::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ini Revolusi Mental Menurut Kasatkornas Banser

Selasa, 21 November 2017 17:32 Nasional

Bagikan

Ini Revolusi Mental Menurut Kasatkornas Banser
Jakarta, NU Online
Kasatkornas Banser H Alfa Isnaeni, di Pesantren Al Hamid, Jakarta Timur, Selasa (21/11) menegaskan, revolusi mental telah dilakukan kader inti Pemuda Ansor dengan jelas meski dengan beragam resiko.

"Indonesia dengan ideologi Pancasila bagi kami sudah clear, jelas. Sehingga jangan pernah ragukan kecintaan kami kepada negara ini," ujar Kasatkornas kepada sejumlah pejabat Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

Revolusi mental bagi pemuda Nahdlatul Ulama (NU), tegas Kasatkornas, ialah mengajak mental masyarakat Indonesia untuk bisa sejalan dengan Pancasila, bukan malah ingin menggantinya.

"Mental Ansor dan Banser adalah mental Pancasila, bukan mental khilafah, bukan pula mental  Partai Komunis Indonesia," tegas Kasatkornas.

Ia menegaskan, tidak akan pernah kader-kader Ansor dan Banser membubarkan pengajian yang benar-benar pengajian.

"Kita tidak pernah melakukan pembubaran pengajian. Yang kita bubarkan atau tepatnya kita tolak ialah orasi politik jualan khilafah berkedok pengajian. Begitu ditolak merasa dizalimi Banser," kata dia lagi.

Ulama-ulama NU seperti KH As'ad Syamsul Arifin telah menegaskan jika Pancasila merupakan ijtihad dalam membuktikan watak 'rahmatan lil alamin' untuk Indonesia.

Adapun KH Wahid Hasyim, putra KH Hasyim Asyari menerima Pancasila sebagai ideologi bangsa sehubungan sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan konsep tauhid dalam Islam.

Bagi Indonesia, Pancasila sudah cukup, seperti halnya rukun Islam berjumlah lima, syahadat, mendirikan salat, zakat, puasa dan berhaji bila mampu.

Dan itu tak perlu ditambah dagangan politik mengatasnamakan Islam yang malah tidak memberi kontribusi positif bagi negara, demikian H Alfa Isnaeni dalam sambutan kegiatan Fasilitasi Pelatihan Revolusi Mental Bagi Pemuda digelar Kemenpora melalui Pusat Pembentukan Pemuda dan Olahraga Nasional (PPON) Kemenpora. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)