IMG-LOGO
Daerah
HARI SUMPAH PEMUDA

Umrah, Hadiah Pemenang Tahfidz Qur'an Pesantren Daunnajah

Sabtu 28 Oktober 2017 19:30 WIB
Bagikan:
Umrah, Hadiah Pemenang Tahfidz Qur'an Pesantren Daunnajah
Jakarta, NU Online
Pesantren Darunnajah Jakarta mengelar Musabaqoh Hifzhul Qur'an yang ke-3 antar Pondok Pesantren se-Indonesia. Musabaqoh Hifzhul Qur'an merupakan acara rutin setiap tahun, yag pada tahun ini bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda  ke-89. 

Ketua Panitia Sofwan Manaf megungkapkan Musabaqoh Hifzhul Qur'an ini adalah salah satu cara untuk mencerdaskan kader bangsa.

“Agar mencintai Agama dan Negara, para santri juga diharapkan membawa nilai-nilai Al Qur'an, mampu menjaga toleransi dan keberagaman yang ada di Indonesia serta berpegang teguh pada nilai-nilai kebangsaan demi terciptanya cinta tanah air Indonesia raya," ungkapnya pada Jumat, (27/10).

Sofwan mengatakan sebanyak 426 hafidz dan hafidzah dari pesantren se-Indonesia menjadi peserta kegiatan tersebut. Mereka sebelumnya mengikuti seleksi di 14 kota meliputi Medan, Kuningan, Tidore, Maros,
Tenggarong, Martapura, Dumai, Palembang, DKI Jakarta, Magelang, Surabaya, Bondowoso, Sumbawa, dan Lombok.

Para pemenang (terbaik) pada tiap golongan, baik putra dan putri mendapatkan hadiah ibadah umroh. Sedangkan terbaik 2, 3, harapan 1, dan harapan 2 mendapatkan dana pembinaan. (Kendi Setiawan)

Bagikan:
Sabtu 28 Oktober 2017 23:32 WIB
PCNU Pekalongan: Tanpa Mondok, Seseorang Bisa Disebut Santri
PCNU Pekalongan: Tanpa Mondok, Seseorang Bisa Disebut Santri
Pekalongan, NU Online
Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan KH Zaenuri Zainal Mustofa mengatakan, yang disebut santri selain dirinya pernah menimba ilmu di pesantren atau mondok di pesantren, juga meskipun tidak pernah mondok akan tetapi mengamalkan ajaran-ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari bisa juga disebut santri.

Selama ini masih sering terjadi salah kaprah dengan istilah santri yang selalu diidentikkan dengan pondok pesantren, ini tidak salah. Tetapi yang tidak pernah mondokpun dan mendalami ilmu agama dan mengamalkan dalam kehidupan sehari hari mereka juga bagian dari santri.

Hal tersebut disampaikan KH Zaenuri di hadapan ribuan pengunjung yang hadir pada Peringatan Hari Santri Nasional tingkat Kota Pekalongan yang dihelat di Lapangan Mataram, Jum'at (27/8) malam.

Pelaksana Tugas (Plt) Walikota Pekalongan HM Saelany Mahfudz berpesan kepada santri agar para santri terus belajar menuntut ilmu dan momentum hari santri adalah upaya menunjukkan jati diri santri yang bisa mandiri.

Hari Santri Nasional dengan mengusung tema Meneguhkan Peran Santri dalam Bela Negara, Menjaga Pancasila, dan NKRI, sejak ditetapkan sebagai hari nasional pada 2015 lalu melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015, peringatan hari santri dimanfaatkan oleh seluruh warga NU dan rakyat secara umum untuk mengenang dan meneladani perjuangan para ulama dan santri.

Pengakuan negara ini menurut Saelany yang juga mengelola pondok pesantren menunjukkan bahwa perjuangan kalangan pesantren dan rakyat Indonesia melalui fatwa Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 berhasil mengusir penjajah.

Kegiatan peringatan hari santri di Kota Pekalongan selain menggelar istighotsah dan pentas seni bareng Ki Ageng Ganjur, juga pihak panitia akan menggelar seminar nasional dan kirab merah putih Sabtu (22/10) di Gedung PPIP Kota Pekalongan.

Tampak hadir dalam peringatan hari santri, selain plt Walikota Pekalongan, Ketua DPRD, Kapolres Pekalongan Kota, jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompimda), jajaran Pengurus PCNU, MWCNU dan ranting NU se-Kota Pekalongan, badan otonom NU, para habaib dan ratusan undangan SKPD di lingkungan Pemkot Pekalongan. (Abdul Muiz/Alhafiz K)

Sabtu 28 Oktober 2017 23:0 WIB
Pentingnya Melek Literasi Media Siber
Pentingnya Melek Literasi Media Siber
Semarang, NU Online
Hamidulloh Ibda, dosen Jurusan Tarbiyah STAINU Temanggung dilantik menjadi pengurus Bidang Literasi Media Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Jateng periode 2017-2022, Sabtu (28/10). Ia mengatakan, akademisi baik itu kalangan mahasiswa maupun dosen, peneliti, haruslah melek media siber atau online. Pihaknya mendorong semua akademisi bisa memanfaatkan gawai untuk mengonsumsi berita sekaligus berdakwah.

"Selama ini kalau sudah pegang gawai, tidak peduli mau dosen, guru, tukang batu, hampir semuanya hanya baca judulnya saja, lalu dikomen dan dibagikan tanpa proses tabayun, cek ricek. Padahal kalau ilmuwan atau di sini akademisi, metode mendapatkan kebenaran tidak bisa kalau hanya dari berita online," beber Ibda di sela-sela pelantikan di ruang Lokarida lantai 8 Gedung Moch. Ikhsan Balaikota Semarang.

Kalau wartawan, kata dia, boleh saja mendasarkan kebenaran pada wawancara dan klarifikasi, atau bahasa kita tabayun. 

"Itu bagi wartawan ya sah-sah saja. Tapi ilmuwan, tidak boleh dong mendasarkan kebenaran hanya dari informasi media siber. Karena kalau mau jadi ilmuwan sesungguhnya, metode mendapatkan beritanya ya minimal melalui kerja ilmiah, melalui tahap filsafat ilmu,” tambahnya.

Karena itu, semua informasi harus logis, sistematis, empiris dan tidak berdasarkan kabar burung. Metode yang digunakan pun tidak hanya sekadar wawancara dan tabayun saja, melainkan lengkap dan kafah.
Ibda juga menyoroti psikologi pembaca media siber yang memang mudah gumunan (kagetan, Red) dan tidak bisa membedakan mana berita yang asli dan palsu. Hal itu karena mereka memang buta literasi media siber.

Menurut dia, literasi media siber sangat penting, karena hampir semua orang belum paham apa itu media siber dan media sosial. Semua sumber berita itu, kata dia, tidak dibedakan dan dipetakan. Maka dari itu, ini menjadi garapan SMSI Jateng yang akan dimasukkan dalam program kerja. 

"Di sini tidak hanya kumpulan jurnalis. Namun di sini itu kumpulan media sibernya. Bisa pengelola dan juga jurnalisnya yang diberi kepercayaan untuk mewakili media itu bergabung di SMSI," papar pria yang pernah aktif sebagai Sekretaris IPNU tersebut.

Media yang bergabung di SMSI Jateng, kata Ibda, adalah kumpulan media yang sudah berbadan hukum dan resmi serta bukan blogger. 

Ia berharap masyarakat mampu membedakan antara media online atau siber dan media sosial seperti facebook, twitter, instagram, dan path. 

Ibda dilantik Auri Jaya Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga dan Kerjasama SMSI Pusat bersama enam belas pengurus lainnya yang mewakili dari media siber di wilayah Jawa Tengah. (Heri/Kendi Setiawan)

Sabtu 28 Oktober 2017 21:35 WIB
Peringati Sumpah Pemuda, MTs NU Sitail Gelar Upacara Bendera
Peringati Sumpah Pemuda, MTs NU Sitail Gelar Upacara Bendera
Tegal, NU Online
Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke 89 dan memupuk rasa cinta tanah air, MTs Nahdlatul Ulama (NU) Sitail Jatinegara Kabupaten Tegal menggelar upacara bendera di halaman madrasah setempat, Sabtu (28/10).

Meski digelar sederhana, upacara yang diikuti jajaran guru, staf dan seluruh siswa madrasah berlangsung dengan khidmat.

Wakil Kepala MTs NU Sitail Tahmid selaku pembina upacara mengatakan, banyaknya masalah yang dialami negara Indonesia tercinta ini mengharuskan pemuda untuk lebih memupuk semangat mencintai bangsa Indonesia, menanamkan jiwa persatuan dan kesatuan serta menjaga bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu.

"Melihat keberadaan kita sekarang ini, mengartikan makna Sumpah Pemuda tidak hanya cukup menghafal teksnya, ‘satu tanah air Indonesia, satu bangsa bangsa Indonesia dan satu bahasa, satu bahasa Indonesia,’ akan tetapi harus benar-benar diaplikasikan di dalam kehidupan kita," tegasnya.

Selanjutnya, lanjut Tahmid, tugas sebagai pelajar adalah berusaha memajukan bangsa tercinta Indonesia dengan giat belajar, berprestasi serta melakukan hal-hal yang positif.

"Sebagai pelajar NU hendaknya menjadi pemuda yang memiliki semangat baja, seperti apa yang diungkapkan Proklamator RI Bung Karno ‘Berilah aku 10 pemuda biar aku goncangkan dunia ini,’ karena pemudalah yang memiliki semangat yang keras dan kuat untuk mempertahankan dan memperjuangkan apa yang telah diberikan oleh para pemuda pejuang kemerdekaan RI," tegas Tahmid mengutip ucapan Presiden RI pertama itu.

Kepala MTs NU Sitail Jatinegara Imron menuturkan, meskipun pelaksanaan upacara Hari Sumpah digelar sangat sederhana, yang terpenting adalah makna dalam upacara ini.

"Paling tidak siswa madrasah kami harus mengetahui bahwa 28 Oktober itu merupakan tanggal yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia sehingga tidak boleh dilewatkan begitu saja. Karena di sinilah awal mulanya muncul ide-ide cemerlang dan ikrar atau janji para tokoh-tokoh pemuda pada tahun 1928 untuk mengadakan pergerakan awal sebagai tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia," paparnya.

Moment ini, kata Imron, juga untuk mengingatkan kita untuk tidak lupa akan sejarah bangsa kita yang tercinta ini dalam rangka mewujudkan persatuan dan kesatuan menuju Indonesia yang merdeka. (Hasan/Alhafiz K)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG