IMG-LOGO
Pesantren

Pesantren Darul Falah Pagutan, Modern dengan Akhlak Salaf

Selasa 28 November 2017 21:30 WIB
Bagikan:
Pesantren Darul Falah Pagutan, Modern dengan Akhlak Salaf
Halaman Pesantren Darul Falah Pagutan.
Sejumlah anak dengan mengenakan peci dan sarung terlihat sibuk dan siap siaga di berbagai titik pesantren untuk melayani tamu tuan guru (kiai). Para tamu dari seluruh Indonesia itu tidak sedikit pun merasa kesusahan menginginkan segala kebutuhannya karena beberapa santri dengan kaos warna hijau bertuliskan “Panitia Munas dan Konbes NU 2017” telah siap membantu memenuhi semua kebutuhan tamu.

Pemandangan tersebut nampak di Pondok Pesantren Darul Falah Desa Pagutan, Kecamatan Mataram, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Pesantren yang dirintis oleh Tuan Guru Haji (TGH) Abhar Muhiddin pada 1956 ini menjadi salah satu lokasi penyelenggaraan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU 2017 di NTB pada 23-25 November 2017.

Pesantren yang berdiri di atas lahan lebih kurang 6000 meter persegi ini dijadikan tempat berlangsungnya Sidang Komisi Bahtsul Masail Waqi’iyah, Maudluiyah, dan Qanuniyah. Sebanyak 18 persoalan masyarakat, bangsa, negara berupaya keras dicarikan solusinya oleh para kiai dari seluruh Indonesia berdasarkan hukum Islam.

Para santri Darul Falah setia menemani para kiai ber-Bahtsul Masail meskipun hingga lewat tengah malam pada 24 November 2017. Beberapa santri tidak pernah absen merapikan sandal-sandal para tamu agar siap pakai ketika keluar. Namun secara tidak langsung, para tamu yang tadinya tidak terlalu mempersoalkan tata letak sandal, menjadi segan terhadap perilaku ikhlas santri Darul Falah sehingga mereka pun merapikan sandalnya masing-masing.

Sejumlah santri juga ditempatkan di pintu-pintu masuk pesantren atau gerbang. Bahkan mereka menerapkan sistem gilir jaga (shift) untuk memastikan lalu lalang tamu berjalan lancar 24 jam. Tidak sedikit pula santri yang penasaran menyaksikan pembahasan persoalan dalam forum Bahtsul Masail tersebut.

Bagi santri Darul Falah Pagutan, menghormati dan melayani tamu, apalagi para kiai yang sedang melakukan Bahtsul Masail, sama saja dengan mematuhi Tuan Gurunya di pesantren tersebut. Mereka bekerja secara sistematis untuk memastikan perhelatan Munas dan Konbes NU berjalan sukses dan maksimal.

Persiapan maksimal yang dilakukan oleh Pesantren Darul Falah merupakan gambaran kemajuan penyelnggaraan pendidikan di pesantren yang kini mempunyai santri mukim sekitar 900 orang ini. Saat ini, pihak yayasan juga menyelenggarakan Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Darul Falah untuk menjaga atmosfir akademik perguruan tinggi berbasis pesantren.

Awal rintisan pesantren

NU Online berkesempatan berincang dengan Ustadz Baidawi, salah seorang putra Pengasuh Pesantren Darul Falah, TGH Muhammad Mustiadi Abhar. Baidawi mengungkapkan bahwa perintisan pesantren yang dilakukan TGH Abhar Muhiddin awalnya merupakan forum pengajian kecil di depan rumahnya.

Sekembali dari tanah suci Mekkah, berbagai desakan serta keinginan dari masarakat, meminta  TGH Abhar membuka sebuah pengajian di bawah bimbingannya. Ahirnya dia mulai membuka pengajian yang mengambil lokasi di serambi rumah beliau yang sangat kecil, hanya berukuran 6 x 3 meter persegi.

Oleh Tuan Guru Abhar tempat pengajian tersebut diberi nama Darul Falah. Pengajian tersebut dimulai pada 29 Rajab 1376 Hijriah bertepatan dengan 1956 Masehi.

Pada awal berdirinya, Darul Falah hanya memiliki 35 santri yang terdiri dari 30 laki-laki dan 15 perempuan yang berasal dari wilayah Lombok Barat, Lombok Tengah, dan Lombok Timur. Sekalipun demikian semangat santri sangat tinggi, siang malam para santri mengaji dengan tekun, tanpa ada libur kecuali hari-hari libur nasional.

Karena Pondok Pesantren Darul Falah didirikan dengan keyakinan dan keikhlasan lillaahi ta’aala (semata-mata karna Allah), maka lambat laun seiring berjalannya waktu Darul Falah mulai menampakkan tanda-tanda kemajuannya. Hal ini terbukti dengan makin banyaknya santri yang masuk pada setiap tahun.

Sesuai kebutuhan masyarakat, Tuan Guru Abhar mengembangkan pesantren hingga kini menjadi salah satu pesantren dengan sistem pendidikan terbaik. Bahkan, pada 2015 lalu, pendidikan umum yang diselenggarakan oleh pesantren diganjar penghargaan oleh Mendikbud Anies Baswedan sebagai salah satu penyelenggara pendidikan terbaik di Lombok.

Polesan tangan dingin Tuan Guru Abhar menjadikan Pesantren Darul Falah saat ini memiliki berbagai jenjang pendidikan umum berbasis pesantren. Mereka tidak hanya diajarkan ilmu-ilmu agama dan tradisi pesantren, tetapi diperkuat dengan pengetahuan umum agar santri tetap mampu mengkuti perkembangan zaman. 

Pemandangan para santri dengan sepenuh hati melayani para kiai menunjukkan bahwa kemodernan ilmu pengetahuan tidak mereduksi akhlak yang selama ini menjadi tolak ukur santri ketika hidup di tengah masyarakat. Dengan kata lain, Pesantren Darul Falah menerapkan sistem pendidikan modern dengan tetap meneguhkan akhlak salaf. (Fathoni Ahmad)
Tags:
Bagikan:
Senin 27 November 2017 8:3 WIB
Ini Cara Santri Darul Falah Ngalap Berkah di Forum Munas NU 2017
Ini Cara Santri Darul Falah Ngalap Berkah di Forum Munas NU 2017
Mataram, NU Online
Waktu telah menunjukkan pukul 00.30 dini hari. Noval Rizaldi, santri Pondok Darul Falah Mataram masih terlihat bersemangat merapikan sandal-sandal peserta Munas-Konbes NU 2017 yang keluar masuk ruangan. Ia merupakan salah satu dari puluhan santri yang ditunjuk sebagai panitia lokal selama Munas berlangsung.

Sejak dimulainya Munas, Noval berpindah-pindah tugas sesuai arahan ketua panitia. Mulai dari bagian merapikan kamar inap, perlengkapan, konsumsi dan pengarah tamu.

Menariknya, ada pembagian tugas kepanitiaan yang khusus mengurusi sandal peserta. Bagian khusus yang unik ini bersiaga di ruang-ruang pertemuan, dan di lantai-lantai yang berbatas suci.

Sandal-sandal akan dirapikan dan dibalik sehingga peserta yang akan keluar langsung dengan nyaman memakainya. Panitia yang bertugas di bagian ini stand by selama 24 jam karena lalu lalang peserta yang terus bergerak.

Noval yang sudah lima tahun mondok di pesantren ini merasa bangga dan senang karena ia bisa menjadi bagian dari perhelatan nasional NU. Terlebih yang dilayani para ulama.

Ia juga menjelaskan bahwa dirinya tidak mengerti kapan tugas merapikan sandal malam itu akan diganti oleh panitia yang lain hingga jam berapa.

"Kalau tidak ada yang ganti, ya harus siap sampai pagi pak," ujar santri berusia 17 tahun ini.

Sebagai santri, Noval tidak menolak setiap tugas yang diperintahkan. Ia sama sekali tidak mengharap apa-apa.

"Saya bersemangat pak, karena saya ingin dapat berkah," ujarnya.

Peserta Munas-Konbes NU 2017 sendiri tidak sedikit membalik sandalnya sendiri agar tidak terlalu menyulitkan santri yang bertugas.

Munas-Konbes NU 2017 ini dilaksanakan di Lombok NTB sejak tanggal 23 November. Selain Pondok Darul Falah, peserta juga ditempatkan di Pondok Pesantren Darul Qur'an, dan Pondok Pesantren Nurul Islam. (Abraham Iboy/Alhafiz K)

Sabtu 25 November 2017 11:2 WIB
Pesantren Al-Muayyad Gelar Siberkreasi
Pesantren Al-Muayyad Gelar Siberkreasi
Surakarta, NU Online
Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta menggelar kegiatan bertajuk “Siberkreasi Goes to Pesantren”, Kamis (23/11). Kegiatan yang dihelat di kompleks pondok tersebut menghadirkan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara.

Panitia acara Ferry Indar Ardiansyah menerangkan ada tiga agenda besar pada kegiatan Siberkreasi ini. “Pertama, diskusi kiat syiar online via blog dan media sosial kerjasama antara Al-Muayyad dengan AIS, yang berisikan strategi optimalisasi pemanfaatan media sosial untuk syiar Islam,” terang Ferry.

Agenda kedua adalah workshop UMKM goes online untuk pengembangan UMKM baik masyarakat maupun alumni pondok Al-Muayyad. “Terakhir ada dialog Netizen Asik dengan menghadirkan Menkominfo Rudiantara,” imbuhnya.

Ditambahkan Ferry kegiatan ini juga diharapkan dapat mengedukasi masyarakat dan komunitas, khususnya dalam menggunakan internet dan media sosial.

Dalam acara dialog dengan santri Menkominfo Rudiantara mengajak santri untuk menggunakan internet dengan positif, dan juga harus berkreasi yang baik.

"Soal pemakaian gawai di pesantren diperbolehkan tentu mengikuti aturan disiplin ketika di dalam pondok," kata Rudiantara.

Kegiatan Siberkreasi dimulai sejak pagi, dan berakhir hingga sore. Acara ini diikuti santri Al-Muayyad dan para pemilik UMKM. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Jumat 24 November 2017 23:31 WIB
Mengenal Darul Qur’an Bengkel, Tempat Penutupan Munas-Konbes NU
Mengenal Darul Qur’an Bengkel, Tempat Penutupan Munas-Konbes NU
Yayasan Darul Qur’an berada di desa Bengkel, Kecamatan Labuapi, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Pesantren tersebut akan menjadi tempat penutupan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama  dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama, Sabtu (2/11). Rencananya penutupan akan dihadiri Wakil Presiden H. Jusuf Kalla.

Pesantren itu resmi didirikan sebagai yayasan oleh TGH Shaleh Hambali pada tahun 1955. Berarti baru sekitar dua tahun ia menjabat Rais Syuriyah PWNU NTB. Sementara praktik belajar-mengajar, pesantren itu telah berlangsung sejak lama, dari tahun 1930. 

Pada tahun 1930, Tuan Guru Bengkel baru pulang belajar dari Timur Tengah. Ia memulai berdakwah dengan pengajian umum kepada masyarakat setiap Rabu. Lama-kelamaan pengajiannya ramai dikunjungi masyarakat umum. Tak hanya itu, anak-anak mulai nyantri. Maka mulailah pengajian muallimin setiap pagi. 

Selama tahun 1930-an, santri-santri berdatangan dari seluruh kabupaten di Nusa Tenggara Barat. Juga dari Bali dan Nusa Tenggara Timur.  

Melihat perkembangan itu, Tuan Guru Bengkel membuka lembaga pendidikan formal Madrasah Ibtida’yah (MI) di tahun 1955. 

Angkatan pertama santrinya itu termasuk almarhum TGH Mansur Abas, ayahnya TGH. Acmad Taqiuddin Mansur (ketua PWNU NTB sekarang), termasuk TGH Taqi juga nyantri di situ.

Tokoh-tokoh NU di Lombok saat ini, rata-rata pernah berguru ke Tuan Guru Bengkel, di antaranya TGH Lalu Turmudzi Badrudin, pengasuh pondok pesantren Qomarul Huda Bagu, Lombok Tengah. Saat ini dia merupakan salah seorang Mustasyar PBNU. 

Yayasan Darul Qur’an pernah mengalami kemunduruan, tapi bisa diatasi para pelanjutnya. Pada perkembangan selanjutnya, Yayasan Darul Qur’an membuka lembaga formal seperti MTs, MA, SMK Juruan Komputer dan Otomutif. Di bidang nonformal seperti tahfidzul Qur’an. 

Setiap tahun, lembaga pendidikan tersebut menerima siswa rata-rata 3 kelas. Jumlah keseluruhan terdapat 1.100 an murid. Padahal SMP Negeri dan SMA negeri ada di dekat pesantren itu, tapi masyarakat masih mempercayai Darul Qur’an sebagai tempat anaknya menimba ilmu.

Kepercayaan masyarakat terhadap pesantren Darul Qur’an karena di yayasan tersebut masih tetap mengajari anak-anak dengan pelajaran Ahlussuna wal Jamaah ala NU. (Abdullah Alawi, disarikan dari berbagai sumber) 


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG