IMG-LOGO
Nasional
HARI SANTRI 2017

Penampilan Perdana Ahmad Tohari Membaca Puisi

Selasa 17 Oktober 2017 1:45 WIB
Bagikan:
Penampilan Perdana Ahmad Tohari Membaca Puisi
Sastrawan Ahmad Tohari membacakan puisinya di TIM, Senin (16/10) malam
Jakarta, NU Online
Kepiawaian Ahmad Tohari dalam menulis karya prosa sudah tak diragukan lagi. Salah satu pembuktiannya adalah novel Ronggeng Dukuh Paruk yang melambungkan dan bahkan menguatkan namanya sebagai salah satu sastrawan terkemuka.

Lalu bagaimana bila Ahamd Tohari diminta menulis puisi dan membacakannya di depan publik?

Penampilannya pada Malam Pembacaan Puisi Hari Santri; Ketika Kiai Nyai Santrri Berpuisi; Pesantren tanpa Tanda Titik, di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), Senin (17/10) malam, menjadi jawabannya.

“Saya susah tidur untuk menulis puisi ini,” kata Tohari tentang proses kreatifnya.

"Ini pertama kali saya menulis puisi dan akan membacakannya, justru di usia hampir tujuh puluh tahun," lanjutnya.

Gaya Tohari yang sederhana dan jadi tampak 'ndeso' membuat penampilannya semakin khas. Apalagi saat pembacaan puisi, sesekali ia menjelaskan maksud dari kata-kata atau istilah dalam puisinya. Karena puisi karangan Tohari ternyata berisi semacam dialog dua tokoh, ia memberi jeda dan menjelaskan siapa tokoh yang sedang berbicara pada bagian tertentu dari puisinya. 

“Mungkin puisi ini bukan puisi, lebih tepat cerita pendek yang dipadatkan,” kata Tohari. 

Berikut puisi lengkap yang dibuat dan dibacakan Tohari.

Kiai Asngari dan Kang Dulkodir

di surau yang lantainya baru dikeramik,
dan corongnya dibikin lirih karena diprotes tetangga,
yang bilang, Tuhan tidak menyukai apa yang berlebihan,
malah ada yang membidahkan.
Kiai Asngari bersila memangku tasbih dan telepon pintar
di depannya duduk Kang Dulkodir yang lalu berkata
Kiai pernah bilang,  apa pun yang telah, sedang, dan akan terjadi

sudah tertulis di papan yang terjaga?

Tentang kapan sebutir telur semut akan  menetas
Tentang kapan sebuah gunung akan meletus
Dan  tentang apa saja?

Ya betul

Juga tentang datangnya zaman kurang waras saat ini?

Ya betul. Ini sungguh sudah tertulis di papan yang terjaga 
maka itu tetap terjadi 
meski kita telah berikhtiar untuk menjadi selalu waras :
rumusan mengenai tujuan  kemerdekaan sudah lama dipancangkan
dasar negara sudah digelar, undang-undang disusun
polisi yang tangkas 
jaksa yang berkumis
hakim yang cerdas, sudah diangkat dan digaji oleh rakyat
DPR yang ketua dan anggotanya bisa mengahafal Pancasila
sambil nungging sekali pun
para pemimpin sering kita doakan 
semua itu ikhtiar membangun sarana untuk kehidupan waras 
tapi ternyata tatanan malah makin tidak waras
karena semua memang sudah tertulis di papan yang terjaga
bukan karena mutu ikhtiar yang rendah, tidak ikhlas
dan tidak istikamah?
mutu ikhtiar  yang rendah
tidak istikamah
tidak ikhlas
juga sudah tertulis di papan yang terjaga

Kiai, saya pusing


saya malah lega dan merasa ringan


tahu mengapa sulit mendatangkan pikiran dan perilaku waras

tahu dan sadar mengapa Yang Maha Berkehendak
tak sudi mengubah tulisan tentang nasib  kita di papan yang terjaga.
Subhanallah


(Kendi Setiawan)
 


Bagikan:
Selasa 17 Oktober 2017 23:0 WIB
Tahun Politik, MUI: Silaturahmi Antar Elemen Bangsa Harus Diperkuat
Tahun Politik, MUI: Silaturahmi Antar Elemen Bangsa Harus Diperkuat
Dzikir dan Doa Bersama Al Habib Umar Bin Hafidz di Mapolda Metro Jaya Jakarta, Selasa (17/10).
Jakarta, NU Online
Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis mengatakan, dzikir berjamaah bisa menjadi sarana memohon bimbingan kepada Allah dalam menyelesaikan segala persoalan kebangsaan. Dzikir bersama juga bisa menciptakan ketenangan dan ketentraman dalam masyarakat. Namun demikian, ia meminta siapapun yang hadir untuk dzikir bersama untu meluruskan niat.

“Baik di masjid atau luar adalah semata-mata untuk mengesakan Allah SWT bukan untuk kepentingan politik kekuasaan,” kata Kiai Cholil usai menghadiri Dzikir dan Doa Bersama Al Habib Umar Bin Hafidz di Mapolda Metro Jaya Jakarta, Selasa malam ini (17/10).

Acara tersebut dimaksudkan untuk mendoakan keselamatan bangsa Indonesia agar tetap utuh dan satu dalam bendera Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Sebab ancaman dari luar dan dari dalam selalu ada dan nyata merongrong untuk merobek persatuan dan kesatuan,” ucapnya.    

Selain itu, dzikir bersama juga digagas sebagai ajang silaturahim antara ulama yang mengajak kepada kebaikan dan pihak kepolisian yang mencegah kemungkaran. Karena itu, ia menyatakan, jika penyeru kebaikan dan pencegah kemungkaran sudah bertemu, Indonesia akan menjadi negara yang aman dan damai. 

“Indonesia menjadi negara yang baldatun thayyibatun wa robbun ghafur,” tuturnya.

Apalagi menjelang tahun-tahun politik, imbuh Kiai Cholil, silaturahmi antar elemen bangsa harus diperkuat agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti perpecahan antar masyarakat yang tidak berkesudahan.   

“Berharap semua berfikir untuk kemajuan bangsa. Meletakkan kepentingan negara melebihi dari kepentingan kelompok apalagi perorangan,” tutupnya. (Muchlishon Rochmat/Kendi Setiawan)

Selasa 17 Oktober 2017 22:30 WIB
PBNU dan Rabithah Alawiyah Bahas Penguatan Ekonomi
PBNU dan Rabithah Alawiyah Bahas Penguatan Ekonomi
Jakarta, NU Online
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Rabithah Alawiyah menggelar halaqah bertajuk Kabar Gembira di Tengah Kesulitan'dengan pembicara ulama asal Yaman, Alhabib Umar bin Salim bin Hafidz.

Dalam kesempatan itu Sekretaris Jenderal PBNU H. A. Helmy Faishal Zaini menyampaikan pentingnya pertemuan ulama untuk memecahkan masalah umat.

"Perlunya pertemuan ulama seperti ini, semoga kedepan bisa direncanakan lebih besar dan fokus kepada pemecahan masalah umat. Misal membicarakan apa kekuatan dan kelemahan kita," tutur Helmy dalam sambutannya di Crowne Hotel, Jakarta, Selasa (17/10).

Hal itu, lanjut Kang Helmy, penting karena data dari Bank Indonesia dari seluruh uang yang beredar di Indonesia 80 persen dimiliki hanya 35 orang saja. Ia menambahkan lebih tercengang lagi data global wealth 90 persen aset negara dikuasai 1 persen saja.

"Secara logika sebagai mayoritas seharusnya ikut menentukan arah kebijakan negara, nyatanya masih belum," imbuh pria kelahiran Cirebon ini.

Sementara Ketua Umum Rabithah Alawiyah, Habib Zen bin Umar bin Smith mengatakan penguatan ekonomi umat sebagai salah satu benteng iman dari segala godaan.

"Kristenisasi bukan hanya salah para petugas, kita juga ikut andil karena tidak aktif membentengi dengan membuat penguatan ekonomi, sebagai salah satu sebabnya," tutur Habib Zen.

Hal senada disampaikan Habib Umar bin Hafidz dalam ceramah, dimana ekonomi tergantung niatnya. Jika diniatkan mencari ekonomi untuk berjuang di jalan Allah SWT maka itu jalan yang dibenarkan. 

"Seperti dalam sebuah riwayat ada anak muda pergi ke pasar, ada sahabat yang bilang seandainya kekuatan digunakan untuk pergi jihad ke medan perang lebih bermanfaat. Namun Baginda Rasullullah menuturkan jangan mudah menilai, jika niatnya untuk menafkahi bapak dan ibunya maka fisabilillah, jika niatnya untuk memenuhi kebutuhannya sehingga ia tidak perlu mengemis maka fisabilillah tapi jika niatnya untuk menumpuk harta, pamer maka ia dijalan setan," tutur Almusnid AlHabib Umar bin Salim bin Hafidz.

Hadir dalam kegiatan KH Hasib Wahab, KH Manarul Hidayah, KH An'im Mahfus, KH Syarifudin Amsir, H. Hanif Saha.(Syamsud Duha/Kendi Setiawan)

Selasa 17 Oktober 2017 21:25 WIB
Ketika Santri Ini Meluruskan Bacaan Al-Qur'an Menpora
Ketika Santri Ini Meluruskan Bacaan Al-Qur'an Menpora
Lamongan, NU Online
Menpora Imam Nahrawi bersama Pengasuh Ponpes KH Nasrullah Bakir Adlan dan Wakil Bupati Kartika Hidayati, ngaji kebangsaan di Pondok Pesantren Tarbiyatut Thalabah, Kranji, Paciran, Lamongan, Jawa Timur, Ahad (15/10) siang. Tema "Pemuda, Santri, dan NKRI" sangat sejalan dengan visi ponpes yang islami, berprestasi, dan berinovasi.

Ribuan santriwan-santriwati penuh khidmat dan semangat mengikuti acara akbar ngaji kebangsaan yang diisi dengan kajian dan orasi yang acara puncaknya oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi. 

Ada pemandangan menarik ketika Menpora menukil QS Al Israa' (17) : 22-23 yang berisikan pesan penghormatan, penghargaan, dan ajaran tidak boleh membantah orang tua.

Diawal bacaan ada sedikit kurang tepat, tak dinyana seorang santriwati Kelas 9 bernama Kinayatu Rabbaniyah Karim tampil dengan kepercayaan diri meluruskan Menpora. Menanggapi hal tersebut, Menpora dengan rendah hati menyampaikan terima kasih.

"Terima kasih telah diingatkan dan diluruskan bacaan saya. Saya betul-betul bangga, disini menunjukkan bahwa pesantren tidak salah sebagai tempat menempa para pemuda yang karakter hebat, cerdas, dan percaya diri," kata Menteri yang juga berasal dari pesantren ini. 

Lebih lanjut Menpora menggambarkan kondisi bangsa bahwa tantangan kini dan mendatang semakin berat. Usaha-usaha memecah belah bangsa, potong generasi dengan infiltrasi narkoba, radikalisme, terorisme kian tampak menggurita. 

Peran santri, lanjutnya, yang dididik di pesantren dengan nilai-nilai agama, kedisiplinan, kerja sama, saling menjaga sungguh dibutuhkan kehadirannya ditengah masyarakat.

"Bangsa ini butuh para santri, karena pemuda santri pasti penuh disiplin, gotong royong, saling menghargai, kuat lahir batin, dan selalu siap menjadi benteng negeri menjaga keutuhan NKRI," pesan Menpora. 

Hadir juga Ketua Yayasan Tabah Faturrahman, Rektor IAI Tabah Imam Azhar, Kadisdik Adi Suwito, Camat dan Muspika Paciran. (Red-Zulfa)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG