IMG-LOGO
Daerah

Ribuan Santri Pacet Ngariung di Lapangan Cipeujeuh

Senin 23 Oktober 2017 9:38 WIB
Bagikan:
Ribuan Santri Pacet Ngariung di Lapangan Cipeujeuh
Bandung, NU Online
Ribuan santri dari 54 pondok pesantren di Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung memperingati Hari Santri Nasional di lapangan Cipeujeuh pada Ahad (22/10). Mereka ngariung (berkumpul) di lapangan itu setelah melakukan kirab dari dua pesantren, Baitul Arqom, Baitur Rosyad, dan Syiafaus Salam.

Sebelum ke Cipeujeuh, santri dari pesantren-pesantren bagian selatan Kecamatan Pacet berkumpul di Pondok Pesantren Baitul Arqom Islam dan Baitur Rosyad, sementara santri dari pondok pesantren bagian utara Pacet berkumpul dari Syifaus Salam. Kemudian dari kedua pesantren itu, mereka berjalan kaki ke Cipeujeuh. Dari Baitul Arqom dan Baitur Rosyad berjalan kaki sejauh 2 km dan dari Syifaus Salam 1,5 km.

Kegiatan yang diinisiasi Santri Ngariung (SARUNG) yang berkoordinasi dengan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kecamatan Pacet itu diawali dengan penampilan kreasi seni para santri, kemudian peluncuran buku Auladul Islmiyah fi Ad’iyah Yaumiyah wa Tadibah, kumpulan doa dan adab sehari-hari. Kemudian dilanjutkan dengan doa bersama atau istighotsah.

Menurut Koordinator SARUNG Ahmad Kheoru Faruq, kegiatan ini merupakan yang kedua kali dilakukan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional dan akan menjadi agenda tahunan.

“Kegiatan semacam itu bermanfaat sebagai ajang silaturahim antarpersantren agar semakin erat hubungannya,” katanya.

Ia manambahkan, SARUNG memiliki moto “Santri Aya, Santri Bisa”, maksudnya “aya”, adalah memang santri ada wujudnya di Kecamatan Pacet dan jumlahnya cukup banyak.

“Di kecamatan Pacet, dalam catatan SARUNG, terdapat 4657 orang santri dari 13 desa. Ini cukup besar jumlahnya.”

Dan, lanjutnya, santri itu “bisa”. Artinya para santri bisa melakukan melakukan banyak hal, misalnya bakti sosial dan khitanan massal. Para santri tidak hanya bisa mengaji dan tinggal di pesantren, tapi bisa melakukan gerakan-gerakan sosial, berjuang dalam pendidikan, bahkan merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

“Buktinya dalam sejarah, yang diabadikan menjadi Hari Santri Nasional adalah memperingati jasa santri yang telah mengeluarkan Resolusi Jihad NU, bahwa mempertahankan kemerdekaan wajib hukumnya bagi kaum Muslimin. Ada darah santri dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan itu,” tegasnya.

Kegiatan bertajuk “Doa Bersama untuk Keselamatan Bangsa dan Kemanusiaan” itu tidak hanya diikuti para santri, tapi warga masyarakat Pacet yang disosialisasikan melalui majelis-majelis ta’lim.

Hadir pada kesempatan itu Rais Syuriyah dan Tanfidziyah PCNU Kabupaten Bandung, Rais Syuriyah dan Tanfidziyah MWCNU Pacet, Ranting-Ranting dan Anak Ranting NU se-Kecamatan Pacet. Serta Banom-banom NU seperti GP Ansor, Muslimat, Fatayat, IPNU, IPPNU, Pagar Nusa, Pergunu, dan PMII.

Hadir pula perwakilan Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT), Muhammadiyah, Persatuan Islam (Persis), Pemuda Pancasila, Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI), Sarekat Islam, Jamaah Tabligh, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), klub motor Brigez dan XTC, Karang Taruna se-Kecamatan Pacet. (Abdullah Alawi)
 

Tags:
Bagikan:
Senin 23 Oktober 2017 23:0 WIB
Gerak Jalan Variasi Meriahkan HSN MWC NU Prambon
Gerak Jalan Variasi Meriahkan HSN MWC NU Prambon
Gerak Jalan Variasi MWCNU Prumbon
Nganjuk, NU Online
Memperingati Hari Santri Nasional 2017 MWCNU Prambon, Nganjuk, Jawa Timur mengadakan Lomba Gerak Jalan Variasi, Sabtu (21/10).
 
Gerak jalan variasi ini adalah variasi gerakan, kostum, dan yel-yel yang diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat mulai ormas islam dan pendidikan, baik putra maupun putri.

Lomba gerak Jalan Variasi mengambil start dari desa gondang legi keutara melewati desa singkalnyar dan finis di Kantor MWC NU Prambon Jl Kediri Warujayeng, Desa Tanjungtani, Kecamatan Prambon, Nganjuk.

Pantauan NU Online, selama kegiatan berlngusng, lomba gerak jalan ini banyak ditunggu penonton.

Para peserta selain kompak berjalan, juga sering menyuarakan lagu Syubbanul Wathan dan Solawat Badar yang merupakan yel-yel wajib dalam Gerak Jalan Variasi.

Selain itu di tempat tertentu juga ada atraksi gerakan dan yel-yel yang dinilai oleh panitia. Tak ayal mata para penonton terbelalak diiringi tawa yang membahagiakan yang menunjukkan rasa senang dengan penampilan para peserta gerak jalan.

Sebagai aturan lomba, peserta wajib berbusana muslim ala santri bagi putra wajib berkopiah hitam.

Wahyudi Ridlo, Ketua Panitia menyampaikan bahwa acara tersebit sebagai bentuk semangat panitia untuk memeriahkan Hari Santri Nasional sekaligus mengenang para santri yang telah berjuang menjaga NKRI.

"Awalnya kami memprediksi peserta hanya sekitar 40-50 pleton ternyata tidak diduga barokah ulama barokah kiai peserta mencapai 115 pleton, yang jumlah setiap pletonnya kami buat aturan 11 orang, jelas dia," kata Wahyudi.

Kiai Zainal Arifin, Ketua Tanfidziyah MWC NU Prambon mengapresiasi dan mendampingi jalannya perlombaan. Dalam sambutan pemberangkatan, dia menyampaikan tanpa perjuang para santri terdahulu kita tidak akan pernah meraskan kemerdekaan.

"Begitu gigihnya ulama dan santri terdahulu menjaga NKRI ini. Dengan Resolusi Jihadnya Kiai Hasyim Asy’ari mampu menggemparkan Surabaya dalam meletusnya perang 10 nopember sampai terbunuhnya Jenderal Malabi," urai Kiai Zainal.

Muzayanah, salah satu peserta lomba mengungkapkan rasa senangnya dalam mengikuti kegiatan.

"Walau capek karena jarak yang jauh mencapai 7 kilometer, kalau tahun depan ada lagi ingin mengikuti lagi," pungkasnya. (Moh Imam/Kendi Setawan) 


Senin 23 Oktober 2017 22:48 WIB
NU Pahami Islam Sebagai Agama, Bukan Ideologi
NU Pahami Islam Sebagai Agama, Bukan Ideologi
Jakarta, NU Online
KH Taufiq Damas Lc menjelaskan bahwa Islam bagi kalangan Aswaja An-Nahdliyah dipahami sebagai sebuah agama. Dari pemahaman ini, Islam merupakan risalah mulia yang menawarkan nilai-nilai dengan tujuan kemaslahatan manusia baik pemeluknya maupun yang bukan pemeluknya.

Demikian disampaikan Wakil Katib Syuriyah PWNU Jakarta KH Taufiq Damas Lc di hadapan peserta Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) yang diselenggarakan aktivis GP Ansor Kebayoran Lama Jumat-Ahad (20-22/10).

“NU memahami Islam sebagai agama sehingga NU menyebarkan nilai-nilai rahmatan lil alamin,” kata Kiai Taufiq.

Menurutnya, belakangan ini kecenderungan menjadikan Islam sebagai ideologi tampak meningkat. Hal ini dapat ditunjukkan dengan tuntutan dan desakan sekelompok orang yang memaksakan kehendak. Tidak jarang dari mereka menggunakan cara-cara militer dan kekerasan.

“Islam itu suci, diridhai ilahi. Sedangkan ideologi bikinan manusia sehingga ada orang-orang yang memolitisasi agama untuk kepentingan politik atau ekonomi. Allah lebih mengerti nilai-nilai yang seharusnya disebarkan di tengah umat manusia.”

PKD GP Ansor Kebayoran Lama berlangsung di Madrasah Ibtidaiyah Al-Fauzain, Kelurahan Pondok Pinang, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Pembukaan PKD GP Ansor Kebayoran Lama ini dihadiri oleh pengurus harian PCNU Jakarta Selatan, Kapolsek Kebayoran Lama, Danramil Kebayoran Lama, utusan Camat Kebayoran Lama, utusan Lurah Pondok Pinang, dan tokoh masyarakat setempat. (Alhafiz K)

Senin 23 Oktober 2017 22:30 WIB
Maknai Hari Santri, Bekali Anak dengan Dasar-dasar Ilmu Agama
Maknai Hari Santri, Bekali Anak dengan Dasar-dasar Ilmu Agama
Probolinggo, NU Online
A’wan PWNU Jawa Timur H Hasan Aminuddin meminta para orang tua agar mengajarkan anak-anaknya dengan dasar-dasar ilmu agama mulai sejak dini. Salah satunya dengan cara mengenalkan ibadah sholat di rumah Allah SWT dan mengenal pendidikan agama.

Hal tersebut disampaikan Hasan Aminuddin ketika menghadiri peringatan Hari Santri Nasional (HSN) ke-3 tahun 2017 di Masjid Raudlatul Jannah Desa Muneng Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo, Sabtu (21/10/2017) malam.

Menurut Hasan Aminuddin, orang tua harus mengarahkan anak-anaknya ke pondok pesantren dan lembaga pendidikan sekolah untuk mencetak karakter anak bangsa yang cerdas dengan bekal iman dan ilmu. 

“Bekali anak dengan pendidikan sekolah dan pendidikan keagamaan sehingga menjadi anak sebagai generasi penerus bangsa dan berpegang teguh kepada aqidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja),” katanya.

Hasan menegaskan bahwa peringatan HSN ini dilakukan untuk memberikan hikmah kepada generasi muda dan memperkuat silaturahmi serta ukhuwah Islamiyah. Sehingga momentumnya dapat digunakan untuk mengenang jasa para ulama serta kaum santri dalam membela tanah air mempertahankan kemerdekaan dari tangan penjajah.

“Kegiatan ini sangat penting untuk memahami tentang salah satu perjuangan para ulama' NU dan para santri sebagai generasi penerusnya dalam mensyiarkan agama Islam dan berjuang melawan penjajah,” tegasnya.

Peringatan HSN ke-3 tahun 2017 yang diikuti oleh ratusan santri, Muslimat NU dan Fatayat NU se-Kecamatan Sumberasih ini dihadiri oleh sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab Probolinggo. (Syamsul Akbar/Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG