IMG-LOGO
Daerah

Akibat Tak Memahami Agama Secara Menyeluruh

Senin 5 Februari 2018 16:25 WIB
Bagikan:
Akibat Tak Memahami Agama Secara Menyeluruh
Mustasyar PCNU Pringsewu KH Anwar Zuhdi.
Pringsewu, NU Online
Islam adalah agama yang sangat memperhatikan segala hal terkait ibadah dan amaliyah yang dilakukan oleh umatnya selama hidup didunia. Segala aspek kehidupan diberikan panduan aturan oleh Islam dan sudah seharusnya seluruh umat Islam untuk belajar secara menyeluruh tidak secara parsial.

Jika belajar tidak secara menyeluruh serta tidak melalui guru yang jelas sanadnya, maka seseorang akan mudah terombang ambing dalam beragama. Seseorang akan mudah terseret pemahaman dan aliran yang pada zaman globalisasi informasi saat ini sangat banyak bermunculan serta menganggap pemahamannyalah yang paling sesuai dengan ajaran Islam.

Hal ini dijelaskan Mustasyar PCNU Pringsewu KH Anwar Zuhdi saat memberikan kajian tasawuf dari Kitab Bidayatul Hidayah karya Imam Al-Ghazali di Gedung NU Pringsewu, Ahad (4/2).

"Kalau belajar Islam nanggung maka akan gampang terbawa keramaian. Lagi rame paham ini, ikut. Lagi rame aliran ini, ikut. Pelajari secara menyeluruh Ilmu tafsirnya, haditsnya, fiqihnya, termasuk tasawufnya. Insyaallah tidak bingung sendiri," kata Kiai Anwar.

Kiai Anwar merasa prihatin apa yang saat ini sedang dihadapi oleh umat Islam. Sebagian sudah mulai gampang terseret pemahaman yang tidak benar, cenderung radikal dan kaku. Masyarakat dengan gampang menghukumi sesuatu hanya berdasarkan kajian dan informasi setengah-setengah yang beredar di media sosial.

"Istiqomah gondelan (ikut) NU. Ikut ulama Insyaallah selamat berkah dunia akhirat," ajaknya.

Kiai Anwar juga prihatin fenomena derasnya arus informasi dan globalisasi yang mampu merubah akhlak serta watak masyarakat. Di akhir zaman ini masyarakat sering disuguhi berbagai macam kenyataan dimana rakyat sudah berani dengan pemimpinnya, murid berani dan gurunya dan anak berani dengan orang tuanya. 

Mulai banyak bermunculan bibit-bibit perpecahan ditengah masyarakat yang diakibatkan kurang jernihnya fikiran dan ketenangan jiwa dalam menyikapinya. Masyarakat gampang termakan provokasi yang merupakan sumber dari konflik berkepanjangan.

"Mari kembali kepada umatan wahidah (umat yang satu). Jauhi sifat hasud dan cinta dunia secara berlebihan. Karena hasud dan cinta dunia adalah sumber utama munculnya perpecahan," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)
Tags:
Bagikan:
Senin 5 Februari 2018 19:1 WIB
Pengurus Baru IPNU Zaha Genggong Ikrar Besarkan Organisasi
Pengurus Baru IPNU Zaha Genggong Ikrar Besarkan Organisasi
Probolinggo, NU Online
Pengurus Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Zainul Hasan (Zaha) Genggong, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur resmi dilantik sekaligus menggelar Masa Kesetiaan Anggota (Makesta), Ahad (4/2) di SMP 5 Genggong.

Menariknya, dalam kegiatan yang diikuti oleh 70 orang peserta ini juga dilakukan ikrar pengurus oleh para pengurus baru. Ikrar ini pada intinya adalah komitmen untuk bersama-sama membesarkan organisasi dan membentengi para generasi muda dengan kegiatan positif dengan tetap berpegang teguh kepada aqidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

“Kegiatan ini digelar untuk merefresh kepengurusan dan memberi semangat baru bagi kader baru di internal organisasi IPNU khususnya PK IPNU Zaha Genggong,” kata Ketua PK IPNU Zaha Genggong.

Sementara Ketua PC IPNU Kota Kraksaan Khairul Imam meminta supaya kader yang baru agar tetap menjaga NKRI dan berhaluan pada Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) demi menghadapi era globalisasi yang penuh dengan tantangan dan isu di media.

“Saya berpesan kepada kader yang baru dilantik agar selalu bersemangat dalam menjalankan organisasi dan selalu bersinergi dengan MWCNU dan GP Ansor agar selalu bisa bekerja sama,” katanya.

Imam berharap untuk seluruh kader baik dari kepengurusan maupun yang di Makesta agar selalu belajar, karena IPNU itu mengajari agar selalu haus ilmu dan tidak lupa ditanamkan jiwa berjuang demi ummat dan bangsa dengan cara menjaga NKRI dan berhaluan pada Ahlussunnah wal Jamaah.

“Saat ini banyak yang akan merongrong negara kita, baik dari ketahanan, isu terkini sampai media. Terakhir adalah bertakwa, sebagai santri NU kita agar selalu tidak lupa untuk menunaikan kewajiban kita sebagai ummat Islam,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Fathoni)
Senin 5 Februari 2018 12:0 WIB
Santri Pesantren Nuris Jember Juarai Sejumlah Lomba Hafalan Al-Qur’an
Santri Pesantren Nuris Jember Juarai Sejumlah Lomba Hafalan Al-Qur’an
Jember, NU Online
Para penghafal Al-Qur’an kian bermunculan di Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris), Antirogo, Jember,. Setidaknya, ini bisa dilihat dari perolehan sejumlah juara dalam berbagai lomba yang diikuti. Diharapkan prestasi tersebut dapat melecut semangat santri lain.

"Alhamdulillah, ektrakurikuler bidang tahfidzul Qur'an dapat mengukir prestasi,” kata Gus Robith Qasisi, Ahad (4/2). 

Menurut Gus Robit, tujuan utama program menghafal Al-Qur’an bukan untuk lomba dan tujuan lainnya. “Namun ini tentu menjadi motivasi bagi anak-anak untuk menghafal Al-Qur'an,” kata penanggungjawab harian di Nuris tersebut.

Sejumlah lomba diikuti para santri Nuris dalam kecakapan menghafal kitab suci umat Islam tersebut. Seperti Musabaqoh Hafidzul Qur'an (MHQ) yang digelar di Pondok Pesntren Alqodiri, Gebang Jember. Di ajang tingkat regional Jawa Timur tersebut, siswi kelas XI PKB MA Unggulan Nuris, Arini Dina Yasmin berhasil meriah juara 2. Ia memperoleh nilai 99,5, hanya selisih 5 poin dari juara pertama.

Pada saat yang bersamaan, dua anak didik MTs Unggulan Nuris juga berjaya di ajang Musabaqoh Hifdzil Quran juz 30 di Ma'had Al Irsyad Bondowoso. Keduanya adalah M Farhan Rahardian dan Ahmad Zakaria Hosni, masing-masing menggondol  juara 1 dan 3 dalam ajang tingkat MTs se-Karesidenan Besuki tersebut. 

Sebelumnya Farhan juga merengkuh juara 2 MHQ juz 30 tingkat Provinsi Jawa Timur yang diselenggarakan di salah satu SMA di Surabaya. Dalam lomba bertajuk Gebyar Islami Competition itu, pesertanya mencapai 58 orang. Mereka adalah anak didik terpilih yang berasal dari MTs di kawasan Jember, Bondowoso, Situbondo dan Banyuwangi. (Aryudi A Razaq/Ibnu Nawawi)
Senin 5 Februari 2018 11:1 WIB
Pengurus Baru Ansor Tangerang Jaring Masukan dari Kiai Sepuh
Pengurus Baru Ansor Tangerang Jaring Masukan dari Kiai Sepuh
Tangerang, NU Online
Sebagai Badan Otonom NU, Pengurus GP Ansor Kota Tangerang 2017-2021 merasa perlu meminta restu dan doa kepada para kiai. Semua pengurus dari mulai ketua, sekretaris, bendahara hingga anggota divisi ikut serta dalam silaturrahim tersebut. KH Edi Djunaedi salah satu kiai yang dikunjungi.

Kiai yang menjabat sebagai Mustasyar PCNU Kota Tangerang itu mengungkapkan kenangannya menjadi Ansor di tahun 1960-an. Saat ia menjadi Ketua Ansor Serang sering bersinggungan dengan PKI. Dulu, Ansor harus menjemput para kiai jika ada rapat NU.

“Kalau dulu Ansor itu repot. Kalo NU rapat yang jemput kiai-kiai itu Ansor,” kenang Kiai Edi saat memberikan nasihat kepada Pengurus GP Ansor Kota Tangerang, Banten, Jumat (26/1) di rumahnya.

Ansor harus memiliki peta dakwah yang jelas. Dengan memetakan penduduk Tangerang dari berbagai aspeknya. Agar Ansor bisa melihat kemampuan dan kekuatan dalam melaksanakan program kerja. 

“Kader Ansor harus mengetahui situasi penduduk kota Tangerang. Dilihat dari usia, pendidikan, dan ekonomi termasuk lembaga pendidikan. Ansor lahan dakwahnya siapa. Usia berapa tahun. Itu harus dipetakkan. Untuk mempersiapkan bahan dakwah yang harus disiapkan. Sehingga program kerjanya akan jelas mau melakukan apa,” pesannya.

Menurutnya, estafet pergerakan Ansor mesti mengambil petunjuk dari Al-Qur’an. Jika Al-Qur’an dijadikan petunjuk pasti Ansor maju. Namanya hudan (petunjuk) itu untuk kemajuan bukan kemunduran. Maka umat Islam harus menggunakan akalnya. 

Khairin (kebaikan) itu, lanjutnya, bisa didapat dengan ilmu. Mengerjakan yang baik. Jika susah membedakan yang baik, minta diberi petunjuk yang baik. Apa saja yang kamu lakukan dari satu kebaikan. Allah pasti memberikan kebaikan.

“Setelah mengetahui yang baik. Apakah harus melakukan dan memilih yang baik. Kalau mau maju, ya pilih yang baik. Kadang memilih itu yang susah. Kalau ketemu dua pilihan, maka pilihlah yang madharatnya lebih kecil,” pesan kiai yang juga menjabat sebagai Ketua MUI Kota Tangerang itu. (Suhendra/Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG