IMG-LOGO
Opini

Dua Jam Melayang-layang di Langit Papua

Jumat 9 Februari 2018 12:15 WIB
Bagikan:
Dua Jam Melayang-layang di Langit Papua
Screnshot video perjalanan Tim NU. Dok. M Wahib
Oleh M Wahib Emha
Perjalanan Tim NU Peduli Kemanusiaan yang ditugaskan ke Asmat, Papua dimulai dengan keberangkatan dari Jakarta-Surabaya-Makassar-Mimika pada Kamis (25/1). Tujuan kami adalah Agats, salah satu distrik di Asmat. Sebelumnya kami dapatkan informasi banyak anak-anak Asmat mengalami gizi buruk dan campak.

Karena belum adanya kepastian penerbangan Mimika-Agas, kami menginap di Mimika. Setelah berkoordinasi dan dibantu oleh PCNU Mimika yang bekerjasama dengan Bandara Mozes Kilangin—bandara ini milik PT Freeport—kami mendapatkan tiket pesawat seharga 3 juta rupiah per orang.

Penerbangan dijadwalkan pukul 05.00 WIT, namun dengan kondisi dan alasan teknis tim diterbangkan jam 10.00 WIT, itu pun setelah adanya berbagai pertimbangan.  Kami bisa membeli tiket karena pendekatan NU dengan pihak bandara. Jika tidak, kami mesti menyewa pesawat dengan harga sewa 45-50 juta rupiah. 

Penerbangan Mimika-Agas ditempuh sekitar 45 menit. Sesampainya di Bandara Ewer Agast, kami dijemput Ketua PCNU Kabupaten Asmat yang juga Ketua Badan Musyawarah Kampung (Bamuskam) Leo Rahamtulloh Piripas. Pak Leo adalah juga salah satu tokoh adat di Distrik Agats.

Perjalanan dilanjutkan ke Agats, ibu kota Asmat menggunakan speedboat sekitar 20 menit. Harga sewa speedboat 500 ribu rupiah.

Tiba di Agats, Tim NU langsung berkoordinasi dengan Posko Utama yang terdiri dari Bupati, Danrem, Kapuskrisis Kemenkes, Polri. Kami melakukan pembagian peran dan wilayah tugas. Konsentrasi kami adalah di Kampung Syuru, Kaye dan Aswet di Distrik Agats. Tim lain bertugas di 21 distrik  berbeda. Perjalanan ke distrik-distri tersebut juga menggunakan speedboat; ada yang memakan waktu tempuh 4 jam, dan pula yang mencapai 8 jam. Perjalanan dikawal ketat oleh persnil TNI.

Namun, ancaman keamanan yang benar-benar sedang kami hadapi adalah gempuran dahsyat nyamuk-nyamuk Asmat yang menghantui, yaitu malaria. Karenanya seminggu sebelum keberangkatan, kami sudah harus diberi vaksin untuk kekebalan tubuh. Kami juga mesti minum obat antimalaria 2 hari sebelum berangkat dan selama bertugas serta beberapa hari setelah meninggalkan Asmat.

Koordinasi dengan berbagai pihak terus kami lakukan selama bertugas di Asmat. Hal-hal yang kami temukan tidak bisa diselesaikan dalam waktu yang singkat, karena pola kehidupan warga Asmat yang sangat jauh dari apa yang kita bayangkan selama ini. Salah satunya adalah persoalan air bersih yang mereka andalkan hanya dari air hujan. Untuk mandi dan minum mereka menggunakan air hujan tanpa dimasak terlebih dahulu. Terus terang memikirkan itu, pertanyaan kami bukan "Berapa kali mandi?” tapi “Kapan terakhir mandi?"

(Baca: Asmat Saya Belum Teruji)
Selama menjalankan misi, alhamdulillah kami dapat memberdayakan Tim Lokal dengan melibatkan NU, para tokoh agama, tokoh adat untuk melakukan program secara berkelanjutan. Ada 15 tim lokal  yang merupakan penduduk Asmat yang sampai saat ini memberikan sosialisasi, membantu memberikan makanan dan gizi kepada anak-anak 4 hari dalam seminggu, dan 2 kali (pagi dan sore) dalam sehari. Hal ini dilakukan sampai perkembangan kondisi anak yang malnutrisi menjadi cukup nutrisi / bergizi baik.
*

Selesai tugas kami di Agast, kami merancang kepulangan ke Jakarta. Namun, belum ada kepastian karena tidak ada pesawat yang ke Mimika atau Jayapura. Sementara kapal laut bersandar di Agats diperkirakan tanggal 1 Februari 2018, saat yang bersamaan juga terjadi gerhana bulan. Kami menerima informasi akan terjadi pasang air laut yang berdampak pada tingginya ombak. 

Selain itu, perjalanan kapal laut dari Agats ke Merauke ditempuh hampir 30 jam. Jika berangkat tanggal 1 Februari, diperkirakan kapal bersandar di Merauke tanggal 3 Februari 2018. Membayangkan itu betapa lelah dan capeknya perjalanan yang harus ditempuh. 

Tetapi jika tidak berangkat tanggal 1 Februari, kami akan menghadapi persoalan lain, karena kapal hanya ada 2 kali dalam sebulan. Tiket pesawat kami dari Merauke ke Jakarta sudah pula dibeli untuk penerbangan tanggal 2 Februari 2018. Saya meminta Mba Fitria Ariyani di LPBI Jakarta untuk menjadwalkan ulang atau refund dengan risiko ada pemotongan 4 juta rupiah.

Di tengah-tengah kebingungan itu, akhirnya kabar gembira menghampiri Tim NU. Akan ada pesawat dari Jayapura yang akan membawa logistik ke Asmat dan pulangnya kosong alias tak membawa penumpang. Kami segera mendaftar untuk ikut pesawat ke Jayapura dengan harga tiket 2,5 juta rupiah per orang.

Dalam pemikiran saya pesawat logistik adalah pesawat yang ukurannya agak besar. Ternyata pesawat itu berpenumpang 7 orang dan berbaling-baling satu.

Beberapa teman meledek kami,  “Itu bukan pesawat, tapi layang-layang."

Ledekan teman-teman nyaris benar adanya. Pesawat logistik yang membawa kami melayang-layang di angkasa dengan sesekali terpelanting karena menabrak awan. Turbulensi tak dapat kami hindari utamanya tabrakan angin kencang di lembah-lembah Wamena.

Semua doa yang kami hafal, kami panjatkan kepada Allah, Tuhan pemberi selamat. Dua jam kami bertabrakan dengan awan dan melayang-layang seperti bertahun-tahun dalam kesengsaraan dan ketidakpastian.

Alhamdulillah, sujud syukur kami panjatkan saat atap-atap rumah dan gedung terlihat dari atas. Ada harapan terlihat di bawah, terlebih saat pesawat dapat mendarat dengan baik. Semua penumpang turun. Mereka ada yang langsung ke kamar mandi, ada yang mancari tempat duduk, ada yang lesehan di lapangan. Ada juga yang mencari makanan.

Semua merasakan pusing, mual, dan ingin muntah.

Sujud syukur yang tadi ternyata sujud syukur pertama yang kami perlu lakukan lagi seandainya tantangan berikutnya berhasil kami lewati. Hal itu lantaran pesawat hanya transit, alias belum sampai di Bandara Sentani Jayapura. Lokasi transit kami masih berada di Wamena. Artinya masih 50 menit lagi kami harus berjuang melawan lembutnya awan.

Saya beranikan bertanya kepada pilot, “Bagaimana kondisi menuju Jayapura?”

Pilot menjawab, ”Penerbangan akan lebih cepat karena dibantu angin yang punya arah sama ke Jayapura.”

Setelah 45 menit dari Wamena kami dapat mendarat dengan baik di Sentani Jayapura. Meski bukan yang pertama kali naik pesawat kecil, namun kali ini yang paling dahsyat yang saya rasakan.

Saya merasakan perjalanan ke Bangladesh dalam penanganan Rohingnya meski sempat ditahan pihak militer, belum sedahsyat perjalan di Asmat Papua ini.
(Baca: Rohingya, Etnis Paling Tertindas)
Namun demikian, saya merasa bersyukur dapat terlibat bersama Tim NU Peduli Kemanusiaan untuk Asmat.

Permasalahan gizi buruk dan campak sebenarnya bukan hanya kali ini.  Persoalan tersebut sudah terjadi sejak lama, dan tidak hanya di Asmat. Namun persoalan gizi buruk yang dialami anak-anak Asmat menjadi booming diantaranya karena adanya media sosial yang mengungkap kejadian tersebut, dan menjadi salah satu Kejadian Luar Biasa.

Kami menganggap penanganan gizi buruk dan campak anak-anak Asmat harus disegerakan. Darul mafasid muqadam alaa jalbil mashalih; Mencegah kemudaratan lebih prioritas dibanding menarik kemanfaatan. 

Karena permasalahan yang sudah lama dan akut, maka penanganannya juga tidak bisa hanya sekejap. Tim NU yang yang berada di luar Asmat, mungkin tidak bisa membantu secara langsung dalam waktu yang lama. Tapi bukan berarti NU tdak bisa. Kaeuntungan NU adalah memiliki struktur sampai tingkat kecamatan di Papua. 

Sebagai santri kami memiliki landasan teori berdasarkan pada kaidah fiqhiyah: Ma la yudraku kulluhu la yutraku kulluhu; Pekerjaan yang tidak bisa kita kerjakan semuanya jangan ditinggalkan keseluruhannya. Bahwa kami tidak mungkin bisa membantu ke semua distrik, namun bukan berarti kami tidak membantu sama sekali.

Alhamdulillah, dengan melaksanakan penguatan kapasitas yang melibatkan masyarakat lokal merupakan investasi dan amal jariyah yang tak ternilai. Meski kami sudah di Jakarta, program terus berjalan. Setiap hari mereka melaksanakan kegiatan di Cem Gizi NU. 

Cem dalam bahasa Asmat berarti tempat  atau ruang. Cem digunakan sebagai tempat mengontrol anak-anak yang sudah di screening dan diagnose. Tim yang ditugaskan di Cem Gizi juga memberikan makanan pokok dan makanan tambahan. Hal ini dilaksanakan 4 kali dalam 1 minggu. Pagi diberi makanan pokok, sore makanan tambahan. Tim lokal melaporkannya ke Jakarta, sehingga kami pun tahu perkembangannya setiap waktu. 

Dukungan masyarakat untuk Cem Gizi Asmat dapat disalurkan melalui NU Peduli Asmat.

Semoga ini menjadi amal ibadah kita sebagaimana janji Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih berfirman,  “Dan siapa pun yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.”  (QS: Al-Maidah 5:32).

Artinyajika kita bisa menolong seorang untuk bisa hidup, nilai pahalanya sama dengan telah memberikan penghidupan kepada seluruh manusia. 
*

Penulis adalah Ketua Tim NU Peduli Kemanusiaan untuk Asmat, bergiat di LPBI PBNU.

Bagikan:
Kamis 8 Februari 2018 10:25 WIB
Menulis Sejarah Secara Cermat
Menulis Sejarah Secara Cermat
Abdul Mun'im DZ
Oleh Abdul Mun'im DZ

Belum lama ini KH Hairuman Nadjib (Gus Heru), cucu Kiai Wahab Chasbullah, Tambakberas menghubungi saya untuk mengonfirmasi kebenaran tulisan anonim yang menjelaskan tentang lahirnya lambang NU.

Beliau konfirmasi kepada saya karena tulisan itu berbeda dengan tulisan sejarah lambang NU yang saya tulis dalam buku Fragmen Sejarah NU. Dalam buku saya tersebut, penggagas lambang NU adalah KH Hasyim Asy'ari. Dari sumber KH Sholahuddin Azmi dari KH Mujib Ridwan dari KH Ridwan Abdullah.

Sementara dalam tulisan ini penggagasnya adalah Kiai Wahab. Dengan sumber Kiai Ridwan dan Kiai Mujib. Ini yang saya sarankan agar Gus Heru menyelidiki kesahihannya.

Di situ juga ada kekeliruan, bahwa pidato Bung Karno tentang kecintaan kepada NU itu bukan disampaikan dalam Muktamar NU di Purwokerto tahun 1946, melainkan disampaikan Bung Karno saat Muktamar NU di Solo tahun 1962.

Ketika masih dalam pengecekan tulisan itu, ternyata sudah menyebar di berbagai grup Whatsapp (WA) dan media sosial lainnya. Hal ini bisa menimbulkan khilaf berkepanjangan.

Sejarah adalah sumber informasi dalam mengambil sikap dan tindakan. Karena itu, para pimpinan NU dan penulis sejarah NU harus cermat dalam menulis. Sebab kita telah beberapa kali melakukan ketidakcermatan, di antaranya:

Pertama, saat NU menggunakan foto Haji Hasan Gipo, kemudian diprotes oleh keluarga karena foto tersebut ternyata foto Kiai Mas Manshur.

Kedua, NU memasang foto KH Cholil Bangkalan, ternyata itu bukan foto pendiri NU. Karena saat ini keluarga sedang mencari foto yang sesungguhnya.

Ketiga, gambar KH Hasyim Asy'ari yang muncul belakangan dengan serban hijau serta berjenggot.

Ternyata belum ada di antara sembilan kiai sepuh santri Mbah Hasyim yang menerima kebenaran gambar tersebut. Mereka semua menegaskan bahwa wajah Mbah Hasyim Asy'ari persis seperti gambar yang lama.

Mengingat terjadinya penyimpangan sejarah seperti itu, maka kembali kita dituntut untuk lebih cermat dalam menulis sejarah NU dan pesantren. Untuk menjaga integritas dan martabat organisasi.

Penulis adalah peminat sejarah NU.
Kamis 8 Februari 2018 9:0 WIB
Islam dan Pembebasan; Distribusi Zakat untuk Pengentasan Kemiskinan
Islam dan Pembebasan; Distribusi Zakat untuk Pengentasan Kemiskinan
Oleh Adetya Pramandira
Islam merupakan salah satu agama samawi yang ada di Indonesia dengan jumlah pemeluk terbanyak. Sebagai agama samawi, Islam tidak hanya membahas urusan manusia dengan Tuhannya, namun juga membahas urusan manusia dengan sesamanya.

Islam merupakan sebuah agama pembebasan, yang turun untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di dunia, dari ketidkadilan, perselisihan, hingga permasalahan kemiskinan. 

Tulisan ini tidak akan membicarakan semua dinamika Islam yang menjadi anutan terbesar masyarakat Indonesia. Akan tetapi bagaimana Islam sebagai agama pembebasan dapat mengentaskan persoalan kemiskinan yang ada di Indonesia, mengingat mayoritas penduduknya beragama Islam. 

Kaitannya dengan hal tersebut, zakat sebagai salah satu rukun Islam memainkan peran penting dalam pengentasan masalah kemiskinan. Hal ini dikarenakan alokasi dana zakat sebagian besar menjadi pembiayaan program penanggulangan kemiskinan. Hal tersebut dilatar belakangi oleh Al-Qur'an surah At-Taubah ayat 60.
 
Namun demikian, bentuk pendistribusian dana zakat belum jelas disebutkan dalam Al-Qur'an. Hal ini menjadikan munculnya ijtihad-ijtihad para ulama untuk menentukan dalam bentuk apa pendistribusian dana zakat. Seperti fatwa Imam Syafi'i, yang terkesan sedikit kaku apabila kita terapkan di Indonesia, mengingat kebutuhan manusia bermacam-macam dan tujuan adanya zakat itu sendiri.

Misalnya saja, pendistribusian zakat pertanian berupa beras, apabila didistribusikan dalam wujud beras juga maka ketika beras itu habis maka keadaan si penerima akan kembali seperti semula. Berbeda dengan apabila pendistribusian zakat berdasarkan kepada hal yang dibutuhkan dan dapat bermanfaat untuk jangkan panjang. 

Zakat
Pada umumnya zakat bermakna mengeluarkan sebuah harta tertentu untuk diberikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya (mustahik) sesuai syarat-syarat yang di tentukan oleh syariat Islam. Secara terminologis zakat merupakan nama bagi ukuran yang dikeluarkan dati harta atau badan menurut peraturan yang akan datang. 

Mazhab Maliki, mendefinisikan zakat dengan mengeluarkan sebagian yang khusus yang telah mencapai nisab (batas kuantitas yang mewajibkan zakat) kepada orang yang berhak menerimanya. Dengan catatan, kepemilikan itu penuh dan mencapai hawl (setahun), bukan barang tambang dan juga bukan barang pertanian, (Wahbah Alzuhaili, 2008).

Menurut Yusuf Al-Qhardawi, seorang ulama fikih, menyatakan bahwa salah satu upaya mendasar untuk mengentaskan atau memperkecil persoalan kemiskinan adalah dengan cara mengoptimalkan pelaksanaan zakat. Hal ini dikarenakan zakat adalah sumber daya yang tidak akan pernah kering dan habis. Dengan kata lain selama umat Islam mempunyai kesadaran untuk berzakat dan selama dana zakat mampu dikelola dengan baik, maka dana zakat akan selalu ada serta bermanfaat untuk kepentingan dan kesejahteraan masyarakat. 

Oleh karena itu, zakat memiliki peranan yang sangat strategis dalam upaya pengentasan kemiskinan atau pembangunan ekonomi. Dalam perkembangannya, para pemikir Islam banyak menerangkan terkait tujuan dan fungsi zakat, baik berhubungan dengan tatanan ekonomi, sosial dan kenegaraan yang ditinjau dari tujuan-tujuan Nash Al-Qur'an, yaitu, mengangkat derajat fakir dan miskin, menyucikan harta dan jiwa muzzaki, membantu menyelesaikan masalah para gharimin, ibnu sabil dan mustahik lainnya. 

Dalam pandangan Kiai Sahal, umat Islam sekarang membutuhkan fikih baru yang disusun berlandaskan epistemologi pengetahuan yang baru. Hal ini mengingat mazhab-mazhab fikih yang selama ini disusun berdasarkan sistem pengetahuan yang ada saat itu dan merupakan bagian dari interaksi antara Islam dan lokalitas histori tertentu yang dialami para fuqaha dengan berbagi faktor sosial, politik dan ekonomi. 

Begitu juga dengan pendistribusian dana zakat yang dianggap kaku untuk diterapkan di Indonesia, Kiai Sahal dengan konsep Fikih Sosial-nya menawarkan sebuah gagasan baru mengenai zakat untuk mengentaskan permasalahan kemiskinan yang tak kunjung usai. 

Zakat dipandang sebagai institusi untuk mencapai keadilan sosial, dalam arti sebagai mekanisme penekanan akumulasi modal sekelompok kecil masyarakat. Metode pengelolaan dana zakat yang dilakukan oleh Kiai Sahal, pertama kali yang dilakukan adalah menginventarisir atau menyensus ekonomi umat Islam. Cara ini untuk mengidentifikasi siapa diantara umat Islam yang mampu dan tidak, (Sumanto Al-Qurtuby, 2017).
 
Dana zakat yang diberikan kepada kaum fakir miskin adalah berdasarkan kepada kebutuhan dasar dan latar belakang penyebab kemiskinan tersebut. Tak hanya bantuan berupa dana, pelatihan ketrampilan dan juga pemberian motivasi juga di terpakan, hal tersebut dilakukan agar masyarakat fakir miskin  tak hanya berpangku tangan menuggu uluran bantuan dari orang lain. 

Seperti disebutkan di atas, bahwa pemberian zakat sesuai dengan kebutuhan dasar fakir miskin. Berkaitan dengan hal tersebut, dalam buku Era Baru Fiqih Indonesia, Kiai Sahal menuturkan:

"Pernah suatu kali saya mencobanya terhadap seorang pengemudi becak di Kabupaten Pati, saya lihat dia tekun mangkal di pasar untuk bekerja sebagai tukang becak. Pada saat pembagian zakat tiba, saya zakati dia. Hasil zakat bulan Syawal itu berupa zakat mal, zakat fitrah, dan infaq. Semua saya kumpulkan dan sebagian saya belikan becak untuknya. Sebelumnya ia hanya mengemudikan becak milik orang non-pribumi, namun sekarang dia telah memiliki dua buah becak. Usahanya itu berkembang dan sehari-harinya ia tidak harus mengemudi becak dengan mengejar setoran. Dengan mengemudi becak sampai jam tiga sore, hasilnya sudah cukup untuk makan dan untuk menjaga kesehatan, setelah itu ia bisa kumpul mengikuti pengajian. Dengan cara ini, meskipun ia tidak menjadi kaya, tetapi jelas ada perubahannya." 

Penuturan Kiai Sahal di atas, sebagai gambaran bahwa dana zakat akan lebih berdayaguna apabila diberikan sesuai dengan kebutuhan. Pendistribusian dana zakat tidak harus didistribusikan sesuai dengan barang yang dizakati, namun didistribusikan sesuai kebutuhan yang diperlukan. Dengan demikian menjadi lebih tepat guna dan dapat mencapai maksud dari adanya zakat itu sendiri. 
*
Penulis adalah mahasiswa  UIN Walisongo Semarang, bergiat di PMII Rayon Syariah, Komisariat Walisongo Semarang dan LPM Justisia


Rabu 7 Februari 2018 22:0 WIB
Gus Dur dan Pluralisme Agama
Gus Dur dan Pluralisme Agama
Oleh: Ahmad Naufa Khoirul Faizun

Bersama teman-teman Gusdurian Purworejo, Senin (5/2) kemarin saya menghadiri puncak peringatan sewindu haul Gus Dur di Universitas Sanata Dharma (USD), Yogyakarta. Disebut puncak karena semenjak awal Januari lalu lalu ada 4 negara, 66 kota dan 99 titik peringatan dengan beragam kegiatan keagamaan maupun kebudayaan. Dan yang di kampus USD ini, adalah puncaknya.

Ada beberapa hal menarik di acara itu. Pertama, adalah peringatannya yang tak monoton atau melulu tahlilan dan pengajian. Sebagaimana kita ketahui bersama, tradisi haul merupakan tradisi-keagamaan NU untuk memperingati jasa, peran dan keteladanan tokoh tertentu. Haul biasanya diadakan setahun sekali, dengan pembacaan doa (tahlilan, yasinan) dan pengajian umum. Namun, agak berbeda untuk haul Gus Dur, sang Guru Bangsa.

Dan haul Gus Dur kali ini sedikit berbeda, tak hanya tahlil kebangsan dan pengajian seperti pada haul-haul pada umumnya. Ada pentas kesenian, bernyanyi, stand up comedy, doa lintas agama, pameran foto dan lukisan.  Di Purworejo sendiri, beberapa waktu lalu, selain dengan doa, peringatan sewindu Gus Dur diadakan dengan pameran lukisan, pentas musik akustik, pembacaan puisi dan talkshow kebangsaan yang membedah sosok Gus Dur. Ini tak lepas dari sosok Gus Dur yang juga dianggap sebagai budayawan.

Kedua, adalah tempat penyelenggaraan. Tempat penyelenggaraan puncak acara haul Gus Dur bertajuk “Ziarah Budaya: Menjadi Gus Dur, Menjadi Indonesia” ini pun  sangat unik dan diluar kebiasaan: Universitas Sanata Dharma, sebuah kampus yang dikenal milik “Yayasan Katholik”. Ini menunjukkan, betapa Islam yang diterjemahkan Gus Dur dapat diterima oleh agama lain, tanpa saling mencampuradukkan. 

Tak heran jika USD menerima teman-teman Gusdurian yang menginisiasi acara, oleh karena di USD pun toleransi berkembang cukup baik. Misalnya, yang saya lihat dan gunakan sendiri, adalah adanya mushalla di sana. Meskipun kecil, namun adanya mushala di “Kampus Khatolik” ini adalah bukti nyata toleransi telah mengakar kuat di Indonesia.

Ketiga, adanya kolaborasi pemuda-pemudi Paduan Suara GKI Gejayan dengan Seni Hadrah para santri yang menampilkan Syi’ir Tanpo Waton. Betapa, dua hal yang selama ini dianggap kontras, bisa bersatu mendendangkan syair dengan apik dan kompak. Ini membuktikan bahwa perbedaan bukanlah hal yang melemahkan, justru perbedaanlah yang dapat menjadi kekuatan dan bahkan keindahan, jika disatukan dalam konteks kebangsaan.

Ketiga hal itu, saya kira, cukup mewakili sedikit dari nilai-nilai yang telah Gus Dur ajarkan. Perbedaan tak menjadikan satu sama lain bertengkar dan menebar kebencian. Toleransi yang Gus Dur ajarkan adalah nilai-nilai s yang menempatkan agama sebagai pilihan dan pegangan hidup, sekaligus paham universalita yang dapat membela kemanusian yang Nabi Muhammad ajarkan, yaitu mengayomi dan mengasihi semua umat manusia, apapun suku dan agamanya. Dalam term lain disebut sebagai rahmatan lil alamin.

Pluralisme Ala Gus Dur
Mengapa umat non-muslim di Indonesia begitu terbuka dengan umat Islam? Salah satu sebabnya, menurut saya, adalah peran dari Gus Dur. Sebagai seorang tokoh pluralisme, Gus Dur banyak bergaul dengan berbagai tokoh lintas agama, budaya, aktivis, etnis dan golongan. Dalam terminologi politik, Gus Dur mengakrabi dari yang paling kiri sampai paling kanan. Wajarlah kalau tindak-tanduknya sering disalah artikan, seperti soal Pluralisme, misalnya. Banyak yang gagal-faham.

Dalam puncak acara malam itu, Prof Mahfud MD yang di daulat sebagai pembicara menyampaikan pluralisme Gus Dur. Soal pluralisme, kata Mahfud, diibaratkan Gus Dur sebagai tinggal di rumah besar yang memiliki banyak kamar.

Gus Dur mengibaratkan setiap kamar dihuni oleh pemeluk masing-masing agama dan kepercayaan yang ada di Indonesia. Di kamar itu, tutur Mahfud, setiap orang bebas bertindak sesuai aturan kamar masing-masing. Namun, begitu keluar dari kamar dan berkumpul di ruang keluarga, semua harus tunduk pada kesepakatan bersama.

“Indonesia adalah ruang besar itu, yang telah dibentuk oleh pendahulu bangsa dengan kebesaran hati. Indonesia tidak bisa diubah tata kehidupannya dengan aturan dari satu kamar saja. Ada kamar Islam, kamar Hindu, kamar Katolik, kamar Kejawen, biarkan saja. Tetapi ketika kita ketemu di lapangan perjuangan, politik, kenegaraan bernama Indonesia, kita harus bersama. Itulah yang disebut Gus Dur sebagai pluralisme,” kata Mahfud, disambut tepuk tangan hadirin.

Kita bisa menangkap, bahwa dalam hal doktrin dan internal umat bergama, kita meyakini dan mengamalkan ajaran agama masing-masing. Namun, begitu keluar dalam bingkai Indonesia dengan beraneka warna, suku, budaya dan agama, kita mesti saling menghargai dan mendekatkan persamaan-persamaan yang ada. Misalnya, persamaan bahwa semua agama mengutuk korupsi, mencintai lingkungan hidup, menolak kekerasan dll. Ruang keluarga dalam gambaran Gus Dur itu, adalah NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Demikianlah, banyak sekali warisan Gus Dur yang ditinggalkan kepada kita semua, khususnya para generasi muda.  Baik perupa tulisan, ucapan maupun perilaku yang kian hari kian dibutuhkan ditengah maraknya intoleransi dan ujaran kebencian. Upaya Mbak Alissa Wahid dengan Gusduriannya untuk terus menebar paham keberislaman yang diajarkan Gus Dur layak diacungi jempol. Jika virus itu menular pada generasi muda, persatuan dan kerukunan di Indonesia tentu takkan menjadi masalah lagi. Di masa depan, Indonesia siap memetik bonus demografi dengan karya dan pembangunan yang kongkret untuk membangun negeri.


Jurnalis NU Online.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG