::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

HARI SANTRI 2017

Penampilan Perdana Ahmad Tohari Membaca Puisi

Selasa, 17 Oktober 2017 01:45 Nasional

Bagikan

Penampilan Perdana Ahmad Tohari Membaca Puisi
Sastrawan Ahmad Tohari membacakan puisinya di TIM, Senin (16/10) malam
Jakarta, NU Online
Kepiawaian Ahmad Tohari dalam menulis karya prosa sudah tak diragukan lagi. Salah satu pembuktiannya adalah novel Ronggeng Dukuh Paruk yang melambungkan dan bahkan menguatkan namanya sebagai salah satu sastrawan terkemuka.

Lalu bagaimana bila Ahamd Tohari diminta menulis puisi dan membacakannya di depan publik?

Penampilannya pada Malam Pembacaan Puisi Hari Santri; Ketika Kiai Nyai Santrri Berpuisi; Pesantren tanpa Tanda Titik, di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), Senin (17/10) malam, menjadi jawabannya.

“Saya susah tidur untuk menulis puisi ini,” kata Tohari tentang proses kreatifnya.

"Ini pertama kali saya menulis puisi dan akan membacakannya, justru di usia hampir tujuh puluh tahun," lanjutnya.

Gaya Tohari yang sederhana dan jadi tampak 'ndeso' membuat penampilannya semakin khas. Apalagi saat pembacaan puisi, sesekali ia menjelaskan maksud dari kata-kata atau istilah dalam puisinya. Karena puisi karangan Tohari ternyata berisi semacam dialog dua tokoh, ia memberi jeda dan menjelaskan siapa tokoh yang sedang berbicara pada bagian tertentu dari puisinya. 

“Mungkin puisi ini bukan puisi, lebih tepat cerita pendek yang dipadatkan,” kata Tohari. 

Berikut puisi lengkap yang dibuat dan dibacakan Tohari.

Kiai Asngari dan Kang Dulkodir

di surau yang lantainya baru dikeramik,
dan corongnya dibikin lirih karena diprotes tetangga,
yang bilang, Tuhan tidak menyukai apa yang berlebihan,
malah ada yang membidahkan.
Kiai Asngari bersila memangku tasbih dan telepon pintar
di depannya duduk Kang Dulkodir yang lalu berkata
Kiai pernah bilang,  apa pun yang telah, sedang, dan akan terjadi

sudah tertulis di papan yang terjaga?

Tentang kapan sebutir telur semut akan  menetas
Tentang kapan sebuah gunung akan meletus
Dan  tentang apa saja?

Ya betul

Juga tentang datangnya zaman kurang waras saat ini?

Ya betul. Ini sungguh sudah tertulis di papan yang terjaga 
maka itu tetap terjadi 
meski kita telah berikhtiar untuk menjadi selalu waras :
rumusan mengenai tujuan  kemerdekaan sudah lama dipancangkan
dasar negara sudah digelar, undang-undang disusun
polisi yang tangkas 
jaksa yang berkumis
hakim yang cerdas, sudah diangkat dan digaji oleh rakyat
DPR yang ketua dan anggotanya bisa mengahafal Pancasila
sambil nungging sekali pun
para pemimpin sering kita doakan 
semua itu ikhtiar membangun sarana untuk kehidupan waras 
tapi ternyata tatanan malah makin tidak waras
karena semua memang sudah tertulis di papan yang terjaga
bukan karena mutu ikhtiar yang rendah, tidak ikhlas
dan tidak istikamah?
mutu ikhtiar  yang rendah
tidak istikamah
tidak ikhlas
juga sudah tertulis di papan yang terjaga

Kiai, saya pusing


saya malah lega dan merasa ringan


tahu mengapa sulit mendatangkan pikiran dan perilaku waras

tahu dan sadar mengapa Yang Maha Berkehendak
tak sudi mengubah tulisan tentang nasib  kita di papan yang terjaga.
Subhanallah


(Kendi Setiawan)