IMG-LOGO
Opini

Akhlak dan Hizbul Hoaks Indonesia

Senin 13 November 2017 17:59 WIB
Bagikan:
Akhlak dan Hizbul Hoaks Indonesia
Oleh Ayik Heriansyah

NU sebagai kekuatan sipil terbesar di Indonesia berada di garda terdepan menjaga NKRI. Harus diakui sejak republik ini berdiri, NU masih bersih dari segala macam kegiatan yang menganggu eksistensi negara. Dalam keadaan suka duka NU selalu bersama Indonesia secara lahir dan batin. 

Wajar jika pemerintah dan rakyat Indonesia menaruh kepercayaan penuh kepada NU ketika gerakan kaum radikal mulai menggeliat sejak 20 tahun yang lalu. Dari waktu ke waktu, mereka semakin menampakkan diri bertujuan mengubah NKRI menjadi negara khilafah. Untuk mengamankan negara, pemerintah  pun membubarkan organisasi pengusung paham itu, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), melalui Perppu Ormas yang kemudian disahkan menjadi UU Ormas oleh DPR. 

Logis jika NU, GP Ansor dan Banser menjadi sasaran kemarahan selepas dicabutnya badan hukum mereka oleh pemerintah, dalam hal ini Kemenkumham; dengan memanfaatkan blog dan media sosial, berbagai berita hoaks, meme bernada pelecehan, potongan video yang tendensius, serta opini-opini lepas tanpa peduli benar atau salah, yang penting viral. 

Di sisi lain, reaksi GP Ansor dan Banser terhadap HTI, jadi dalih penghalang “dakwah”. Itu merupakan pintu propaganda masif agar terjadi pelemahan jama’ah dan jam’iyah. Tak hanya itu, untuk menciptakan aura kebencian kalangan umat Islam yang lain terhadap NU, GP Ansor dan Banser. Awalnya sempat terjadi kontraksi kecil di internal jama’ah NU, tapi tampaknya makin lama, mulai paham dan sadar ada niat busuk di balik share-sharean mereka di dunia maya. 

Alhamdulillah warga NU cepat kembali ke kiainya setelah sempat sebentar geger dan gagap dibombardir konten hoaks mereka. 

Selama ini HTI mencitrakan dirinya sebagai kelompok politik intelektual, santun dan tanpa kekerasan. Bagi mereka, bahwa akhlak bagian dari syariat Islam. Bahkan ada satu kitab khusus berisi kumpulan ayat dan hadits tentang akhlak dalam rangka memperkokoh nafsiyah para anggotanya yaitu kitab Min Muqawwimat Nafsiyah Islamiyah (Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah). 

Di sisi lain pendapat HTI tentang akhlak terkait dakwah dan kebangkitan umat Islam sangat minor. Terkesan mengabaikan akhlak. Di bab terakhir kitab Nizhamul Islam membahas akhlak. Di bab tersebut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani mengatakan: akhlak tidak mempengaruhi secara langsung tegaknya suatu masyarakat. Masyarakat tegak dengan peraturanperaturan hidup dan dipengaruhi oleh perasaan-perasaan dan pemikiran-pemikiran. Akhlak tidak mempengaruhi tegaknya suatu masyarakat, baik kebangkitan maupun kejatuhannya. Yang mempengaruhinya adalah opini (kesepakatan) umum yang lahir dari persepsi tentang hidup. Disamping itu yang menggerakkan masyarakat bukanlah akhlak, melainkan peraturan-peraturan yang diterapkan di tengah-tengah masyarakat itu, pemikiran-pemikiran, dan perasaan yang melekat pada masyarakat tersebut. Akhlak sendiri adalah produk berbagai pemikiran, perasaan, dan hasil penerapan peraturan. 

Atas dasar inilah, maka tidak diperbolehkan dakwah hanya diarahkan pada pembentukan akhlak dalam masyarakat. Sebab akhlak merupakan hasil dari pelaksanaan perintah- perintah Allah SWT yang dapat dibentuk dengan cara mengajak masyarakat kepada akidah dan melaksanakan Islam secara sempurna. 

Disamping itu, mengajak masyarakat pada akhlak semata, dapat memutarbalikkan persepsi Islam tentang kehidupan dan dapat menjauhkan manusia dari pemahaman yang benar tentang hakikat dan bentuk masyarakat. Bahkan dapat membius manusia dengan hanya mengerjakan keutamaan amal-amal yang bersifat individual. Hal ini mengakibatkan kelalaian terhadap langkah-langkah yang benar menuju kemajuan hidup. Dengan demikian sangat berbahaya mengarahkan dakwah Islamiyah hanya pada pembentukan akhlak saja. Hal itu memunculkan anggapan bahwa dakwah Islam adalah dakwah untuk akhlak saja. Cara seperti ini dapat mengaburkan gambaran utuh tentang Islam dan menghalangi pemahaman manusia terhadap Islam. Lebih dari itu dapat menjauhkan masyarakat dari satu-satunya metode dakwah yang dapat menghasilkan penerapan Islam, yaitu tegaknya Daulah Islamiyah. (Nizhamul Islam, terj, 2007: 197-198)

Di kitab at-Takattul Hizbi, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani juga mengkritik organisasi-organisasi yang mendakwahkan Islam, di samping berbagai organisasi pendidikan dan social tersebut, berdiri pula organisasi berdasarkan akhlak yang berusaha membangkitkan umat atas dasar akhlak melalui nasihat-nasihat, bimbingan-bimbingan, pidato-pidato, dan selebaran-selebaran, dengan suatu anggapan bahwa akhlak adalah dasar kebangkitan. Organisasi-organisasi ini telah mencurahkan tenaga dan dana yang tidak sedikit, namun tidak mendatangkan hasil yang berarti. Perasaan umat tersalur melalui pembicaraan-pembicaraan yang membosankan yang diulang-ulang tanpa arti. (at-Takattul Hizbi, terj: 2001: 25).

Dari pemikiran Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani di atas sebenarnya HTI tidak melepaskan akhlak secara mutlak. Akhlak sebatas urusan seorang individu terhadap dirinya sendiri. Maksudnya akhlak masalah privat bukan politik. Di ranah politik, akhlak dikesampingkan sebab dalam proses politik menuju tegaknya khilafah, HTI berpedoman pada metode dakwah yang mereka adopsi yang diyakini berasal dari metode dakwah Nabi SAW. Tahap yang krusial bagi eks-HTI dalam metode dakwah mereka adalah fase tafa’ul ma’a ummah (berinteraksi dengan umat). Di fase ini eks-HTI melancarkan shira’ul fikri (konfrontasi pemikiran) dan gencar melakukan aktivitas kifahu siyasi (perjuangan politik). 

Pelanggaran akhlak islami sering kali terjadi pada dua aktivitas ini. Untuk memenangkan konfrontasi pemikiran, eks-HTI tidak segan-segan memanipulasi makna kitab turats (kitab kuning). Contohnya makna khilafah itu sendiri. Eks-HTI mengutip qaul ulama berbagai mazhab tentang khilafah yang bermakna umum (general) kemudian oleh eks-HTI keumuman makna khilafah ditimpali/ditahrif menjadi makna khusus menjadi lebih spesisfik dengan makna khilafah yang mereka maksud dan mereka perjuangkan. 

Khilafah yang ada dalam benak eks-HTI adalah kepemimpinan umat yang dipegang oleh Amir Hizbut Tahrir dalam naungan negara yang mengadopi kontitusi yang disusun oleh Amir Hizbut Tahrir. Tentu saja makna khilafah seperti ini bukan yang dimaksud oleh para ulama salaf dan khalaf di kitab-kitab mereka. Para ulama membiarkan keumuman makna khilafah, sehingga bentuk kepemimpinan, negara dan pemerintahan yang tercakup dalam keumuman makna ini, dianggap Khilafa secara syar’i. NKRI salah satunya. 

Dengan demikian, sebenarnya umat Islam tidak pernah kosong dari khilafah sejak dibaiatnya Abu Bakar al-Shiddiq sebagai khalifah sampai dilantiknya Presiden Jokowi. Keadaan vacuum of khilafah tidak pernah terjadi pasca runtuhnya Khilafah Turki Utsmani 3 Maret 1924 sebagaimana yang diyakini oleh HTI.

Adapun titik rawan pelanggaran akhlak islami oleh eks-HTI ketika melakukan aktivitas perjuangan politik yaitu aksi membongkar strategi (kasyful khuththath). Kasyful khuththath merupakan aktivitas politik eks-HTI dalam membongkar, menyingkap lalu membongkar ke publik strategi dan rencana penguasa yang mereka vonis sebagai antek-antek negara asing. Tujuan aksi ini untuk memutus kepercayaan publik terhadap pemerintah (dharbu ‘alaqah baina ummah wa hukkam). 

Untuk mendapatkan informasi seputar strategi dan rencana penguasa, eks-HTI melakukan kegiatan mata-mata (intelijen) amatiran. Informasi-informasi mereka kumpulkan dari berbagai sumber baik yang terbuka umum seperti media massa, media online dan media sosial maupun sumber-sumber tertutup dari kegiatan silaturahmi mereka dengan para ulama, pejabat, birokrat, akademisi, dan lain-lain yang mayoritas beragaman Islam. 

Padahal aktivitas memata-matai mereka sangat dilarang oleh akhlak islami. Tajassus kepada sesama muslim perbuatan yang tidak diragukan lagi keharamannya. Seringkali eks-HTI ceroboh dalam menilai kegiatan seorang Muslim yang jadi pejabat, antara perbuatan pribadi atau sebagai pejabat sehingga yang terjadi justru aksi bongkar aib pribadi yang dilakukan eks-HTI kepada seorang pejabat bukan membongkar rencana “jahat antek penjajah”. Membongkar aib pribadi pejabat ke publik termasuk dosa besar. Itu pun bercampur fitnah dan ghibah.

Namun demikian, eks-HTI merasa tidak bersalah karena diyakini sebagai bagian dari implementasi metode dakwah Nabi SAW. Kemudian diperkuat oleh pemikiran Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani yang memisahkan akhlak dari masyarakat membuat eks-HTI mengabaikan akhlak dalam berdakwah. HTI sendiri menegaskan kelompok mereka bukan kelompok ruhani dan akhlak. Mereka merupakan partai politik yang berorientasi meraih kekuasaan sebagai syarat terjadinya perubahan masyarakat. Manuver politik nirakhlak yang dipraktikkan eks-HTI dampak dari keyakinan mereka yang salah tentang metode dakwah Nabi SAW dan konsepsi tentang akhlak kaitannya dengan perubahan masyarakat. 

Betul, suatu masyarakat eksis karena adanya pemikiran, perasaan dan aturan yang sama, namun unsur pokok masyarakat adalah individu. Tanpa individu-individu tidak akan terwujud suatu masyarakat sebagus apapun pemikiran, perasaan dan aturan yang dirancang. Sebab itu perubahan masyarakat ditentukan oleh perubahan individu yang meliputi pemikiran, perasaan dan akhlak. Jika seorang individu belum bisa mengatur dirinya dengan akhlak, maka rasanya berat bagi individu untuk bisa diatur dalam suatu masyarakat. Akhlak jadi parameter keteraturan suatu masyarakat.

Kesalahpahaman Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam mendiagnosa penyakit masyarakat ditambah kedangkalan ilmu agama eks-HTI menjadikan mereka tidak segan-segan mengadu domba lawan-lawan politik mereka dari kalangan ulama dan ormas Islam. NU, GP Ansor dan Banser sebagai benteng NKRI tidak lain merupakan penghalang terbesar sipil bagi agenda pendirian Khilafah oleh eks-HTI. 

Meski belum ada bukti pasti berasal dari mereka, memproduksi konten hoaks agar menimbulkan rasa kebencian dan permusuhan kepada NU, GP Ansor dan Banser adalah perbuatan keji yang jauh dari akhlak terpuji. Dan sepertinya kalangan petinggi eks-DPP HTI membiarkan aksi-aksi “machiaveli” eks-HTI karena dianggap aksi individual, bukan agenda jama’ah dan secara politik aksi-memberi manfaat bagi perjuangan mereka. Mereka seperti menikmati aksi-aksi lone wolf eks-HTI di dunia maya mengingat mereka tidak bisa lagi beraktivitas di dunia nyata. 

Yang pasti, dakwah Islam dengan cara-cara kotor, alih-alih mendapat nashrullah, justru akan mengundang murka Allah SWT. Sudah jadi sunnatullah syariat Islam hanya tegak dengan cara-cara yang bersih, bersih niat, bersih pikiran, bersih ujaran dan bersih tindakan. Menegakkan syariat Islam dengan akhlak tercela ibarat menegakkan benang basah.


Penulis adalah jama’ah Sabtuan NU Kota Bandung, Pegiat di Institute for Democracy Education. Mantan Ketua HTI Babel 2004-2010

Bagikan:
Senin 13 November 2017 17:30 WIB
Perut itu Pusing, Kepala itu Mules
Perut itu Pusing, Kepala itu Mules
Ilustrasi (kompas).
Oleh Aswab Mahasin

Membaca judul di atas mungkin sebagian dari Anda akan protes: “itu terbalik, itu terbalik, itu terbalik”. Memang terbalik, judul tersebut representasi dari fenomena dunia yang terbalik. Tidak sedikit kejadian di sekitar kita sudah tidak sesuai dengan fungsinya. Bukan hal aneh, sekarang kita telah memasuki era di mana fungsi tidak lagi penting, yang terpenting adalah tampilan, kemasan, dan bungkus. Dan banyak orang tidak menyadari, hakikatnya perut itu tidak pernah pusing, dan kepala tidak pernah mules—karena nilai muasalnya sudah disepakati. Namun, kita menabrak norma itu sebagai dalih masa kini.

Dunia sudah terbalik, dahulu pernikahan sejenis dianggap tabu dan tidak wajar, tapi sekarang tidak sedikit dari kita merestui bahkan mengizinkan pernikahan sejenis itu terjadi, banyak juga yang mengusulkan agar itu dilegalkan. Dahulu, pacaran dengan bermesra-mesraan di depan umum adalah perilaku menyimpang, namun kids zaman now sudah tanpa tedeng aling-aling melakukan itu.

Dulu, kualifikasi pertanyaan kepada calon pejabat (politik), “Kamu bisanya apa?”, sekarang pertanyaannya, “Kamu punya-nya berapa?” Dulu, maling ayam kelas teri kalau ketahuan—malunya minta ampun, mukanya ditutup, dan menunduk jauh ke bawah, sekarang maling kelas kakap—para koruptor keluar dari gedung KPK cengengesan berlenggang percaya diri dengan badan yang tegap.

Jilbab/Hijab atau pakaian (wanita) muslimah, dulu mempunyai fungsi untuk menutup lekukan-lekukan badan sebagai cara menjaga kehormatan seorang wanita. Namun, perkembangan fashion yang luar biasa, membuat makna pakaian tersebut bergeser, bukan lagi nilai kehormatan yang diusung melainkan ke-wow-an. Kenapa? karena sama sekali tidak menutup, pakaiannya sangat ketat, melebihi ketatnya “lepet”. Sehingga menggambarkan bentuk tubuhnya. Fenomena ini sama saja dengan, “minum air dikunyah, makan roti disruput”.

Kita semua tahu, seorang penceremah sering memakai sorban hijau, peci putih, dan baju putih sebagai cara untuk menampakkan kewibawahan. Dalam kesepakatan nilainya, peci putih, sorban hijau, dan baju putih yang dipakai penceramah mempunyai fungsi pengingat-ingat, agar pendakwah berseru dengan cara bijaksana, menuntun orang ke arah lebih baik, dan mengingatkan orang untuk menjauhi hal-hal buruk. Namun, dunia terbalik—peci putih, baju putih, dan sorban hijau belum lama ini difungsikan untuk melakukan provokasi, dengan mengatakan ‘iblis’ dan mengeluarkan kata-kata tidak laik konsumsi—ditujukan kepada organisasi terbesar di Indonesia. Ini sama saja dengan, “Makan nasi pakai golok, nebang pohon pakai sendok”.

Dahulu, para pahlawan berjuang mengusir penjajahan, para tokoh berpikir merumuskan konsep kenegaraan, dan akhirnya pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika menjadi prinsip dasar kebangsaan. Namun, perjuangan yang mengorbankan nyawa itu kini ingin diruntuhkan, digantikan oleh sekelompok orang yang tak pernah mau tahu jasa pahlawan.

Di era dunia terbalik ini, seakan-akan jagat menjadi “blur”, dan kita terjebak dalam ke-blur-an. Dikiranya yang modern itu western, tidak, modernisasi bukan westernisasi ujar Prof Dr Kuntjaraningrat. Dikiranya dengan minum bir setiap hari, gaya bicara yes yes yos, atau kentut di depan umum kita sudah menjadi modern? Tidak, ungkap Mahbub Djunaidi.

Begitupun sama, dikiranya dengan berpakaian seperti syekh, kiai, dan ustadz maka kita sudah menjadi paling islami? Tidak juga, karena yang menjamin kita masuk surganya Allah itu bukan dari apa yang kita pakai, melainkan kita punya amal baik atau tidak? punya amal yang manfaat atau tidak?

Kita sekarang bingung membedakan mana yang halal dan mana yang haram, mana yang baik dan mana yang buruk. Karena semuanya sudah dikemas dan dibungkus oleh ideologinya masing-masing.Dan kita rela menabrak norma dan nilai-nilai yang berlaku: agama maupun budaya.

Sebenarnya saling tabrak itu lumrah, yang tidak lumrah itu kalau tabrakannya disengaja. Artinya, kita melanggar nilai-nilai demi kepentingan pribadi. Padahal nilai itu sendiri merupakan bagian terpenting untuk keselamatan kita di dunia. Di jalan kalau tidak ada rambu-rambu lalu lintasnya akan kacau, mungkin bisa mengakibatkan tabrakan beruntun. Ada juga konsekuensi pelanggar lampu merah, kalau dia tidak celaka, nasib paling baik kena tilang. Begitulah akibat dari tidak patuhnya kita terhadap nilai-nilai yang disepakati.

Kalau harus jujur, saya tidak begitu memikirkan dunia ini mau terbalik atau kejengkang, karena tetap saja peristiwa ini entah itu kapan akan datang. Tetapi, saya ‘gemes’ lihat saban hari banyak peristiwa-peristiwa aneh yang berseliweran. Mau tidak mau, saya memerintahkan diri saya sendiri untuk bertanggung jawab, minimal mata saya tenang dari kejenuhan medsos, dengan kata lain saya fokus menulis.

Kalau saya pikir-pikir, ada empat masalah dunia jadi terbalik (khususnya dunia Indonesia), pertama, masalah kultural, standar nilai-nilai kebudayaan tidak sama, masuknya karakter budaya lain ke negara kita mengakibatkan ada pengkaburan kultural. Jadi, kita dikasih gambaran tentang zaman now, melalui berbagai media—apa yang kita miliki sudah ketinggalan zaman, kita dipaksa menganggap Indonesia itu tradisional, yang modern Korea, Amerika, dan sebagainya. 

Kedua, masalah pasar, produk yang ditawarkan kepada kita selalu didefinisikan sebagai produk modern, seperti: fashion, kehidupan di layar kaca, musik, teknologi, dan sebagainya. Akhirnya, kita dipaksa untuk meyakini bahwa apa yang datang dari Indonesia itu tidak modern. Kalau tidak nyanyi Inggris tidak modern, padahal Habib Syekh, Didi Kempot, Rhoma Irama, dan Via Vallen lebih modern dibandingkan penyanyi-penyanyi korea dan barat itu.

Ketiga, masalah individu, mental-mental orang kita bukan mental tempe, karena dianggapnya tempe tidak modern, yang lebih modern adalah produk-produk makanan ayam dan kopi dari luar negeri. Selera makan pun terkapling, ada madzhab kekunoan dan ada madzhab kekinian, bahkan ada istilah jajanan lawas. Kalau makanan pakai nama bahasa Indonesia itu tidak kekinian, tapi kalau namanya keminggris atau keluar-luarnegerian dianggap kekinian. Seperti Bakmi Jowo dan Spaghetti, keduanya sama-sama mie, tapi derajat penghormatannya berbeda.

Keempat, masalah pengalaman keagamaan, masalah ini kompleks, karena sekarang ada medsos/ada alam maya. Pemahaman keagamaan kita terlalu dikendalikan oleh Kisanak Google dan Kisanak Facebook. Sanad keilmuan tidak jelas. Pengalaman spiritualitas-pun seringkali datang karena ancaman, “yang tidak bilang amin akan masuk neraka”, “yang tidak membagikan kiriman ini hidupnya akan susah di dunia dan akhirat”. Dan tidak sedikit orang lebih percaya dengan Ustadz-ustadz kemarin sore yang berkeliaran di medsos, daripada percaya dengan kiai-kiai yang belajarnya sudah sampai pada taraf pakar, bahkan sudah buat tafsir, dan itu masih dilecehkan. Aneh sekali, dunia terbalik ini, atau jangan-jangan sudah sampai pada taraf dunia kejengkang.

Dengan demikian, ini masalah mindset, masalah mental, kita terlalu mengagung-agungkan yang lain dari kita dan kita terjebak oleh keinginan yang bukan kita, padahal yang lain itu belum tentu lebih sempurna dan lebih baik. Pemaknaan modernitas yang harus kita ubah, jangan dikira modernitas itu mengubah segala aspek. Modernitas sebaiknya dimaknai sebagai ajang berkarya untuk membuat sesuatu yang berbeda dan bermanfaat, selalu berpikir dan bersikap positif dalam memandang segala sesuatu tentang kehidupan, dan menggembala orientasi-orientasi/ide-ide untuk masa yang akan datang. Karena bumi yang kita singgahi, Indonesia ini akan diwariskan ke penerus kita selanjutnya.

Coba Anda renungkan Firman Allah SWT dalam surat Yusuf ayat 33, “Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS: Yusuf [12]: 33)

Penulis adalah Pembaca Setia NU Online.
Senin 13 November 2017 10:45 WIB
Intrik Politik di Kerajaan Arab Saudi
Intrik Politik di Kerajaan Arab Saudi
Ilustrasi (© Reuters)
Oleh Nadirsyah Hosen

Buat kawan-kawan yang tekun membaca serial tulisan sejarah politik Islam yang saya posting (di halaman Facebook Nadirsyah Hosen, red) secara rutin, tentu sudah bisa melihat bagaimana pattern pertarungan antar-keluarga dalam merebut kekuasaan baik di masa Dinasti Umayyah dan juga Abbasiyah.

Kelihatannya sejarah akan berulang di saat perpindahan kekuasaan diperebutkan antar keluarga sendiri di kerajaan Arab Saudi saat ini. Kita akan melihat dengan berdebar-debar bagaimana Putra Mahkota sedang menyiapkan jalan yang mulus untuk menjadi Raja, sementara para pangeran lainnya tengah menunggu manuver berikutnya.


Arab Saudi dibangun bukan atas dasar sistem khulafa al-rasyidin. Arab Saudi mencontoh model kerajaan yang dilakukan oleh khalifah Mu’awiyah dan keturunannya. Maka pemimpin dipilih berdasarkan garis keturunan, bukan atas dasar pilihan rakyat. 

Perbedaannya, Arab Saudi selalu dipimpin oleh keturunan Ibn al-Saud. Makanya dari namanya saja, Arab Saudi, itu merupakan kerajaannya Saud dan keluarganya. 

Pengganti Saud diambil dari anaknya secara bergantian. Model semacam ini lumayan sukses mencegah pertumpahan darah antar pangeran sampai tiba kelak anak-anak Abdul Azis as-Saud yang jumlahnya banyak banget itu sudah habis atau sudah tua dan tidak mampu memimpin lagi. 

Raja Salman adalah anak ke-25 dan berkuasa saat berusia 79 tahun sejak 2015. Seharusnya sepeninggalnya kelak yang naik adalah saudaranya, yaitu Pangeran Muqrin (saat ini 72 tahun). Tapi dia hanya menjadi putra mahkota 4 bulan dan digantikan oleh Pangeran Muhammad bin Nayef (58 tahun). 

Diangkatnya Pangeran Muhammad bin Nayef semula dianggap merupakan penanda era baru dalam suksesi di Arab Saudi. Ini karena beliau bukan anak Ibn Saud, tapi cucu. Ayahnya Pangeran Nayef as-Saud sebelumnya merupakan putra mahkota di masa kepemimpinan Raja Abdullah. Tapi Pangeran Nayef wafat lebih dulu ketimbang Raja Abdullah. Maka Pangeran Salman yang menjadi putra mahkota dan kemudian menggantikan Raja Abdullah.

Diangkatnya Pangeran Muhammad bin Nayef seolah merupakan “kompensasi” terhadap wafatnya ayahandanya yang kemudian gagal menjadi Raja. 

Perlu disampaikan pula di kalangan Bani Saud ini juga ada fraksi atau group khusus. Dikenal dengan sebutan 7 Sudairi. Ini adalah tujuh anak Ibn Saud dari istrinya yang bernama Hussa Sudairi. Raja Fahd (1921-2005) adalah pemuka kelompok ini. Raja Salman dan Pangeran Nayef juga dari kelompok ini. Namun bukan berarti fraksi ini tidak pecah. Pangeran Ahmad, putra ibn Saud yang ke-31, yang paling junior dari kelompok ini (74 tahun) dkeluarkan dari jalur suksesi. Peranannya diganti oleh Pangeran Muqrin, yang sudah saya singgung di atas.

Muqrin pun ternyata dicopot. Lantas Muhammad bin Nayef naik. Tapi hanya dua tahun menjadi Putra Mahkota, Nayef juga dicopot. Lantas siapa yang menggantikan? Nah ini yang membuat percaturan politik semakin seru: yang naik sebagai putra mahkota adalah Pangeran Muhammad bin Salman (MBS) alias putra Raja Salman sendiri.

Belum pernah sebelumnya Raja Arab Saudi selain Ibn Saud menunjuk anaknya sendiri sebagai calon penggantinya. Salman mengubah ini. Sehingga kalau rencana ini berjalan mulus maka dinasti Saud akan diteruskan oleh Dinasti Salman. 

Naiknya MBS ini telah menyingkirkan Pangeran Muqrin dan Pangeran Nayef. MBS maish sangat muda, baru berusia 32 tahun. MBS adalah wajah Arab Saudi masa depan.

Tantangan buat MBS juga besar. Maka dia segera mengonsolidasikan kekuasaannya. Baru-baru ini 49 tokoh berpengaruh, termasuk 11 pangeran, ditangkap atas tuduhan korupsi. Helikopter yang membawa Pangeran Mansour, putra dari Muqrin, yang berusia sekitar 42 tahun dan disebut-sebut saingat berat MBS, kecelakaan dan menewaskan Mansour bin Muqrin. Banyak yang menghubungkan kecelakaan ini dengan perebutan kekuasaan. Entahlah....

Raja Salman dan Pangeran MBS sendiri didukung Amerika dan Israel. Bagaimana suara para ulama di sana? Ternyata MBS juga menangkapi para ulama yang konservatif. MBS berperang dengan Yaman, dan juga bersitegang dengan Qatar. 

Aset pangeran yang ditangkap termasuk Pangeran al-Waleed bin Talal, salah satu orang terkaya di dunia, disita oleh Kerajaan. Arab Saudi memang tengah dilanda kesulitan ekonomi belakangan ini akibat harga minyak yang turun dan perang dengan Yaman. 

Segala cara kini dilakukan MBS untuk melapangkan jalannya menuju kursi kekuasaan. Bahkan dia menjanjikan mengembalikan Arab Saudi ke jalur Islam moderat.

Kelihatannya bukan Islam moderat yang akan MBS tuju. Ini bukan pertarungan antara konservatif dan moderat. Karena kalau serius mau mengembangkan Islam moderat maka Arab Saudi harus membuang ideologi Wahabi mereka, dan juga menetapkan demokrasi bukan lagi sistem kerajaan. Arab Saudi harus mau belajar dari Indonesia. Mungkinkah itu?

Yang saya lihat saat ini adalah pertarungan antara kubu konservatif dan kubu pragmatis di Arab Saudi. Mana yang akan menang? 

Akankah sejarah politik Islam masa silam berulang di abad modern ini? Perebutan kekuasaan antar keluarga, politisasi ayat dan hadits, plus peperangan dan pertumpahan darah? Kita menunggu episode berikutnya dari kerajaan Arab Saudi.

Siapkan kopi anda —kali ini bergelas-gelas kopi, karena lakon ini masih panjang. Dan jangan lupa selipkan doa agar perdamaian selalu tercipta, dimanapun itu, termasuk di Arab Saudi. 


Penulis adalah Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand

Sabtu 11 November 2017 13:30 WIB
‘Rausyanfikr’ dan Solusi Persatuan Umat
‘Rausyanfikr’ dan Solusi Persatuan Umat
Ilustrasi
Oleh Ja’far Tamam

Dewasa ini Indonesia gerah melihat beragam pertikaian yang terjadi akibat  perbedaan pemahaman-pemahaman keagamaan yang kurang mendapatkan ruang untuk mendialogkan perkara permasalahan. Diskursus agama selalu menjadi hal yang manis untuk diperbincangkan dalam segala konteks kehidupan. Membahas agama adalah membahas sentimen yang mudah untuk dipanaskan dan dijadikan kuda tunggangan berbagai kepentingan. Baik itu politik, bisnis, diplomasi antar negara dan lain-lain.Selagi dibungkus dengan agama,sebuah perkara akan naik pamor.

Prof Nasaruddin Umar, dalam koran harian Media Indonesia (27 Oktober 2017) mengatakan bahwa bahasa agama mempunyai kekuatan luar biasa. Bahasa agama bisa digunakan untuk memotivasi orang untuk berpartisipasi terhadap pembangunan atau sebaliknya bisa juga digunakan untuk menggunting partisipasi masyarakat di dalam sebuah program. 

Bahasa agama juga bisa digunakan untuk memicu konflik yang pada saatnya melahirkan jatuh korban. Dengan demikian, bahasa agama perlu dikelola dengan baik. Demikian Nasaruddin Umar. 

Islam sebagai agama yang mengusung kerahmatan amat membenci segala praktik yang menimbulkan keresahan di kalangan masyrakat. Islam bahkan menjadi pemersatu dua kubu yang saling bermusuhan sejak awal kedatangannya. Sebut saja suku Aus dan Khazraj, keduanya merupakan dua suku Arab di Madinah yang saling bermusuhan sejak lama. Namun, tak lama sejak kedatangan Muhammad, melalui utusan bernama Mus’ab bin Umair, masyrakat Madinah berduyun-duyun memasuki Islam dan dengan sendirinya mereka terjalin dalam satu ukhuwah yang kokoh. 

Bukan hanya jalinan ukhuwah Islamiyah yang membuat mereka mengakhiri dendam abadi, jalinan ukhuwah basyariyyah (persaudaraan sesama manusia)lah yang pada akhirnya juga membuat mereka tersadar bahwa permusuhan bukanlah jalan terbaik dalam melangsungkan proses bermasyarakat dan merancang sebuah peradaban mulia. 

Kaum intelektual, menurut Ali Syariati, adalahpelanjut perjuangan Nabi, baik dalam merancang persatuan dan kesatuan masayarakat, atau lainnya. Dalam bahasa Persia Ali Syariati mengistilahkannya dengan “rausyanfikr” (pemikir yang tercerahkan).

Ali Syariati melanjutkan, terjemahan yang paling tepat untuk istilah rausyanfikr adalah kaum intelektual dalam arti yang sebenarnya. Kaum intelektual bukan sarjana, yang hanya menunjukkan kelompok orang yang sudah melewati pendidikan tinggi dan memperoleh gelar sarjana. Mereka juga bukan sekadar ilmuwan, yang mendalami dan mengembangkan ilmu dengan penalaran dan penelitian. 

Mereka adalah kelompok orang yang merasa terpanggil untuk memperbaiki masyarakatnya, menangkap aspirasi mereka, merumuskannya dalam bahasa yang dapat dipahami setiap orang, menawarkan strategi dan alternatif pemecahan masalah. (Ali Syariati, Ideologi Kaum Intelektual, 1993:14-15)

Di antara kaum rausyanfikr yang diharapkan adalah para alumni pesantren. Pesantren, sebagai sebuah institusi yang memasyarakatkan pemahaman moderat Islam dalam proses pembelajarannya, saat mereka kembali ke daerah masing-masing, merupakan duta rausyanfikr di setiap masyarakat yang mereka tinggali. 

Idris Jauhari dalam sebuah bukunya Alumni Pesantren Sebagai Perekat Umat mengatakan, sebagai sebuah lembaga pendidikan, pesantren dituntut untuk mendidik para santri agar mereka memiliki kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan menyikapi perbedaan. 

Alumni pesantren mesti diarahkan untuk menjadi agen-agen perekat sosial (agent of social cohesion), agen-agen yang mampu dengan jernih dan tepat menempatkan diri di tengah perbedaan sesuai fungsi dan posisi masing-masing, bukan orang yang gampang terjebak dalam politisasi perbedaan dan konflik kepentingan secara tidak strategis. (Idris Jauhari, 2005:2)

Sebagai langkah lanjut mewujudkan cita-cita persatuan ini adalah dengan meyakini bahwa perbedaan merupakan fitrah yang tak bisa dihindari. Perbedaan adalah khasanah kehidupan yang perlu dirayakan. Dan, hal ini tak bisa diwujudkan kecuali dengan perasaan saling menghargai dan membuka ruang dialog antara kedua belah pihak yang berbeda.

Al-Qur’an menegaskan,

“Wahai manusia! Sungguh, kami telah menciptakan kami dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan berusku-suku agar kamu saling mengenal, Sesunguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Mahamengetahui, Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat {49}: 13)

Idris Jauhari mengomentari ayat di atas bahwa umat Islam dituntut tidak saja untuk menyadari adanya perbedaan tersebut, tetapi juga untuk melakukan upaya-upaya perkenalan dan pengenalan terhadap keragaman itu sendiri, serta berbagai hal yang melatarbelakangi dan memotivasinya. 


Penulis adalah alumnus Institut PTIQ Jakarta dan pegiat kajian hadits di Darussunnah International Institute For Hadith Science, Jakarta

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG