IMG-LOGO
Tokoh

Nyai Aisyah Hamid Baidlowi, Memajukan Kiprah Perempuan Indonesia

Kamis 8 Maret 2018 17:33 WIB
Bagikan:
Nyai Aisyah Hamid Baidlowi, Memajukan Kiprah Perempuan Indonesia
Nyai Hj Aisyah Hamid Baidlowi. (Foto: NU Online)
Sekitar usia tiga tahun, Aisyah Hamid Baidlowi mengikutinya orang tuanya pindah ke Jakarta. Namun, karena situasi saat itu belum aman karena pendudukan Nippon atau Jepang, Aisyah diajak ibunya Nyai Hj Sholehah Wahid Hasyim kembali ke Jombang.

Kembali ke Jombang bagi Aisyah bisa kembali merasakan tanah kelahiran sekaligus menempa diri di pesantren. Hingga ayahnya, KH Abdul Wahid Hasyim diangkat menjadi menteri agama pada 1945, Aisyah masih mengikuti pendidikan di Jombang. Ayahnya menjabat menteri agama (shumubu) hingga 5 kali sejak tahun 1945 hingga 1952.

Setelah situasi normal di Jakarta pada 1950, Aisyah sekeluarga diboyong ke Jakarta. Ketika sedang menikmati kehidupan bersama keluarga, Aisyah harus menghadapi situasi tidak mudah ketika ayahnya KH Wahid Hasyim meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas di daerah Cimahi pada 1953.

Sebagai putri tertua, sejak saat itu Aisyah memahami dan sadar, dirinya harus dapat berperan sebagai seorang ibu bagi keempat adiknya Salahuddin Wahid, Umar Wahid, Lily Chodijah Wahid, dan Hasyim Wahid. Hal itu dilakukan ketika sang ibu dan kakaknya Abdurrahman Wahid pas sibuk kegiatan di luar.

Kondisi demikian ditambah tempaan luar biasa dari sang ibu, Aisyah Hamid Baidlowi menjelma sebagai perempuan tangguh, disiplin, dan pengayom. Berawal dari didikan sang ibu dan memahami kiprah luar biasa sang ayah, Aisyah mempunyai bekal penting untuk berperan dalam kehidupan yang lebih luas lagi.

Ia juga sadar akan kiprah kedua kakeknya KH Hasyim Asy’ari dan KH Bisri Syansuri untuk NU dan Indonesia. Di antara pesan para orang tuanya kepada Aisyah ialah agar selalu mencintai NU. Secara khusus, Aisyah mendapat pesan dari ibunya agar menjaga Muslimat NU. (Sri Mulyati dkk, 70 Tahun Muslimat NU: Kiprah dan Karya Perempuan NU, 2017)

Mengabdi dari bawah

Berupaya mengejawantahkan pesan para orang tuanya, kiprah Aisyah dimulai ketika dirinya menjabat Ketua Fatayat NU Wilayah DKI Jakarta (1959-1962) di usia 19 tahun. Dari sini, meskipun Aisyah termasuk keturunan ‘darah biru’ NU, ia tetap menjalani proses kaderisasi dari tingkat bawah. Baginya, proses berjenjang dalam aktif di organisasi akan menempa seseorang menjadi lebih matang.

Selanjutnya, ia dipercaya sebagai Bendahara Fatayat NU di tingkat pusat pada 1962-1967. Meskipun memangku kedudukan inti di PP Fatayat, tidak menghalangi dirinya untuk aktif juga di jajaran Muslimat NU. Saat itu Muslimat di bawah kepemimpinan Nyai Hj Machmudah Mawardi. Aisyah membantu Muslimat NU di bidang sosial. Atas pengabdiannya di bidang sosial tersebut, ia diangkat menjadi Sekretaris II Pimpinan Pusat Muslimat NU.

Kemudian pada Kongres Muslimat NU di Probolinggo tahun 1984, Aisyah diangkat menjadi Ketua III PP Muslimat NU. Lalu pada Kongres berikutnya tahun 1989 di Kaliurang, Yogyakarta, ia diangkat sebagai Ketua II PP Muslimat NU.

Puncaknya, ketika Kongres Muslimat NU 1995 di Jakarta, dia terpilih sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muslimat NU melalui proses yang sangat demokratis. Ketika, ia bersaing dengan budhenya sendiri Nyai Hj Machfudhoh Aly Ubaid, putri KH Abdul wahab Chasbullah, tokoh pendiri NU sekaligus salah yang membidani kelahiran Muslimat NU. 

Kemandirian pondasi kemajuan

Bagi perempuan kelahiran Jombang, 4 Juni 1940 ini, menakhodai Muslimat NU adalah memikul pesan sang ibu untuk menjaga Muslimat NU. Bekal kepemimpinannya dari tingkat bawah menjadi modal penting menggerakkan organisasi perempuan terbesar di Indonesia ini menjadi organisasi mandiri, maju, dan modern.

Kiprahnya untuk memajukan perempuan Nahdliyin dan perempuan Indonesia pada umumnya sesungguhnya dimulai ketika ia diamanahi Ketua Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) periode 1990-1995. Tentu jabatan ini diembannya sebelum ia memimpin Muslimat NU. Representasi kemandirian perempuan NU menjadi bekal berharga untuk memajukan KOWANI sebagai organisasi perempuan dari beragam perkumpulan.

Di Muslimat sendiri, kiprah luar biasa yang terlihat saat ini merupakan gambaran kesuksesannya mempimpin Muslimat. Dalam memimpin Muslimat, ia mengutamakan pemberdayaan ekonomi dengan mendorong Muslimat agar tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga harus menjadi produsen.

Prinsip kemandirian ini betul-betul diwujudkan oleh Aisyah agar taraf hidup perempuan beserta keluarganya terbangun dengan baik. Hal ini juga sebagai langkah menciptakan kemandirian dan kreativitas perempuan Indonesia secara umum. Di antara program ekonomi yang sukses dilakukannya adalah pendirian koperasi di berbagai daerah.

Pada periode kepemimpinannya, Aisyah berhasil mendirikan 107 koperasi primer yang tersebar di seluruh kabupaaten/kota di Indonesia, dan tiga Pusat Koperasi dan Induk Koperasi Annisa (Inkopan). Tak hanya meletakkan dasar program-program pemberdayaan ekonomi, tetapi juga mendirikan lembaga pendidikan dan kesehatan serta merealisasikan pendirian Pusdiklat Muslimat NU di Pondok Cabe, Tangerang Selatan yang kala itu digagas oleh Ketua Umum sebelumnya, Hj Asmah Sjachruni.

Di bidang politik, karir sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI selama tiga periode 1997-2009 cukup penting. Ia termasuk perempuan yang membidani lahirnya Undang-Undang Perhajian Nomor 17 tahun 1999. Ia menginginkan perhajian harus transparan dan UU tersebut menjadi payung hukum pertama perhajian di Indonesia.

Atas kipra dan prestasinya, ia diganjar sejumlah penghargaan di antaranya dari Yayasan Asma Indonesia (1990), Manggala Karya Kencana Kelas I dari Menteri Negara Kependudukan/Kepala BKKBN (1997), Honorary Award of the Realization of World Peace and the Promotion of Education and Culture dari Soka University, Tokyo (2001).

Kini, tepat di Hari Perempuan Internasional, Nyai Hj Aisyah Hamid Baidlowi binti KH Abdul Wahid Hasyim wafat pada Kamis (8/3/2018) di Rumah Sakit Mayapada Lebak Bulus, Jakarta Selatan, sekitar pukul 12.50 WIB. Warga NU berduka atas kepergian perempuan yang banyak mengajarkan bagaimana kemandirian harus terwujud sebagai pondasi kemajuan sebuah bangsa. (Fathoni Ahmad)
Tags:
Bagikan:
Rabu 7 Maret 2018 19:0 WIB
Al-Khazini, Pencetus Teori Gravitasi
Al-Khazini, Pencetus Teori Gravitasi
Mizan al-Hikmah karya al-Khazini

“Untuk setiap benda yang diketahui beratnya dan diletakkan pada jarak tertentu dari pusat semesta, gravitasinya bergantung kepada jaraknya dari pusat semesta. Karena alasan ini, gravitasi benda-benda berhubungan dengan jarak mereka dari pusat semesta.” (Al-Khazini)

Nama lengkapnya adalah Abu Fath  Abd al-Rahman Mansour al-Khazini. Ia menjadi budak setelah Dinasti Seljuk Turki berhasil menguasai wilayah kekuasaan Kerajaan Konstantinopel. Al-Khazini dibawa ke Merv, sebuah kota metropolitan pada abad ke-12. Saat ini Merv masuk wilayah Turkmenistan.

Awalnya Al-Khazini bekerja bekerja sebagai pegawai di kerajaan Islam itu. Ia memiliki nasib baik. Pasalnya, sang majikan melihat potensi intelektual Al-Khazini, lalu ia diberi kesempatan untuk belajar. Bahkan, Al-Khazini dikirim untuk belajar kepada Omar Khayyam, seorang penyair dan ilmuan besar pada masa itu. Al-Khazini belajar banyak hal, diantaranya matematika, sastra, filsafat, dan astrnomi. Sedikit banyak, pikiran Al-Khazini dipengaruhi oleh sang guru, Omar Khayyam, Aristoteles, Archimedes, Ibnu Haitham, dan Al-Biruni.

Al-Khazini dikenal memiliki otak yang brilian. Dari seorang budak, ia menjelma menjadi seorang ilmuan yang memiliki pengaruh besar. Sampai-sampai pemikiran Al-Khazini berpengaruh kuat dalam pengembangan sains di Barat. Sedianya, Al-Khazini melahirkan banyak teori sains seperti  metode ilmiah eksperimental dalam mekanik, perbedaan daya, masa dan berat, serta jarak gravitasi, dan energi potensial gravitasi. 

Diantara karya Al-Khazini adalah Mizan al-Hikmah (Neraca Kebijaksanaan) dan az-Zij as-Sanjari (Tabel Sanjari). Di buku Mizan al-Hikmah, Al-Khazini menjelaskan secara detil teori-teori yang dicetuskannya seperti prinsip-prinsip keseimbangan hidrostatis, mekanika, dan hidrostatika. Kitab yang terdiri dari 50 bab ini ditulis tahun 1121 M dan menjadi karya penting dalam bidang fisika Islam.

Sementara az-Zij as-Sanjari (Tabel Sanjari) merupakan kitab yang mengulas tentang astronomi. Di sini, Al-Khazini membahas tentang posisi 46 bintang dan menjelaskan jam air 24 jam yang diciptakan olehnya untuk kepentingan astronomi.

Gravitasi bumi

Saat kita mendengar kata ‘gravitasi’ pasti yang ada di otak kita adalah Isaac Newton. Memang, selama ini kita jejali dengan pengetahuan bahwa penemu teori gravitasi adalah Newton karena Newton lah yang merumuskan dan membuat persamaan matematika tentang gambaran kerja gravitasi bumi.

Namun, tahu kah kita bahwa jauh sebelum Newton ‘membuat’ teori gravitasi, ada seorang saintis Muslim yang sudah mencetuskan dan menemukan teori gravitasi. Iya, dialah Al-Khazini. Dalam buku Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam, Al-Khazini meneliti dan menekuni secara mendalam tentang gravitasi pada abad ke-12. Sebuah konsep teori yang sebelumnya juga diajukan oleh Al-Biruni. Dengan demikian, Al-Khazini telah menemukan teori gravitasi jauh sebelum Newton melakukannya.

Setelah melakukan beberapa eksperimen, Al-Khazini sampai pada sebuah kesimpulan bahwa kuat gravitasi itu berubah sesuai dengan jarak antara benda yang jatuh dengan yang menariknya. Dengan kata lain, Al-Khazini menemukan fakta bahwa kekuatan gravitasi dipengaruhi oleh jarak antar dua benda.

Memang, dalam beberapa literatur yang ada belum menemukan bukti bahwa Al-Khazini telah membuat rumus matematika dan persamaan terkait dengan hubungan antar variabel tersebut. Namun yang pasti, dia telah menemukan variabel-variabel yang terkait dengan peristiwa gerak jatuh suatu benda karena gravitasi bumi.

Baru pada abad ke-17 ilmuan Barat seperti Isaac Newton memformulasikan rumus-rumus matematika dan persamaan antar variabel dalam teori gravitasi tersebut. Jika demikian, maka Newton lebih pantas sebagai perumus teori gravitasi, sementara Al-Khazini sebagai penetus teori gravitasi bumi. (A Muhlishon Rohmat)
Selasa 6 Maret 2018 18:0 WIB
Mas Sugeng Yudadiwirya Organisator Cakap NU Awal Berdiri
Mas Sugeng Yudadiwirya Organisator Cakap NU Awal Berdiri
Siapa Sugeng Yudhadiwirya? Tak banyak yang tahu peran dan sepak terjangnya di NU. Jarang disebut-sebut di buku sejarah. Padahal ia adalah administratur awal saat NU berdiri. 

Sebagai organisasi yang didirikan kiai, NU tentu sarat dengan para ahli agama mumpuni. Namun sepertinya tidak banyak yang mumpuni dalam bidang pengelolaan organisasi secara modern untuk ukuran waktu itu.    

Pilihan para kiai jatuh kepada Moechammad Sodiq atau Mas Sugeng Yudhadhiwirya untuk mengelola administrasi NU. Ia didaulat menjadi Sekretaris Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama mendampingi KH Hasan Gipo. Untuk istilah sekarang, posisinya adalah Sekretaris Jenderal PBNU. 

Tak banyak catatan yang menjelaskan bagaimana peranan dia dalam mengelola NU periode awal tersebut. Namun, menurut redaksi Berita Nahdlatoel Oelama, ia adalah penyusun, pengatur dan pembangun NO.

Penilaian tersebut, justru ketika Mas Sugeng meninggal melalui catatan obituari dan imbauan kepada warga NU untuk mengirim doa dan Shalat Ghaib untuknya. Ia meninggal pada Kamis malam 10 Jumadil Akhir 1355. 

Pada obituari itu, Berita Nahdlatoel Oelama mengaku sebagai suatu kehilangan tenaga yang amat penting.

“Kehilangan seorang organisator yang cakap, pembawa semangat yang berkobar-kobar. Namanya terukir di dalam hati kaum NU karena namanya tak dapat diceraikan dari NU. Dengan itu kita serukan pada Cabang, Centraal Kring dan Kring NU menyembahyangkan ghaib dan tahlil.”

Perannya yang berhasil ditemukan, bersama pengurus lain, di antaranya adalah mengantarkan NU menjadi organisasi sah secara hukum di mata pemerintahan Hindia Belanda pada 1930. Ia adalah salah seorang penanda tangan statuten atau AD/ART NU yang diserahkan kepada pemerintah Hindia Belanda. (Abdullah Alawi)

Senin 26 Februari 2018 13:45 WIB
KH Asmoeni Iskandar, Tokoh IPNU Angkatan 54
KH Asmoeni Iskandar, Tokoh IPNU Angkatan 54
Asmoeni Iskandar. (istimewa)
Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) didirikan pada tanggal 24 Februari 1954. Mereka, yang menjadi generasi awal dalam proses berdirinya IPNU disebut juga sebagai tokoh angkatan ’54, mengacu pada tahun berdirinya organisasi pelajar NU itu.

Salah satu dari tokoh Angkatan ’54 tersebut, berasal dari Kediri, KH Asmoeni Iskandar. Nama Asmoeni Iskandar, pada awalnya kami temukan pada keterangan sebuah foto yang terdapat pada buku biografi Moh Tolchah Mansoer: Biografi Profesor NU yang Terlupakan (Caswiyono, dkk., 2009). Pada keterangan foto tersebut, Asmoeni Iskandar berdiri nomor dua dari sebelah kiri, diapit dua perwakilan dari Jombang dan Yogyakarta, M.S Cholil dan Moh Djamhari.

Berdasarkan keterangan pada foto tersebut, mulailah penulis melakukan penelusuran melalui wasilah media sosial ke beberapa aktivis IPNU Kediri. Kemudian, singkat cerita, penulis akhirnya mendapatkan sebuah kontak nomor ponsel milik salah satu kader PAC IPNU Gurah Kabupaten Kediri, Muhammad Irhason.

Dari penuturan Irhason, kemudian diketahui bahwa selama ini, sosok KH Asmoeni Iskandar sebagai salah satu pendiri IPNU di Kediri, dikenal kepada kader sebagai salah satu peserta Konferensi Lima Daerah di Surakarta pada tahun 1954.

“KH Asmoeni bin Iskandar bin Munsyarif, kita tahu beliau dari materi Lakmud. Kebetulan makam beliau di daerah saya, tepatnya di Pucang Anom. Setiap tanggal 9, kami dari PAC IPNU dan IPPNU Gurah mengadakan kegiatan ziarah ke makam beliau,” ungkap Irhason.

Dari Irhason pula, kami kemudian mendapatkan kontak Ibnu, salah satu putra KH Asmoeni Iskandar. Ibnu merupakan putra keempat sekaligus terakhir dari KH Asmoeni.

Pendiri PERPENO

Asmoeni Iskandar yang kelak mendirikan PERPENO (Persatoean Peladjar Nahdlatoel Oelama) di Kediri pada tanggal 5 Agustus 1933 di Dusun Pucanganom, Desa Sukorejo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Asmoeni merupakan putra dari pasangan H. Iskandar Munsyarif dan Hj. Aminatun.

Masa remajanya, diisi dengan menempuh pendidikan formal Sekolah Rakyat, kemudian dilanjutkan Pendidikan Guru Agama (PGA) serta menjadi santri Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Lirboyo Kediri.

“Saat mendirikan PERPENO tanggal 13 Juni 1953 beliau masih aktif sebagai santri di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’in Liboyo Kediri,” terang Ibnu.

Tak sampai setahun, PERPENO yang dirintisnya kemudian ikut melebur ke dalam IPNU, seiring dengan diresmikannya pendirian IPNU. Asmoeni pun kemudian ikut menjadi bagian dari pertemuan Konferensi Panca Daerah (Konferensi Segi Lima) pada 30 April-1 Mei 1954.

Pertemuan yang diikuti perwakilan dari lima daerah, yakni Yogyakarta, Solo, Semarang, Jombang, dan Kediri ini sebagai tindak lanjut setelah disahkannya pendirian IPNU tanggal 24 Februari 1954 pada Konferensi Nahdlatul Ulama Ma’arif di Semarang.

Selain Asmoeni Iskandar, beberapa tokoh perwakilan yang hadir dan kemudian dikenal sebagai Tokoh Angkatan ’54 yaitu Moh. Tolchah Mansoer, M. Djamhari AS, Ach. Alfatih AR (Yogyakarta), M. Shufyan Cholil, Sochib Bisri (Jombang), Mustahal Ahmad (Solo) dan Abdul Ghony Farida (Semarang), Abd Chaq, dan nama-nama lainnya.

Kepala Desa pejuang NU

Usai berjuang di IPNU, KH Asmoeni Iskandar tetap meneruskan perjuangannya di dunia pendidikan dan dakwah. Pada tahun 1961, ia mendirikan Madrasah Diniyah Salafiyah Syafi’yah, yang sekarang dikenal menjadi Madrasah Ibtida’iyah “Diponegoro” Pucanganom Sukorejo Gurah.

Kemudian, pada tahun 1967 ia bersama para Kyai dan tokoh NU lainnya se-Kecamatan Gurah mendirikan Yayasan Pendidikan “Sunan Gunung Jati” Gurah Kediri. Lembaga ini terus berkembang pesat, yang pada awalnya hanya lembaga Pendidikan Guru Agama, sekarang menjadi 3 lembaga pendidikan Madrasah Dinyah, Madrasah Tsnawiyah, dan Madrasah Aliyah.

Di tahun yang sama, KH Asmoeni Iskandar diberikan kepercayaan dan tugas oleh KH Machrus Aly Lirboyo Kediri untuk berjuang dan mengabdi di masyarakat menjadi Kepala Desa Sukorejo Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri. Ia pun dipercaya masyarakat untuk memimpin bahkan hingga 20 tahun lebihm (1967-1990).

Yang menarik, jabatan kepala desa yang ia emban, tak menyurutkan langkahnya dalam berjuang bersama NU. Tercatat ia pernah aktif di NU, mulai dari tingkatan ranting hingga cabang.

“Kami sebagai putra beliau sangat bangga atas perjuangannya dalam masyarakat danterutama perjuangan beliau dalam kepengurusan NU. Apalagi pada masa Orde Baru, di mana seorang kepala desa dalam tanda kutip tidak boleh aktif dalam organisasi NU, akan tetapi beliau tetap gigih dalam mengabdi di organisasi NahdlatulUlama,” tutur Ibnu.

KH Asmoeni Iskandar wafat di usia 72, pada Kamis, 9 Desember 2004, pukul 15.00 WIB. Jenazah salah satu tokoh perintis IPNU tersebut dimakamkan di Kompleks Pemakaman Dusun Mantren Desa Tengger Kidul Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri.

KH Asmoeni Iskandar dan para pendiri IPNU telah memberikan sebuah kontribusi penting, dengan mendirikan sebuah organisasi pelajar NU, yang keberadaan dan manfaatnya masih bisa kita saksikan dan rasakan hingga saat ini. Lahumu al-fatihah! (Ajie Najmuddin)

Sumber:
1. Wawancara Ibnu (putra KH Asmuni Iskandar), Selasa (20/2/2018)
2. Wawancara M Irhason (Aktivis IPNU PAC Gurah Kediri), Senin (12/2/2018)
3. Caswiyono, dkk, "KH Moh Tolchah Mansoer: Biografi Profesor NU yang Terlupakan", Pustaka Pesantren (2009).
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG