IMG-LOGO
Trending Now:
Daerah

Penulis 'HTI: Gagal Paham Khilafah' Ungkap Pentingnya Membaca sebagai Bekal Menulis


Jumat 2 Maret 2018 17:00 WIB
Bagikan:
Penulis 'HTI: Gagal Paham Khilafah' Ungkap Pentingnya Membaca sebagai Bekal Menulis
Pekan Edukasi Siswa Siswi MAN, Bekasi (2/3)
Bekasi, NU Online
Untuk bisa menulis, hal pertama yang dilakukan adalah membaca. Siapa pun yang tidak pernah membaca, jangan pernah berkhayal untuk bisa menjadi penulis. Dalam membaca, terdapat dua hal yang harus diperhatikan; yakni, kosongkan pikiran, dan hadirkan keraguan kepada teks yang sedang dibaca. 

Hal tersebut disampaikan penulis muda berbakat Makmun Rasyid saat memberi motivasi dalam kegiatan Pekan Edukasi Siswa Siswi (Perkusi) Madrasah Aliyah Negeri (MAN) se-Jawa Barat, di Gedung Muzdalifah, Asrama Haji Kota Bekasi, Jawa Barat, Jumat (2/3).

"Mengosongkan pikiran berarti merasa bahwa diri ini adalah bodoh. Tidak punya ilmu apa-apa. Kemudian, kita wajib meragukan kebenaran teks yang ada pada buku yang sedang dibaca. Karena saat kita percaya dengan buku anda baca, maka anda telah berhasil dibohongi oleh penulis," paparnya.

Penulis buku HTI: Gagal Paham Khilafah ini menyebut bahwa menulis itu mudah. Kunci untuk menulis, selain membaca, harus percaya diri. Semakin giat seseorang menulis, minat membaca harus terus ditingkatkan.

"Sebab kalau sudah menjadi seorang penulis tapi malas membaca, itu sombong namanya," ujar Rasyid.

Dikatakan seorang penulis adalah dia yang mampu mengikat makna yang telah dibaca dan menyusun kata dengan pilihan diksi yang menarik.

"Maka tulisan seorang penulis merupakan rangkuman dari pengalaman pengetahuan yang sudah atau sedang dilakukan," ungkapnya.

Pria bertubuh mungil kelahiran Medan ini mengungkapkan bahwa ukuran kecerdasan seseorang bukan seberapa banyak buku yang dibacanya. Membaca bukan soal kecepatan, tetapi ketepatan. Dengan membaca secara tepat, akan dapat merangsang kecerdasan dan kepekaan seseorang di tengah masyarakat.

"Selama ini, perseteruan selalu muncul karena kecepatan berpikir, terlalu cepat bertindak dan mengambil keputusan. Sehingga selalu tidak tepat dalam mengamati kondisi dan keadaan yang tengah terjadi," pungkasnya. (Aru Elgete/Kendi Setiawan)
Bagikan:
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Maulid Akbar dan Doa untuk Keselamatan Bangsa
Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
IMG
IMG