IMG-LOGO
Nasional

Empat Faktor Penting Sebabkan Gen Z Intoleran dan Radikal


Rabu 8 November 2017 22:28 WIB
Bagikan:
Empat Faktor Penting Sebabkan Gen Z Intoleran dan Radikal
Jakarta, NU Online
Direktur Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyebutkan, ada empat faktor penting yang menyebabkan generasi Z, mereka yang lahir di atas tahun 1995, intoleran dan radikal. Pertama, guru agama Islam. 

“Guru atau dosen berpotensi berkontribusi munculnya intoleransi dan radikalisme (di kalangan generasi Z,” kata Saiful di Hotel Le Meridien Jakarta, Rabu (8/11).

Kedua, akses internet untuk mendapatkan pengetahuan agama. Selain dari pelajaran pendidikan agama Islam, anak-anak muda generasi Z mendapatkan informasi seputar keagamaan dari media sosial. Presentase sumber pengetahuan agama generasi Z adalah media sosial dan website adalah 54,87 persen, buku atau kitab 48,57 persen, TV 33,73 persen, dan pengajian umum14,31 persen.

“Mereka yang tidak memiliki akses internet cenderung memiliki opini yang moderat dibandingkan dengan yang memiliki internet,” jelas lulusan Perguruan Islam Mathali’ul Falah Kajen itu.

Ketiga, persepsi tentang kinerja pemerintah terutama dalam masalah ekonomi dan hukum. Anak-anak muda generasi Z menganggap kesenjangan ekonomi antara yang kaya dan miskin berada dalam taraf yang parah. 52,29 persen menyatakan parah dan sangat parah. Sedangkan, 43,46 persen menganggap sedang atau cukup parah.

“Soal hukum pun sama. Sekitar 69,80 persen menyatakan penerapan hukum itu kurang hingga sangat tidak adil,” jelasnya.

Keempat, persepsi umat Islam sebagai korban. Mayoritas anak muda generasi Gen Z menganggap bahwa umat Islam saat ini sedang berada dalam kondisi yang terdzalimi. Mereka juga berpendapat kalau non-muslim lebih diuntungkan dalam bidang ekonomi.

“36,79 persen siswa dan mahasiswa percaya bahwa orang non-muslim bertanggungjawab atas ketimpangan sosial ekonomi di Indonesia,” terangnya.

Ini merupakan hasil survei yang dilakukan oleh PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Survei ini dilaksanakan pada 1 hingga 7 Oktober 2017 dan melibatkan 2181 responden: 264 guru, 58 dosen, 1522 siswa, dan 337 mahasiswa. (Muchlishon Rochmat)
Bagikan:
IMG
IMG