IMG-LOGO
Tokoh

Sisi Senyap KH Idham Chalid

Jumat 2 Februari 2018 18:1 WIB
Bagikan:
Sisi Senyap KH Idham Chalid
Idham Chalid. Saya mengenalnya tanpa pernah bersua. Perkenalan dengan tokoh ini bersifat imajiner, diwariskan oleh orang tua dan orang-orang yang mengenalnya. Kebanyakan dari mereka berasal dari kota yang sama dengan asal Idham, Amuntai, atau memiliki hubungan famili dengannya. Dari merekalah kesan mengenai Idham mulai merasuk pikiran saya.

Idham lahir tahun 1922 dan baru 60 tahun kemudian saya dilahirkan. Suatu masa yang jauh. Selama itu, Idham telah menjalani kehidupannya, dikenal banyak orang, dikenang dan diceritakan satu orang pada lainnya. Seperti pada waktu itu, ayah saya bercerita bahwa dia pernah mengunjungi Idham. Idham menerimanya dengan ramah dan menceritakan sebagian pengalamannya. 

Alkisah, sewaktu berziarah ke makam Imam Bukhari, Idham didatangi seorang laki-laki tua yang tak dikenal. Laki-laki itu memberinya selembar kain putih dan menceritakan bahwa pada malam sebelum pertemuan itu dirinya bertemu Rasulullah dalam mimpi. Laki-laki itu diperintahkan untuk menyerahkan selembar kain kepada seseorang yang ciri-ciri fisiknya seperti Idham Chalid. Dengan gembira kain pemberian laki-laki itu diterima Idham dan dibawanya pulang. 

Ayah saya kemudian diberi Idham sejumput kain tersebut untuk disimpan. Menurut cerita, beberapa orang yang mengunjungi Idham diberi sangu yang sama. Selain “oleh-oleh” tersebut, ayah juga diijazahi suatu amalan berupa sejumlah shalawat susunan Syaikh Muhammad bin Sulaiman al Jazuly. Amalan itu lazim disebut Dalail al Khairat. Terdiri dari 8 kumpulan shalawat yang disebut hizb. Masing-masing shalawat diberi nama sesuai nama hari. (Karena hanya ada 7 hari dalam seminggu) ada 2 hizb untuk hari Senin, disebut Senin Awal dan Senin Akhir. 

Suatu pengalaman berkaitan dengan amalan ini pernah diceritakan Idham pada cucu keponakannya. Saat itu sekitar akhir 1997. Cucu keponakan Idham mengunjungi sang kakek. Seperti biasa, Idham memberinya nasehat, berbagi pengalaman dan tak lupa memberinya amalan. Adalah Dalail al Khairat amalan yang dianjurkan Idham pada cucunya untuk dibaca secara rutin setiap hari. Secara khusus Idham menyatakan bahwa tiga kalimat pertama Dalail al Khairat hizb hari Selasa memiliki faedah yang luar biasa. “Untuk menghadapi orang yang sulit, bacalah kalimat-kalimat  itu tiga kali dan ditutup dengan salam qaul min rabb ar rahim [Yasin (36) : 58, pen] tiga kali”, ujar Idham. Idham lalu menceritakan bahwa hal itu telah dibuktikannya. 

Suatu hari di bulan Januari 1974. Hari itu gedung wakil rakyat diselimuti ketegangan. Para mahasiswa berhasil merangsek masuk ke dalam gedung megah itu. Mereka mendudukinya. Teriakan dan yel-yel bergema. Suasana memanas. Para wakil rakyat kebingungan menghadapi situasi ini. Ada yang berdiri gelisah, ada yang duduk tak bergerak. Ada yang mondar-mandir tak tentu arah. 


Seorang mahasiswa menaiki mimbar dan meneriakkan tuntutan. Ia bicara tentang modal asing yang dianggap berbahaya bagi masa depan Indonesia. Juga tentang asisten pribadi presiden yang kelewat besar wewenangnya. Sebagian mahasiswa lain menduduki tempat yang biasa digunakan oleh ketua-ketua sidang. Awalnya keadaan gaduh, tetapi masih terkendali. Lama-kelamaan para mahasiswa menjadi tak bisa dinegosiasi. 

Idham Chalid adalah pimpinan lembaga perwakilan rakyat saat itu. Dia menjauh dari kursi yang biasa didudukinya, menuju ke suatu sudut dari gedung itu. Sambil berdiri,  ia menenangkan diri. Lalu, tanpa mengeluarkan suara yang berarti, dibacanya perlahan kalimat-kalimat dari Dalail al Khairat itu. Amalan itu memang telah menjadi wiridannya sehari-hari. Beberapa saat kemudian Idham menuju kursi ketua sidang.

Dengan sikap yang tenang, namun pasti, Idham menduduki kursinya. Diraihnya pengeras suara dan berucap: “assalamua’laikum wa rahmatullah wa barakatuh”…

Suasana berubah menjadi lebih tenang. Masih terdengar suara-suara dari arah bawah, tetapi lambat laun menghilang. Idham kemudian meneruskan ucapannya hingga selesai. 

Dalail al Khairat merupakan amalan yang “hidup” di daerah Kalimantan Selatan. Amalan ini dibaca di mesjid dan surau secara rutin. Biasanya, mengiringi atau diiringi dengan pengajian. Tetapi, tidak jarang dijadikan sebagai acara khusus tanpa tambahan acara lain. Ibu saya menjadi salah seorang jemaah pembacaan Dalail di mesjid dekat kediaman kami. Ada pula seorang kiai Banjar yang saya temui menceritakan bahwa dirinya telah mengamalkan Dalail al Khairat selama 40 tahun atau hampir dua kali lipat umur saya. Dia memiliki jamaah yang setia dan sekarang, sedikit demi sedikit, tradisi ini diwariskan kepada generasi mudanya. Dan masih banyak lagi orang-orang dan tempat-tempat lain yang menjadi saksi ‘hidupnya’ amalan ini.

Saya sendiri mengenalnya sewaktu menjadi santri sebuah pesantren di Banjarbaru (sekitar 23 KM dari Banjarmasin). Setiap seminggu sekali kami membacanya bersama-sama dengan dipimpin oleh seorang ustadz. Cara membacanya seperti membaca Al-Qur’an secara tartil dengan tempo yang relatif cepat. Satu hizb mencapai belasan halaman atau kira-kira sepanjang satu juz Al-Qur’an. Biasanya diperlukan waktu antara 30 hingga 45 menit untuk menyelesaikan satu hizb.

Hidupnya amalan ini barangkali mencerminkan pandangan hidup dan religiusitas masyarakat Banjar. Pada kiai yang saya sebut di atas saya tanyakan, mengapa mengamalkan Dalail al Khairat, apa manfaatnya? Dengan sigap dia menjawab bahwa manfaat nyata dari mengamalkan amalan ini adalah bahwa semua jamaahnya sudah naik haji. “Hanya seorang saja yang belum, itupun karena alasan khusus: anak-anaknya masih membutuhkan biaya”, tambah kiai itu. Beliau lalu membukakan bagian doa Dalail yang isinya permohonan agar dimudahkan untuk menunaikan ibadah ke Tanah Suci. 

Naik haji adalah cita-cita yang dimiliki oleh sebagian besar masyarakat Banjar. Naik haji tidak hanya persoalan status sosial, yakni ciri kesuksesan seseorang di tengah masyarakat. Ia juga merupakan pelengkap yang tanpanya hidup terasa tidak sempurna. Sejak dulu sampai sekarang, orang Banjar khususnya, maupun Nusantara umumnya, merupakan penziarah terbesar di Tanah Suci.  

Idham Chalid barangkali menangkap fenomena ini. Orientasi religius masyarakat yang tercermin dalam kegemaran membaca amalan-amalan, maupun cita-cita naik haji ‘difasilitasinya’ dengan memberikan ijazah Dalail al Khairat ataupun amalan lainnya. 

Di antara versi Dalail al Khairat yang beredar di wilayah Kalimantan Selatan, ada versi ringkas yang dirujuk kepada Idham Chalid. Versi ini hanya memuat sebagian kecil dari setiap hizb. Hanya terdiri dari satu-dua halaman, berisi paling banyak belasan kalimat. Dikutip dari versi lengkapnya, ada yang di awal dan adapula yang dikutip di tengah-tengah. Pada versi ringkas lainnya ada sedikit perbedaan, sehingga sedikitnya ada 2 versi Dalail ringkas yang dirujuk pada Idham. Sumber-sumber saya menyatakan bahwa peringkasan ini dilakukan oleh Idham Chalid. Saya tidak akan membahas lebih jauh soal peringkasan itu di sini. Hal itu menjadi kurang penting karena perujukan kepada Idham Chalid itulah yang menjadi inti dari pembicaraan. 

Perujukan ini menunjukkan ingatan masyarakat tentang Idham Chalid sebagai seorang ulama. Siapakah yang ‘berani’ meringkas amalan yang terkenal lalu mengijazahkannya jika bukan seorang yang memiliki pengetahuan mendalam (‘alim)? Atau siapa pula yang mendapat ‘hadiah dari Rasulullah’ bila ia bukan seorang yang istimewa? Ingatan macam itulah yang terpatri dalam masyarakat. Ditambah lagi, Idham pernah memimpin sebuah pesantren besar di Amuntai dan di Jakarta . 

Selain sebagai ulama, Idham juga dikenang sebagai seorang doktor (bukan dokter). Di halaman depan buku Dalail al Khairat ringkas yang saya dapatkan selalu tercantum kalimat: “Ijazahnya diambil dari Doktor Kiai Haji Idham Chalid”, dalam ejaan Arab-Melayu. Jika kiai atau ulama adalah gelar keagamaan, maka doktor adalah gelar ‘duniawi’ yang diberikan oleh suatu lembaga pendidikan. Idham memiliki keduanya dan diingat baik sebagai doktor maupun kiai.

Memang ada yang mengingat beliau sebagai seorang politisi. Kebanyakan dari mereka merasa bahwa Idham Chalid merupakan guru dan sumber inspirasi dalam kehidupan berpolitik. Tetapi, jumlah mereka sangat sedikit dan tergolong elite. Sementara, kebanyakan orang mengingatnya sebagai ulama. 

Mengapa sebagai ulama? Adakah ini berkaitan dengan ‘istana imajiner’, meminjam istilah al-Jabiri, masyarakat Banjar bahwa menjadi ulama adalah yang paling ideal? Atau lengkapnya : alim, kaya (dan karenanya bisa naik haji), serta meraih gelar pendidikan ‘duniawi’? Hal ini tentunya memerlukan studi lebih lanjut. Yang jelas, jarang sekali orang-orang ingat bahwa Idham pernah menjadi wakil perdana menteri, memimpin lembaga perwakilan rakyat ataupun DPA. Sepertinya jabatan-jabatan itu kurang penting. Pokoknya, Idham adalah seorang yang alim, cukup-ai sudah.   

Kini, di atas pembaringannya, dengan alat bantu pernafasan, Idham terbaring menahan sakit yang dideritanya selama bertahun-tahun. Untuk bisa bertemu dengannya, seseorang harus masuk ke kamarnya. Tidak banyak hal lagi yang dapat dilakukannya, dan namanya sudah jarang disebut-sebut. Namun demikian, keadaan tersebut tidak menghalangi orang untuk mengingatnya secara berbeda. Mengenangnya lewat sebuah amalan rutin berupa Dalail al Khairat atau melalui sosok keulamaannya. Dekat dan akrab dengan kehidupan sehari-hari. 

Cerita-cerita di atas bukan dimaksudkan untuk penulisan sebuah manaqib yang berisi cerita luar biasa tentang seorang tokoh. Sungguh, bukan itu maksud saya. Saya ingin memotret bagaimana seorang Idham Chalid dikenang dan bagaimana kenangan tersebut disebarkan pada orang-orang. 

Masalah kenang-mengenang ini terasa penting ketika saya menemukan kenyataan jarang sekali ada tulisan yang secara khusus membahas Idham Chalid. Ketika saya melakukan penelitian untuk tugas akhir, saya sangat risau. Saya berkeinginan menulis tentang Idham Chalid, seorang tokoh fenomenal yang kebetulan satu daerah dengan saya. Pemilihan tokoh ini sesungguhnya bersifat pragmatis. Dalam pikiran saya, mengangkat tokoh dari daerah yang sama akan lebih mudah. Tapi, ternyata tak semudah itu.

Sejarah “resmi” mengenai Idham Chalid yang tertulis di berbagai buku berkaitan dengan aktivitasnya sebagai politisi dan pimpinan organisasi Muslim tradisional terbesar - yang pernah menjadi partai politik, di Indonesia. Membahas organisasi itu hampir tak mungkin tanpa menyebut Idham Chalid yang selama hampir tiga dekade memimpinnya. Hanya saja, penelitian mengenai organisasi ini sangat sedikit dan dibarengi dengan nada yang minor. Baru di tahun 1980-an hingga sekarang, perhatian para peneliti mulai tumbuh dan semakin besar terhadapnya. Hal ini terutama berkaitan dengan perubahan orientasi organisasi tersebut, dengan menarik diri dari kehidupan politik praktis. Kemunculan tokoh-tokoh muda energik yang mewartakan wacana kultural inovatif dan segar menambah daya tarik organisasi itu. Tetapi, Idham Chalid bukan bagian dari pembaharu, melainkan seseorang yang “disingkirkan”. Sehingga, wajar kalau kemudian Idham semakin tersisih dari wacana dan menjadi terlupakan. Hanya dalam sebuah kajian Greg Fealy yang “mengacak-acak” fase paling politis organisasi itu, Idham mendapatkan porsi pembahasan yang sesuai.  

Keadaan ini diperburuk dengan hampir tidak ditemukannya suatu tulisan yang membahas “riwayat hidup” Idham Chalid, kecuali catatan berisi deretan jabatan yang pernah didudukinya. Semua itu tidak banyak membantu mengkonstuksikan sosoknya. Padahal, menurut saya, tokoh sefenomenal Idham Chalid pantas mendapat perhatian lebih. 

Hal ini berbeda dengan tokoh asal Kalimantan Selatan yang juga “menasional”, seperti Kol. Hassan Basry atau Hasan Basri. Yang pertama adalah pemimpin Gerilya Kalimantan dan yang kedua merupakan tokoh Masyumi dan pernah menjabat ketua Majelis Ulama Indonesia di masa Orde Baru. Kedua-duanya satu zaman dengan Idham Chalid. Kol. Hassan Basry bahkan terhitung murid Idham. Sedangkan Hasan Basri memulai karir politik tingkat nasionalnya dengan menjadi anggota perwakilan sementara di tahun yang sama dengan Idham, 1950.  Ada banyak buku atau karya ilmiah yang disusun untuk menjelaskan kedua tokoh tersebut : siapa mereka, bagaimana perjalanan hidupnya dan apa kontribusinya bagi negara dan masyarakat. Begitulah, mereka berdua mendapatkannya, sementara Idham tidak. Itulah adanya.         

Namun, ketika pulang ke Banjarmasin setelah skripsi saya diujikan, saya menemukan kesan yang berbeda. Cerita-cerita ‘tersembunyi’ yang luput dari rekaman peristiwa sejarah “resmi” mengenai Idham mulai mengemuka. Cerita-cerita itu memberi kesan yang berbeda mengenai Idham. Inilah barangkali ‘sisi balik senyap’ Idham Chalid yang selama ini tersembunyi namun hidup dalam ingatan masyarakat. Tulisan ini hadir hanya untuk memperkaya pemahaman kita mengenai Idham Chalid. Wallahu A’lam. (Ahmad Muhajir)


Tulisan ini merupakan epilog dalam buku saya berjudul Idham Chalid: Guru Politik Orang NU (Pustaka Pesantren-LKiS, 2007)

Penulis adalah kandidat doktor Ilmu Politik Australian National University

Tags:
Bagikan:
Kamis 18 Januari 2018 5:0 WIB
Mengenang Gus Najib, Kiai Serba Bisa dari Banjarnegara
Mengenang Gus Najib, Kiai Serba Bisa dari Banjarnegara
KH Mohammad Najib, biasa dipanggil Gus Najib, adalah sosok yang membanggakan keluarga dan daerahnya, Banjarnegara. Ia dikenal masyarakat tidak hanya sebagai kiai, akan tetapi juga sebagai politisi, pebisnis, dan seniman. 

Ia tegas, keras, penyayang, dermawan. Ia pemimpin dan pengayom masyarakat kalangan bawah. Ia membawa kesan tersendiri di hati para sahabat, keluarga, dan masyarakat Banjarnegara. 

KH Abdul Fatah, kakek buyutnya, adalah pendiri dan pengasuh pertama Pondok Pesantren Al-Fatah Banjarnegara (1860-1941), yang dilanjutkan oleh kakeknya, KH Hasan Fatah (1941-1991). Gus Najib sendiri memimpin Pesanten Al-Fatah (2013-2018), meneruskan kiprah ayahndanya KH Hasyim Hasan Fatah  yang memimpin pesantren sejak 1990-2013.

Gus Najib menempuh pendidikan di RA dan MI Al-Fatah hingga kelas dua. Kelas tiga sampai empat di Al-Irsyad Purwokerto, lalu pindah ke SD Cokro Banjarnegara kelas lima sampai enam. 

Jenjang menengah pertama di SMP 2 Banjarnegara, dan jenjang menengah atas di SMA 1 Banjarnegara. Kelas dua pindah ke SMA Jember dan mulai mondok. Kelas tiga SMA ia pindah ke Pakistan. Ia kuliah di STIE Banjarnegara semester dan pindah ke UNWIKU Purwokerto sejak semester 2. 

Semasa muda ia belajar ilmu hikmah kepada KH Hamzah yang sekaligus kakek dan menantu dari KH Abdul Fatah dari putri pertamanya, Hj Umu Kultsum. Ia menuntut ilmu kajian kitab Sulam at-Taufiq, al-Taqrib, Daqoiq al-Akhbar, al-'Usfurriyah, Qothru al-Ghois sampai Tafsir Jalalain pada KH Ahmad Dailimi. 

Dalam perjalananya menuntut ilmu, ia juga berguru kepada paman dari ibunya, di Lasem. KH Ahmadi adalah guru ilmu tata bahasa arab, ilmu Nahwu. Kemudian kepada Kiai Muhammad Azizi yang juga pamannya, dirinya belajar shorof dan Nashoih al- 'Ibad. 

Gus Najib juga belajar banyak dari seorang kiai dari Yogyakarta. KH Ali Maksum, Krapyak adalah salah seorang guru ia dalam belajar shorof selama 5 hari. Ketika mengaji di Jember, Gus Najib menuntut ilmu kepada KH Ahmad Shiddiq. Ia mengaji kitab tasawuf Riyadh as-Sholihin, Al-Siyasah as-Sar'iyah. 

Dalam tata bahasa Arab, ia juga belajar kepada KH Durmuji Ibrahim, Lirap, Kebumen, di Pondok Pesantren Nahwu-Shorof; dan kepada KH Ahmad Abdul Haq, Watu Congol Magelang, di mana ia belajar mondok Ramadhan sewaktu kecil. 

Setelah ayahnya meninggal, ia meneruskan perjuangan untuk mengurus dan membimbing jamaah sebagai Mursyid Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah. Dalam pengetahuan ilmu tauhid, ia juga belajar kepada Syeikh Mas'ud, Kawunganten, Cilacap. Tentang ilmu tauhid, kitab Al-Dasuqy Ummul Al-Baroghin. 

KH M Najib pernah belajar kepada Maulana Arsyad Ubaid, Maulana Abdurruhman, dan Maulana Musa di Jam’iyah Al-Asrofiyah Lahore, Pakistan. Ia mengaji ilmu hadist dan ilmu mantiq. Di Lahore pula, Gus Najib belajar Al-Qur'an kepada Qori' Syarif. 

KH Hamid Baidhowi dan KH Mujtahidi adalah dua guru mengaji Al-Luma' lil Imam As-Syairozi, Usul Fiqih. Kepada Abuya Dimyathi, Banten, Gus Najib belajar Ihya' Ulum ad-ddin, 'Awarifu al-Ma'arif, kitab Syamsiyyah, Tafsir Al-Baidhowi, Tafsir Khozin, Shohih Muslim, Bukhori, Ibnu Majah, Al-Ithqon Fi Ulumil Qur'an, Manaru al-Huda, al-'Asyr Fi Qiroat al- 'Asyr, al-taisir(Qiroah Sab'ah), kitab Bahjah, kitab Jabrul Kasar, Mafakhir al- 'Aliyyah, Al-Mushtashfa, Ushul Fiqh. 
*
Gus Najib adalah sosok yang gemar berorganisasi. Pada tahun 1984 - 1986, ia menjabat sebagai Ketua PC IPNU Kabupaten Banjarnegara. Tahun 1988 Ketua PC GP Ansor Kabupaten Banjarnegara. Tahun 1988, ia masuk dalam kepengurusan DPP II KNPI Kabupaten Banjarnegara. Tahun 1996-1998, menjabat sebagai Sekjen DPC PPP Kabupaten Banjarnegara. 

Jabatan lainnya tahun 1999 sebagai Ketua DKC Garda Bangsa Banjarnegara. Pada tahun 1999-2012, ia masuk sebagai perwakilan rakyat di DPRD Kabupaten Banjarnegara. Tahun 2002-2012, ia Ketua DPC PKB Kabupaten Banjarnegara. Pada tahun 2012-2017, sebagai Wakil Ketua DPW PKB Jawa Tengah.  

Kiai Najib yang kokoh dengan metode pendekatan pendidikan salaf, yaitu identik dengan penyampaian ceplas-ceplos (blak-blakan) untuk pendidikan akidah. Pendekatan pendidikan yang ia terapkan dan sampaikan cenderung apa adanya. Hal ini dinilai baik dari sisi pendidikan karakter, sehingga akar kesantrian juga akidah akan kokoh dan tertanam sampai murid usai belajar di pesantren.

Pendekatan pembelajaran tersebut jika diangkat dalam suatu penelitian maka akan terlihat sedikit keras, tapi justru menanamkan karakter yang baik bagi santri, apalagi saat di bangku kuliah nanti yang berbagai macam pelajaran didapat, khususnya studi keagamaan (keislaman). 

Ia sering memberikan nasihat kepada murid-muridnya, “Kalau kelak kalian pulang dari pesantren, walaupun kalian alim, jangan sekali-kali ingin dihormati. Dan hormatilah orang-orang yang sudah memperjuangkan agama terlebih dahulu di desamu.”

Sosok yang disegani itu telah wafat dengan tenang pada usia 51 tahun, Selasa (2/1) pukul 17.00 WIB di rumah duka Jl S Parman, Km 3, Komplek Pesantren Al-Fatah, Parakancanggah, Banjarnegara, Jawa Tengah. 

Sekitar dua minggu sebelum wafat ia berpesan kepada pengurus pondok, “Hormatilah dan muliakanlah gurumu. Kelak hidupmu akan mulia. Contohlah seperti Mbah KH Hasyim As’ary. Akan tetapi, selain memuliakan, kalian juga harus pintar.”

Selain itu pesan Gus Najid pada saat yang sama adalah, ”Kalian juga harus memuliakan tamu dengan cara bertanya dan menjamu seperti yang dilakukan Mbah dan Abah dulu. Insyaallah anak turun kalian tidak akan kekurangan makanan.”

Gus Najib meninggalkan istri Ny Nur Laely Hikmawati dan tiga putra yaitu Tamlikho Tajun Nuhudh, Maksal Mina Fathun Nuhudh dan Syakira Zahiyatal Anjumi.

Tak berlebihan rasanya bahwa kelak semua orang tetap akan mengenang dirinya, perjuangannya, dan pengabdianya. (Red: Kendi Setiawan)

Selasa 16 Januari 2018 10:1 WIB
Ajengan Abdurrohim, Tokoh Pendiri Pesantren di Banjar
Ajengan Abdurrohim, Tokoh Pendiri Pesantren di Banjar
Ajengan Abdurrohim Banjar, Jabar.
Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, salah satu pesantren yang masyhur bukan hanya di wilayah Kota Banjar, Jawa Barat saja, namun juga dikenal di pelosok tanah air karena kiprah pengasuh, pendiri serta alumninya di berbagai daerah di Indonesia.

Di balik kesuksesan pesantren terbesar di Kota Banjar ini, kisah proses berdirinya pesantren ini, mulai dari kisah nyata hingga yang berbau mistis dan pada masa penjajahan Belanda, tidak terlepas dari cerita yang sering disampaikan para pengasuh kepada santrinya.

KH Munawir Abdurrohim, anak pertama KH Abdurrohim atau Ajengan Abdurrohim, pendiri Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar mengatakan, awal berdirinya Ponpes yang dikenal pesantren Citangkolo tersebut saat kiai muda yang bernama Marzuki Mad Salam (wafat tahun 1968 dalam usia 93 tahun) asal Dusun Grumbul Kelawan Desa Gung Agung, Kecamatan Bulus Pesantren Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, melihat kondisi umat islam saat itu yang masih dalam penjajahan Kolonial Belanda sangat memprihatikan.

Dengan kemampuan materi yang terbatas, cerita KH Munawir kepada NU Online, Kiai Marzuki memohon kepada Alloh dan mendapatkan petunjuk untuk keluar serta mencari tempat untuk mensyiarkan agama islam.

"Beliau berkelana ke berbagai tempat mulai dari Gombong, Tambak, Sitinggil dan tempat lainnya. Nah, pada tahun 1911 beliau tiba di Citangkolo yang mana dikenal daerah dengan kondisi hutan belantara dan konon sangat angker serta banyak binatang buas," kisah KH Munawir.

Ia berkisah, saat Kyai Marzuki ke Citangkolo, ada tiga keluarga yang berasal dari Manonjaya Tasikmalaya, Cineam Tasikmalaya dan Rancah Ciamis.  Namun, kabarnya tiga keluarga tersebut tiba-tiba hilang tanpa sebab.

Tepat tanggal 10 Muharam di tahun masehi 1911, sambung KH Munawir, Kiai Marzuki mendirikan mushola panggung dengan ukuran 2 x 3 meter. Lima tahun kemudian, lahan di sekitar mushola dimanfaatkan guna mendukung kegiatan keagamaan yang dilakukannya.

"Tahun 1916, beliau memboyong keluarga dari desa asalnya dengan membawa bayi laki-laki yang berusia 100 hari, yakni Badrun. Seiring itu, mushola diperbesar hingga ukurannya menjadi 5X9 meter," katanya lagi.

Lambat laut karena perkembangan ajaran islam di Citangkolo semakin melesat, di tahun 1923 mushola yang sudah diperbesar ukurannya tersebut diubah menjadi Masjid Jami' atas permintaan Bupati Tasikmalaya saat itu. Hal itu dilatarbelakangi semakin banyaknya pemuda-pemudi belajar agama ke Kiai Marzuki.

Saat proses pengembangan cikal bakal Pesantren Citangkolo itu, KH Munawir menambahkan, Kiai Marzuki dibantu anaknya yang bernama Kyai Mad Soleh (wafat tahun 1950) serta menantunya.

Pesantren jadi sasaran bom Belanda

Pasa saat zaman pra kemerdekaan, Pesantren Citangkolo menjadi salah satu basis pergerakan untuk membantu para pejuang dalam merebut kemerdekaan dari tangan kolonial Belanda. Dengan semangat berjuang, pasukan dinamakan Hizbulloh yang dipimpin Kiai Badrun, yang kini dikenal dengan sebutan KH Abdurrohim setelah namanya diubah, dan membawahi pasukan di wilayah Ciamis, Tasikmalaya, dan daerah sekitarnya.

"Lantaran tercium pergerakannya oleh Kolonial Belanda, Pesantren Citangkolo akhirnya menjadi sasaran tembakan meriam Belanda dari Banjar. Apalagi kemarahan Belanda memuncak ketika terjadi adanya penggulingan Kereta Api di wilayah Cibeureum Desa Mulyasari, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar," imbuh KH. Munawir yang juga lulusan Al Azhar, Kairo, Mesir.

Sebelum Kyai Badrun menyiarkan agama islam sebagaimana amanat untuk melanjutkan perjuangan ayahnya, ia kembali menuntut ilmu ke pesantren sebelum mengembangkan Pesantren Citangkolo.

Tahun 1960, terang KH. Munawir, Pondok Citangkolo mengalami kondisi Fatroh (kekosongan Pemimpin). Setelah dirintis kembali pada 10 Muharam di tahun 1960, namanya Diubah menjadi Ponpes Miftahul Huda, dan pada 10 Muharam tahun 1987 nama Ponpes Miftahul Huda ditambah nama menjadi Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo seiring kepulangan KH Munawir belajar dari Mesir.

"Alhamdulillah sejak saat itu Pesantren Citangkolo secara perlahan mulai mengalami perkembangan cukup pesat hingga saat ini yang memiliki lembaga pendidikan mulai dari tingkat PAUD, MI, SMP, MTs, SMA, MA serta Perguruan Tinggi STAIMA Banjar. Makanya di tiap bulan Muharam, kita selalu merayakan Haul pendiri Ponpes dengan berbagai kegiatan selama satu bulan penuh," pungkasnya. (Muhafid)
Rabu 10 Januari 2018 15:1 WIB
Depati Amir dan Dakwah Islam Ramah di Tanah Pengasingan Kupang
Depati Amir dan Dakwah Islam Ramah di Tanah Pengasingan Kupang
Lukisan Depati Amir (Dok. Istimewa).
Kupang merupakan wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) yang cukup jauh dari jangkauan sejarah. Jarang sekali kisah-kisah yang dipublikasikan mengenai kondisi apa saja yang terjadi di wilayah tersebut. Pada masa Belanda, yang tampak dari tempat tersebut adalah sebagai tempat pembuangan orang yang dianggapnya sebagai pemberontak.

Dengan kondisi perbedaan budaya dan agama, seakan-akan Belanda memang berencana untuk mengobrak-abrik psikis orang-orang Muslim kriminal yang diasingkan di tempat tersebut.

Depati Amir (1805-1885) merupakan tokoh lokal Muslim dari Bangka Belitung yang memiliki peran besar dalam melakukan resistensi terhadap hegemoni Belanda. Karena pergerakannya yang dianggap membahayakan eksistensi kolonial, ia diasingkan di daerah Air Mata, Kupang.

Ketika eksploitasi dan monopoli timah di wilayah Bangka dilakukan oleh Belanda secara besar-besaran, ia menjadi garda terdepan dalam melakukan perlawanan untuk menuntut kesejahteraan rakyat Bangka yang direbut oleh penjajah. 

Ketika strategi perlawanan yang ia lakukan akhirnya dicurigai oleh Belanda, ia pun menjadi buronan yang dianggap menghalang-halangi misi monopolinya. Selama dua tahun ia berjuang, hingga titik yang paling akhir, kekuatannya pun menurun dan perjuangannya pun berakhir di suatu hutan di Mendo Timur pada tahun 1851.

Ia ditangkap dan menjadi tawanan pemerintah Belanda. Dengan penangkapan tersebut, ia pun dijatuhi hukuman dengan diasingkan bersama keluarganya ke Kampung Air Mata, Kupang, wilayah yang begitu jauh dari Bangka, yang mana tempat tersebut merupakan tempat pembuangan para pemberontak dalam penilaian Belanda.

Sejak diasingkan ke Kupang, terputuslah hubungannya dengan Pulau Bangka, baik dakwah Islamnya, maupun hubungan dengan kerabat lainnya. Jika di Bangka ia lebih aktif dalam mengangkat senjata, sejak di Kupang ia lebih banyak melakukan kegiatan-kegiatan sosial, seperti pembangunan jalan, renovasi rumah warga, sampai perbaikan jembatan.

Bahkan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan juga diserahkan kepada penduduknya, sedangkan pemerintah kolonial yang berada di sana hanya mengawasi. Meskipun begitu, masyarakat yang ada di sana adalah bekas para pemberontak, sehingga harus terus diawasi.
 
Kebiasaan Depati Amir yang gemar bergaul dengan orang lain, tidaklah menyulitkanya dalam menghadapi keadaan yang baru ketika diasingkan di Kupang. Apalagi di sana ia berdampingan dengan orang-orang yang bernasib sama. Bersama dengan warga, ia segera melibatkan diri dan melakukan pembangunan di kampung pembuangannya mata air.
 
Ia terus berlibat dalam penanaman nilai-nilai spiritual di kampung tersebut. Tak heran, meskipun di kampung kanan kirinya adalah para pemeluk Katolik, di kampung tersebut justru Islam berkembang dengan baik. Terbangunnya masjid Air Mata menjadi tempat terlaksananya kegiatan-kegiatan keagamaan. (Dien Madjid, dkk, Masa Internir Depati Amir di Kupang 1851-1869)

Ia juga terus membina hubungan baik dengan suku-suku bangsa pribumi yang kebanyakan beragama Katolik, terus menunjukkan bahwa dirinya adalah Muslim dengan prinsip rahmatan lil 'alamin yang mampu berinteraksi dengan antar suku maupun ras sehingga mampu mewujudkan dakwah Islam ramah di tanah pengasingan. 

Di pengasingannya, ia juga  mendapat kepercayaan pemerintah kolonial dalam melakukan program vaksinasi massal yang diadakan Belanda untuk masyarakat Kupang. Penunjukan ini dilakukan karena kewibawaan Depati Amir terhadap masyarakat supaya tergerak dalam menciptakan kehidupan yang sehat. 

Sebagai orang Melayu, ia juga memperkenalkan kebudayaannya pada masyarakat Air Mata. Budaya tersebut dengan sendirinya berkembang seiring dengan perkembangan Islam di sana. Ditambah lagi banyaknya orang Melayu yang menikah dengan penduduk setempat, sehingga budaya hibrid antar Melayu dan Kupang melalui pernikahan-pernikahan tersebut menimbulkan bentuk budaya yang endemik. 

Hal lain mengenai hubungan dengan antar suku bahkan antar umat beragama, ia membina hubungan baik dengan orang-orang non-Muslim. Dalam catatan Belanda dikemukakan bahwa Depati Amir adalah figur yang memiliki toleransi yang tinggi.

Ia tidak hanya mementingkan segolongan agama semata, namun juga mengajak secara bersama umat agama lain, atau suku bangsa lain dalam upaya berjuang melawan Belanda, seperti kasus sebelumnya ketika ia berjuang bersama para buruh Cina di Bangka melawan pemerintah kolonial. 

Mencermati keadaan yang kini rentan dengan krisis toleransi antargolongan, maka wacana kesejarahan yang bertema memperteguh integritas bangsa berbasis keragaman perlu dihadirkan. Agar masyarakat lebih bijak dalam menghadapi hal-hal yang sebenarnya terus diulang-ulang dari dulu hingga masa sekarang.

Keteladanan Depati Amir dalam memposisikan diri sebagai umat Islam yang toleran, perlu dicontoh agar kita semua terus menjalani kehidupan yang rukun dalam bingkai keberagaman bangsa yang berbeda-beda. Putra dari tokoh bernama Depati Bahrin ini meninggal di tanah pengasingan Kupang pada 1885 dalam usia 80 tahun. (Nuri Farikhatin)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG