IMG-LOGO
Warta

Perlu Kemitraan NU, Muhammadiyah, dan LDII

Kamis 8 Maret 2007 19:54 WIB
Bagikan:
Perlu Kemitraan NU, Muhammadiyah, dan LDII

Jakarta, NU Online
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Agil Siroj mengatakan, perlu dibangun kerjasama dan kemitraan antara NU, Muhammadiyah, dan Lembaga dakwah Islam Indonesia (LDII). Menurutnya, hal itu penting untuk menghilangkan ruang ketidakpercayaan di antara mereka.

“Kita perlu kemitraan. Pasti akan kita sosialisasikan ke tingkat bawah,” kata Kang Said—begitu panggilan akrabnya—usai memberi pembekalan materi tentang Sumber Daya Manusia (SDM), pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) LDII 2007, di Gedung Balai Kartini, Jakarta, Kamis (8/3) kemarin.

<>

Selama ini, kata Kang Said, ketiga organisasi kemasyarakatan Islam tersebut kurang komunikasi dan silaturahim. Sehingga terjadi saling curiga dan kehilangan kepercayaan. Hal itu kemudian diperkuat adanya pihak-pihak tertentu yang sengaja memperlebar ruang ketidakpercayaan tersebut. “Ada kelompok, entah siapa, yang tidak senang kalau kita bersatu atau memperkuat persatuan,” ungkapnya.
 
Menurut Kang Said, kesempatan tersebut adalah awal yang baik bagi LDII, NU, maupun Muhammadiyah. Dia juga mengatakan, jika ada acara, NU dan Muhammadiyah juga akan mengundang LDII.

Diakui Kang Said, pada dasarnya tidak ada masalah di antara ketiga organisasi Islam tersebut. Kalaupun ada, kata dia, hal itu sangat kecil dan parsial, bukan hal yang prinsip.

Dalam kesempatan itu, Kang Said juga mengungkapkan bahwa selama ini ada kelompok yang ingin memecah-belah dengan menebarkan isu negatif di tingkat bawah. “Mulai dari isu dan fitnah yang paling berbahaya. Katanya LDII mengkafirkan orang kalau bukan LDII, itu saya dengar. Itu tidak benar, ternyata saya ketemu dengan Pak Abdullah Syam, tidak benar itu semua, tapi itu sudah tersebar di level bawah,” paparnya.

Ketua Umum LDII KH Abdullah Syam mengatakan pihaknya siap menjalin kemitraan dengan NU dan Muhammadiyah. Bahkan, kata dia, kerjasama dengan mereka sudah lama dilaksanakan. “Dulu kita kerjasama dengan PBNU masalah rehabilitasi lahan, masalah-masalah membangun lingkungan,” tuturnya.

Kerjasama konkret tersebut, kata Syam, dilakukan saat mereka me-recovery lingkungan di Jember. Mereka mengadakan seminar dan kegiatan lain terkait hal itu dengan pengurus NU setempat. Bahkan, kata dia, ada warga yang mendapatkan Kalpataru karena itu.

Saat ini, kata Syam, kemitraan akan dilakukan terutama untuk masalah pembangunan ekonomi dan lingkungan. “Jadi kita tidak persoalkan lagi yang menyangkut metodologi pesantren atau pondokan itu sudah punya ininya sendiri-sendiri. Tapi kepentingan ekonomi dan lingkungan akan kita jalin,” tukasnya.

Sementara itu, Ketua Komisi Politik Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PP Muhammadiyah Najamuddin Ramly juga mengatakan perlunya kemitraan di antara ketiga ormas Islam tersebut. Ketiganya juga harus saling bantu satu sama lain.

Menurut Ramly, ketiga ormas Islam tersebut sebenarnya tidak perlu dipertentangkan dan dibedakan. “LDII lembaga dakwah, NU lembaga dakwah, Muhammadiyah lembaga dakwah. NU pakai kitab sunnah, Muhammadiyah pakai kitab sunnah, LDII pakai kitab sunnah. Kita bersaudara,” tandasnya. (rif)

Bagikan:

Baca Juga

Kamis 8 Maret 2007 23:34 WIB
Pemerintah Imbau Ulama Pimpin Doa dan Zikir
Pemerintah Imbau Ulama Pimpin Doa dan Zikir

Medan, NU Online
Pemerintah, melalui Menteri Agama (Menag) Maftuh Basyuni mengimbau para ulama, pimpinan pondok pesantren untuk memimpin umat melakukan doa dan zikir bersama untuk keselamatan bangsa dan negara.

“Pada hari Jumat, Bapak Presiden akan melakukan doa dan zikir serta taubat nasuha di Masjid Istiqlal, Jakarta,” kata Menag sebagaimana dinyatakan dalam siaran pers yang diterima NU Online. Menag menyatakan hal itu pada silaturahim dengan alim ulama se-Sumatera Utara, di Asrama Haji Medan, Kamis (8/3).

<>

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sedianya akan hadir pada acara tersebut, namun berhalangan karena gempa bumi di Sumatera Barat dan kecelakaan pesawat Garuda Indonesia.

Pada acara yang dihadiri sekitar 1.000 ulama, pimpinan pondok pesantren serta ormas Islam itu, hadir Menteri Koperasi dan UKM Suryadharma Ali, Gubernur Sumatera Utara Rudolf Pardede, Ketua MUI Sumut Prof Dr Abdullah Syah, para Kepala Kanwil Depag se-Sumatera.

Menag mengatakan, pertemuan alim ulama itu memiliki makna penting untuk menangkap aspirasi dalam peningkatan pondok pesantren di masa depan karena tantangan globalisasi yang semakin besar. Sementara, pada tingkat nasional, kualitas sumber daya manusia di negeri ini masih rendah, begitu pula dalam penegakan hukum dan hak asasi manusia.

“Hendaknya menjadi perhatian kita, bahwa peran alim ulama pimpinan pondok pesantren makin besar. Karena itu lembaga pesantren diharapkan dapat meningkatkan tiga fungsi pondok pesantren yang dirangkum dalam trilogi pengembangan pesantren,” ujarnya.

Trilogi itu mencakup, kata Menag, pertama sebagai lembaga keagamaan yang mengajarkan ilmu-ilmu agama, dan nilai Islam yang melahirkan kader-kader ulama dan pemuka agama di masa depan. Kedua, pesantren sebagai lembaga pendidikan dalam pengembagan ilmu dan teknologi, ekonomi serta budaya yang melahirkan sumber daya manusia produktif menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memilki kepekaan sosial dalam mengatasi masyarakat.

Ketiga, pesantren sebagai lembaga sosial yang menjaga harmoni masyarakat, melakukan kontrol sosial dan sebagai pusat perubahan sosial yang pada gilirannya menumbuhkan penguatan masyarakat. Selain itu, pesantren sebagai salah satu pilar bangsa perlu selalu ditingkatkan.

Ditambahkan, pesantren perlu memilki visi pembangunan yang jelas. Ada berbagai cara yang dapat dilakukan pesantren antara lain pesantren sebagai agen dakwah. “Dakwah sebagai misi suci yang sudah melekat dalam dunia pesantren. Para ulama, kiai, tuan guru terkenal dengan keikhlasannya akan tetapi dakwah saat ini perlu direspon secara kreatif sehingga sasaran dakwah mampu menjangkau lebih luas dalam masyarakat yang heterogen,” kata Menag.

Selain itu, pesantren sebagai penyemai bibit unggul pesantren perlu mengembangkan kewirausahaan agar para santri lebih memandang masa depannya yang optimis dan memilki daya sains pada tingkat nasional dan internasional. “Pesantren juga sebagai mediator pembanguan pada masyarakat. Mengembangkan wawasan kebangsaan, menebarkan rahmat bagi lingkungan sekitarnya,” pungkasnya. (rif/dpg)

Kamis 8 Maret 2007 19:29 WIB
Ketua MA Iran Minta Umat Islam Waspadai Propaganda AS
Ketua MA Iran Minta Umat Islam Waspadai Propaganda AS

Jakarta, NU Online
Ketua Mahkamah Agung Republik Islam Iran Ayatollah Sayyed Mahmoud Hashemi Syahrudi meminta umat Islam di seluruh dunia untuk mewaspadai propaganda Amerika Serikat (AS). Karena, menurutnya, semua pertikaian antar-aliran Islam di Timur Tengah saat ini merupakan akibat ulah AS yang ingin memecah-belah dan menghancurkan dunia Islam.

“Krisis di Irak, Afganistan dan lain-lain bukanlah akibat perselisihan ulama, tetapi semua karena ulah penjajah (AS dan negara sekurunya, Red). Mereka berusaha menciptakan perpecahan dan perselisihan di antara umat Islam,” kata Hashemi Syahrudi saat bersilaturrahim dengan kiai dan ulama Nahdlatul Ulama (NU) di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Kamis (8/3)

<>

Hadir dalam pertemuan itu Menteri Luar Negeri RI Hasan Wirayuda, Duta Besar Iran untuk Indonesia Behrooz Kamalvandi, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Dr KH Hasyim Muzadi, Rais Syuriah PBNU KH Ma’ruf Amin dan sejumlah petinggi PBNU lainnya.

Hashemi Syahrudi menegaskan, pertikaian antara kelompok Syiah dan Sunni di Irak terang sekali bukan bersumber pada perbedaan paham dan keyakinan. Karena, menurutnya, sejak berabad-abad yang lalu, hubungan keduanya sangat baik. “Mereka (Syiah-Sunni) selama ini hidup berdampingan dan saling menghormati,” katanya.

Namun, lanjutnya, perbedaan-perbedaan antara dua aliran itu kemudian dijadikan alat untuk memecah-belah dan menebarkan sikap permusuhan. Hal itu, ujarnya, terjadi sejak pendudukan pasukan AS dan negara sekutunya di Irak.

“Saya 30 tahun berada di Irak. Selama 30 tahun itu saya tidak pernah melihat ada orang Syiah membunuh orang Sunni, atau orang Sunni membunuh orang Syiah. Mereka hidup damai. Tidak ada fanatisme di antara mereka,” terang Hashemi Syahrudi.

AS, jelas Hashemi Syahrudi, tidak cukup menyebarkan kebencian di kalangan kelompok Sunni dan Syiah. Negara adidaya tersebut, katanya, juga bekerjasama dengan sebuah kelompok Islam yang ekstrim. Ia menyebutkan kelompok tersebut memiliki ciri yakni mudah mengkafirkan orang atau kelompok lain yang tidak sepaham.

“Muncul paradigma; mereka yang berbeda paham dan keyakinan dalam bidang fikih, akidah dan lainnya adalah kafir. Orang kafir, kata mereka, halal darahnya dan harus dibunuh. Mereka sering kali menganggap kaum Syiah dan Sunni adalah kafir. Ini sangat berbahaya bagi umat Islam,” ungkapnya.

Hashemi Syahrudi meminta ulama dan umat Islam di dunia juga memerangi pemikiran dan kelompok-kelompok ekstrim tersebut. Karena, menurutnya, pemikiran itu bukanlah pemikiran Islam yang benar.

Pertemuan Ulama se-Dunia

Dalam kesempatan itu, Hashemi Syahrudi juga menyambut baik rencana pertemuan ulama-ulama se-dunia di Indonesia pada 2-3 April mendatang. Namun demikian, ia meminta pertemuan tersebut tidak mengundang ulama-ulama dari kelompok Islam garis keras yang kerap kali mengkafirkan orang atau kelompok lain.

“Saya yakin NU mampu mengumpulkan ulama se-dunia. Tapi bagi mereka yang mudah mengkafirkan orang lain, hendakalah tidak datang. Saya menyambut baik ide itu. Tapi syaratnya satu, mereka yang hadir adalah ulama-ulama yang tidak mudah mengkafirkan orang lain,” pinta Hashemi Syahrudi.

Sementara itu, Hasyim Muzadi kepada wartawan usai acara tersebut menyatakan, Indonesia, melalui pertemuan ulama se-dunia itu diminta untuk membantu dunia Islam keluar dari isu-isu ‘jebakan’. Selama ini, menurutnya, dunia Islam seakan terpedaya oleh tipu muslihat AS dengan isu-isu sectarian tersebut.

“Di Irak, pertikaian antara Syiah-Sunni terjadi setelah pendudukan AS dan negara sekutunya. Gerakan intelijen kemudian ‘memroses’ perbedaan-perbedaan di antara Syiah dan Sunni menjadi permusuhan, peperangan dan tindak kekerasan lainnya. Memang ada perbedaan paham dan keyakinan antara mereka. Tapi perbedaan-perbedaan itu kemudian ‘diproses’ menjadi kebencian,” jelas Hasyim yang juga Presiden World Conference on Religion and Peace.

Menurut Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars Scholar itu, isu-isu ‘jebakan’ tersebut juga bakal diterapkan pada negara-negara Islam lainnya. Oleh karenanya, umat Islam harus berhati-hati dan sudah saatnya dunia Islam berusaha menghindar jebakan-jebakan tersebut.

Diungkapkan Hasyim, sekitar 20 ulama dari berbagai negara Islam akan hadir pada pertemuan yang akan digelar di Istana Bogor itu. Di antaranya, Libanon, Irak, Iran, Pakistan, Yordania, Suriah, Saudi Arabia, Malaysia dan lain-lain. (rif)

Kamis 8 Maret 2007 18:35 WIB
Belum ada Tanda-Tanda Peredaan Bencana
Hasyim Ingatkan Kembali Seruan PBNU
Hasyim Ingatkan Kembali Seruan PBNU

Jakarta, NU Online
Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi berpendapat bencana yang datang silih berganti melanda Indonesia masih akan terus terjadi selama bangsa Indonesia tidak merubah perilakunya. Karena itu, ia mengingatkan kembali kepada Nahdliyyin untuk melaksanakan seruan PBNU menjelang awal tahun baru 1427 H.

“Tampaknya belum ada tanda-tanda peredaan bencana, Saya mengingatkan kembali seruan PBNU yang dikeluarkan 2 Desember 2006 lalu untuk prihatin, jujur, tidak serakah dan menjalankan puasa sebagai upaya untuk menghindari terjadinya bencana,” tuturnya.

<>

Entah apa lagi yang akan terjadi, setelah tenggelamnya kapal laut Levina I yang menelan puluhan korban, secara beruntun terjadi tanah longsor di Manggarai NTT, gempa di Sumatra Barat dan terbakarnya pesawat Garuda di Jogja.

Kiai Hasyim meminta introspeksi tersebut harus melibatkan semua golongan, bukan sekedar pemimpin atau rakyatnya saja. “Ini merupakan akibat dari ulah kita semua. Bagaimana mungkin hutan digunduli sebanyak 59 juta hektar sampai nga ketahuan,” tuturnya memberi contoh.

Menurutnya bencana bisa dikategorikan dalam dua hal, pertama memang karena sudah takdir sehingga manusia tak bisa campur tangan dan kedua karena ulah manusia. “Kalau yang ini, kita tak cukup dengan doa. Tak mungkin kita berdoa sambil nebangi hutan, ya tetap banjir,” tambahnya.

Aspek lain yang menurutnya menimbulkan bencana adalah masalah moralitas. Korupsi yang terjadi di Indonesia telah menyebabkan kemiskinan yang akhirnya menimbulkan berbagai konflik sosial.

Tentang kecelakaan yang menimpa pesawat Garuda, Kiai Hasyim meminta adanya penyelidikan lebih lanjut. “Dilihat dulu, pesawatnya baik apa tidak, kalau memang laik jalan apa, bisa diteliti apa ada faktor human error. Di Indonesia ini kan yang senior pesawatnya, bukan pilotnya,” tandasnya.

Mengenai dugaan adanya sabotase dalam kecelakaan Garuda yang ditumpangi oleh para wartawan dan staff kedutaan Australia, ia meminta aparat intelejen untuk menelitinya lebih lanjut. (mkf)

 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG