IMG-LOGO
Nasional

Koin NU Sragen Menuju Nusantara Mandiri

Jumat 3 November 2017 5:10 WIB
Bagikan:
Koin NU Sragen Menuju Nusantara Mandiri
Foto: NU Online
Kelemahan NU adalah pada sistem dan manajemen.

Kalimat itu sungguh melekat dalam ingatan Ma’ruf Islamuddin sejak masih menjadi santri, hingga saat mulai mengasuh sebuah pondok pesantren.

Namun, ingatan itu tidak membuat Kiai Ma’ruf—panggilannya kini—sebagai seorang santri dan aktivis NU, merasa lemah. Justru Kiai Ma’rif menjadikan kalimat itu sebagai lecutan semangat hingga menggerakkannya melakukan perbaikan pada sistem dan manajemen di lingkungan serta warga NU.

“Kelemahan kok dibiarkan? Kalau mau berusaha insyaallah bisa. Bismillah, saya akhirnya mencoba mengubah kelemahan itu agar bisa menjadi kelebihan,” kata Kiai Ma’ruf, Kamis (2/11).

Kiai Ma’ruf mengawalinya pada tahun 2015 saat dirinya diamanahi sebagai Mustasyar MWCNU Karangmalang, Sragen, Jawa Tengah. Ia mengenalkan semangat berinfak kepada warga di ranting-ranting NU di Kecamatan Karangmalang.

Dari ajakan Kiai Maruf, kala itu pada tahap pertama berhasil mengumpulkan infak sebesar 7 juta rupiah dari 600 kotak; berlanjut 20 juta rupiah dengan 1000 kotak pada tahap kedua. Permintaan kotak bertambah pada tahap ketiga dan mencapai perolehan 30 juta rupiah.

Tahapan-tahapan yang dimaksud adalah pengumpulan rutin setiap selapanan (35 hari sekali). Pengumpulan dilakukan di beberapa ranting, saat ia mengisi pengajian.

Gerakan perlahan-lahan itu membuahkan hasil yang tak bisa dianggap remeh. Satu kesempatan semangat berinfak yang dijalankan Kiai Ma’ruf diadopsi oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sragen sebagai gerakan yang kemudian dilakukan bersama di tingkat PCNU. Pengumpulan dan pengelolaan dana infak tersebut juga semakin diperkuat dengan pengakuan menjadi salah satu program LAZISNU Kabupaten Sragen.

“Alhamdulillah, saat Pengurus Pusat LAZISNU mengadakan Workshop Eksistensi Manajemen Zakat Infak Sedekah di Sukabumi awal tahun 2017, hasil pengumpulan infak hingga tahun 2016 sudah bisa bisa dilaporkan sebagai pengumpulan LAZISNU Kabupaten Sragen,” tutur pria yang kini Ketua Tanfidziyah PCNU Sragen.


Sepulang mengikuti Workshop Eksistensi Manajemen ZIS di Sukabumi, LAZISNU Kabupaten Sragen semakin memantapkan niat untuk menyebarkan gerakan tersebut ke seluruh MWCNU.

Secara resmi apa yang diinisiasi Kiai Ma’ruf dinamakan Gerakan Koin NU Menuju Nusantara Mandiri diluncurkan oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj pada 14 April 2017. 


Pada tahun awal gerakan tersebut berhasil mengumpulkan dana infak senilai 2 miliar rupiah. Sementara saat ini rata-rata per 35 hari sekitar 300-400 juta rupiah terkumpul di tingkat Kabupaten Sragen.

“Gerakan ini sudah menyebar ke semua MWCNU di Sragen. Ada 20 MWCNU di Sragen. Dengan jumlah kotak yang beredar 40 ribu, bila setiap kotak berisi 10 ribu rupiah, totalnya sudah 400 juta rupiah,” lanjut Pengasuh Pesantren Walisongo itu.

Gerakan Koin NU Sragen mengandung dua makna. Pertama adalah koin yang bermakna uang berbentuk koin. Kedua berarti Kotak Infak. 

Ada hal menarik dari Gerakan Koin NU Sragen. Pertama, dari jumlah koin atau uang infak yang dimasukkan setiap hari oleh satu keluarga, menyesuaikan kemampuan dan niat pemilik kotak infak. Bisa 100 rupiah, bisa 500 rupiah, 100 rupiah, seratus ribu atau lebih juga boleh.

“Koin ini memungkinkan semiskin-miskinnya orang tetap bisa berinfak. Sepelit-pelitnya orang, boleh berinfak, berapa pun nilainya,” kata alumni Pesantren Banu Saudah, Sragen.

Keunikan berikutnya, satu kotak infak boleh diisi oleh seluruh anggota keluarga. 

“Bila bapak ingin infak, bisa. Ibu ingin infak, di kotak itu boleh. Anak, bahkan tamu pun boleh infak,” katanya.

Ketiga, setiap berinfak bisa dengan niat tertentu. Misalnya supaya disehatkan, supaya lulus ujian, pahalanya buat orangtua, ingin naik haji, atau niat tertentu lainnya.

“Yang menarik, banyak orang yang tidak shalat tapi mau mengisi kotak infak ini, karena saya katakan berinfak bisa untuk menambah rizki. Jadi mereka yang awam tentang agama Islam pun tertarik mengisi infak. Nah, ini kan bisa sebagai dakwah juga,” papar pria yang dikarunai lima orang anak ini.

Dari warga atau rumah-rumah, kotak infak dikumpulkan dengan dua cara. Pertama, petugas mendatangi rumah-rumah warga yang telah memiliki kotak infak. Lalu petugas mengambil uang dari kotak, memasukkan ke dalam ember tanpa menghitungnya. 

Cara kedua adalah jamaah atau warga satu ranting dikumpulkan. Di tempat itu, mereka menyetorkan koin dari kotak.

Hasil perolehan setiap pengumpulan dilakukan pencatatan per ranting, lalu dari ranting dicatatkan ke MWCNU. Dari MWCNU di laporkan angka perolehannya ke PCNU.

Akan tetapi, perolehan dari setiap warga, ranting, lalu MWCNU tidak diumumkan secara terbuka, terutama untuk menyebutkan mana misalnya ranting yang mengumpulkan paling banyak atau paling sedikit dalam setiap pengumpulan.

“Tujuannya agar tidak merasa malu bagi yang berinfak kecil. Ataupun menimbulkan bangga berlebihan dan kesombongan bagi yang mengumpulkan paling besar,” kata pria yang November nanti berusia 51 tahun. 

Di Sragen, gerakan tersebut bukan saja menjadi gerakan LAZISNU, namun juga PCNU dengan pelibatan seluruh lembaga-lembaga di bawah PCNU Kabupaten Sragen.

“Saya memegang prinsip bahwa kekuatan NU adalah bila lembaga-lembaganya bergerak. Karena gerakan infak ini harus dilakukan oleh LAZISNU, maka secara kelembagaan LAZISNU yang berwenang menanganinya. Bila terkait pendidikan, LP Maarif yang saya dorong terlibat. Demikian juga soal pondok pesantren, kita sama-sama menggerakan lewat RMI,” papar Kiai Ma’ruf.

Kiai Ma’ruf yang pada kepengurusan sebelumnya menjabat Ketua PC RMINU, percaya bahwa sistem yang baiklah yang menjadi kunci sukses Gerakan Koin NU.

“Sistem yang saya tiru adalah dari Allah. Allah mengutus dua malaikat untuk mencatat perbuatan baik dan perbuatan buruk manusia. Dengan pencatatan pada gerakan Koin NU, akan menimbulkan ketransparanan. Itu bisa dipertanggungjawabkan,” ujar pria yang juga Pembimbing Haji dan Umrah pada KBIH Walisongo.

Sementara ini, infak yang terkumpul diprioritaskan untuk membangun gedung MWCNU di setiap kecamatan. Namun tidak menutup kemungkinan untuk insidental, artinya menyesuaikan kejadian dan kondisi yang perlu dibantu. PCNU dan LAZISNU Sragen antara lain melakukan santunan yatim piatu pada Hari Santri yang lalu.

Selain itu, dalam pengembangan ekonomi, bekerjasama dengan Lembaga Perekonomian Nahdltaul Ulama (LPNU), infak juga dimanfaatkan untuk membeli minibus yang sebagai rintisan usaha PCNU Sragen di bidang jasa angkutan travel, berlabel NU Trans.

Dari sistem yang dijalankan, pelaporan yang transparan, serta pemanfaatan yang tepat sasaran, Kiai Ma’ruf optimis, Koin NU niscaya benar-benar mampu mewujudkan Nusantara yang mandiri. (Kendi Setiawan)

Bagikan:
Jumat 3 November 2017 19:30 WIB
Gus Mus: Siapa pun yang Masih Mencintai NKRI, Dialah Santri
Gus Mus: Siapa pun yang Masih Mencintai NKRI, Dialah Santri
KH Ahmad Mustofa Bisri pada pengajian akbar Temanggung, Kamis (2/11)
Temanggung, NU Online  
KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) meminta warga Temanggung untuk bersikap sewajarnya atau tidak boleh berlebihan dalam hal apa pun. 

"Jangan berlebihan, sikap berlebihan itu tidak bagus," ucap Gus Mus saat memberikan tausiah dalam pengajian akbar menyambut Hari Jadi ke-183 Kabupaten Temanggung di Pendopo Pengayoman, Temanggung, Jawa Tengah, Kamis (2/11) malam.

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh Rembang itu menegaskan apa pun jika berlebihan tidak baik. Misalnya makan dan minum berlebihan, bisa sakit. Berpakaian atau mengenakan perhiasan berlebihan, bisa dianggap orang tak waras. Suka atau benci berlebihan juga tidak bagus.

"Pokoknya yang wajar-wajar saja. Ibadah berlebihan juga tidak bagus. Misal, pejabat (Bupati, Camat atau Lurah) yang merupakan abdi masyarakat, warganya butuh ketemu untuk minta tanda tangan atau urusan administrasi, masak tidak ditemui gara-gara sedang ibadah," ucap Gus Mus yang disambut gelak tawa ribuan jamaah yang hadir.

Mustasyar PBNU itu juga menekankan pentingnya menjaga Negara Kesatuan Republik (NKRI). Gus Mus menyebutkan, 22 Oktober lalu, kita baru saja memperingati Hari Santri Nasional (HSN) ke 3 tahun 2017. 

"Siapa itu santri?” tanya Gus Mus

“Siapa pun yang masih cinta terhadap NKRI, dialah santri," tegasnya. (Ahsan Fauzi/Kendi Setiawan).

Jumat 3 November 2017 19:12 WIB
Imam Masjid Istiqlal: Pelajari Islam dari Akar, Jangan Langsung di Ranting
Imam Masjid Istiqlal: Pelajari Islam dari Akar, Jangan Langsung di Ranting
Makassar, NU Online 
Imam Besar Masjid Istiqlal KH Nasaruddin Umar menegaskan, pemahaman Islam yang sempit adalah pemicu munculnya sikap radikal dalam beragama.Dia berpendapat belajar Islam tidak bisa secara instan langsung di ranting, melainkan harus dimulai sejak dari akar. 

Hal itu disampaikan Kiai Nasaruddin saat menjadi pemateri pada Dialog Pelibatan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) dan Birokrasi Kampus dalam Pencegahan Terorisme di kampus Universitas Hasanuddin, Makassar, Rabu (1/11). Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama BNPT dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulawesi Selatan. 

"Orang yang masih menyalah-nyalahkan, bahkan mengkafir-kafirkan amalan keagamaan orang lain, berarti dia harus belajar lagi ilmu agama. Dan belajar agama Islam harus dimulai dari akarnya, tidak bisa mendadak langsung dari rantingnya," kata Kiai Nasaruddin. 

Kampus, lanjut Kiai Nasaruddin, harus menunjukkan perannya dalam memberikan pencerahan keagamaan kepada masyarakat. 

"Jika kampus salah mempersepsikan Islam, maka akan melahirkan kelompok garis keras. Islam itu ramah, Islam itu cinta dan senyum, Islam tidak mengajarkan kekerasan," tegasnya. 

LDK sebagai perwujudan peran kampus dalam pencerahan keagamaan ke masyarakat,  saran Kiai Nasaruddin, harus mampu menampilkan dakwah yang santun. Dialog adalah wujud dakwah santun yang disarankan dilakukan.

"Akan tetapi jangan berdialog jika Anda masih merasa paling benar. Dialog itu pelajaran yang langsung dicontohkan oleh Allah, karena Allah juga berdialog dengan iblis dan setan. Berdialoglah dengan saling mencerahkan, sampaikan ajaran agama dengan tidak saling menyalahkan dan mengkafirkan," urai Kiai Nasaruddin. 

Dalam paparannya  Kiai Nasaruddin juga mencontohkan peran Wali Songo dalam membawa dan menyebarkan ajaran Islam di seluruh pelosok Nusantara. 

"Mahasiswa adalah pencerah bagi masyarakat," pungkasnya. (Shk/Abdullah Alawi)  

Jumat 3 November 2017 18:30 WIB
Orangutan Tapanuli, Spesies Baru Orangutan di Sumatera
Orangutan Tapanuli, Spesies Baru Orangutan di Sumatera
Jakarta, NU Online
Berawal dari kerjasama antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Nasional (UNAS), dengan Yayasan Ekosistem Lestari-Program Konservasi Orangutan Sumatra (YEL-SOCP), dan berbagai Universitas lain di mancanegara, sejumlah tim peneliti yang bergerak di bidang genomik-genetika konservasi, morfologi, ekologi, serta perilaku primata menyimpulkan bahwa populasi orangutan Sumatera yang terletak di habitat terisolir yaitu Ekosistem Batang Toru, di ketiga Kabupaten Tapanuli, Sumatera Utara, sebagai spesies baru dari kelompok genus orangutan. 

Hari ini hasil penelitian ini dilaporkan di dalam salah satu jurnal internasional terkemuka, Current Biology, dimana kategori jenis orangutan baru dengan nama ilmiah Pongo tapanuliensis atau orangutan tapanuli dinobatkan sebagai spesies orangutan ketiga, setelah Pongo pygmaeus (orangutan kalimantan) dan Pongo abelii (orangutan sumatera). 

Bukti pertama yang mengukuhkan orangutan tapanuli sebagai kategori spesies baru terlihat dengan terpaparnya perbedaan genetik yang sangat besar di antara ketiga jenis orangutan (melebihi perbedaan genetik antara gorila dataran tinggi dan rendah maupun antara simpanse dan bonobo di Afrika).

Orangutan tapanuli diduga merupakan keturunan langsung dari nenek moyang orangutan yang bermigrasi dari Dataran Asia pada masa Pleistosen (+ 3.4 juta tahun silam). 

Perbedaan morfologi lain terlihat dari ukuran tengkorak dan tulang rahang lebih kecil dibandingkan dengan kedua spesies lainnya, serta rambut di seluruh tubuh orangutan tapanuli yang lebih tebal dan keriting. Pengukuran tengkorak dan tulang rahang ini dilakukan oleh peneliti Anton Nurcahyo, MSi sebagai bagian dari studi doktoralnya yang sedang ia selesaikan di Australian National University (ANU) bersama dengan pakar taksonomi primata Prof. Dr. Colin Groves. “Kami sangat terkejut sekaligus senang ketika menemukan ukuran tengkorak yang sangat berbeda secara karakteristik dibandingkan dengan spesies lainnya”, tambah Anton.

Berdasarkan studi perilaku dan ekologi, orangutan Tapanuli juga diketahui memiliki jenis panggilan jarak jauh/ long call (cara jantan menyebarkan informasi)  yang berbeda serta jenis pakan unik dari jenis buah-buahan yang hanya ditemukan di Ekosistem Batang Toru. 

Peninjauan terakhir terhadap jumlah populasi orangutan tapanuli dilaporkan pada tahun 2016, di mana hanya tersisa tidak lebih dari 800 individu hidup yang tersebar di tiga populasi terfragmentasi di Ekosistem Batang Toru. “Terdapat tekanan antropogenik yang kuat terhadap keberadaan populasi orangutan tapanuli karena konversi hutan dan perkembangan lainnya”, ujar Dr. Puji Rianti, salah satu peneliti dari Institut Pertanian Bogor yang mempelajari genetika konservasi dari spesies orangutan di Sumatera. 

Dr. Rianti menambahkan bahwa, “Tindakan mendesak diperlukan untuk meninjau ulang usulan-usulan pengembangan daerah di wilayah ini sehingga ekosistem alami tetap terjaga demi keberlangsungan hidup orangutan tapanuli di masa depan”. Saat ini kawasan Ekosistem Batang Toru merupakan habitat terakhir bagi orangutan Tapanuli dengan jumlah individu terpadat. 

Oleh karena itu, sebagian kawasan ekosistem Batang Toru  telah ditetapkan oleh Menteri LHK melalui Nomor : SK.637/MenLHK-Setjen/2015, tanggal 14 Desember 2015, menjadi KPH Lindung atau KPHL XXIV, KPHL XXV, dan KPHL XXVII, dipayungi oleh KPHL XI pada tahun 2015.  Pengelolaan KPHL-KPHL tersebut perlu memprioritaskan upaya-upaya perlindungan bagi spesies orangutan jenis baru. 

“Pemerintah Indonesia sangat gembira dan bangga terhadap penemuan ini”, ujar Menteri LHK. 

Menteri juga berpendapat bahwa penemuan ini semakin menunjukkan betapa kayanya wilayah Indonesia dengan keanekaragaman hayati yang masih relatiif sedikit diketahui.

“Kami sangat bertekad untuk menjaga keberlangsungan hidup spesies kera besar ini, bekerjasama dengan pemerintah provinsi, kabupaten, para peneliti, LSM, sivitas akademika, aktivis lingkungan, masyarakat dan para pihak lainnya. Kami menyadari bahwa Indonesia semakin memainkan peranan kunci dalam konservasi kehidupan global seluruh kera besar di dunia”, sambungnya. (Red: Kendi Setiawan)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG