IMG-LOGO
Internasional

Saat Bendera NU Berkibar di Gunung Fujiyama Jepang

Rabu 7 Maret 2018 14:0 WIB
Bagikan:
Saat Bendera NU Berkibar di Gunung Fujiyama Jepang
Jepang, NU Online
Diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya dan lagu perjuangan Ya Lal Wathan,  sejumlah aktivis NU dari Indonesia dan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jepang mengibarkan bendera NU di kawasan Gunung Fujiyama, Jepang, Senin (6/2).

Pengibaran bendera ini merupakan misi tadabur alam yang dipimpin oleh Pengurus Lembaga Dakwah PBNU KH Muhammad Nur Hayid pada kunjungan ke Negeri Sakura untuk menjadi pembicara pada acara Muslimpreneur 2018 yang dilaksanakan oleh PCINU Jepang.

"Hubbul wathan minal iman. Orang yang ngaku punya agama, ngaku punya iman pasti dia cinta kepada tanah airnya," kata Sekjen Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) ini didampingi tiga orang calon komandan Banser NU Jepang yang ikut misi tersebut.

Pria yang akrab disapa Gus Hayid ini menambahkan, walaupun saat ini berada di negeri orang, para aktifis dan pengurus NU di Jepang ini tetap mencintai Indonesia.

"Puluhan tahun mereka di Jepang namun Indonesia tetap dalam belahan jiwa mereka. Para aktivis ini adalah para pejuang Ahlussunnah wal Jamaah An Nahdliyah di Negeri Sakura yang siap menyiarkan Islam Rahmatan lil alamin ke seluruh penjuru Jepang," terang Gus Hayid.

Selain tadabur alam di pegunungan yang menjadi ikon kebanggaan bangsa Jepang ini, Gus Hayid dan para aktivis NU ini juga melakukan kegiatan dakwah dengan menggelar ngaji kitab kuning bersama di kawasan pegunungan Fujiyama. Pentingnya berdzikir kepada Allah melalui ayat-ayat Al Quran diangkat oleh Gus Hayid sebagai materi pembahasan.

"Kita juga melakukan kegiatan khataman Al Qur'an dan berdoa semoga ikhtiar perjuangan dan dakwah aktivis  PCINU Jepang akan diberikan kelancaran serta mendapat ridho dari Allah SWT," jelasnya.

Selain Muslimpreneur 2018, berbagai kegiatan ke-NU-an akan dihadiri oleh Gus Hayid dan rombongan sampai dengan 13 Maret 2018 mendatang. Di antaranya adalah Jepang Bershalawat, seminar interaktif, dan kajian-kajian shubuh di masjid-masjid di Jepang. (Red: Muhammad Faizin)

Bagikan:
Rabu 7 Maret 2018 21:0 WIB
Amerika Puji Afghanistan Soal Tawaran Damai dengan Taliban
Amerika Puji Afghanistan Soal Tawaran Damai dengan Taliban
Washington, NU Online
Amerika Serikat (AS) memuji langkah yang ditempuh Presiden Afghanistan Ashraf Ghani terkait dengan tawaran untuk bernegosiasi dengan Taliban. Dia menyambut baik tawaran yang disodorkan Presiden Ghani tersebut. 

AS juga menyebut bahwa kelompok bersenjata itu memiliki keluhan-keluhan terhadap pemerintah Afghanistan.

“Kita telah katakan bahwa beberapa keluhan yang diajukan Taliban seperti keadilan, korupsi, kebobrokan pemerintah masa lalu. Itu perlu untuk diselesaikan,” kata Pejabat Senior Departemen Luar Negeri AS Alice Wells seperti dikutip Aljazeera, Rabu (7/1).

Minggu lalu, Presiden Ghani memberikan penawaran kepada Taliban untuk menjadi partai politik dan mengikuti pemilu mendatang. Hal ini dilakukan Presiden Ghani untuk menciptakan perdamaian dan mengakhiri perang saudara di Afghanistan yang sudah berlangsung 16 tahun.

Jika Taliban menerima tawaran tersebut, maka kelompok bersenjata tersebut harus mengakui secara resmi pemerintah dan konstitusi negara Afghanistan.


Namun, sampai saat ini Taliban belum menanggapi tawaran tersebut secara resmi. Dalam beberapa bulan terakhir, kelompok ini telah bangkit kembali. Pada Oktober tahu lalu dilaporkan bahwa Taliban dan pemerintah sedang memperebutkan 43 persen wilayah negara Afghanistan.

Dalam sebuah kajian yang dilakukan BBC, Taliban mengendalikan dan menguasai empat persen wilayah Afghanistan secara langsung. Mereka secara terbuka juga aktif di 70 persen wilayah Afghanistan.

Selama ini, Taliban dikenal sebagai kelompok teroris, Islam radikal, dan pemberontak. Mereka mengklaim telah melakukan sejumlah tindakan teror di beberapa wilayah di Afghanistan. (Red: Muchlishon)
Selasa 6 Maret 2018 23:0 WIB
Kenapa Warga Rohingya Tak Kunjung Dipulangkan?
Kenapa Warga Rohingya Tak Kunjung Dipulangkan?
Jakarta, NU Online
Akhir tahun lalu pemerintah Myanmar dan Bangladesh sudah membuat kesepakatan untuk memulangkan kembali warga Rohingya ke Myanmar. Rencananya proses pemulangan atau repatriasi dilakukan akhir Januari tahun tahun ini, namun karena masih ada banyak persoalan, maka proses repatriasi tak kunjung terwujud

Ketua Indonesia Humanitarian Alliance (Aliansi Kemanusiaan Indonesia) M Ali Yusuf mengatakan, proses rapatriasi warga Rohingya tidak kunjung terwujud setidaknya disebabkan karena dua persoalan, yaitu teknis dan nonteknis. 

“Soal repatriasi memang sejak awal diperkirakan tidak mudah. Ada banyak persoalan baik teknis maupun non teknis,” kata Ali kepada NU Online, Selasa (6/3).

Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) ini menyebutkan, baik pemerintah Bangladesh atau pun Myanmar belum sepakat dalam hal-hal yang bersifat teknis seperti jumlah warga Rohingya yang dipulangkan, identifikasi pengungsi, dan lainnya.

Sedangkan persoalan nonteknis, tambahnya, juga ada dua permasalahan yaitu yang bersifat internal dan eksternal. Persoalan internal nonteknis antara lain pengungsi Rohingya enggan untuk balik ke Myanmar jika tidak ada jaminan keamanan dan hidup dari pemerintah Myanmar.

Sementara itu, persoalan eksternal nonteknis lebih kepada warga Myanmar sendiri. Di sekitar lokasi kamp-kamp repatriasi banyak warga Myanmar yang menolak kehadiran pengungsi Rohingya. 

“Di Myanmar, masyarakat di sekitar lokasi repatriasi banyak melakukan penolakan-penolakan,” tuturnya.

Hampir 700 ribu warga Rohingya telah meninggalkan Myanmar dan mengungsi ke Bangladesh sejak Agustus menyusul operasi militer yang membabi buta yang dilakukan tentara Myanmar. (Muchlishon)
Selasa 6 Maret 2018 19:0 WIB
Cegah Bentrok Lanjutan Buddhis-Muslim, Sri Lanka Berlakukan Jam Malam
Cegah Bentrok Lanjutan Buddhis-Muslim, Sri Lanka Berlakukan Jam Malam
foto: Eranga Jayawardena/AP
Kandi, NU Online
Pemerintah Sri Lanka memberlakukan jam malam di wilayah Kandi akibat kerusuhan antar agama yang berujung pada aksi pembakaran properti dan pembunuhan. Sedikitnya ada lima orang yang terluka, beberapa toko dan sebuah masjid dalam bentrokan antara mayoritas umat Buddha Sinhala dan minoritas Muslim di wilayah Sri Lanka Timur itu.

Juru bicara Kepolisian Sri Lanka, Ruwan Gunasekera mengatakan, jam malam diberlakukan untuk memastikan agar konflik tidak meluas di tempat lain. Di wilayah penghasil teh terbaik ini telah memakan satu korban jiwa.

“Jam malam diberlakukan untuk mengendalikan situasi di daerah tersebut,” kata Gunasekera seperti dikutip Aljazeera, Selasa (6/3).

Sebetulnya ketegangan kedua kelompok tersebut sudah berkembang sejak tahun lalu. Alasannya, kelompok Buddhis garis keras menuduh Muslim memaksa orang untuk masuk Islam dan merusak situs arkeologi Buddha.

Sumber lain menyebutkan bahwa konflik di Kandi terjadi setelah seorang koki beragama Islam dituduh menaruh obat kontrasepsi di dalam makanan yang dijualnya.

Beberapa polisi ditempatkan di wilayah-wilayah yang rawan konflik di kota tersebut guna memastikan konflik tidak akan berlanjut.

Terkait dengan insiden ini, polisi telah menangkap 20 orang. Sampai saat ini kepolisian masih melakukan investigasi mendalam. 

Dewan Muslim Sri Lanka (MCSL), sebuah organisasi induk bagi ormas-ormas Islam di Sri Lanka, mengecam keras serangan tersebut. Ia meminta kepolisian untuk melakukan penyelidikan yang adil dan menangkap pelaku pengrusakan.

“Pemerintah memiliki tanggung jawab penuh untuk menjamin keselamatan dan keamanan semua warganya terlepas dari kepercayaan agama, kasta atau etnis,” kata MCSL dalam pernyataannya. 

Total populasi Sri Lanka adalah 21 juta. 70 persen penduduknya adalah umat Buddha, 13 persen umat Hindu, dan 9 persen umat Islam. (Red: Muchlishon) 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG