IMG-LOGO
Nasional

Orangutan Tapanuli, Spesies Baru Orangutan di Sumatera

Jumat 3 November 2017 18:30 WIB
Bagikan:
Orangutan Tapanuli, Spesies Baru Orangutan di Sumatera
Jakarta, NU Online
Berawal dari kerjasama antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Nasional (UNAS), dengan Yayasan Ekosistem Lestari-Program Konservasi Orangutan Sumatra (YEL-SOCP), dan berbagai Universitas lain di mancanegara, sejumlah tim peneliti yang bergerak di bidang genomik-genetika konservasi, morfologi, ekologi, serta perilaku primata menyimpulkan bahwa populasi orangutan Sumatera yang terletak di habitat terisolir yaitu Ekosistem Batang Toru, di ketiga Kabupaten Tapanuli, Sumatera Utara, sebagai spesies baru dari kelompok genus orangutan. 

Hari ini hasil penelitian ini dilaporkan di dalam salah satu jurnal internasional terkemuka, Current Biology, dimana kategori jenis orangutan baru dengan nama ilmiah Pongo tapanuliensis atau orangutan tapanuli dinobatkan sebagai spesies orangutan ketiga, setelah Pongo pygmaeus (orangutan kalimantan) dan Pongo abelii (orangutan sumatera). 

Bukti pertama yang mengukuhkan orangutan tapanuli sebagai kategori spesies baru terlihat dengan terpaparnya perbedaan genetik yang sangat besar di antara ketiga jenis orangutan (melebihi perbedaan genetik antara gorila dataran tinggi dan rendah maupun antara simpanse dan bonobo di Afrika).

Orangutan tapanuli diduga merupakan keturunan langsung dari nenek moyang orangutan yang bermigrasi dari Dataran Asia pada masa Pleistosen (+ 3.4 juta tahun silam). 

Perbedaan morfologi lain terlihat dari ukuran tengkorak dan tulang rahang lebih kecil dibandingkan dengan kedua spesies lainnya, serta rambut di seluruh tubuh orangutan tapanuli yang lebih tebal dan keriting. Pengukuran tengkorak dan tulang rahang ini dilakukan oleh peneliti Anton Nurcahyo, MSi sebagai bagian dari studi doktoralnya yang sedang ia selesaikan di Australian National University (ANU) bersama dengan pakar taksonomi primata Prof. Dr. Colin Groves. “Kami sangat terkejut sekaligus senang ketika menemukan ukuran tengkorak yang sangat berbeda secara karakteristik dibandingkan dengan spesies lainnya”, tambah Anton.

Berdasarkan studi perilaku dan ekologi, orangutan Tapanuli juga diketahui memiliki jenis panggilan jarak jauh/ long call (cara jantan menyebarkan informasi)  yang berbeda serta jenis pakan unik dari jenis buah-buahan yang hanya ditemukan di Ekosistem Batang Toru. 

Peninjauan terakhir terhadap jumlah populasi orangutan tapanuli dilaporkan pada tahun 2016, di mana hanya tersisa tidak lebih dari 800 individu hidup yang tersebar di tiga populasi terfragmentasi di Ekosistem Batang Toru. “Terdapat tekanan antropogenik yang kuat terhadap keberadaan populasi orangutan tapanuli karena konversi hutan dan perkembangan lainnya”, ujar Dr. Puji Rianti, salah satu peneliti dari Institut Pertanian Bogor yang mempelajari genetika konservasi dari spesies orangutan di Sumatera. 

Dr. Rianti menambahkan bahwa, “Tindakan mendesak diperlukan untuk meninjau ulang usulan-usulan pengembangan daerah di wilayah ini sehingga ekosistem alami tetap terjaga demi keberlangsungan hidup orangutan tapanuli di masa depan”. Saat ini kawasan Ekosistem Batang Toru merupakan habitat terakhir bagi orangutan Tapanuli dengan jumlah individu terpadat. 

Oleh karena itu, sebagian kawasan ekosistem Batang Toru  telah ditetapkan oleh Menteri LHK melalui Nomor : SK.637/MenLHK-Setjen/2015, tanggal 14 Desember 2015, menjadi KPH Lindung atau KPHL XXIV, KPHL XXV, dan KPHL XXVII, dipayungi oleh KPHL XI pada tahun 2015.  Pengelolaan KPHL-KPHL tersebut perlu memprioritaskan upaya-upaya perlindungan bagi spesies orangutan jenis baru. 

“Pemerintah Indonesia sangat gembira dan bangga terhadap penemuan ini”, ujar Menteri LHK. 

Menteri juga berpendapat bahwa penemuan ini semakin menunjukkan betapa kayanya wilayah Indonesia dengan keanekaragaman hayati yang masih relatiif sedikit diketahui.

“Kami sangat bertekad untuk menjaga keberlangsungan hidup spesies kera besar ini, bekerjasama dengan pemerintah provinsi, kabupaten, para peneliti, LSM, sivitas akademika, aktivis lingkungan, masyarakat dan para pihak lainnya. Kami menyadari bahwa Indonesia semakin memainkan peranan kunci dalam konservasi kehidupan global seluruh kera besar di dunia”, sambungnya. (Red: Kendi Setiawan)

Bagikan:
Jumat 3 November 2017 19:30 WIB
Gus Mus: Siapa pun yang Masih Mencintai NKRI, Dialah Santri
Gus Mus: Siapa pun yang Masih Mencintai NKRI, Dialah Santri
KH Ahmad Mustofa Bisri pada pengajian akbar Temanggung, Kamis (2/11)
Temanggung, NU Online  
KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) meminta warga Temanggung untuk bersikap sewajarnya atau tidak boleh berlebihan dalam hal apa pun. 

"Jangan berlebihan, sikap berlebihan itu tidak bagus," ucap Gus Mus saat memberikan tausiah dalam pengajian akbar menyambut Hari Jadi ke-183 Kabupaten Temanggung di Pendopo Pengayoman, Temanggung, Jawa Tengah, Kamis (2/11) malam.

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh Rembang itu menegaskan apa pun jika berlebihan tidak baik. Misalnya makan dan minum berlebihan, bisa sakit. Berpakaian atau mengenakan perhiasan berlebihan, bisa dianggap orang tak waras. Suka atau benci berlebihan juga tidak bagus.

"Pokoknya yang wajar-wajar saja. Ibadah berlebihan juga tidak bagus. Misal, pejabat (Bupati, Camat atau Lurah) yang merupakan abdi masyarakat, warganya butuh ketemu untuk minta tanda tangan atau urusan administrasi, masak tidak ditemui gara-gara sedang ibadah," ucap Gus Mus yang disambut gelak tawa ribuan jamaah yang hadir.

Mustasyar PBNU itu juga menekankan pentingnya menjaga Negara Kesatuan Republik (NKRI). Gus Mus menyebutkan, 22 Oktober lalu, kita baru saja memperingati Hari Santri Nasional (HSN) ke 3 tahun 2017. 

"Siapa itu santri?” tanya Gus Mus

“Siapa pun yang masih cinta terhadap NKRI, dialah santri," tegasnya. (Ahsan Fauzi/Kendi Setiawan).

Jumat 3 November 2017 19:12 WIB
Imam Masjid Istiqlal: Pelajari Islam dari Akar, Jangan Langsung di Ranting
Imam Masjid Istiqlal: Pelajari Islam dari Akar, Jangan Langsung di Ranting
Makassar, NU Online 
Imam Besar Masjid Istiqlal KH Nasaruddin Umar menegaskan, pemahaman Islam yang sempit adalah pemicu munculnya sikap radikal dalam beragama.Dia berpendapat belajar Islam tidak bisa secara instan langsung di ranting, melainkan harus dimulai sejak dari akar. 

Hal itu disampaikan Kiai Nasaruddin saat menjadi pemateri pada Dialog Pelibatan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) dan Birokrasi Kampus dalam Pencegahan Terorisme di kampus Universitas Hasanuddin, Makassar, Rabu (1/11). Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama BNPT dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulawesi Selatan. 

"Orang yang masih menyalah-nyalahkan, bahkan mengkafir-kafirkan amalan keagamaan orang lain, berarti dia harus belajar lagi ilmu agama. Dan belajar agama Islam harus dimulai dari akarnya, tidak bisa mendadak langsung dari rantingnya," kata Kiai Nasaruddin. 

Kampus, lanjut Kiai Nasaruddin, harus menunjukkan perannya dalam memberikan pencerahan keagamaan kepada masyarakat. 

"Jika kampus salah mempersepsikan Islam, maka akan melahirkan kelompok garis keras. Islam itu ramah, Islam itu cinta dan senyum, Islam tidak mengajarkan kekerasan," tegasnya. 

LDK sebagai perwujudan peran kampus dalam pencerahan keagamaan ke masyarakat,  saran Kiai Nasaruddin, harus mampu menampilkan dakwah yang santun. Dialog adalah wujud dakwah santun yang disarankan dilakukan.

"Akan tetapi jangan berdialog jika Anda masih merasa paling benar. Dialog itu pelajaran yang langsung dicontohkan oleh Allah, karena Allah juga berdialog dengan iblis dan setan. Berdialoglah dengan saling mencerahkan, sampaikan ajaran agama dengan tidak saling menyalahkan dan mengkafirkan," urai Kiai Nasaruddin. 

Dalam paparannya  Kiai Nasaruddin juga mencontohkan peran Wali Songo dalam membawa dan menyebarkan ajaran Islam di seluruh pelosok Nusantara. 

"Mahasiswa adalah pencerah bagi masyarakat," pungkasnya. (Shk/Abdullah Alawi)  

Jumat 3 November 2017 17:13 WIB
PBNU: Bangsa Palestina adalah Saudara Kita
PBNU: Bangsa Palestina adalah Saudara Kita
Jakarta, NU Online
Ketua PBNU H Marsudi Syuhud menegaskan, bangsa Palestina adalah saudara yang dari umat Islam Indonesia. Karena itu, bangsa Indonesia harus membantu penderitaan yang selama ini masih dialami oleh rakyat Palestina yang sudah lima puluh tahun ini dalam pendudukan Israel. 

“Kita akan terus mendukung. Mudah-mudahan, jika ada masalah, bisa segera diatasi,” katanya dalam pertemuan dengan Dubes Pelestina untuk Indonesia dan Amnesty International di Gedung PBNU, Jumat (3/11).

Marsyudi juga menyatakan kegembiraannya atas persatuan yang dicapai oleh kelompok Hamas dan Fatah untuk bersama-sama memperjuangkan Palestina. “Persatuan itu modal utama,” tandasnya.

Ia mengaskan, di Palestina juga hidup beragam agama, seperti Islam, Kristen, dan Yahudi. Tentu saja, Negara Palestina yang dibangun harus menghargai pemeluk agama-agama yang ada, sebagaimana Rasulullah mendeklarasikan Piagam Madinah yang mengakui keberadaan agama Nasrani, Yahudi, dan Majusi. 

Dubes Pelestina untuk Indonesia Taher Hamad menyatakan kegembiraannya atas dukungan NU dan Indonesia atas kemerdekaaan Palestina. Ia menjelaskan, rakyat Palestina telah meminta dukungan kepada bangsa Indonesia saat Konferensi Asia-Afrika. 

Saat ini, solusi yang diperjuangkan adalah berdirinya dua negara. Selama ini, rakyat Palestina sangat menderita di bawah penduduk Israel. Sejak masa pendudukan, sudah satu juta orang Palestina masuk penjara. Mereka sudah mengokupasi wilayah Palestina dengan membangun rumah-rumah baru, membangun tembok pemisah dan menahan anak-anak. 

Ia juga menjelaskan, kini hanya 33 persen anak-anak yang bisa bersekolah karena tempat-tempat pendidikan tersebut dihancurkan, padahal sebelumnya, 95 anak masuk sekolah. (Mukafi Niam)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG