IMG-LOGO
Daerah

Habib Umar Muthohar: Fisik dan Pakaian Nabi SAW Tidak Wajib Ditiru, Tetapi Akhlak

Sabtu 18 November 2017 21:2 WIB
Bagikan:
Habib Umar Muthohar: Fisik dan Pakaian Nabi SAW Tidak Wajib Ditiru, Tetapi Akhlak
Brebes, NU Online
Kondisi fisik Nabi Muhammad SAW tidak wajib ditiru karena menjadi hak prerogratif Allah SWT dalam menciptakan bentuk manusia. Yang wajib ditiru adalah akhlak Nabi dalam kehidupan sehari-hari manusia karena akan membawa keselamatan dunia dan akhirat.

“Allah yang membentuk fisik manusia, termasuk fisik Nabi Muhammad dan tidak wajib ditiru bentuk fisiknya,” demikian disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Madinah, Gunungpati, Semarang, Habib Umar Al-Muthohar saat mengisi pengajian akbar Maulid Nabi Muhammad SAW di SMA Negeri 1 Brebes, Jumat (17/11) malam.

Sebagai umat Nabi, lanjutnya, tidak harus menyesuaikan bentuk fisik Nabi seperti berhidung mancung, ganteng, ataupun berjubah dalam berpakaian. Yang wajib ditiru adalah meneladani perilaku dan akhlak Nabi karena dia satu-satunya teladan umat manusia.

Pribadi Nabi, lanjut Habib, sudah ditempa sejak masih kecil berupa pengasuhan oleh Halimatus Sa‘diyah. Dalam artian, Nabi SAW sudah mondok sejak masih kecil. Diri Nabi juga memiliki keistimewaan berupa sifat jujur yang menjadi mata uang dan berlaku di mana-mana.

Allah SWT memberikan contoh berupa manusia yakni Nabi Muhammad agar bisa ditiru oleh manusia. “Kuasa Allah dengan menurunkan manusia sebagai Nabi, bukan malaikat ataupun setan agar bisa diterima dan ditiru oleh manusia,” tegasnya.

Jadi manusia bisa meniru akhlak Nabi, lanjutnya, karena Nabi berupa manusia yang berakhlakul kharimah.

Habib Umar menjelaskan, perjalanan hidup Nabi juga selalu dibimbing Allah SWT. Pada tahapan Muhammad sebelum menjadi nabi, dia diberi kelebihan oleh Allah berupa ilmu, iman, dan akhlaqul karimah sehingga ketika menjadi pemimpin, Nabi sudah memiliki ilmu, iman, dan akhlak yang mulia.

“Nabi telah mendapat legitimasi sebagai orang yang paling jujur dengan gelar Al-Amin,” ungkapnya.

Untuk mencapai kesuksesan, sambungnya, ia mengutamakan kejujuran. Dengan jujur, maka ia akan sukses. Nabi berdagang dengan jujur, maka dagangannya laris luar biasa.

Bupati Brebes Hj Idza Priyanti mengajak para siswa untuk melakukan shalat tahajud dan shalat dhuha secara rutin. Bersekolah itu, tidak hanya menuntut ilmu yang diajarkan dari guru saja, tetapi harus meminta pertolongan Allah SWT dengan rajin beribadah, membantu orang tua, dan sayang kepada guru dan teman-teman.

Kepala SMA N 1 Brebes Winaryo mengaku bangga dengan kreativitas OSIS yang menggelar pengajian akbar dalam rangka menyambut peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Pengajian akbar yang baru kali digelar untuk masyarakat umum itu akan diteruskan setiap tahun dengan menggandeng masyarakat sekitar.

Pengajian ini juga menggandeng sekolah-sekolah di Brebes untuk berpartisipasi dalam parade hadrah. “Ternyata seluruh SMP/MTs dan SMA/SMK/MA di Kota Brebes memiliki grup hadrah,” pungkas Winaryo. (Wasdiun/Alhafiz K)

Tags:
Bagikan:
Sabtu 18 November 2017 22:1 WIB
Perkuat Karakter, 500 Pelajar NU Cilongok Gelar Jambore Pelajar
Perkuat Karakter, 500 Pelajar NU Cilongok Gelar Jambore Pelajar
Banyumas, NU Online
Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, menggelar acara Jambore Pelajar Nahdlatul Ulama (Jamper NU) 2017.

Kegiatan yang diikuti oleh 500an pelajar putra dan putri NU tersebut dimulai sejak Jumat sore (15/11) hingga Ahad (18/11) di Lapangan Desa Petir Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas.

Ketua IPNU Kecamatan Cilongok Ahmad Syarif mengatakan, jambore pelajar tersebut bertujuan untuk memperkuat karakter siswa bagi pelajar NU di Kecamatan Cilongok yang selama ini sudah terbangun agar lebih kuat lagi.

"Karakteristik pelajar NU Cilongok yang selama ini sudah terbangun harus terus ditingkatkan. Budanya-budaya NU yang sudah ditanamkan di kalangan pelajar harus terus diperkuat untuk membangun NU ke depan jadi lebih baik," lanjut Syarif.

Kegiatan ini merupakan media silaturahmi dan konsolidasi antara Pimpinan Anak Cabang dan Pimpinan Ranting juga dengan Pimpinan Komisariat.

"Jambore ini ajang silaturahmi, bukan hanya silaturahmi antarorganisasi saja, tetapi antarpelajar di NU se-Kecamatan Cilongok," kata Syarif ketika ditemui di sela-sela acara.

Ketua Panita kegiatan Waryono menambahkan, ada 43 regu mengikuti kegiatan jambore ini, 23 regu IPPNU, dan 21 regu IPNU.

"Mereka semua berasal dari ranting dan komisariat pelajar NU Kecamatan Cilongok," terang Waryono. (Kifayatul Akhyar/Alhafiz K)
Sabtu 18 November 2017 21:16 WIB
Nekat, Begini Cara MWCNU Pacet Membangun Sekretariat
Nekat, Begini Cara MWCNU Pacet Membangun Sekretariat
Bandung, NU Online 
Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Pacet sedang membangun gedung sekretariat di Desa Pangauban sejak enam bulan lalu atau pada Mei tahun ini. Hingga saat ini, pembangunan masih terus berlangsung dan masih belum rampung.  

Sekretaris MWCNU Engan Abdul Wahid menceritakan, pembangunan gedung tersebut dimulai masa kepengurusan periode 2015-2020 di bawah kepemimpinan Rais Syuriyah MCNU KH Masluh Sakandari dan Ketua MWCNU KH Abdul Ghani. 

“Sebelumnya, MWCNU mengontrak sebuah rumah di Wanir, desa Maruyung, sebagai sekretariat. Kemudian pada Konferensi Wakil Cabang tahun 2015, para pengurus NU Pacet bertekad untuk membuat sekretariat milik sendiri,” katanya ketika ditemui di lokasi sekretariat itu, Desa Pangauban, Sabtu (18/11). 


Lalu, pada Musyawarah Kerja MWCNU di pondok pesantren Asyiroji Sinapeul, beberapa bulan setelah Konfercam, para pengurus memutuskan hanya memprioritaskan tiga program, pertama, membangun gedung sekretariat, kedua, merestrukturiasi kepengurusan, ketiga, turba ke Ranting-Ranting melalui pengajian. 

Tokoh NU Pacet, lanjut Engan, yaitu KH Didin Saepudin Ibad merespon cita-cita pembangunan kantor dengan mewakafkan tempatnya seluas 280 m persegi beberapa bulan selepas Muskercam. 

“Beliau memang selalu support untuk NU Pacet,” tambahnya menjelaskan Kiai Didin yang merupakan pimpinan pondok pesantren Baiturrosyad, Mustasyar MWCNU Pacet, dan anggota DPRD Kabupaten Bandung dari Partai Kebangkitan Bangsa. 

Kemudian pada Mei 2017 peletakkan batu pertama pembangunan sekretariat itu oleh Rais Syuriyah MWCNU Pacet KH Masluh Sakandari didampingi Ketua MWCNU Pacet KH Abdul Ghani. 

Pada waktu itu, MWCNU hanya memiliki uang Rp 4,5 juta, sisa biaya Muskercam. Uang itu kemudian langsung dibelikan untuk bahan bangunan seperti besi, semen, pasir, dan paralon. 

“Waktu itu kami nekat saja dengan uang 4, 5 juta. Tapi saat ini telah menghabiskan dana kurang lebih 153 juta Rupiah. Bangunan itu rencananya dua lantai, baru terlaksana 30 persen, baru pengecoran lantai pertama,” jelas Ketua Pelaksana Pembangunan MWCNU Pacet itu.  


Uang sebesar itu didapat dari para pengurus dan simpatisan, serta warga NU sendiri dari 13 Ranting melalui iuran pengajian rutin. Warga NU dari Ranting itulah merupakan penyumbang terbesar pembangunan itu, yaitu sekitar Rp 110 juta. 

Lebih lanjut, Engan menambahkan, pembangunan itu terus digenjot, kecuali pada Juli dan Agustus karena memasuki bulan puasa. Selepas puasa, pembangunan kembali dilanjutkan. 

“Ketika mengecor, para santri, Ansor, Banser, banom-banom NU lain dan masyarakat turut serta membantu, termasuk Ketua MWCNU Kang Haji Deni,” lanjutnya. 



Wakil Sekretaris MWCNU Pacet A. Hasan Nurhuda menambahkan, nantinya gedung sekretariat itu akan menjadi pusat kegiatan dan kaderisasi NU dan menjadi kantor banom-banomnya. Malahan akan disediakan satu kamar untuk tamu menginap.

“Ada ruang musyawarah di lantai dua,” pungkasnya. 

Ketua MWCNU Pacet KH Abdul Ghani mengucapkan terima kepada seluruh pengurus NU beserta banom-banomnya, serta seluruh warga NU kecamatan Pacet yang telah mengulurkan tangan dalam pembangunan sekretariat itu. 

“Pembangunan ini masih panjang karena baru 30 persen dan biaya yang harus dikeluarkan masih banyak, sekitar 300 jutaan. MWCNU mengharapkan para dermawan, baik warga NU di kecamatan Pacet maupun di luar kecamatan Pacet untuk membantu penyelesaian pembangunan itu,” harapnya. (Abdullah Alawi) 

Sabtu 18 November 2017 20:5 WIB
Ini Klarifikasi Soal Pencatutan Nama Ketua PCNU Surakarta
Ini Klarifikasi Soal Pencatutan Nama Ketua PCNU Surakarta
Solo, NU Online
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surakarta A Helmy Sakdillah memberikan klarifikasi soal pencatutan namanya, pada salah satu kegiatan tablig akbar yang diselenggarakan salah satu kelompok di wilayah Soloraya.

Hal tersebut menyusul beredarnya gambar Helmy disertai tulisan bernada dukungan terhadap kegiatan tablig akbar.

“PCNU dan Ansor maupun Banser Surakarta tidak ada kaitan sama sekali dengan acara Ustadz Bachtiar Nasir di Karanganyar dan Sukoharjo,” terang Helmy, Sabtu (18/11).

Ditambahkan Helmy, pembuatan gambar yang banyak beredar di media sosial tersebut tanpa sepengetahuannya. “Sama sekali tidak ada konfirmasi sebelumnya,” kata dia.

Lambang NU yang terbalik dan penulisan kata Ansor yang keliru pada gambar tersebut, menurutnya semakin membuktikan pembuat gambar tersebut bukan warga NU.

Sementara itu Ketua GP Ansor Surakarta Syarifudin mengatakan pihaknya akan tetap menyelidiki oknum yang membuat gambar ini. “Kalau sudah kita temukan pelakunya, kita serahkan kepada pihak yang berwenang,” papar Arif. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG