qona’ah, KH Ali Imron, KH Taufiq Abdul Hakim, Hj. Neng Kholishoh Kamilah, Neng Endah Zainab, KH Yusuf Salim Faqih, KH Madani Sulaiman. Kepemimpinan Pesantren Lemburawi dillanjutkan menantu Mama Faqih, KH Ubaidillah. 

Pada tahun 1970, Pesantren Lemburawi berubah nama menjadi Baitul Arqom Al-Islami. Menurut KH Athoillah, nama itu terinspirasi dari nama sahabat Nabi Muhammad SAW, Arqom bin Arqom. Sahabat Arqom tergolong beriman pada masa awal Nabi Muhammad SAW menyampaikan risalah Islam. 

Pada masa sulit dengan dakwah sembunyi-sembunyi itu, Arqom merelakan rumahnya menjadi, untuk istilah sekarang semacam basecamp untuk berdakwah Nabi Muhammmad dengan sahabat-sahabat. Baitul Arqom sama dengan rumahnya Arqom dengan fungsi pusat dakwah. 

KH Ubaidillah wafat 11 Februari 1986. Karena ia tidak memiliki keturunan, kepemimpinan pesantren dilanjutkan putra keempat Mama Faqih, KH Ali Imron. Pada masa dia, pesantren dikelola bersama saudara dan keponakanya, KH Taufiq Abdul Hakim, KH Yusuf Salim, Kiyai Madani Sulaiman, KH Sulaeman Ma’ruf,  KH Abdul Khobir Hasan, KH Fuad Musthofa Hanan, dan para asatidz lainya.

KH Ali Imron adalah menantu KH Ruhiat, tokoh NU Tasikmalaya, pendiri Pondok Pesantren Cipasung. Dengan demikian, KH Ali Imron merupakan adik ipar dari KH Ilyas Ruhiat, Rais ‘Aam PBNU (1994-1999) masa Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid. 

KH Ali Imron wafat pada Juni 2005. Kepemimpinan Baitul Arqom dilanjutkan KH Yusuf Salim yang wafat pada Juli 2009. Kini, Pesantren Baitul Arqom, pesantren pusat dakwah itu, dilanjutkan kiai-kiai muda dari keturunan Mama Faqih. Salah seorang di antaranya KH Athoillah. (Abdullah Alawi)       
  

Kamis 7 September 2017 14:37 WIB
Santri Nuris Kalahkan Sekolah Negeri di Lomba Esai Nasional
Santri Nuris Kalahkan Sekolah Negeri di Lomba Esai Nasional
Jember, NU Online
Risalatul Muawanah santri kelas XI IPA Sains SMA Nurul Islam (Nuris), Antirogo, Jember ini layak dibanggakan. Pasalnya, ia baru saja menjuarai lomba esai nasional di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Lomba yang bertajuk Essay Competition tersebut, diikuti oleh 43 pelajar dari seluruh Indonesia. Mereka mengirimkan karyanya melalui email panitia yang dibuka sejak medio Agustus 2017. 

Dari 43 karya tersebut, setelah melaui seleksi ketat, diciutkan menjadi 5 karya terbaik yaitu karya Hafidz Ilham (MAN Insan Cendekia Jambi), Indah Wulandini (SMAN 1 Purworejo), Izzah Ilma Rohmatin (SMA Assa'adah Bungah Gresik), Khoirul Akmal (SMAN 1 Cikarang Barat), dan Risalatul Muawanah (SMA Nuris Jember). 

Kelima penulisnya kemudian diundang oleh panitia untuk hadir dalam acara Awarding Night di kampus Fisipol, UGM pada Ahad, 27 Agustus 2017. 

Di hadapan tim juri, kelima peserta tersebut 'diuji' untuk mempertahankan pemikiran dan gagasannya sebagaimana dituangkan dalam karya esainya. 

Risa –sapaan akrabnya— sendiri dalam lomba tersebut mengusung tulisan berjudul "Langkah Proaktif Mencegah Plagiarisme."

Dari tahap ini, kemudian panitia memilih three of best partcipant (tiga peserta terbaik). Dari situ, akhirnya panitia memutuskan pemenangnya yaitu juara 1 diraih Risalatul Muawanah (SMA Nuris Jember), juara 2 disabet Indah Wulandini (SMAN 1 Purworejo), dan juara 3 jatuh ke tangan Khoirul Akmal (SMAN 1 Cikarang Barat).

"Terus terang saya sangat bangga, karena bisa mengharumkan nama Pondok Nuris. Lagi pula, persiapannya cukup mepet," terang Risa kepada NU Online di Nuris, Rabu (6/9).(Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

Rabu 6 September 2017 21:13 WIB
Ratusan Santri Nurul Jadid Paiton Kuliah ke Tiongkok
Ratusan Santri Nurul Jadid Paiton Kuliah ke Tiongkok
Probolinggo, NU Online
Sejak tahun 2010 lalu, sedikitnya 111 santri Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Kabupaten Probolinggo berhasil melanjutkan kuliahnya ke sejumlah perguruan tinggi di Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Umumnya mereka mendapatkan beasiswa dari Pemerintah RRT.

Kepala Pesantren Nurul Jadid Paiton KH Abd Hamid Wahid mengatakan bahwa para kiai sepuh pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid sejak awal sudah menyadari akan pentingnya para santri mendalami berbagai bidang ilmu, tidak hanya agama.

“Pondok pesantren ini tidak hanya mencetak ulama, tapi di semua bidang apa pun, tapi jiwanya tetap santri. Karena itulah pesantren kami sangat terbuka untuk berbagai bidang ilmu, termasuk santri mau melanjutkan ke mana,” katanya, Rabu (6/9).

Menurut Kiai Hamid, kini sudah ada beberapa santri lulusan Republik Rakyat Tiongkok yang kembali ke Indonesia dan mengabdi di berbagai bidang kehidupan, seperti menjadi guru atau berkiprah di berbagai instansi. 

“Artinya setelah dari Tiongkok, mereka langsung mengamalkan ilmunya di tengah-tengah masyarakat,” terangnya.

Selain pilihan bahasa jelas Kiai Hamid, kini banyak pilihan jurusan eksakta. Seperti teknik dan kedokteran yang menjadi pilihan santri untuk belajar di negeri Tirai Bambu itu.

“Ada juga santri yang kuliah di sana kedokteran dengan biaya sendiri dan bukan beasiswa. Tapi kalau dihitung, nilainya tetap lebih murah daripada kuliah kedokteran di Indonesia,” pungkasnya. 

Pondok Pesantren Nurul Jadid yang berada di Desa Karanganyar Kecamatan Paiton, Probolinggo merupakan salah satu pondok pesantren besar di Indonesia yang saat ini mendidik ribuan santri dengan lembaga pendidikan yang cukup lengkap. Mulai dari MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK hingga perguruan tinggi. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG