IMG-LOGO
Daerah

Giliran Pergunu Jombang Soroti Soal Ujian Bernuansa Khilafah

Kamis 7 Desember 2017 12:2 WIB
Bagikan:
Giliran Pergunu Jombang Soroti Soal Ujian Bernuansa Khilafah
Jombang, NU Online
Sebelumnya Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama Jombang memprotes keberadaan soal ujian yang menyinggung khilafah. Hari ini, Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jombang turut memberikan sorotan terkait soal yang sedang menjadi perbincangan hangat khalayak tersebut.

"Perlu diketahui bahwa dalam mata pelajaran tersebut memang tercantum standar kompetensi tentang khilafah," kata Ahmad Faqih, Kamis (7/12).

Ketua Pergunu Jombang tersebut mengatakan, bila ditelisik lebih jauh, rumusan yang ada tidak dibatasi pada sekedar aspek kesejarahan. "Maka kami simpulkan akar masalahnya ada di kurikulum," kata Faqih.

Bagi Pergunu, solusi bijaknya adalah merevisi kurikulum. "Dan kami akan berkerja sama dengan Lembaga Pendidikan Ma'arif  NU Jombang untuk memperjuangkan terwujudnya revisi kurikulum tersebut," terangnya.

Selanjutnya tim pengembang kurikulum di Kementerian Agama harus bertanggung jawab atas hal ini.

"Mereka paling tidak harus memberikan klarifikasi. Bilamana ditemukan kecerobohan, maka sudah semestinya Menteri Agama RI memberikan sanksi kepada mereka sesuai aturan yang berlaku," pungkas Faqih. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Bagikan:
Kamis 7 Desember 2017 22:30 WIB
Selain Kitab Suci, Al Quran Juga Kitab Literasi
Selain Kitab Suci, Al Quran Juga Kitab Literasi
Semarang, NU Online
Bertempat di ruang rapat Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kebangpol) Provinsi Jawa Tengah, Kamis (7/12), dosen STAINU Temanggung, Hamidulloh Ibda mengajak puluhan PNS Kesbangpol itu melek literasi media digital.

Menurut dia, selain menjadi kitab suci yang berisi petunjuk, hukum-hukum, dan sejarah, kitab Alquran adalah kitab literasi karena perintah Tuhan pertama kali kepada Nabi Muhammad adalah perintah membaca.

"Perintah Tuhan pertama kali tidaklah bekerja, menikah, shalat, apalagi korupsi, tapi iqra'. Bacalah, dan dengan kalam. Ini jelas-jelas adalah perintah literasi," kata Ibda yang juga pengurus Bidang Literasi Media Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Jateng.

Kegiatan tersebut diikuti puluhan peserta yang didominasi abdi negara (PNS) dalam kegiatan bertajuk Pendidikan dan Pelatihan Literasi Media dan Jurnalisme Umum'. Kegiatan sebagai upaya menajamkan PPID di Badan Kesbangpol Provinsi Jateng selama dua hari, Rabu-Kamis, 6-7 Desember 2017.

Jadi, katanya, Al Quran merupakan kitab literasi sebagai penyempurna kitab sebelumnya, yaitu Taurat, Zabur dan Injil.

"Di Al Quran, perintah membaca ada 89 kali dan menulis 303 kali. Maka sesuai pilar literasi yaitu baca, tulis dan arsip, puncak dari literasi adalah tulisan karena ia akan abadi," ungkap penulis buku Sing Penting NUlis Terus'.

Dijelaskan Ibda, tradisi literasi menjadi solusi atas kondisi SDM dan bisa mendorong akselerasi kualitas literat dan memberantas buta aksara, buta informasi dan buta media di negeri ini. Sebab, menurut dia, perkembangan zaman begitu pesat dan hanya orang yang menguasai media digital yang akan berkuasa.

"Tantangan kita, terutama abdi negera di Badan Kesbangpol adalah banjir informasi, serangan hate speech, hoaks dan fake news. Ada sekitar 800 ribu situs penyebar hoaks sampai akhir 2016. Lalu kita adalah jam'iyah medsosiyah, pengguna aktif gawai tapi masih nggak paham cara menyeleksi, mengakses dengan bijak dan mampu membedakan mana berita orisinil, dan mana berita palsu," jelasnya.

Literasi media digital, menurut dia adalah bukan sekadar mengetahui jenis media daring, siber atau online, dan membedakannya dengan medsos.

"Namun mampu memetakan, mana media pers, blog dan mana website milik lembaga atau pemerintah. Sebab, tidak semua situs itu bisa kita konsumsi," ujar dia.

Kalau sesuai regulasi, katanya, minimal media siber itu sudah dapat izin SK Kemenkum HAM, berbadan hukum, mendapat SIUP, TDP, ada surat domisili.

"Lalu, mereka juga harus punya kantor, wartawan di lapangan, berita bukan copy paste. Juga harus punya susunan redaksi, kontak dan profil, jurnalisnya sudah lolos Uji Kompetensi Wartawan, dan terhimpun dalam organisasi pers seperti PWI, AJI, AWPI, IWO dan yang lain," kata dia.

Selain itu, katanya, media siber yang laik konsumsi juga harus ramah, beritanya tidak hoaks, fake dan tidak menjadi pabrik hate speech dan perusak isu SARA.

"Minimal media digital yang kita konsumsi memenuhi prinsip dan menerapkan peran dan fungsi pers sendiri. Ya menginformasikan, edukasi, kontrol, hiburan dan menjadi jembatan antara pemerintah dan rakyat," ujar dia.

Hal itu pun Ibda sampaikan belum tentu cukup, karena media digital yang dikonsumsi juga harus bisa menerapkan 9 ayat atau prinsip bahkan 10 prinsip jurnalisme menurut Bill Kovach dan Tom Rosenstiel.

"Sejak tahun 2001, lewat buku The Elements of Journalism, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel mengajarkan kita untuk melakukan 9 ayat jurnalisme agar media dan berita itu benar-benar mencerahkan," beber dia.

Semuanya juga harus diimbangi dengan dua cara berpikir.

"Pertama adalah cara berpikir wartawan. Bisa dilakukan dengan wawancara, klarifikasi atau tabayun. Wartawan bisa mendasarkan kebenaran hanya sebatas wawancara dan klarifikasi. Tapi apa cukup itu? Tentu harus dilengkapi yang kedua, yaitu cara berpikir ilmuwan. Jadi untuk mendapatkan kebenaran, harus ilmiah, logis, sistematis, metodologis, empiris dan juga minimal melalui tiga tahap filsafat ilmu, yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi," beber dia.

Dalam implementasi literasi media, kata dia, minimal kita harus melakukan beberapa hal teknis.

"Mulai dari pasang kuda-kuda, melawan berita hoaks, fake, fitnah, menguasai berita, mengolah berita menjadi positif, arif dan aktif di medsos, berdakwah melalui medsos dan kembali kepada Al Quran atau kitab suci lain sebagai kitab literasi," paparnya.

Penulis buku Stop Pacaran Ayo Nikah ini berharap, ke depan literasi tidak hanya menjadi bahan diskusi melainkan semua hal bisa dijadikan wahana literasi, karena hakikat literasi adalah upaya untuk mendapatkan pengetahuan, membaca, menulis dan mengetahui sumber informasi dan ilmu.

Ia mengajak gerakan literasi media digital dimulai dari diri sendiri.

"Literasi bukan segalanya, namun segalanya bisa berawal dari sana," tegas dia. (Red: Kendi Setiawan)
Kamis 7 Desember 2017 21:30 WIB
Kedaulatan Palestina Terancam, Ketua PWNU Lampung Ajak Warga NU Qunut Nazilah
Kedaulatan Palestina Terancam, Ketua PWNU Lampung Ajak Warga NU Qunut Nazilah
Bandarlampung, NU Online
Ketua PWNU Lampung KH Sholeh Baijuri mengajak warga NU khususnya di Provinsi Lampung untuk melakukan pembacaan qunut nazilah sebagai dukungan moril kepada Palestina yang sedang bergejolak terkait keputusan Presiden Amerika Donald Trump menjadikan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.

"Imbauan qunut nazilah pada Jumat (8/12) besok juga dikeluarkan oleh PBNU, dan PWNU Lampung merespon positif imbauan ini sebagai bentuk penolakan terhadap keputusan Amerika tersebut," katanya, Kamis (7/12).

Menurutnya langkah tersebut merupakan dorongan Nahdliyin terhadap pemerintah Indonesia untuk bersikap tegas dan berperan melakukan mediasi untuk terwujudnya perdamaian khususnya di Palestina dan umumnya di dunia.

Keputusan sepihak Donald Trump ini, lanjut Kiai Sholeh, akan berdampak bagi kedaulatan Palestina sebagai negara merdeka dan akan memicu perang. Ia menyesalkan pengakuan sepihak dari Pemerintah Amerika dan tegas menolak segala upaya pengingkaran atas kesepakatan perdamaian.

Pemindahan Ibu Kota Israel ke Yerusalem menurutnya akan memperkeruh proses perdamaian dan menimbulkan konflik yang meluas.

"Keputusan Amerika mengusik kedamaian yang sangat diidam-idamkan oleh warga Palestina," tandasnya.

Pengakuan sepihak tersebut juga bisa mengguncang stabilitas keamanan dunia dan telah melanggar berbagai resolusi Dewan Keamanan dan Majelis Umum PBB yang Amerika Serikat merupakan anggota tetapnya.

"Semoga Allah melindungi warga Palestina dari kondisi yang semakin memburuk karena kebijakan yang tidak adil ini. Mari bantu dengan doa melalui qunut nazilah Jumat besok," ajaknya. (Muhammad Faizin/Kendi Setiawan)
Kamis 7 Desember 2017 17:3 WIB
Gunungan Jaler dan Estri Syukur Raja atas Lahirnya Kanjeng Nabi
Gunungan Jaler dan Estri Syukur Raja atas Lahirnya Kanjeng Nabi
Solo, NU Online
Puncak acara Sekaten yang digelar Keraton Surakarta untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW ditandai dengan acara Grebeg Maulud, Jumat (1/12). Pada prosesi tersebut dua pasang gunungan diperebutkan ratusan pengunjung.

Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta GPH Dipokusumo menerangkan, perayaan Sekaten merupakan sebuah tradisi untuk memperingati bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

“Keluarnya gunungan ini sebagai wujud rasa syukur raja, sentana dalem dan Keraton Surakarta dalam peringatan kelahiran Nabi Muhammad,” terang Gusti Dipo.

Gunungan dikirab dari Kori Kamandungan, melewati Sitinggil, masuk ke pagelaran. Kemudian melintasi Alun-alun Lor dan tiba di Masjid Agung Surakarta.

Menjelang waktu Shalat Jumat, gunungan yang dinanti pun keluar dari Keraton Kasunanan Surakarta dan tiba di Masjid Agung Surakarta. Setelah didoakan, gunungan yang terdiri dari satu Gunungan Jaler dan Gunungan Estri ludes tak sampai 10 menit.

Pada perayaan Sekaten yang bertepatan dengan tahun Dal kali ini juga digelar tradisi Adang, yaitu sebuah tradisi memasak nasi yang dilakukan oleh PB XIII Hangabehi bertempat di Pawon Gondorasan. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG