IMG-LOGO
Daerah

Jatman Sumedang Gelar Ijazah Manaqib Syekh Abdul Qodir al-Jailani


Rabu 27 September 2017 15:30 WIB
Bagikan:
Jatman Sumedang Gelar Ijazah Manaqib Syekh Abdul Qodir al-Jailani
Sumedang, NU Online
Jam'iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (Jatman) atau asosiasi tarekat NU Kabupaten Sumedang melalui sayap organisasinya Majelis Nurul Burhan menggelar kegiatan ijazah kubro manaqib Syekh Abdul Qodir al-Jailani, Rabu (26/9) malam.

Kegiatan yang bertempat di Aula PCNU Sumedang ini diikuti oleh pengurus NU, santri, dan masyarakat umum. Ijazah berarti pemberian sanad keilmuan yang lazim dilakukan di kalangan pesantren atau dunia tarekat.

Pemberi ijazah manaqib pada kesempatan itu ialah Habib Syarif Ahmad Mutholib,  putra Habib Hud Muhammad bin Yahya dari Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon. Kitab manaqib yang diijazahkan adalah Nurul Burhan. Kitab ini berisi sejarah perjalanan hidup Syekh Abdul Qodir al-Jailani.

Selain kitab Nurul Burhan, Habib Syarif juga mengijazahkan kitab dzikir Ya Hadiyyu. Kitab Ya Hadiyyu merupakan kitab ringkasan dari kitab manaqib Nurul Burhan.

Ketua Majlis Nurul Burhan, Asep Munawar mengatakan bahwa kegiatan ijazah ini merupakan program Majelis Nurul Burhan yang dilaksanakan setiap tahun. Ijazah malam ini merupakan tahun kedua yang dilaksanakan di Aula PCNU Sumedang. 

Sementara Ketua PCNU Sumedang, Sa'dulloh, memaparkan bahwa PCNU Sumedang telah memprakarsai kegiatan ijazah manaqib kubro ini. Ijazah pertama yang dilaksanakan di Sumedang bertempat di Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyyah pada tahun 2014. Setelah itu baru dibentuk pengurus baru lembaga Jatman NU Sumedang dan diikuti juga dengan pembentukan organisasi sayap jatman NU Sumedang yang bernama Majelis Nurul Burhan. 

Mulai dari sana pembacaan manaqib dan dzikir kitab Ya Hadiyyu di Sumedang terus istiqamah dan mulai semarak, lanjut Sa'dulloh. "Pengurus PCNU Sumedang akan terus mendorong kegiatan ini karena kami menyadari bahwa ruh NU ada di dua badan otonom NU, yaitu Jatman NU dan JQH NU. Dua lembaga ini mewadahi orang ahli dzikir dan ahli Qur'an. Kalau dua lembaga ini tidak hidup maka akan kelihatan NU-nya juga tidak akan hidup," ujarnya.

Oleh karena itu, PCNU Sumedang mendorong dua badan otonom ini untuk terus membentuk kepengurusan sampai ke tingkat ranting. Kalau pengurus rantingnya sudah terbentuk maka kegiatan manaqib dan dzikir akan semakin semarak, kata Sa'dulloh. 

"Semoga kegiatan ijazah ini kedepanya selalu istiqomah terlaksana setiap tahunnya. Mohon kepada pengurus NU supaya lebih masif lagi dalam mendorong warga NU untuk mengikuti ijazah manaqib ini. Harapan kedepannya acara manaqib di Sumedang bisa terlaksana di setiap desa atau ranting secara serentak," tutup Sa'dulloh. (Ayi Abdul Kohar/Mahbib) 

Bagikan:
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Maulid Akbar dan Doa untuk Keselamatan Bangsa
Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
IMG
IMG