IMG-LOGO
Daerah

Ini Pesan dari Upacara Selamatan Desa


Sabtu 4 November 2017 08:06 WIB
Bagikan:
Ini Pesan dari Upacara Selamatan Desa
Probolinggo, NU Online
Selamatan desa merupakan suatu pembelajaran bagi semua umat manusia dalam menghargai para leluhur dan orang tua. Oleh karena itu, budaya ini harus terus dilestarikan di tengah-tengah masyarakat.

Hal tersebut disampaikan oleh A’wan PWNU Provinsi Jawa Timur H Hasan Aminuddin ketika menghadiri kegiatan selamatan desa di Desa Asembagus Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo, Kamis (2/11) malam.

“Saya sangat mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh Pemerintah Desa Asembagus Kecamatan Kraksaan dalam melestarikan salah satu budaya kekayaan daerah,” katanya.

Menurut Hasan, selamatan desa merupakan  budaya asli yang dimiliki oleh daerah Kabupaten Probolinggo. Dalam pelaksanaannya biasanya diisi dengan tasyakuran dan haul para sesepuh desa dan para ahli kubur di suatu desa yang sedang melaksanakan selamatan desa.

“Jangan hitung-hitungan biaya untuk kegiatan seperti ini. Selamatan desa dan haul akbar seperti ini sangat penting karena doa kita semua ini selalu ditunggu oleh para pendahulu kita,” jelasnya.

Hasan menegaskan bahwa di era digital saat ini orang tua pada umumnya sedang dihadapkan pada masalah yang besar dalam mendidik anak. Pesatnya perkembangan ilmu dan teknologi sangat mempengaruhi kecerdasan. Terlebih kecerdasan anak saat ini jauh melebihi kecerdasan orang tuanya, bahkan anak zaman sekarang lebih cepat baligh daripada masa orangtuanya dulu.

“Namun kecerdasan itu tidak diimbangi dengan akhlak yang baik, sehingga potret zaman saat ini adalah akhlak dan ilmu seorang anak tidak selaras karena anak sekarang pendidikan akhlaknya kurang,” tegasnya.

Lebih lanjut Hasan menegaskan seharusnya hal ini menjadikan kekhawatiran tersendiri bagi orang tua saat ini dalam mendidik anak. Oleh karena itu disarankan orang tua agar memasukkan anak-anaknya yang sudah baligh ke pesantren-pesantren agar mendapatkan pendidikan akhlak dan agama yang cukup.

“Anak saya pun saya pondokkan, memang berat awalnya namun saya tidak ingin menjadi orang tua yang gagal. Lebih baik menangis hari ini dengan melepas anak kita mondok dari pada menangis esok di akhirat,” pungkasnya.

Sementara Ibang, Kepala Desa Asembagus mengemukakan bahwa kegiatan selamatan desa dan Haul Mbah Sayyid Syawal dan sesepuh Desa Asembagus ini adalah bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas keberkahan hasil bumi dan kemakmuran yang diterima oleh masyarakat dan ini adalah tradisi turun menurun para pendahulunya. “Untuk menambah keberkahan desa, malam ini kami juga menyantuni para yatim piatu,  janda tua dan kaum dhuafa Desa Asembagus sebanyak 200 orang,” tandasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Bagikan:
IMG
IMG