IMG-LOGO
Tokoh

KH Asmoeni Iskandar, Tokoh IPNU Angkatan 54

Senin 26 Februari 2018 13:45 WIB
Bagikan:
KH Asmoeni Iskandar, Tokoh IPNU Angkatan 54
Asmoeni Iskandar. (istimewa)
Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) didirikan pada tanggal 24 Februari 1954. Mereka, yang menjadi generasi awal dalam proses berdirinya IPNU disebut juga sebagai tokoh angkatan ’54, mengacu pada tahun berdirinya organisasi pelajar NU itu.

Salah satu dari tokoh Angkatan ’54 tersebut, berasal dari Kediri, KH Asmoeni Iskandar. Nama Asmoeni Iskandar, pada awalnya kami temukan pada keterangan sebuah foto yang terdapat pada buku biografi Moh Tolchah Mansoer: Biografi Profesor NU yang Terlupakan (Caswiyono, dkk., 2009). Pada keterangan foto tersebut, Asmoeni Iskandar berdiri nomor dua dari sebelah kiri, diapit dua perwakilan dari Jombang dan Yogyakarta, M.S Cholil dan Moh Djamhari.

Berdasarkan keterangan pada foto tersebut, mulailah penulis melakukan penelusuran melalui wasilah media sosial ke beberapa aktivis IPNU Kediri. Kemudian, singkat cerita, penulis akhirnya mendapatkan sebuah kontak nomor ponsel milik salah satu kader PAC IPNU Gurah Kabupaten Kediri, Muhammad Irhason.

Dari penuturan Irhason, kemudian diketahui bahwa selama ini, sosok KH Asmoeni Iskandar sebagai salah satu pendiri IPNU di Kediri, dikenal kepada kader sebagai salah satu peserta Konferensi Lima Daerah di Surakarta pada tahun 1954.

“KH Asmoeni bin Iskandar bin Munsyarif, kita tahu beliau dari materi Lakmud. Kebetulan makam beliau di daerah saya, tepatnya di Pucang Anom. Setiap tanggal 9, kami dari PAC IPNU dan IPPNU Gurah mengadakan kegiatan ziarah ke makam beliau,” ungkap Irhason.

Dari Irhason pula, kami kemudian mendapatkan kontak Ibnu, salah satu putra KH Asmoeni Iskandar. Ibnu merupakan putra keempat sekaligus terakhir dari KH Asmoeni.

Pendiri PERPENO

Asmoeni Iskandar yang kelak mendirikan PERPENO (Persatoean Peladjar Nahdlatoel Oelama) di Kediri pada tanggal 5 Agustus 1933 di Dusun Pucanganom, Desa Sukorejo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Asmoeni merupakan putra dari pasangan H. Iskandar Munsyarif dan Hj. Aminatun.

Masa remajanya, diisi dengan menempuh pendidikan formal Sekolah Rakyat, kemudian dilanjutkan Pendidikan Guru Agama (PGA) serta menjadi santri Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Lirboyo Kediri.

“Saat mendirikan PERPENO tanggal 13 Juni 1953 beliau masih aktif sebagai santri di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’in Liboyo Kediri,” terang Ibnu.

Tak sampai setahun, PERPENO yang dirintisnya kemudian ikut melebur ke dalam IPNU, seiring dengan diresmikannya pendirian IPNU. Asmoeni pun kemudian ikut menjadi bagian dari pertemuan Konferensi Panca Daerah (Konferensi Segi Lima) pada 30 April-1 Mei 1954.

Pertemuan yang diikuti perwakilan dari lima daerah, yakni Yogyakarta, Solo, Semarang, Jombang, dan Kediri ini sebagai tindak lanjut setelah disahkannya pendirian IPNU tanggal 24 Februari 1954 pada Konferensi Nahdlatul Ulama Ma’arif di Semarang.

Selain Asmoeni Iskandar, beberapa tokoh perwakilan yang hadir dan kemudian dikenal sebagai Tokoh Angkatan ’54 yaitu Moh. Tolchah Mansoer, M. Djamhari AS, Ach. Alfatih AR (Yogyakarta), M. Shufyan Cholil, Sochib Bisri (Jombang), Mustahal Ahmad (Solo) dan Abdul Ghony Farida (Semarang), Abd Chaq, dan nama-nama lainnya.

Kepala Desa pejuang NU

Usai berjuang di IPNU, KH Asmoeni Iskandar tetap meneruskan perjuangannya di dunia pendidikan dan dakwah. Pada tahun 1961, ia mendirikan Madrasah Diniyah Salafiyah Syafi’yah, yang sekarang dikenal menjadi Madrasah Ibtida’iyah “Diponegoro” Pucanganom Sukorejo Gurah.

Kemudian, pada tahun 1967 ia bersama para Kyai dan tokoh NU lainnya se-Kecamatan Gurah mendirikan Yayasan Pendidikan “Sunan Gunung Jati” Gurah Kediri. Lembaga ini terus berkembang pesat, yang pada awalnya hanya lembaga Pendidikan Guru Agama, sekarang menjadi 3 lembaga pendidikan Madrasah Dinyah, Madrasah Tsnawiyah, dan Madrasah Aliyah.

Di tahun yang sama, KH Asmoeni Iskandar diberikan kepercayaan dan tugas oleh KH Machrus Aly Lirboyo Kediri untuk berjuang dan mengabdi di masyarakat menjadi Kepala Desa Sukorejo Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri. Ia pun dipercaya masyarakat untuk memimpin bahkan hingga 20 tahun lebihm (1967-1990).

Yang menarik, jabatan kepala desa yang ia emban, tak menyurutkan langkahnya dalam berjuang bersama NU. Tercatat ia pernah aktif di NU, mulai dari tingkatan ranting hingga cabang.

“Kami sebagai putra beliau sangat bangga atas perjuangannya dalam masyarakat danterutama perjuangan beliau dalam kepengurusan NU. Apalagi pada masa Orde Baru, di mana seorang kepala desa dalam tanda kutip tidak boleh aktif dalam organisasi NU, akan tetapi beliau tetap gigih dalam mengabdi di organisasi NahdlatulUlama,” tutur Ibnu.

KH Asmoeni Iskandar wafat di usia 72, pada Kamis, 9 Desember 2004, pukul 15.00 WIB. Jenazah salah satu tokoh perintis IPNU tersebut dimakamkan di Kompleks Pemakaman Dusun Mantren Desa Tengger Kidul Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri.

KH Asmoeni Iskandar dan para pendiri IPNU telah memberikan sebuah kontribusi penting, dengan mendirikan sebuah organisasi pelajar NU, yang keberadaan dan manfaatnya masih bisa kita saksikan dan rasakan hingga saat ini. Lahumu al-fatihah! (Ajie Najmuddin)

Sumber:
1. Wawancara Ibnu (putra KH Asmuni Iskandar), Selasa (20/2/2018)
2. Wawancara M Irhason (Aktivis IPNU PAC Gurah Kediri), Senin (12/2/2018)
3. Caswiyono, dkk, "KH Moh Tolchah Mansoer: Biografi Profesor NU yang Terlupakan", Pustaka Pesantren (2009).
Tags:
Bagikan:
Senin 19 Februari 2018 7:8 WIB
Nahrawi Abdussalam, Ulama Syafi’iyah Berkaliber Dunia asal Indonesia
Nahrawi Abdussalam, Ulama Syafi’iyah Berkaliber Dunia asal Indonesia
KH Ahmad Nahrawi Abdussalam (ist).
Siapa yang tidak mengenal Dr KH Ahmad Nahrawi Abdussalam? Ulama Syafi’iyah Internasional berpemikiran wasathiyah (moderat) dari Indonesia yang karya-karyanya kerap menjadi rujukan nasional maupun internasional.

Kisah-kisah perjalanan inspiratifnya dapat dijadikan motivasi bagi kita dalam menggapai cita-cita, teruma bagi kalangan pelajar di luar negeri untuk lebih semangat dalam menjalankan studinya.

Kiprah Nahrawi Abdussalam dibedah pada seri diskusi Islam Nusantara Center (INC) di Wisma UIN Syarif Hidayatullah di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (17/2), Amirah Nahrawi mengisahkan perjalanan gigih ayahandanya untuk dapat belajar di Al Azhar, Kairo. Dari mulai berdagang minyak kelapa hingga menjadi seorang penyiar radio.

Namun hal tersebut bukanlah semata karena urusan duniawi yang menjadi substansi dari kerja kerasnya. “Sejak kecil, ayah saya tidak diizinkan untuk sekolah di sekolahan Belanda, sehingga ia menempuh pendidikan hingga SLTA di Jamiatul Khair, Tanah Abang,” kata Amirah memulai kisah ayahnya.

Nahrawi kecil adalah sosok yang pandai, sehingga ia sering melompat dalam jenjang pendidikannya. Namun setelah lulus, berbagai kendala menghampiri sehingga keinginannya untuk kuliah pun tertunda.

Hingga akhirnya ia memutuskan untuk belajar dan bergaul dengan orang-orang di daerah maupun luar daerahnya dan bekerja sebagai penjual minyak kelapa yang mana pada saat itu penghasilannya mampu mencukupi kebutuhan selama setahun.

“Menjadi pengusaha yang sukses, tidak menjadikannya lepas begitu saja, bergaul dengan orang begitu saja, ia selalu membimbing rekan-rekannya dengan jalan yang benar sehingga ia mempunyai banyak relasi dari kota maupun luar kota,” papar anak sulung Nahrawi Abdussalam ini. 

Kesuksesan tak pernah menghilangkan keinginan untuk tetap kuliah di universitas impiannya, yakni Al Azhar Kairo. Hingga suatu ketika ia diajak oleh ibunya untuk berangkat haji dan memutuskan untuk tetap tinggal di Saudi Arab menunggu informasi pendaftaran di Al Azhar dan meninggalkan begitu saja usaha minyak kelapanya yang sukses.

Membentuk ikatan pelajar di Saudi

Di Saudi ia bertemu dengan orang-orang yang disebut sebagai ’santri’ yang kemudin menjadi kawan karib maupun kawan intelektualnya. 

“Namun ada satu hal ciri pelajar di sana, mereka sangat kesantri-santrian dan banyak dari mereka yang baru paham, sedikit keras,” lanjutnya.

Sehingga Nahrawi pun berusaha membentuk ikatan pelajar Indonesia yang bertujuan untuk membantu pelajar di Saudi untuk lebih terbuka dan lebih memahami ilmu, yang diam jadi pembicara,yang tidak pandai berpidato jadi pandai berpidato, yang beraliran keras menjadi lunak, dan yang lunak menjadi netral.

“Namun pada saat itutidak ada yang boleh membentuk ikatan apapun di Saudi,” terangnya.

Atas kepandaian Nahrawi dalam bergaul, ia mendapat bantuan oleh seorang angkatan bersenjata Saudi Arabia, Syeikh Abdul Jalil dalam pembentukan ikatan pelajar tersebut. Maka terbentuklah Ikatan Pelajar Indonesia Hijaz (IPIH).

“Di IPIH tujuan dan pola pendidikannya sangat menusantara, ia menerapkan konsep-konsep wasathiyah, sehingga semakin tahun anggotanya semakin bertambah,” jelasnya.

Sebagai pengembara, ia harus hidup mandiri. Di samping belajar, ia pun bekerja. Meski saat itu di Saudi sudah berdiri universitas yang mumpuni seperti Darul Ulum, Al Falah, dan lain-lainnya. 

Namun keinginan untuk belajar di Al Azhar tetap kuat. Dalam penantiannya itu, ia gunakan waktunya di Saudi untuk menghapal Al Qur’an yang selama dua bulan sepuluh hari sudah rampung dikhatamkan. 

“Setiap jam 12 malam ayah saya selalu belajar di bawah Hijr Ismail, di situ ia mampu menghabiskan 8 juz dalam sehari untuk menghafalkan,” terangnya.

Dua tahun di Saudi akhirnya ia dipertemukan dengan staff dari kedutaan Mesir yang kemudian menjadi jalan informasi bagi dirinya untuk dapat masuk ke Universitas Al Azhar.

Kuliah dan penyiar radio

Sesampai di Mesir Nahrawi diuji, karena tidak memiliki ijazah persamaan dari Jamiatul Khair. Dalam ujian tersebut ia dinyatakan lulus tanpa harus perbaikan. Untuk pertama kalinya ia menduduki bangku kuliah yang diimpikan yakni jurusan Syari’ah.

Pertama tinggal di Mesir, ia sempat mengalami perampokan sehingga seluruh kekayaannya hilang, namun setelah itu ia mendapat beberapa tawaran pekerjaan yang gajinya cukup tinggi, di antaranya adalah sebagai pengajar dan penyiar radio (1952-1970).

“Rutinitas ayah saat itu sangat padat, mulai pukul enam pagi berangkat ke Al Azhar kemudian langsung ke ‘Ainus Syams sebagai dosen, lalu ke radio sebagai penerjemah dan merencanakan tiap-tiap episode untuk siaran Indonesia, lalu pulang pada sore hari dan kembali lagi ke Al Azhar setelah isya’, jadi meskipun uangnya banyak tapi, ia sangat sibuk,” terang anaknya panjang lebar.

Atas semangatnya itu ia berhasil memperoleh gelar Lc (Syariah) pada tahun 1955/1956, dua tahun kemudian MA pada jurusan yang sama, dua tahun kemudian ia meneruskan pada jurusan Kehakiman dan mendapat gelar MA yang kedua, dan MA yang ketiga dalam jurusan Perbandingan Madzhab, dan MA yang ke empat pada jurusan bahasa diperoleh dari Akademi Tinggi Liga Arab, Kairo. 

Setelah lulus ia sempat pindah ke Damshkus dan kembali lagi ke Saudi sebagai penyiar dan penerjemah di radio Saudi Arabia. 

“Sebelum kembali ke Saudi, ayah saya menikahi seorang gadis cantik, mama saya,” jelasnya.

Kembali ke Saudi Arabia

Ketika di Saudi, Nahrawi hidup bahagia dengan keluarganya bahkan dikaruniai tiga anak. Namun dalam benaknya terbesit keinginan untuk kembali ke Tanah Air.

“Mengapa ingin kembali ke Indonesia? Karena saya ingin mati dan dikuburkan di tanah kelahiran saya,” kata Amirah mengutip dari ayahnya.

Sambil mempersiapkan segalanya untuk kembali, waktu luangnya di Saudi ia gunakan untuk belajar qiroat dengan salah satu ulama Al Azhar. Kepadanya ia membuat metode yang mudah, yang pada saat itu gurunya sangat  terkesan dengan metode yang ia buat. Dan metodenya pun dicetak dan digunakan sebagai metode pembelajaran di Al Azhar.

Selain itu ia juga mengembangkan hasil disertasinya yang membahas tentang aliran syafi’iyah untuk dijadikan buku, karena banyak pihak yang menginginkannya. 

“Saat bukunya dicetak, percetakanya tidak mau menggunakan nama Al Indunisiy (Indonesia) di belakang namanya, sebab ditakutkan peminatnya berkurang,” katanya.

Namun Nahrawi tetap kukuh untuk menggunakan nama Indonesia, urusan terjual atau tidaknya yang terpenting nama negaranya bisa naik. Saking cintanya pada Indonesia, ia bahkan tidak memikirkan nama kelokalan, seperti Al Banjari, Al Batawi, dan lain-lain.

Pada cetakan pertama (1989) terjual habis kurang dari dua bulan, dan ketika ingin mencetak kembali untuk yang kedua, rumah yang akan disinggahi di Indonesia sudah siap sehingga ia harus pulang ke Indonesia (1990). 

Sebelum wafat (1999), Selama 9 tahun di Indonesia, waktunya ia habiskan untuk mengabdi pada masyarakat seperti membuka majelis, mengajar di perguruan tinggi serta turut aktif dalam organisasi masyarakat seperti PBNU di mana saat itu ia berkiprah sebagai Anggota Syuriyah PBNU.

Selain mengabdi pada organisasi kemasyarakatan, ia juga menjadi Dewan Fatwa Ulama Indonesia Pusat serta aktif dalam dunia perpolitikan. (Nuri Farikhatin)
Jumat 16 Februari 2018 18:2 WIB
Dua Ajengan Ahmad Dimyati dari Bandung
Dua Ajengan Ahmad Dimyati dari Bandung
Ada dua Dimyati dari Bandung. Namanya sama persis yaitu Ahmad Dimyati sehingga harus ada nama belakang untuk membedakannya. Dua nama tersebut, yang satu berasal dari pesantren Sukamiskin  dan yang kedua berasal dari pesantren Sirnamiskin. 

Kedua Dimyati itu memiliki hubungan guru murid. KH Ahmad Dimyati Sirnamiskin merupakan santri dari KH Ahmad Dimyati Sukamiskin. Dari sisi usia memang KH Ahmad Dimyati Sirnamiskin lebih muda dari gurunya itu. Dua Dimyati ini patut dicatat karena sedikit banyak berhubungan dengan NU di Jawa Barat, khususnya Bandung. 

KH Ahmad Dimyati Sukamiskin dikenal dengan Mama Gedong. Hal itu mengacu kepada rumahnya yang telah dibangun dengan dinding tembok.  Keadaan rumah seperti itu menunjukkan status sosial dan kepemilikan harta kiai tersebut. Ia merupakan kiai keturunan bangsawan yang kaya, KH Muhammad Alqo yang mendirikan pesantren pada tahun   pesantren tersebut pernah dibom Jepang pada tahun...  

KH Ahmad Dimyati Sukamiskin adalah salah seorang pelopor ngalogat dalam bahasa Sunda.  Santri-santrinya yang kemudian menjadi tokoh NU adalah KH Zainal Mustofa Tasikmalaya. Memang sepertinya ia tidak mewajibkan santri-santrinya untuk berorganisasi di NU, karena ada juga lulusannya yang aktif di Persis dan PSSI. 

KH Ahmad Dimyati Sukamiskin meninggal dan dimakamkan di daerah Pacet, Bandung selatan, pada saat pelarian dari pengerjaran Belanda dan Jepang.  

Sampai saat ini penulis belum menemukan apakah ia tercatat sebagai pengurus NU atau bukan. Namun, yang jelas ia pernah menjadi peserta Muktamar NU keempat di Semarang pada 1929.  Ia juga pernah membela amaliyah warga NU ketika berdebat dengan A. Hasan dengan tema persoalan bid’ah.  

Putra KH Ahmad Dimyati Sukamiskin, KH Ahmad Haedar yang merupakan aktivis NU sejak muda. Ia melakukan konsolidasi NU ke daerah-daerah dengan menggunakan sepada motot Harley Davidson. Namun sayang, ia meninggal pada usia muda.  

Pesantren itu masih melanjutkan tradisi aktif di NU. Hal itu ditunjukkan oleh KH Imam Shonhaji yang pernah menjadi Rais Syuriyah PCNU Kota Bandung hingga wafatnya.   

Sementara KH Ahmad Dimyati Sirnamiskin selain nyantri kepada KH Ahmad Dimyati Sukamiskin, ia juga pernah nyantri kepada Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng. Selulus dari pesantren itu, ia mendapat tugas dari Kiai Hasyim untuk mengembangkan NU di Jawa Barat, khususnya di Kota Bandung. 

Tugas itu ditunjukkan dengan sebuah surat yang langsung ditulis Kiai Hasyim untuk KH Ahmad Dimyati Sirnamiskin. Agak aneh memang, menurut salah seorang cucu KH Ahmad Dimyati Sirnamiskin, surat itu hanya bisa dibaca oleh KH Ahmad Dimyati Sirnamiskin sendiri dan hanya bisa dibaca dengan diterangi lampu cempor (teplok) baik siang maupun malam. (Abdullah Alawi)

Ahad 4 Februari 2018 14:2 WIB
Mengenal Mahbub Djunaidi, Sang Pendekar Pena
Mengenal Mahbub Djunaidi, Sang Pendekar Pena
Oleh Ahmad Hifni

Mahbub Djunaidi adalah ketua umum pertama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Ia lahir di Jakarta pada 22 Juli 1933. Ia dikenal sebagai wartawan-sastrawan, agamawan, organisatoris, kolumnis, politikus, serta predikat baik lainnya yang disemangatkan di pundaknya. Ini bukan predikat main-main, karena ia memang seorang yang memiliki talenta luar biasa. Kritik-kritik sosial dalam tulisannya begitu tajam, begitu dalam. Tentu saja dengan ciri khas yang dimilikinya: satire dan humoris. Karena kepiawaiannya dalam menulis, ia disebut pendekar pena, bahkan Bung Karno terkesan dengannya. 

Kebiasaan menulis telah ia lakukan sejak duduk di bangku SMP. Bahkan di masa itu, cerpennya berjudul Tanah Mati dipublikasikan oleh Kisah, sebuah majalah kumpulan cerita pendek bermutu, disertai komentar dan penilaian pengelolanya HB Jassin, sang legendaris paus sastra Indonesia itu. HB Jassin sangat kagum dengan tulisan Mahbub muda. Baginya, Mahbub mampu memandang persoalan dari seginya yang kocak. Elaborasi antara humor dan satire (cemooh kocak) disertai dengan unsur kritik. Gaya tulisannya ringan dan menyenangkan, seolah-olah main-main, tetapi persoalan serius yang diangkat. 

Keberaniannya menyuarakan kebenaran dan membela wong cilik tak perlu diragukan. Sampai-sampai ia dijuluki si burung parkit di kandang macan. Ia banyak menulis, memberi perhatian dan pembelaan kepada kaum miskin. Termasuk kepada anak-anak pedagang asongan dan para pengemis cilik di persimpangan-persimpangan jalan. Ia dikenal sebagai pribadi yang ringan ceria, kocak berolok. Baginya semua orang tak ada bedanya, tidak bermartabat lebih tinggi dan lebih rendah, hanya karena jabatan dan pekerjaannya. Lapisan pergaulannya sangat luas, dan semua disapa dengan Anda, dengan saudara, dengan bung. 

Di dunia sastra, Mahbub sangat menyenangi sastra Rusia karena dalam penilaiannya, sastrawan Rusia banyak melahirkan karya sastra yang sarat dengan kritik tajam dan dituturkan secara satire. Humor-humor kecil menjadikan kritik-kritik tersebut terkesan lucu. Pandangan dan kesukaannya inilah yang banyak memengaruhinya untuk memproduksi tulisan yang mengandung humor tinggi. Tak heran jika sebagian besar kolom Mahbub berisi masalah-masalah politik dan sosial tetapi penyajiannya bernilai sastra. 

Tulisan-tulisannya yang sarat humor ini membuat siapapun yang terkena tidak merasa sakit hati, malahan menimbulkan guncangan yang tak perlu. Tak bisa dimungkiri, unsur kejenakaan dalam tulisannya membuat pembaca tertawa dalam keadaan serius. Apalagi ia mampu menyajikan efek haru yang syarat emosional. Menghibur dan menggugat, melecut tawa dan menorehkan kepedihan, itulah humor pada kadar tertingginya. Mahbub berhasil memunculkan paradoks humor itu.

Mahbub pernah memimpin sejumlah media masa, juga menulis dan menerjemahkan puluhan buku. Ia juga dikenal sebagai wartawan yang gigih dan bekerja keras dan konsisten untuk sejauh mungkin memelihara kewartawanan serta organisasi wartawan sebagai profesi dan organisasi yang mandiri. Sejak menjadi wartawan, ia memiliki rutinitas setiap hari menyelesaikan tulisan tajuk rencana koran dalam waktu relatif cepat, sekitar 1-2 jam. Kadang dibuatnya satu, kadang dua buah sekaligus. Itu dilakukannya sendiri, bertahun-tahun. 

Bahkan, sejak 23 November 1986 sampai 8 Oktober 1995, ia menulis rutin setiap minggu untuk rubrik Asal Usul di koran harian Kompas. Rubrik ini mensyaratkan tulisan yang amat ketat. Tulisan-tulisannya di rubrik ini disinggung dan dipaparkan secara ringan dan lebih menekankan pada sisi humornya. Rintangan tulisan yang penuh syarat ini mampu dipenuhi Mahbub. Selama 9 tahun menulis di rubrik ini, ia telah menulis 236 buah tulisan. Kenapa Mahbub bisa memenuhi syarat tulisan yang relatif sulit ini? karena dalam dirinya sudah ada tiga ciri menonjol: politikus, wartawan dan humoris. 

Dalam salah satu tulisannya di harian Duta Masyarakat, Mahbub mengemukakan pendapatnya bahwa Pancasila mempunyai kedudukan lebih sublim dibanding Declaration of Independence susunan Thomas Jefferson yang menjadi pernyataan kemerdekaan Amerika Serikat tanggal 4 Juli 1776, maupun dengan Manifesto Komunis yang disusun oleh Karl Marx dan Friedrich Engels tahun 1847. Tulisan itu dibaca Bung Karno, dan karena tulisan itu Bung Karno takjub kepadanya dan tulisan-tulisannya.

Di luar kegiatan tulis menulis, Mahbub pernah bergabung dengan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) selagi masih duduk di SMA. Pada tahun 1960, ia terpilih menjadi ketua umum PMII. Selama menjadi ketua umum PMII, Mahbub berusaha dengan sungguh-sungguh menjadikan PMII wadah pembentukan kader, sebagaimana diamanatkan kepadanya oleh Musyawarah NU seluruh Indonesia. Salah satu cara membentuk jiwa dan menempa semangat kader adalah melalui lagu-lagu, khususnya lagu mars organisasi. Dia sendiri menyusun lirik lagu mars PMII, lagu yang dinyanyikan pada setiap kesempatan dan pada saat akan memulai acar penting PMII, hingga sekarang. 

Setelah aktif sebagai ketua Umum PMII, Mahbub diminta membantu pengembangan Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor). Ia sempat duduk sebagai seorang ketua pucuk pimpinan organisasi kader NU untuk kalangan pemuda itu. Dan untuk organisasi ini pula Mahbub menulis lirik lagu marsnya yang tetap digunakan hingga sekarang. Di dalam organisasi NU sendiri, Mahbub pernah duduk sebagai salah seorang wakil ketua PBNU. Ia juga pernah mewakili NU menjadi anggota DPR-GR/MPRS.

Di sekitar waktu Pemilu 1977, Mahbub aktif keluar masuk kampus memenuhi undangan mahasiswa untuk memberikan ceramah, diskusi, dan menyampaikan makalah. Akibat kegiatan itu, tanpa kejelasan, Mahbub ditahan pihak berwajib selama setahun. Tanpa jelas apa salahnya karena tidak pernah diproses melalui pengadilan. Sejak penahan itu, Mahbub tidak pernah sehat sepenuhnya lagi. Hari Raya Idul Fitri tahun itu, Mahbub masih berada di rumah sakit dalam status tahanan. Anak istrinya datang dan berlebaran bersama di kamar yang sempit itu. Mengenang manisnya berkumpul keluarga dan ingin memberi pegangan anak-istrinya, ia menulis surat: 

“Alangkah bahagianya papa berlebaran bersamamu semua, walaupun tidur berdesakan di lantai. Ketahuilah, kebahagiaan itu terletak di dalam hati, bukan pada benda-benda mewah, pada rumah mentereng dan gemerlepan. Benda sama sekali tak menjamin kebahagiaan hati. Cintaku kepadamu semuanya yang membikin hatiku bahagia. Hati tidak bisa digantikan oleh apapun. Hanya kejujuran, kepolosan, apa adanya yang bisa mengingat hatiku. Bukan hal-hal yang berlebihan.”

Mahbub meninggal dunia  pada 1 Oktober 1995. Indonesia mesti bersyukur karena dalam sejarah republik ini, pernah hadir tokoh luar biasa dan multi talenta, yang sampai saat ini nyaris belum dijumpai tokoh sekaliber Mahbub. 


Penulis adalah alumnus Content Creator Wahid Foundation, mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG