IMG-LOGO
Pustaka

Bineka Embrio Indonesia

Rabu 28 Februari 2018 19:29 WIB
Bagikan:
Bineka Embrio Indonesia
Adagium yang begitu masyhur di Nusantara yang diutarakan oleh Mpu Tantular dalam Kitab Sutasoma yaitu Bhinneka Tunggal Ika (berbeda-beda tapi tetap satu). Mpu Tantular yang hidup pada abad ke-14 di Majapahit adalah seorang pujangga ternama Sastra Jawa. Ia hidup pada pemerintahan Raja Rajasanagara (Hayam Wuruk).

Bhinneka Tunggal Ika merupakan sebuah frasa yang terdapat dalam Kakawin Sutasoma. Kakawin sendiri berarti syair dengan bahasa Jawa kuno. Kakawin Sutasoma merupakan karangan Mpu Tantular yang dituliskan menggunakan bahasa Jawa kuno dengan aksara Bali.

Bisa dibayangkan, pada tahun 1300-an atau abad ke-14 tersebut, seorang Mpu Tantular sudah menyadari keberagaman masyarakat Nusantara zaman Majapahit dulu. Pandangan ini bukan semata khayalan seorang penyair dan sastrawan, tetapi hasil perenungan mendalam Mpu Tantular terkait realitas sosial-masyarakat kala itu.

Tulisan ini tidak bermaksud menerangkan histori Mpu Tantular. Namun, mengawali ulasan buku Merawat Kebinekaan: Pancasila, Agama, dan Renungan Perdamaian karangan Munawir Aziz ini agaknya tepat ketika mengingat kembali sosok Mpu Tantular, sang pencetus Bhinneka Tunggal Ika yang saat ini digenggam erat oleh lambang negara Garuda serta bangsa Indonesia.

Dalam beberapa kesempatan, penulis resensi ini seringkali mengungkapkan bahwa krisis identitas sebuah bangsa salah satunya disebabkan oleh generasinya yang tidak mau atau bisa jadi tidak paham sejarah bangsanya. Sejarah bangsa dari Republik ini telah dilalui banyak era dan masa. Di mana pada masa-masa itu menghasilkan banyak peradaban, tradisi, maupun kebudayaan.

Penulis resensi teringat konsepsi peradaban dari sejarah bangsa Indonesia yang diutarakan oleh Prof KH Said Aqil Siroj, Man laisa lahu ardl, laisa lahu tarikh. Wa man laisa lahu tarikh, laisa lahu dzakiroh (barangsiapa tidak punya tanah air, maka tidak punya sejarah. Barangsiapa tidak punya sejarah, maka akan terlupakan).

Sejarah bangsa yang dikenal eklektik ini harus menjadi pijakan para generasi muda sebagai modal merawat kebinekaan yang dimaksud Munawir Aziz dalam buku yang tebalnya 220 halaman itu. Betapa banyak peradaban fisik dan nonfisik yang dikreasikan bangsa Indonesia. Peradaban yang dimaksud tersebut bukan hanya karya material dan pemikiran semata, tetapi mewujud sebagai sebuah kebudayaan.

Jika peradaban dimaksudkan adalah sebuah karya, maka kebudayaan adalah nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Setiap peradaban yang diciptakan oleh bangsa Nusantara di sejumlah masa tidak lepas dari nilai-nilai adiluhung yang harus mampu dipahami oleh generasi bangsa masa kini (milenial). Apalagi, tantangan merawat peradaban bangsa sebagai modal menjaga kebinekaan mendapat resisten deras dari perkembangan peradaban modern saat ini: dunia digital.

Maka, hadirnya buku Merawat Kebinekaan ini tidak hanya tetap merawat memori kolektif akan identitas orisinal bangsa Indonesia, tetapi juga sebagai upaya peneguhan negara lewat pengamalan nilai-nilai Pancasila; tidak hanya semangat beragama, tetapi juga harus dibarengi dengan kemampuan memahami agama; juga menegakkan perdamaian yang selama ini terjaga dengan baik antaranak bangsa.

Buku ini tidak hanya apik meramu konteks kehidupan dan realitas sosial kekinian, tetapi juga mengaitkannya dengan informasi-informasi sejarah. Seakan, dari setumpuk problem yang kini mendera bangsa Indonesia, penulis buku ingin mengajak masyarakat belajar terhadap sejarah panjang yang telah dilalui bangsa Nusantara agar tidak gagap atau bahkan krisis identitas. Apalagi sampai menggerus kebinekaan yang selama ini sudah terajut dengan baik.

Masyarakat tentu paham dengan salah satu pembesar Kerajaan Majapahit, Patih Gadjah Mada. Politik Majapahit memang kala itu ingin ‘memeluk’ Nusantara secara keseluruhan dalam kerajaan agungnya. Salah satu langkahnya, Gadjah Mada terobsesi menyatukan Nusantara dengan Sumpah Palapanya.

Menurut penulis buku, Sumpah Pemuda lahir sebagai bentuk pengabdian, pernyataan, pengharapan, dan pembuktian. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Gadjah Mada dalam Kitab Negarakertagama anggitan Mpu Prapanca yang dikutip penulis buku dari Slamet Muljana (Menuju Kemegahan, 2015):

Gadjah Mada berujar: “jika telah berhasil menundukkan Nusantara, saya baru akan istirahat. Jika Gurun (Lombok), Seran (Seram), Tanjung Pura (Kalimantan), Haru (Sumatera Utara), Pahang (Malaya), Dompo, Bali, Sunda, Sriwijaya (Palembang), Tumasik (Singapura) telah tunduk, saya baru akan istirahat.”

Sumpah ini diucapkan sebagai janji sepenuh hati oleh Patih Gadjah Mada pada 1256 Saka atau 1334 Masehi yang diungkap penulis buku di halaman 42. Terlepas dari tujuan politik Kerajaan Majapahit, gagasan penyatuan Nusantara bukan hanya ambisi semata, tetapi juga renungan mendalam bahwa bangsa Nusantara merupakan kumpulan masyarakat yang meskipun berbeda-beda, tetapi mempunyai karakteristik yang sama. Di titik ini, penulis resensi teringat pernyataan Gus Dur, “Semakin berbeda kita, semakin kita mengetahui titik-titik persatuan kita.” (Wisdom Gus Dur, 2014). 

Salah satu karakteristik bangsa Nusantara ialah berpikiran terbuka (eklektik). Sebab itu, meskpiun Hindu dan Budha adalah agama yang ada terlebih dahulu sebelum Islam, tetapi ketika para Sufi masuk ke Nusantara membawa misi dakwah, masyarakat Nusantara tidak begitu saja menolak. Bahkan, dengan dakwah yang ramah dan substantif, para sufi yang juga dikenal sebagai Wali Songo itu berhasil menyebarluaskan ajaran Islam dengan damai.

Merunut dakwah yang dilakukan oleh Wali Songo tersebut, mereka juga tetap menjaga kebinekaan yang telah berlangsung di tengah masyarakat. Tradisi dan budaya yang secara substansi syariat (maqashidus syariah) tidak bertentangan dengan ajaran Islam, tidak mereka tolak dan tidak mereka berangus.

Justru Wali Songo menggunakan tradisi dan budaya yang berkembang di masyarakat sebagai instrumen dakwahnya. Logika sederhananya, untuk mengganti air kotor yang ada di dalam gelas, tidak harus mengahncurkan gelasnya.

Sebab itu, keberagaman tradisi, budaya, suku, bangsa, etnis, ras, maupun keyakinan agama yang telah menjadi ciri khas bangsa Indonesia harus tetap terjaga. Meminjam Gus Dur, Indonesia lahir karena perbedaan, tanpa ada perbedaan tak ada Indonesia. Karena bineka adalah embrio Indonesia. Selamat membaca!

Identitas buku:
Judul: Merawat Kebinekaan: Pancasila, Agama, dan Renungan Perdamaian
Penulis: Munawir Aziz
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Cetakan: Pertama, 2017
ISBN: 978-602-04-5100-8
Tebal: xvii + 220 halaman
Peresensi: Fathoni Ahmad
Bagikan:
Selasa 20 Februari 2018 17:19 WIB
Bekal Berumah Tangga dari KH Hasyim Asy’ari
Bekal Berumah Tangga dari KH Hasyim Asy’ari
Tradisi akademik dalam bentuk menulis buku dan kitab telah berabad-abad diwariskan oleh para ulama pendahulu. Begitu juga yang dilakukan oleh salah seorang Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari (1871-1947). Ia menulis puluhan kitab fiqih dan hadits yang menjadi kepakarannya.

Berdasarkan proses tashih dan pengumpulan yang dilakukan oleh KH Ishomuddin Hadziq (cucu KH Hasyim Asy’ari), kakek Gus Dur tersebut telah menulis sebanyak 20 buah kitab. Termasuk kitab Dhau’ al-Misbah fi Bayani Ahkam an-Nikah yang diterjemahkan oleh Yusuf Suharto, kiai muda kelahiran Banyuwangi yang saat ini tinggal di Jombang.

Dari terjemahan kitab Dhau’ al-Misbah fi Bayani Ahkam an-Nikah yang diberi judul Nasehat Pernikahan Sang Kiai: Bekal Utama Mengarungi Bahtera Rumah Tangga ini, Yusuf Suharto berupaya menyebarluaskan karya Kiai Hasyim Asy’ari kepada masyarakat luas agar ajaran-ajarannya juga membumi, tidak hanya di kalangan pesantren.

Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Langgar Swadaya ini memuat penjelasan Kiai Hasyim Asy’ari terkait dengan hukum-hukum nikah, rukun, dan hak-hak dalam perkawinan. Kitab yang ditulis oleh ayah KH Wahid Hasyim ini sangat ringkas. Setelah diterjemahkan dalam bentuk buku hanya memuat 71 halaman.

Tetapi, masyarakat perlu mengetahui sebab-musabab kenapa Kiai Hasyim Asy’ari menuliskan kitab nikah sebegitu singkatnya. Dalam muqaddimahnya, setelah mengucap rasa syukur dan menyampaikan shalawat kepada Nabi Muhammad, Kiai Hasyim Asy’ari memberikan penjelasan:

Inilah risalah yang berisikan beberapa hukum pernikahan. Adapun yang mendorong saya menulis risalah ini adalah banyaknya orang awam di negeri saya ini yang hendak menuju jenjang pernikahan tetapi tidak mempelajari terlebih dahulu syarat, rukun, dan etikanya. Padahal bagi mereka mempelajari semua itu adalah wajib.

Saya sempat mengamati penyebabnya mengapa mereka tidak mempelajari rukun, syarat, dan etika pernikahan. Ternyata penyebabnya adalah pembahasan pernikahan berada dalam kitab-kitab besar dan berjilid-jilid. Akibatnya mereka tidak bersemangat mempelajarinya.

Itulah penggalan dua paragraf dari muqaddimah kitab Dhau’ al-Misbah fi Bayani Ahkam an-Nikah yang diutarakan oleh Kiai Hasyim Asy’ari. Di situ jelas sekali ditulis bahwa Kiai Hasyim berupaya menyajikan hal-hal yang berkaitan dengan kewajiban nikah dalam bentuk risalah atau kitab yang lebih singkat sehingga mudah dipahami dan dimengerti oleh masyarakat luas.

Tentu Kiai Hasyim Asy’ari menyarikan risalah singkat ini dengan merujuk kepada kitab-kitab karya ulama yang tebal dan berjilid-jilid. Buku ini layaknya seorang dosen menyusun diktat kuliah bagi para mahasiswanya berdasar sumber-sumber primer. Namun, bukan berarti masyarakat tidak perlu mempelajari lebih jauh lagi keterangan para ulama dari kitab-kitab yang berjilid-jilid itu.

Orang awam yang dimaksud Kiai Hasyim Asy’ari tentu masyarakat zaman dulu, ketika mereka belum memiliki kesadaran kuat dalam mempraktikkan ibadah sesuai syariat Islam, yaitu pernikahan. Bagi kaum santri dan kalangan pesantren, mempelajari syariat berdasarakan kajian berbagai kitab mungkin sudah terbaisa. Tetapi bagi masyarakat awam, seorang ulama harus pandai menyiasati dakwahnya, baik dakwah dalam bentuk lisan maupun tulisan.

Dari sudut pandang demikian, Kiai Hasyim Asy’ari tidak hanya mumpuni dalam keilmuan agama Islam, tetapi ia juga memahami kondisi sosial masyarakatnya sehingga dakwah yang berusaha disampaikannya mudah diterima dan dipahami.

Kiai Hasyim tidak mau membandingkan antara kemampuan dan ghirah (semangat, motivasi) santri dalam menuntut ilmu agama dengan masyarakat yang membutuhkan sajian praktis dalam memahami ilmu agama. Sebab itulah risalah singkat tentang syarat, rukun, dan etika pernikahan ini merupakan pegangan yang sangat penting bagi masyarakat umum.

Karena diperuntukkan bagi masyarakat umum, buku ini tidak hanya berlaku bagi masyarakat pada konteks ketika kitab ini ditulis, namun tetap menjadi rujukan penting bagi masyarakat sekarang. Yakni bagaimana seorang Kiai Hasyim Asy’ari, sang pemilik sanad ke-14 dari Kitab Shahih Bukhori Muslim ini menyajikan keterangan dan dalil terkait pernikahan.

Keterangan dan dalil yang disajikan oleh Kiai Hasyim merujuk pada kitab-kitab babon (besar) seperti Kitab al-Um karya Imam Syafi’i dan Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali. Karena risalah ini tidak hanya memuat syarat dan rukun, tetapi etika, hak dan kewajiban suami-istri dalam berumah tangga. Selamat membaca!

Identitas buku:
Judul: Nasehat Pernikahan Sang Kiai: Bekal Utama Mengarungi Bahtera Rumah Tangga
Penerjemah: Yusuf Suharto
Penerbit: Langgar Swadaya Depok
Cetakan: Pertama, 2015
ISBN: 978-979-16662-7-5
Peresensi: Fathoni Ahmad
Selasa 20 Februari 2018 14:30 WIB
Ikhtiar Mencari Jalan Menuju Allah
Ikhtiar Mencari Jalan Menuju Allah
“Dul, apa yang sebenarnya kamu cari dalam hidup ini?” tanya Pardi pagi itu.
“Apa ya… Kebahagiaanlah…”
“Memang di dunia ini ada kebahagian, Dul….”
“Ndak tahu, tapi saya ingin begitu.”
“Kamu sudah pernah dapatkan?”

Dulkamdi terdiam lama, tak bisa menjawab.

“Kenapa kamu bertanya begitu, Di?”
“Habis tujuan hidupmu mengambang begitu…”
“Mungkin kamu benar Di, selama ini saya mengambang saja. Dunia juga dapat segini-segini saja. Akhirat tambah gak jelas. Utang di dunia banyak, apalagi di akhirat…”” (hal. 33).

Dialog di atas merupakan kutipan dari buku terbaru KH Luqman Hakim yang berjudul Jalan Makrifat. Buku tersebut berisi kumpulan tulisan tentang bagaimana berbagai kondisi sosial-kemasyarakatan dan keagamaan ditinjau dari perspektif Tasawuf serta dibingkai dengan kisah-kisah sederhana ala warung kopi. Namun walaupun sederhana tetap menyimpan makna yang begitu dalam.

Bagi mereka yang pernah membaca buku berjudul Kedai Sufi Kang Luqman karya penulis yang sama yang terbit beberapa tahun silam akan merasakan kesamaan dari segi nuansa dan gaya penulisan. Tokoh-tokoh di dalamnya juga sama yaitu Kang Soleh, Dulkamdi, dan Pardi.

Hal itu karena buku ini memang kelanjutan dari buku Kedai Sufi Kang Luqman. Namun tentu saja topik dan isu yang diangkat tidaklah sama karena penulisnya selalu menghubungkan dengan isu-isu yang sedang berkembang dan actual di tangah masyarakat.

Seperti judulnya Jalan Makrifat, buku ini menjelaskan bagaimana cara menjalani kehidupan sehari-hari agar kita senantiasa dalam ridho Allah SWT. Bahkan dalam situasi tersulit sekalipun kita tetap diingatkan mawas diri agar tidak terjerembab dalam sikap-sikap yang justru membuat Allah marah kepada kita.

Jalan menuju keridhoan Allah tentu bukan jalan yang mudah. Butuh banyak pengorbanan yang harus dilalui, karena sesuatu yang berharga tentu tidak akan diperoleh dengan cara yang mudah.

Tidak jarang dalam perjalanannya, seseorang yang berusaha mencari keridhoan Allah mengalami perasaan lelah dan putus-asa. Oleh karenanya dibutuhkan kesabaran dalam menjalaninya.

Lalu mereka yang tidak sabar dalam menjalaninya kemudian mencari jalan pintas dan instan menuju keridhoan Allah. Mereka mengira jalan itulah jalan makrifat, padahal mereka salah.

Lewat buku ini kita diingatkan bahwa, “Nah, sekarang ini banyak orang menempuh jalan makrifat, sedangkan ia sendiri tidak kenal ma’rifat, apalagi mengenal Yang Di-makrifati (Allah), ini bias kesandung-sandung iman kita. Pokoknya kalau isinya serba instan, serba menggiurkan, dan berselera sama dengan nafsu kita, nah itu pasti bukan Jalan Ma’rifatulah,” lanjut Kang Soleh (hal. 3).

Selain itu dalam buku ini pembaca diajak untuk mengambil jarak terhadap realitas yang sedang terjadi untuk kemudian merenunginya. Seperti dialog di awal tulisan ini antara Pardi dan Dulkamdi. Kita diajak untuk merenungi arti kebahagian, juga tujuan hidup manusia sesungguhnya. Lalu ujungnya adalah pengakuan mengkhawatirkan dari Dulkamdi yang bisa dilihat dari kalimat:

“Mungkin kamu benar Di, selama ini saya mengambang saja. Dunia juga dapat segini-segini saja. Akhirat tambah gak jelas. Utang di dunia banyak, apalagi di akhirat…” Kalimat yang membuat pembaca akan tersentak dan bertanya, apa yang telah saya dapatkan di dunia ini? Dan apakah yang saya dapatkan di dunia ini bermanfaat di akhirat kelak?

Dengan kata lain pembaca diajak untuk kembali kepada hakikat kehidupan, kepada makna dasarnya di mana kita hidup dan berproses di dalamnya. Di saat hidup yang kita tinggali semakin memuja kesementaraan dan kedangkalan, kita didesak untuk kembali berpikir, siapa diri kita? Apa tujuan kita? Siapa sesungguhnya yang kita jadikan panutan? Bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan ini?

Dengan begitu arah dan tujuan hidup kita menjadi jelas karena pikiran dan sikap kita jernih dalam memahami peristiwa.

Oleh karena itu penting kiranya bagi seseorang untuk ‘mengambil jarak’ dengan kehidupan sehari-hari. Bukan untuk mengingkari atau menegasikan kehidupan itu sendiri, melainkan untuk melihat diri sendiri secara lebih terang dan jelas.

Selain itu, dialog dalam buku ini juga mengajak kita untuk memahami hubungan kita sebagai seorang hamba dengan Allah sebagai Sang Pencipta. Seperti dialog dalam tulisan berjudul Rela Makrifat Gusti Allah antara Pardi dan Dulkamdi.

“Kamu sudah kenal Gusti Allah Dul?” Tanya Pardi tiba-tiba ketika fajar mulai menyingkap semesta.

“Wah, pertanyaanmu kok nganeh-nganehi Di…”

“Lha wajar to, Allah sudah kita sembah bertahun-tahun, jangan-jangan kita nggak kenal…”(hal. 93).

Dialog di atas meskipun terdengar sederhana akan tetapi membutuhkan jawaban yang tidak sederhana. Dibutuhkan perenungan mendalam serta ketekunan dalam mengkaji ayat-ayat Allah, baik qauliyah ataupun kauniyah.

Dengan begitu, merawat iman tidak hanya dengan cara memeliharanya. Namun juga dengan cara membongkarnya melalui pertanyaan-pertanyaan sederhana untuk kemudian disusun kembali. Dengan cara demikian diharapkan iman dapat diperbaharui dan menjadi murni kembali.

Kira-kira itulah pentingnya buku ini dibaca, oleh siapa saja yang ingin untuk dapat selalu berpikiran jernih dan terus berusaha tanpa lelah dan putus asa mencari kebenaran Ilahiah di tengah situasi sosial yang karut-marut. Wallahu a’lam

Identitas buku:
Judul: Jalan Makrifat
Penulis: KH M. Luqman Hakim
Penerbit: Cahaya Sufi
Cetakan: Pertama, 2017
Tebal: 132 halaman
Peresensi: Tufail Muhammad, Alumnus Ponpes Tebuireng Jombang.
Rabu 7 Februari 2018 11:48 WIB
Sketsa Kebangsaan Gus Dur
Sketsa Kebangsaan Gus Dur
Malam itu sekitar tahun 1980-an, gadis kecil bernama Zannuba Arifah Chafsoh Rahman dipangku ayahnya, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Bukan sedang menikmati suasana malam atau pun rekreasi, tetapi sedang mengomandani amal bakti berupa penggalangan dana untuk rakyat Palestina.

Gadis kecil yang saat ini akrab disapa Yenny Wahid itu mengungkapkan, saat itu ayahnya mengenakan kaos bertuliskan “Palestina”. Kala itu, Gus Dur menggelar pengumpulan dana dan aksi simpati terhadap warga Palestina bersama para tokoh dan sejumlah seniman, di antaranya Sutardji Calzoum Bachri.

Simpati kemanusiaan terhadap sebuah bangsa, terutama kelompok tertindas dan lemah (mustadh’afin) adalah salah satu persoalan pokok yang menjadi perhatian Gus Dur. Apapun agama, keyakinan, bangsa, etnis, rasnya bukan menjadi pembatas bagi Gus Dur untuk melindungi mereka, baik yang di dalam negeri maupun peran kebangsaannya di luar negeri.

Peran dan pergaulannya yang luas membuat setiap orang mempunyai kesan mendalam terhadap Gus Dur. Bahkan, kasih sayangnya yang tercurah kepada semua manusia membuatnya terus dikenang oleh setiap elemen bangsa ketika dirinya telah tiada. Bahkan, Soka University Tokyo milik Soka Gakkai yang didirikan Daisaku Ikeda hingga saat ini masih menjadikan Gus Dur sebagai ikon penggerak kebudayaan modern.

Pengalaman, testimoni, dan kesaksian terhadap pribadi Gus Dur memang sudah banyak dibicarakan para tokoh nasional dan lokal, bahkan internasional. Tetapi dalam buku berjudul Gus! Sketsa Seorang Guru Bangsa terbitan Elex Media Komputindo berupaya menghadirkan sebuah sketsa berbeda yang coba dihadirkan para tokoh dari berbagai bidang dan kalangan untuk memberikan testimoni yang selama ini belum banyak terungkap mengenai pribadi Gus Dur dari berbagai sudut pandang.

Ada 20 orang dalam buku ini yang menuliskan pengalamannya dengan apik sehingga pembaca dibawa larut ke dalam kisah-kisah Gus Dur berdasarkan interaksi langsung (direct interaction) dengan sang guru bangsa.

Mitsuo Nakamura misalnya. Profesor Emeritus bidang Antropologi pada Universitas Chiba Jepang yang banyak menekuni isu-isu kontemporer Indonesia ini mengungkapkan, saat dirinya mengajak jalan Gus Dur bersama istrinya Shinta Nuriyah berkeliling ke Kota Kamakura di Jepang. 

Dalam perjalanan tersebut, Mitsuo Nakamura yang tidak lain orang Jepang sendiri merasa kalah dengan pengetahuan Gus Dur tentang sejarah kota kuno yang pernag menjadi ibu kota Kerajaan Jepang pada abad ke-12 itu, dan diancam oleh invasi tentara Mongol. Selain itu, Gus Dur ingat betul detail-detail novel Shogun dan film Kurosawa Ran. “Kebanyakan pertanyaan Gus Dur tentang dua karya seni itu melampui kemampuan saya untuk menjawab,” ungkap Nakamura.

Testimoni pribadi Gus Dur juga datang dari Habib Saggaf bin Mahdi, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Iman Parung, Bogor, Jawa Barat. Habib Saggaf pernah berinteraksi langsung dengan Gus Dur ketika dirinya diminta bantuan oleh Yenny Wahid untuk membujuk dan menaihati Gus Dur agar mau melakukan proses cuci darah.

Misi tersebut berupaya dibawa Habib Saggaf dengan sejumlah jurus agar dapat meyakinkan Gus Dur untuk mau cuci darah. Singkat cerita, Habib Saggaf yang disapa Gus Dur dengan sebutan Habib Parung ini berhasil membujuk. Namun, di tengah-tengah obrolan di kediaman Gus Dur tersebut, Habib Saggaf terkesan dengan sikap hangat dan lontaran humor-humor segar dari mulut Gus Dur.

Selain itu, Habib Saggaf juga menceritakan pengalamannya bertemu dengan Gus Dur dalam mimpi dan sosok Gus Dur yang menurutnya adalah salah satu contoh orang yang dicintai Allah SWT dan manusia dari berbagai kalangan. Dalam mengelola pesantren dan aktivitas sosialnya, Habib Saggaf juga banyak mengambil pelajaran dari Gus Dur sebagai manusia yang dekat dengan siapa saja.

Ketika disarikan satu per satu, tentu ruang resensi ini terlalu panjang untuk dibaca. Termasuk pengalaman bersama Gus Dur dari seorang Dorce Gamalama, Inul Daratista, KH Imam Ghazali Said, Don Bosco Selamun, Acep Zamzam Noor, Ahmad Tohari, Franz Magnis Suseno, Jaya Suprana, Al-Zastrouw Ngatawi, dalan lain-lain yang diungkapkan dalam buku setebal 202 halaman ini.

Semakin banyak terungkap sikap, pemikiran, dan hal-hal lain terkait Gus Dur, semakin banyak pula pundi-pundi kebijaksanaan (wisdom) dari sang guru bangsa yang perlu diungkap, ditulis, dan diterapkan secara luas. Hal ini berangkat dari sketsa Gus Dur dalam kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara yang cakupannya tidak hanya para tataran lokal dan nasional, tetapi juga pada ranah global.

Karena Gus Dur juga aktif merajut benang-benang perbedaan yang masih tercecer di setiap belahan dunia untuk mewujudkan persatuan kemanusiaan dalam kain perdamaian. Saat masih aktif sebagai pelajar dan santri di Indonesia, Gus Dur kecil sudah mampu melahap sejumlah buku-buku bacaan tidak ringan bagi anak seumurannya. Begitu juga dengan kajian berbagai kitab kuning karya para ulama yang menurutnya mempunyai daya bahasa dan sastra yang luar biasa.

Saat aktif menjadi mahasiswa di Kairo dan Baghdad, pengembaraan ilmunya tidak hanya ia dapat dari buku, tetapi juga berusaha memahami kehidupan sosial, budaya, dan sejarah yang melingkupinya. Yang turut menciptakan kuatnya Gus Dur adalah pergaulannya yang sangat luas ketika itu. Turut aktif di dunia luar dan bertemu banyak orang bagi Gus Dur tidak akan ia dapatkan ketika hanya belajar di dalam kampus.

Gerakan sosialnya antara lain ia goreskan ke dalam tulisan demi tulisan yang beredar di sejumlah koran, jurnal, seminar-seminar, dan pertemuan ilmiah lainnya. Bahkan, tidak sedikit pemikirannya yang dituangkan dalam bahasa Inggris ketika ia mengisi di sejumlah forum internasional. Bagi Gus Dur, gerakan nyata untuk mengubah tatanan sosial, agama, budaya, dan lain-lain ke arah yang lebih baik akan tersampaikan dengan lengkap ketika gerakan tersebut juga diiringi dengan aktivitas menuangkan pemikiran dalam bentuk tulisan.

Gerakan-gerakan Gus Dur berlanjut ketika dirinya diamanahi menjadi Presiden Republik Indonesia pada 1999. Gerakan merajut kebangsaan diperluas oleh Gus Dur ke dalam ranah global. Hal itu ia upayakan dengan melakukan diplomasi budaya. Bukan diplomasi politik yang ndakik-ndakik, njlimet, dan formalistik, tetapi diplomasi yang penuh humor dan kopi. Hal itu ia lakukan dengan sejumlah pemimpin besar dunia.

Gus Dur adalah sebuah sketsa. Jika setiap orang mampu melihat kasih sayang, agama yang ramah, persatuan yang kokoh, kebersamaan dalam berbangsa, membela yang lemah dan tertindas, menegakkan hak-hak kemanusiaan, beragama secara substansial, kejeniusan, penuh humor cerdas, serta  kepemimpinan yang kokoh mengayomi, maka goresan-goresan itu akan tertuju pada sketsa yang jelas bernama KH Abdurrahman Wahid, Gus Dur. Selamat membaca!

Idenitas buku:

Judul: Gus! Sketsa Seorang Guru Bangsa
Editor: Alamsyah M. Djafar dan Wiwit R. Fatkhurrahman
Penerbit: Elex Media Komputindo (Kompas Gramedia)
Cetakan: Pertama, 2017
ISBN: 978-602-04-4729-2
Tebal: 202 + xvii halaman
Peresensi: Fathoni Ahmad
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG