IMG-LOGO
Wawancara

Mendedah Kiprah ISNU

Jumat 16 Maret 2018 13:0 WIB
Bagikan:
Mendedah Kiprah ISNU
foto: VIVAnews/Muhamad Solihin
Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) merupakan organisasi badan otonom (banom) termuda yang berada di lingkungan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Sebetulnya, fungsi dan keanggotaan ISNU sudah ada sejak lama, tapi ISNU baru berhasil dibentuk dan dilembagakan tahun 2012, setelah ‘disahkan’ di Muktamar ke-32 NU di Makassar 2010 silam.  

Tahun ini, ISNU memasuki usianya yang ke-6 tahun. Usia yang terbilang muda bagi sebuah organisasi. Tentu banyak tantangan –sekaligus peluang- yang dihadapi ISNU baik yang bersifat internal ataupun eksternal. Seperti urusan keorganisasian, kepengurusan, keanggotaan, hingga bagaimana ISNU bisa memberikan manfaat nyata kepada masyarakat umumnya dan Nahdliyin khususnya.  

Tidak bisa dipungkiri ISNU telah memberikan ‘warna’ tersendiri di lingkungan NU. Anggotanya terdiri dari para intelektual, cendekiawan, profesional, dan sarjana dari berbagai bidang keilmuan. Dengan komposisi anggota yang memiliki kualitas tinggi (high quality), ISNU diharapkan menjadi motor penggerak kesejahteraan umat.  

Untuk mengetahui lebih jauh kiprah, arah tujuan, dan peran ISNU dalam mewujudkan kesejahteraan umat, Jurnalis NU Online A Muchlishon Rochmat berkesempatan mewawancarai Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Ali Masykur Musa pada Kamis (15/3) di Jakarta. Berikut kutipannya:

Di usianya yang masih sangat muda ini, apa saja yang dilakukan ISNU?

Di usianya yang masih 6 tahun, ada 3 hal yang harus dilakukan. Pertama, konsolidasi struktural. Saat ini, ISNU sudah terbentuk di 34 provinsi. Sementara pengurus cabang ISNU sudah terbentuk 60 persen dari seluruh kota dan kabupaten yang ada.

Kedua, konsolidasi networking. Tidak mungkin sebuah organisasi mampu menyelesaikan urusannya sendiri. Oleh karenya, ia harus memiliki networking capacity. Di beberapa kepengurusan ISNU, baik tingkat pusat ataupun daerah, 6 diantara pengurusnya adalah pejabat eselon satu, direksi BUMN jaga ada yang menjadi pengurus ISNU. Ini bagian dari networking capacity. 

Ketiga, konsolidasi program. Diantaranya adalah membuat branding terkait dengan apa saja yang mendiferensiasi ISNU dengan banom yang lain. Oleh karenanya kita bergerak pada 4 hal saja. 

Apa saja itu?

Pertama, meningkatkan capacity building di bidang sumber daya manusia. Adapun program-programnya adalah pelatihan kewirausahaan, manajerial leadership, dan lainnya. Kedua, konsolidasi program di bidang intelektualitas. ISNU adalah organisasi yang base nya adalah intelektuality sehingga intelektualitas harus bisa menjadi bagian dari branding. Diantara programnya adalah menghubungkan mereka yang ingin mendapatkan beasiswa ke S2 dan S3.

Ketiga, advokasi Undang-Undang. ISNU juga concern melakukan advokasi perundang-undangan yang ada seperti UU Minerba, Wakaf, dan lainnya. Keempat, bidang ekonomi. Sebuah organisasi harus memiliki kemandirian dalam bidang ekonomi agar tidak mudah diintervensi oleh kepentingan-kepentingan di luar. 

Apa saja program-program pemberdayaan ekonomi yang sudah dikembangkan ISNU?

Misalnya rintisan-rintisan di bidang micro finance, memperkuat jaringan, mengonekkan para petani, mencarikan petani benih-benih yang berkualitas, dan mencarikan modal dengan bunga rendah.

Ada ribuan Nahdliyin yang menempuh S2 dan S3 di luar negeri sana. Biasanya mereka –yang kuliah di Barat- enggan kembali dan berkiprah di NU karena alasan ‘tidak dibutuhkan’ dan ‘tidak ada tempat’ bagi mereka. Bagaimana ISNU merangkul mereka? 

Para sarjana NU baik yang menempuh jenjang S1, S2, ataupun S3 yang secara struktural tidak masuk di NU, mereka bisa menjadi member di ISNU. ISNU juga harus memiliki program-program yang bisa merangkul mereka karena tidak sedikit dosen di sebuah kampus tidak terserap menjadi pengurus NU.

Saat ini, ada 362 guru besar dari berbagai disiplin ilmu yang masuk di kepengurusan ISNU dari tingkat pusat hingga daerah, meskipun mereka juga terdaftar di banom yang lain. Selain itu, ada 2900-an doktor yang masuk di ISNU. Yang S2 dan S1 lebih banyak lagi.     

Dulu Gus Dur mengkritik pendirian Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) karena menganggapnya sektarian. Saat ini ada ISNU, pasti ada yang nyerang balik dan menganggap kalau ISNU lebih sektarian daripada ICMI. Tanggapan Anda?

Masyarakat Islam di Indonesia sangat majemuk. Juga memiliki latar belakang keislaman yang berbeda. Pertama, seiring dengan berkembangnya zaman maka sudah saatnya NU harus memiliki organisasi cendekiawan sendiri, dalam hal ini ISNU. Jika ICMI menyerap cendekiawan yang bukan NU ya silahkan karena memiliki kapasitas dan keunggulan masing-masing.

Kedua, mendirikan organisasi keintelektualitasan adalah sesuatu yang sah-sah saja. Di Katolik ada ISKA, Kristen ada PIKI, FCHI. Maka dari itu, di NU dibentuk organisasi cendekiawan untuk menampung para sarjana NU. 

Pemerintah akan mengizinkan beberapa kampus asing untuk beroperasi di Indonesia. Tanggapan Anda seperti apa?

Sebagai bagian dari masyarakat ekonomi ASEAN Indonesia tidak boleh menutup diri. Itu tantangan. Tapi harus diukur momen yang tepat untuk liberalisasi pendidikan di Indonesia. Perguruan-perguruan tinggi asing yang hendak membuka cabang di Indonesia harus menunggu waktu. Jangan sekarang. 

Perguruan tinggi Indonesia, umumnya kampus negeri dan juga swasta seperti kampus NU, itu harus memiliki kualitas yang baik terlebih dahulu. Jika perguruan tinggi Indonesia baik, maka mahasiswa Indonesia akan membayar jauh lebih murah untuk mendapatkan sebuah ilmu yang sama yang juga diajarkan di kampus asing itu misalnya. Dia akan lebih memilih perguruan tinggi Indonesia yang akreditasinya sudah baik, minimal B.

Jadi kalau saat ini kampus asing diizinkan beroperasi di Indonesia kurang tepat?

Saat ini tidak tepat mengizinkan kampus asing ada di Indonesia karena akan terjadi perang pasar di bidang pendidikan. Mereka memiliki kekuatan dan modal yang kuat dan besar. Ini pasti akan menggerus perguruan-perguruan tinggi Indonesia, apalagi perguruan tinggi di lingkungan Nahdlatul Ulama. Tapi pada saatnya mengapa tidak.

Pemerintah akan membangun Universitas Islam International Indonesia (UIII), padahal sudah ada banyak universitas Islam negeri yang kualitasnya juga sudah baik. Bagaimana respons Anda?

Kita harus melihatnya dari 3 perspektif. Pertama, perspektif kompetisi. Jika dilihat dari perspektif kompetisi perguruan tinggi antar negara, maka pendirian UIII ada signifikansinya. Sehingga Indonesia memiliki perguruan tinggi tingkat internasional di bidang ilmu-ilmu keislaman. Malaysia juga punya Universitas Islam Internasional Malaysia.

Core science antara satu negara dengan yang lainnya pasti bisa. Misalnya tentang Islam yang rahmatan lil alamin atau ramah, mereka pasti akan memilih Indonesia karena di Indonesia praktik-praktik keislaman memang seperti itu.

Kedua, sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, maka sudah sepatutnya Indonesia memiliki universitas Islam dengan kualitas internasional. Ketiga, UIII harus mengembangkan ilmu-ilmu keislaman agar tidak terjadi duplikasi ilmu antara UIII dengan perguruan tinggi Islam lainnya. Jangan mengambil ilmu-ilmu yang dimiliki oleh perguruan tinggi Islam yang lainnya. 

UIII harus menjadi sisi lain yang mengisi kekosongan ilmu-ilmu keislaman yang ada di perguruan tinggi Islam. 

Mayoritas Nahdliyin adalah petani. Selain mencarikan benih sebagaimana yang disebutkan di atas, apakah ISNU memiliki program khusus di bidang pertanian?

Jumlah angkatan dan penyerapan kerja bidang pertanian. di Indonesia mencapai 40 persen. Oleh karena itu, sektor pertanian harus menjadi perhatian khusus NU karena mayoritas Nahdliyin adalah petani. 

Mendorong anak-anak NU untuk kuliah di fakultas pertanian adalah salah satu pilihan. ISNU dan banom lainnya yang memiliki bidang pertanian harus memiliki komitmen untuk meningkatkan kualitas petani kita. 

Seluruh banom dan lembaga  di lingkungan NU harus memikirkan itu. Harokah NU itu ada di petan. Mimpi kami, pada saatnya menteri pertanian itu harus dari orang NU karena itu langsung menyangkut hajat hidup orang NU.
Bagikan:
Sabtu 3 Maret 2018 12:30 WIB
LPNU Sragen Upayakan Nahdliyin Nikmati Keuntungan Ekonomi
LPNU Sragen Upayakan Nahdliyin Nikmati Keuntungan Ekonomi
Wakil Ketua LPNU Sragen Sugito
Pengurus Cabang Naldatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sragen Jawa Tengah, selain aktif menggeliatkan kemandirian melalui Kotak Infak (Koin) NU yang dikoordinir oleh NU Care-LAZISNU Sragen juga menggerakkan perekenonomian melalui Lembaga Perekonomian Nahldatul Ulama (LPNU).

Beberapa langkah telah dilakukan, diantaranya mengajak pengusaha aktif untuk tergabung dengan LPNU Sragen. Upaya menumbuhkan pengusaha baru juga dilakukan melalui Nusantara Etrepreneur School (NES), di mana para calon pengusaha diberi pengenalan tentang dunia usaha serta diberikan bimbingan kepada para alumni.

Untuk mengupas hal tersebut sekaligus mengetahui kaitan gerakan LPNU Sragen dengan Koin NU, wartawan NU Online Kendi Setiawan mewawancarai Wakil Ketua LPNU Sragen Sugito. Berikut petikannya. 

Bisa diceritakan sejauh ini seperti apa gerakan LPNU Sragen?
Saya akan mulai dari apa yang menjadi visi LAZISNU Sragen dengan Koin (Kotak Infak) NU-nya. Koin NU ini kami pahami kita ini masih sebatas menerima. Yang lebih bisa diterima masyarakat atau jamaah sebenarnya adalah kita harus gantian memberi.

Memberi adalah kontribusi kita dalam bentuk nyata dalam konteks konsep pemberdayaan ekonominya. Dinamika dan wacana ini berkembang sebenarnya seiring dengan kawan-kawan telah memulai dengan adanya NU Trans yang berangkat dengan Koin NU. 

(NU Trans merupakan salah satu usaha LPNU Sragen dengan dukungan PCNU. Pembelian dan pengelolaan NU Trans memanfaatkan Koin NU Sragen).

Selanjutnya seperti apa?
Teman-teman (LPNU) lalu berkoordinasi membuat NES atau Nusantara Entrepreneur School. NES  saat ini sudah berjalan juga. Kemudian LPNU melakukan pendampingan kawan-kawan yang sudah sekolah di NES. Ini adalah langkah konkret dalam konteks LPNU menjadi coaching kepada teman-teman baik yang akan memulai usaha, sedang atau sudah jalan. 

Adanya NES kemudian coaching bagi alumni itu seberapa penting?
Inti dari semua yang kita lakukan sebenarnya kita ingin aspek kegiatan bisnis masuk di dalam LPNU baik itu bersifat partnership atau partisipasi dengan membuat semacam MOU. Konsekuensinya beda-beda dari yang sekadar partnership dan yang mengambil komitmen lebih tinggi. 

Dengan langkah tadi, target besarnya apa?
Harapan kita sebenarnya tidak muluk-muluk. Apa yang selama ini dinikmati orang lain tentang keuntungan ekonomi, itu yang harus kita ambil alih. Kita mulai paling kecil dari snack, produk, sumberdaya, selama ini dinikmati oleh orang lain semua. Bahkan ziarah, dari atribut, aksesoris sampai makan, keuntungannya dinikmati orang lain. NU Trans yang sudah kita mulai termasuk pelayanan dari A sampai Z kita mulai semua.

Tantangannya bagaimana?
Dalam jangka panjang yang kita masih butuh bimbingan dari Jakarta  atau karena kita di Jawa Tengah, minimal dari Jawa Tengah. LPNU Sragen berpikir bisa nggak kita memiliki lembaga keuangan yang bisa dikelola LPNU. Ini menjadi sesuatu yang menarik, kalau lembaga keungan kita tidak seperti yang selama ini ada.

Mengapa perlu ada lembaga keungan?
Kami punya bayangan bahwa perputaran ini semua harus ada yang meng-cover. Baik itu bentuknya BMT, yang penting jelas nggak tingkat komitmennya. BMT Sekarang ini belum diterima masyarakat. Masih sebatas meminjam.

Seharusnya seperti apa?
Harus ada kerja sama, sisi lain membiayai. Bank syariah sekadar akad saja, nggak sekadar akad harusnya. Ada timnya meskipun ini bukan pekerjaan mudah. Taruhlah belajar dari Magelang (LPNU Sragen pernah studi banding ke Magelang terkait Internet Marketing Nahdlatul Ulama) anak-anak dituntut laporan, rugi atau untung harus laporan via android. Ini untuk evaluasi teman-teman untuk perbaikan dalam upaya usaha ini.

Juga teman-teman LPNU punya pandangan ini kalau diterima dengan baik oleh jamaah sebenarnya ada konsep bimbingannya. Konsep bimbingan  dimulai dari identifikasi; kamu punya usaha apa, posisinya seperti apa. Kalau ada masalah, masalahnya seperti apa. Kita harus siap coaching di situ.

Langkah-langkah tersebut dianggap perlu?
Timbal balik ini menurut saya sisi lain Koin NU, kegiatan nyata terkait dengan ekonomi. Koin NU itu uangnya jamaah dan itu dari pandangan saya tidak bijak kalau tidak ada nilai produktivitasnya. 

Upaya yang sudah atau sedang dirancang LPNU untuk menambah nilai produktivitas, apakah ada?
Beberapa bulan terakhir kita belajar di LPNU Magelang, yang punya desa tiga bahasa. Dalam waktu dekat kami ingin menduplikasi teori dan beberapa kerja lapangannya karena Magelang punya kegiatan salah satunya wisata.

Lalu lewat IMNU menyinergikan antara siswa yang kita didik dengan bapak-bapak yang membuat produk yang ada problem di marketing. Ada sinergis di situ. Di satu sisi kita bisa menolong kawan-kawan yang masih menganggur, satu sisi membuat optimal produksi hasil jamaah yang sudah ada. 

Kendalanya seperti apa?
Problem klasiknya persoalan mental yang harus kita sabari (hadapi dengan sabar). Kalau persoalan ini diselesaikan, akan ada banyak hal yang bisa diselesaikan. Contoh sederhana, LPNU punya NU Trans. Warga bertanya, "Itu bisa lebih murah tidak?" Padahal dengan menggunakannya, kita berkontribusi untuk NU. Bahwa itu besok besar, saya kira kita bisa berikan pelayanan yang lebih baik. 
Senin 19 Februari 2018 15:2 WIB
PMII dan Empat Fokus Pergerakannya
PMII dan Empat Fokus Pergerakannya
Pada tahun 1990-an, KH Abdurrahman Wahid (Ketua Umum PBNU saat itu), Mahbub Djunaidi (Ketua Umum PMII pertama) memiliki pandangan yang hampir sama tentang PMII dan NU. Mereka berdua, meminta para alumnus pergerakan agar mendermabaktikan kemampuannya di NU dalam berbagai tingkatan. 

Awal bulan ini, Jumat 2 Februari, Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan PB Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Puteri (Kopri) bersilaturahim kepada Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj yang didampingi Ketua PBNU Robikin Emhas. 

Sebelum PMII menyampaikan maksud dan tujuannya, Kiai Said telah membuka pembicaraan lebih dahulu. Isinya hampir sama dengan apa yang dikatakan Gus Dur dan Mahbub. Kiai Said menekankan agar PMII menjadi bagian yang mempersiapkan NU pada seratus tahun kedua dengan segenap kemampuan mereka. 

Saat ini, PMII tengah dipimpin Agus M. Herlambang yang terpilih pada Kongres ke-19 di kota Palu, Sulawesi Tengah pada Mei tahun lalu. Ia memimpin organisasi pergerakan masa khidmah 2017-2019. 

Lalu, bagaimana kesiapan PMII untuk memenuhi permintaan dari NU itu? Abdullah dari NU Online mewawancarai Agus M. Herlambang di PBNU Jumat 2 Februari. Berikut petikannya:

Program dan fokus PMII periode ini bagaimana? 

Orientasi kita adalah menyebarkan Islam Ahlussunah wal-Jama’ah di kampus. Kita sudah diskusi dengan Kiai Said terkait bagaimana kita bisa merebut ruang di generasi milenial, perkotaan khususnya mahasiswa. Jadi, seperti konten Islam Nusantara itu kita coba perkenalkan di generasi milenial. Itu satu. 

Bagaimana caranya PMII untuk menyebarkan dan memperkuat Aswaja di kalangan mahasiswa itu?  

Satu, ya menyederhanakan kurikulum materi Aswaja di kampus, kita mencoba mengadaptasi bagaimana Aswja itu bisa diterima di generasi milenial. Satu, dengan penyebaran melalui media-media modern misalkan dengan YouTube dan di media sosial. Jadi instrumen itu yang kita pakai untuk masuk ke generasi milenial. Jadi selama ini Aswaja tidak dipahami secara holistik. 

Sudah terbentuk timnya? 

Iya. Iya, konsentrasi di periode kita di situ. 

Targetnya produktivitasnya akan seperti apa tim itu? Atau alat ukur keberhasilan kinerjanya bagaimana? 

Nah, ukuran keberhasilan, maka kita bikin pilot project di sepuluh kampus (dia menyebut sepuluh kampus yang menjadi pilot project itu di Sumatera, Jawa).

Di sepuluh kampus itu PMII hidup?

Hidup, tapi belum maksimal; makanya kita upayakan untuk memaksimalkan sepuluh kampus itu. 

Selama ini penerimaan mahasiswa terhadap PMII di kampus-kampus umum? Apakah biasa-biasa saja, menurun atau meningkat? 

Sejak adanya pilot project itu, karena pilot project itu, jadi PB PMII langsung koordinasi dengan ketua komisariat di kampus itu, maka rekrutmennya meningkat seratus persen. Itu yang pertama, yang kedua, variasi kader yang masuk itu kan di kampus umum itu biasanya di rumpun humaniora, sekarang sudah masuk di rumpun eksak. Jadi, anak-anak kedokteran sudah mulai banyak, anak-anak teknik juga mulai banyak. 

Faktornya apa? 

Ya itu, pola rekrutmen yang kita bikin pilot prject dan penyederhanaan materi Aswaja. Cuma butuh masif dan bantuan PBNU. Selama ini, kita berdebat soal Aswaja di wilayah teologis dan wujud praksisnya tidak kelihatan untuk anak-anak umum; beda dengan anak-anak di kampus agama yang notabene lulusan pesantren. 

Ada cara lain tidak dari PMII untuk menarik mahasiswa baru; misalnya tidak hanya melulu melalui masalah keagamaan, tapi melalui kesenian, ekonomi, dan lain-lain? 

Saya kemarin diskusi dengan Menristek, karena ruang-ruang keagamaan juga sudah dikuasai beberapa OKP di luar PMII, kita ditugasin bikin UKM baru, yaitu UKM ekonomi kreatif dengan menggunakan media digital sebagai market. 

Kembali ke pertanyaan pertama, konsentrasi PMII memperkuat Aswaja di kampus, yang kedua itu apa? 

Kita memfasilitasi kader untuk mempersiapkan kader mengikuti tes seleksi beasiswa ke luar negeri. Kita akan mengirim kader-kader dengan mempersiapkan kemampuan bahasa Inggrisnya dan tes potensi  akademiknya. Itu yang kedua. Yang ketiga, mendorong kader dengan mengembangkan ekonomi kreatif berbasis digital. Kita lagi kembangin aplikasi PMII untuk ruang kader yang memiliki jiwa enterpreneur untuk menjual prodaknya dan buat berinteraksi dengan sesama kader. Yang keempat kita memulai menyebarkan Islam Nusantara ke tingkat internasional dengan akan mengagadakan konferensi tingkat dunia. Kita juga mengirim beberapa kader untuk acara mereka. Itu sih empat orientasi PMII saat ini. 

Konferensi itu untuk mahasiswa tingkat dunia?

Ya, mahasiswa dan pemuda. 

Dengan komposisi kepengurusan sekarang ini, PMII yakin bisa melaksanakan program itu? 

Kita optimis karena di setiap elemen itu, kita punya indikator-indikator keberhasilan. Itu juga diputuskan berdasarkan pertimbangan sumber daya manusia yang kita miliki. 

Per berapa bulan indikator itu dievaluasi keberhasilannya?

Kalau kita tiga bulan untuk mengevaluasi kinerja. 

Untuk mencapai keberhasilan itu kan butuh berjamaah dari seluruh elemen PMII. Apa yang ingin Anda sampaikan kepada pengurus PMII di tingkat pusat sampai ke tingkat komisariat? 

Saya berdiskusi dengan KIai Said bahwa PMII juga harus terlibat dalam menyongsong NU yang usianya akan 100 tahun. Karena itu PMII ditugaskan untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk NU yang akan berusia 100 tahun, kemampuan dan potensi kader harus ditingkatkan, kemampuan bahasa asingnya, dan kompeten dalam bidang-bidang yang digelutinya di perkulian sehingga kader-kader PMII juga berprestasi secara akademik, di samping juga tetap berperan di kemaslahatan umat. Harus bersama-sama untuk mempersiapkan mengisi 100 tahun NU. 

Lalu posisi gerakan PMII terkait advokasi masyarakat bawah untuk memenuhi hak-haknya?

Itu sebagian dari strategi; kalaupun dirasa masih diperlukan untuk turun ke jalan atau melakukan pendampingan masyarakat, kita tidak melarang kader untuk melakukan itu, bisa sebagai bagian alat perjuangan, tetapi sekali lagi itu tetap penting, tetapi yang harus dilakukan terlebih dahulu, sesuatu yang wajib itu pengembangan kapasitas diri di kampus, pengembangan Ahlussunah wal-Jama’ah di kampus. Artinya, itu alat perjuangan. Kita butuh rumusan advokasi; apa yang membedakan advokasi PMII dengan advokasi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang lain. Itu juga harus terjawab secara komprehensif.   

Sabtu 3 Februari 2018 9:3 WIB
NU Penjaga Gawang Warisan Manuskrip
NU Penjaga Gawang Warisan Manuskrip
Peneliti PPIM, M. Nida Fadlan.
Ada ribuan manuskrip yang belum tersentuh penelitian. Masih ada yang beranggapan bahwa manuskrip itu adalah benda pusaka. Tetapi, seringkali anggapan demikian itu menghilangkan fungsi asli manuskrip tersebut, yakni sebagai pustaka. Salah satu tempat penyimpanan naskah terbesar di Nusantara adalah pesantren. Tetapi hal ini belum banyak terungkap ke permukaan.

Oleh karena itu, wartawan NU Online M. Syakir Niamillah Fiza menemui Peneliti Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Muhammad Nida Fadlan, Kamis (1/2) di kantornya, di Kampus 2 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jalan Kertamukti, Ciputat, Kota Tangerang Selatan. Filolog alumni Pondok Buntet Pesantren itu mengungkapkan pandangannya terkait pengkajian dan perawatan manuskrip (naskah kuno hasil tulisan tangan) pesantren.

Bagaimana anda melihat hubungan NU dan manuskrip?

NU merupakan penjaga gawang warisan naskah. Bukan tanpa alasan saya bilang seperti ini. Ada beberapa fakta yang melatarbelakangi. Pertama, tradisi Islam adalah tradisi literasi, tradisi tulis menulis. Manuskrip Islam sudah ada sejak abad 15. Dua abad setelahnya mengalami perkembangan. Puncaknya pada abad 18 dan 19. Banyak naskah yang ditemukan bertitimangsa pada sekitar dua abad tersebut. Kedua, di Indonesia terdapat ribuan pesantren yang berafiliasi dengan NU.

Setiap pesantren memiliki potensi besar menyimpan manuskrip. Tidak cuma satu. Bisa jadi dua, belasan, atau bahkan puluhan. Pesantren Sabilil Muttaqin, Takeran, Magetan, beberapa tahun silam pernah kita datangi dan beberapa naskahnya kita digitalisasi. Di pesantren tersebut saja ada ratusan naskah.

Apa pandangan anda melihat perkembangan pengkajian manuskrip oleh para santri?

Sampai saat ini, saya melihat manuskrip atau naskah kuno itu baru digunakan sebatas legitimasi untuk melihat peran ulama. Ini baik sebagai langkah awal. Tetapi, naskah tersebut juga harus didekati dengan filologi. Filologi sebagai pintu utama untuk meneliti naskah tersebut agar tidak hanya konten yang bisa diserap, tetapi konteks dan keterhubungan dengan naskah lainnya bisa tercipta.

Lebih dari itu, jika tulisan hasil dari penelitian filologis itu dapat dikaitkan dengan permasalahan terkini, tentu ini memiliki nilai plus tersendiri. Tulislah dengan mengaitkan antara sejarah dengan konteks kekinian sehingga lahir solusi untuk permasalahan terkini.

Santri juga harus kritis melihat manuskrip milik kiainya atau naskah yang ada di pesantren. Belum tentu naskah yang ada di suatu pesantren itu milik atau karya pengasuh pesantrennya. Ada beberapa kemungkinan yang bisa terjadi. Pertama, tamu yang berkunjung ke pesantren tersebut. Kedua, hal yang sangat mungkin terjadi adalah tulisan santrinya. Hal tersebut disebabkan santri hampir meniru keseluruhan dari diri kiainya, mulai dari gaya tulisan atau jenis khat yang digunakannya, hingga gaya bahasa tulisannya. Santri ada kecenderungan mengikuti kiainya persis.

Apa cukup dengan mengkajinya tugas santri dalam pernaskahan itu selesai?

Orang-orang pesantren tidak cukup sampai mengkaji naskahnya. Lebih dari itu, mereka harus merawat fisik naskahnya. Naskah akan mudah rusak jika sering dibuka. Oleh karena itu, teknologi harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Artinya, naskah tersebut harus dialihmediakan dalam bentuk digital dengan dipotret. Dengan begitu, para pengkaji tidak lagi perlu untuk membuka-buka fisik naskahnya untuk dapat membaca naskah tersebut, tetapi cukup membuka melalui gawai.

Selain itu, Indonesia berada di atas lempengan bencana. Beberapa hari belakangan juga kita merasakan gempa terjadi berturut-turut. Hal ini memungkinkan akan menghilangkan jejak naskah kita. Naudzubillah min dzalik, misalkan tempat penyimpanan naskah tersebut roboh, terkena banjir, atau kebakaran, tentu jejak para pendahulu juga akan rusak, hanyut, atau terbakar. Digitalisasi naskah dapat mengamankan jejak tersebut, meski fisiknya mungkin akan rusak dimakan usia, misalnya.

Dengan terawatnya naskah, kita punya pegangan bukti atas jejak para pendahulu yang kita yakini kebenarannya. Tidak melulu menuntut penghapusan atas ketiadaan peran ulama dalam sejarah pendirian bangsa, misalnya. Karena sejarah itu tergantung pada siapa yang menulisnya.

Apakah sudah ada yang mendigitalisasi manuskrip pesantren?

Setahu saya, baru ada satu program digitalisasi naskah pesantren, yakni Lembaga Pengkajian Agama dan Masyarakat (LPAM) yang dimotori oleh Amiq Ahyad, dosen UIN Sunan Ampel.  Program ini dilaksanakan di beberapa pesantren di Provinsi Jawa Timur dengan hasil 300-an naskah yang didigitalisasi.

Baru-baru ini PPIM UIN Jakarta dan CSMC Universitas Hamburg Jerman menginisiasi program digitalisasi manuskrip yang berada di wilayah Asia Tenggara dengan nama DREAMSEA. Ini mestinya disambut baik oleh kalangan pesantren guna menjaga warisan manuskrip keislaman pesantren dan Nusantara.

Bagaimana harusnya sikap pesantren terhadap manuskrip miliknya?

Tidak setiap santri menaruh ketertarikan dalam dunia pernaskahan. Oleh karena itu, pesantren harus membuka diri agar para pengkaji dari luar pesantren dapat mengakses naskah tersebut. Tidak ada ruginya. Jika pun hasil penelitiannya dipublikasi, pesantren atau tokoh yang dikaji itu juga yang akan naik. Hal ini tentu berdampak pada peningkatan martabat pesantren sebagai sebuah institusi keagamaan.

Kenapa para pemilik naskah menyimpan beberapa naskah tertentunya?

Naskah-naskah yang masuk dalam privasi pemiliknya biasanya mengandung isi yang kemungkinan sulit dipahami oleh khalayak sehingga akan sia-sia jika pun naskah tersebut diperlihatkan. Hal lain yang memungkinkan naskah tersebut tidak boleh diakses oleh khalayak adalah karena mengandung rahasia atau kepentingan pribadi yang sifatnya sanagat personal.

Terkait hal tersebut, saya punya kisah unik. Pernah suatu ketika, tim kami diminta untuk berpuasa selama 40 hari dan menyembelih binatang demi untuk mendapatkan akses naskah kuno yang diyakini oleh pemiliknya mengandung hal gaib karena tidak boleh diperlihatkan oleh orang lain. Mitos tersebut dipegang betul oleh pewaris naskahnya. Tetapi, setelah dibuka dan dibaca, naskah tersebut berisi catatan hutang. (*)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG