IMG-LOGO
Trending Now:
Pustaka

Spektrum Hidup Kiai Hasyim Muzadi

Sabtu 17 Maret 2018 18:0 WIB
Bagikan:
Spektrum Hidup Kiai Hasyim Muzadi
Telah kita kenal, guru bangsa Indonesia yang pandai mengolah kata, bertutur indah serta humoris, KH A. Hasyim Muzadi atau lebih akrab disapa Kiai Hasyim. Ia adalah ulama yang dikenal nasionalis, humanis, cerdas, dan cergas ketika melakukan suatu pekerjaan apa pun.  

Dalam buku ini kita banyak sekali menemukan pelajaran-pelajaran yang amat berharga darinya, di antaranya ia begitu kental bertoleransi terhadap perbedaan, khusunya terpaut agama. Menurut Kiai Hasyim agama yang beranekaragam di muka bumi ini semuanya mengajarkan perdamaian dan kesejahteraan. Terkecuali agama yang telah dibajak atau keluar dari norma dan melakukan kekerasan—itu harus ditindak tegas. Lantaran ketenangan dan kedamaian adalah kewajiban agama yang harus diciptakan.

Kiai Hasim adalah sosok yang berlatar belakang santri, itulah yang membuatnya bersahaja dalam bersikap kepada orang lain. Tak memandang suku, agama, atau jabatan, di mata beliau semua orang sama, harus dihormati. Itulah sebabnya dari kalangan manapun menyeganinya dan siapapun dapat bergaul dengannya secara baik. Namun, meskipun seperti itu pembawaan sifat kharismatik beliau selalu mengiringi tiap langkahnya.

Tokoh yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum PBNU 1999-2010 ini pemikirannya begitu dalam dan brilian. Salah satu gagasan luar biasa yang ia wujudkan adalah mendirikannya International Conferenceof Islamic Scholars (ICIS), sebuah organisasi swadaya masyarakat, non-politik, non-etnik, yang bekerja untuk membangun dialog dan kerjasama setara antar ulama dan cendikiawan muslim di seluruh dunia menuju tatanan masyarakat yang damai, berkeadilan dan berkeadaban.

Ketika menyelesaikan masalah yang menimpa kepada dirinya, masyarakat maupun negara ia selalu menyikapi dengan bijaksana. Tak terburu-buru dalam menyelesaikan sebuah perkara. Ia selalu tenang dan teliti. Kendati seperti itu, dapat terselesaikan dengan gesit.

Ketokohan Kiai Hasyim diulas secara gamblang di dalam buku ini, dari mulai masa kanak-kanaknya yang sudah terlihat kecerdasannya, sehingga bisa lulus sekolah dengan cepat.  Tentang kisahnya ketika mondok di Pesantren Gontor yang suka tidur, tetapi selalu berprestasi. Pernikahanya dengan Mutammimmah, sikap perhatiannya kepada anak-anaknya, makan dari honor ceramah, hingga beliau wafat.

Dari sisi humornya yang segar dan tak membosankan, ia juga sosok yang sangat kritis. Pernah suatu ketika ia dipenjara satu malam, tetapi tak membuat Kiai Hasyim lemah. Ia selalu semangat, tegas, dan bersungguh-sungguh untuk menegakan kebenaran.

Membaca buku ini kita seperti diajak menyelami kehidupan beliau yang unik dan bijaksana, kita dapat belajar dari pengalaman-pengalaman hidupnya serta mengenal lebih dalam tokoh kharismatik yang teduh dan langka.

Poin-poin penting yang menjadikan buku ini sangat menarik yaitu ditulis seorang aktivis Nahdlatul Ullama, sekaligus wartawan di media duta masyarakat dan pendamping setia Kiai Hasyim sendiri dalam keperluan publikasi. Maka, jelas sekali buku ini berisi biografi yang nyata kebenarannya.

Melalui proses panjang—wawancara—mengumpulkan data yang dibilang tak mudah, juga perenungan khusuk yang lama, penulis akhirnya dapat mebuahkan karya tulis brilian ini. Dengan perkembangan zaman yang modern, buku biografi Kiai Hayim ini bagaikan lentera di malam yang gelap gulita.

Dengan keapikan bahasa penulis, kita jadi mudah memahami semua yang dijelaskan Kiai Hasyim di dalam buku ini. Kisahnya ditulis secara merunut, sehingga pembaca pun dapat menikamati bukunya.

Umar bin Khattab  berkata, “Hendaklah kalian mendengar cerita-cerita tentang orang-orang yang memiliki keutamaan, karena hal itu termasuk dari kemuliaan dan padanya terdapat kedudukan dan kenikmatan bagi jiwa.” 

Data Buku
Judul Buku : Biografi A. Hasyim Muzadi
Penulis        : Ahmad Millah Hasan
Penerbit      : Keira Publishing
Cetakan      : Pertama, Maret 2018
Peresensi : Tasori Mt, pegiat literasi)

Tags:
Bagikan:
Rabu 7 Maret 2018 18:0 WIB
Aksara Arab Pegon di Kancah Internasional
Aksara Arab Pegon di Kancah Internasional
Arab Pegon merupakan aksara Arab yang dipergunakan untuk menulis bahasa Jawa, Sunda, Madura, Indonesia, dan bahasa-bahasa lain yang hidup di Nusantara. Aksara ini dinamakan pegon, karena secara etimologis berasal dari kata bahasa Jawa “pégo”, yang memiliki makna: “ora lumrah anggoné ngucapaké” (tidak lumrah diucapkan), “ngomong ora lancar” (gagap), atau “ora pas suarané” (tidak pas suaranya). 

Memang, aksara ini aneh dan lain daripada yang lain. Dalam bentuk tulisan, Aksara Arab Pegon memang berbentuk huruf-huruf Arab, namun bahasa yang menjadi isi adalah Jawa, Sunda, Madura, Indonesia dan bahasa-bahasa daerah yang hidup di Indonesia. Karena itulah, aksara ini dinamakan Arab Pegon. 

Para ulama Nusantara dalam kitab-kitabnya, ada yang menyebut Aksara Pegon dalam bahasa Arab sebagai al-Lughah al-Jawiyyah, yang artinya bahasa Jawa. Ada yang menyebutnya dengan al-Lughah al-Jawiyah al-Marikiyyah, yang artinya bahasa Jawa mriki (sini, bahasa Jawa). Ada yang menyebut dengan al-Lughah al-Jawiyyah al-Kadieuiyyah, dari kata bahasa Sunda kadieu” yang artinya kemari. Dan ada pula yang menyebutnya dengan al-lughah al-jawiyyah al-mariiyyah, dari kata bahasa Indonesia mari. 

Aksara Arab Pegon sedikit berbeda dengan Tulisan Jawi yang berkembang di Malaysia, Arab Melayu Pattani yang berkembang di kawasan muslim Pattani Thailand, Arab Melayu yang berkembang di Brunei dan Singapura, dan tentunya sangat berbeda dengan tulisan Bahasa Arab sendiri. 

Dalam buku Arab Pegon: Khashaishuha wa Ishamatuha fi Tathwir Ta’lim al-Lughah al-‘Arabiyyah bi Indonesia yang merupakan hasil penelitian tesis karya Sahal Mahfudh bin Abdurrohman ini, dijelaskan perbedaan dan persamaan antara Aksara Arab Pegon dengan tulisan jawi dan aksara Arab. Kelebihan aksara Arab Pegon yang tidak dimiliki oleh tulisan jawi, dan apalagi aksara Arab, adalah kekayaan dalam huruf vokal maupun konsonan. 

Sebagai contoh, di dalam aksara Pegon, terdapat huruf konsonan ﭺ (c), ڤ (p), ڊ (d), ۑ (v), ڮ (g), طٜ (q), ڠ (z), yang tidak terdapat dalam aksara Arab. Jika ditelaah secara mendalam, kemunculan Aksara Arab Pegon, tulisan jawi, Arab Melayu Patani dan aksara-aksara lain yang sejenis, salah satunya dilatarbelakangi oleh karena aksara Arab tidak mampu untuk mengakomodir bunyi-bunyi atau sistem fonologis bahasa-bahasa non-Arab. Sehingga muncullah huruf-huruf modifikasi seperti ﭺ, ڤ, ڊ, ۑ, ڮ, طٜ,ڠ itu. 

Dengan adanya huruf-huruf modifikasi dalam aksara Arab Pegon, pada hakikatnya, aksara ini mampu menjadi pelengkap aksara Arab atau huruf-huruf hijaiyyah ketika berinteraksi dengan sistem fonologis bahasa yang tidak terdapat dalam sistem fonologis Arab.  

Selain membahas tentang karakteristik aksara Arab Pegon, yang diperbandingkan dengan Tulisan Jawi yang berlaku di Malaysia dan aksara Arab, dalam buku ini juga dikupas tentang kontribusi riil aksara Arab Pegon dalam pengembangan bahasa Arab di Indonesia. Aksara Pegon memiliki kontribusi yang nyata dalam perkembangan dan pengembangan pembelajaran bahasa Arab di Indonesia. 

Kontribusi aksara Pegon ini terejawentahkan dalam pelaksanaan pembelajaran kitab kuning di pondok pesantren salaf, madrasah diniyyah tradisional yang berada di bawah naungan LP Ma’arif Nahdlatul Ulama’, serta di universitas berbasis pesantren yang ada di Indonesia. 

Kontribusi riil aksara Pegon dalam perkembangan dan pengembangan pembelajaran bahasa Arab di Indonesia adalah, pertama, menjadi media untuk menulis teks-teks keagamaan. Kedua, menjadi media untuk menerjemahkan kitab-kitab salaf. Ketiga, menjadi media untuk menulis surat. Keempat, menjadi gerbang besar bagi masuknya kosakata Arab ke dalam bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Kelima, menjadi media untuk mengembangkan keterampilan membaca dan memahami teks. Keenam, menjadi media untuk mendalami tata bahasa Arab yang meliputi Nahwu, Sharaf dan Balaghah. Ketujuh, menjadi media untuk membantu para santri dan siswa dalam menghafalkan mufrodat bahasa Arab dalam bentuk syi’ir.

Buku Arab Pegon: Khashaishuha wa Ishamatuha fi Tathwir Ta’lim al-Lughah al-‘Arabiyyah bi Indonesia ini diikutkan dalam Ma’radh Kutub ad-Duwali, pameran buku dan kitab terbesar di Sudan tahun ini, bersama dengan 150 karya ulama Nusantara yang lain. Selain itu, buku ini juga telah masuk di Perpustakaan Universiti Kebangsaan Malaysia. Hal ini tidak lain adalah merupakan upaya untuk mengampanyekan aksara Arab Pegon yang merupakan harta karun Islam Nusantara ini di kancah Internasional, sehingga identitas Islam Nusantara semakin terkukuhkan di mata dunia.

Identitas buku
Judul Kitab : “Arab Pegon: Khashaishuha wa Ishamatuha fi Tathwir Ta’lim al-     Lughah al-‘Arabiyyah bi Indonesia”(Tesis Berbahasa Arab)
Penulis         : Sahal Mahfudh bin Abdurrahman
Penerbit         : Sahadah Press
Jumlah Halaman : 210 hlm 
Cetakan I         : 2018
Peresensi : Siswanto
Rabu 28 Februari 2018 19:29 WIB
Bineka Embrio Indonesia
Bineka Embrio Indonesia
Adagium yang begitu masyhur di Nusantara yang diutarakan oleh Mpu Tantular dalam Kitab Sutasoma yaitu Bhinneka Tunggal Ika (berbeda-beda tapi tetap satu). Mpu Tantular yang hidup pada abad ke-14 di Majapahit adalah seorang pujangga ternama Sastra Jawa. Ia hidup pada pemerintahan Raja Rajasanagara (Hayam Wuruk).

Bhinneka Tunggal Ika merupakan sebuah frasa yang terdapat dalam Kakawin Sutasoma. Kakawin sendiri berarti syair dengan bahasa Jawa kuno. Kakawin Sutasoma merupakan karangan Mpu Tantular yang dituliskan menggunakan bahasa Jawa kuno dengan aksara Bali.

Bisa dibayangkan, pada tahun 1300-an atau abad ke-14 tersebut, seorang Mpu Tantular sudah menyadari keberagaman masyarakat Nusantara zaman Majapahit dulu. Pandangan ini bukan semata khayalan seorang penyair dan sastrawan, tetapi hasil perenungan mendalam Mpu Tantular terkait realitas sosial-masyarakat kala itu.

Tulisan ini tidak bermaksud menerangkan histori Mpu Tantular. Namun, mengawali ulasan buku Merawat Kebinekaan: Pancasila, Agama, dan Renungan Perdamaian karangan Munawir Aziz ini agaknya tepat ketika mengingat kembali sosok Mpu Tantular, sang pencetus Bhinneka Tunggal Ika yang saat ini digenggam erat oleh lambang negara Garuda serta bangsa Indonesia.

Dalam beberapa kesempatan, penulis resensi ini seringkali mengungkapkan bahwa krisis identitas sebuah bangsa salah satunya disebabkan oleh generasinya yang tidak mau atau bisa jadi tidak paham sejarah bangsanya. Sejarah bangsa dari Republik ini telah dilalui banyak era dan masa. Di mana pada masa-masa itu menghasilkan banyak peradaban, tradisi, maupun kebudayaan.

Penulis resensi teringat konsepsi peradaban dari sejarah bangsa Indonesia yang diutarakan oleh Prof KH Said Aqil Siroj, Man laisa lahu ardl, laisa lahu tarikh. Wa man laisa lahu tarikh, laisa lahu dzakiroh (barangsiapa tidak punya tanah air, maka tidak punya sejarah. Barangsiapa tidak punya sejarah, maka akan terlupakan).

Sejarah bangsa yang dikenal eklektik ini harus menjadi pijakan para generasi muda sebagai modal merawat kebinekaan yang dimaksud Munawir Aziz dalam buku yang tebalnya 220 halaman itu. Betapa banyak peradaban fisik dan nonfisik yang dikreasikan bangsa Indonesia. Peradaban yang dimaksud tersebut bukan hanya karya material dan pemikiran semata, tetapi mewujud sebagai sebuah kebudayaan.

Jika peradaban dimaksudkan adalah sebuah karya, maka kebudayaan adalah nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Setiap peradaban yang diciptakan oleh bangsa Nusantara di sejumlah masa tidak lepas dari nilai-nilai adiluhung yang harus mampu dipahami oleh generasi bangsa masa kini (milenial). Apalagi, tantangan merawat peradaban bangsa sebagai modal menjaga kebinekaan mendapat resisten deras dari perkembangan peradaban modern saat ini: dunia digital.

Maka, hadirnya buku Merawat Kebinekaan ini tidak hanya tetap merawat memori kolektif akan identitas orisinal bangsa Indonesia, tetapi juga sebagai upaya peneguhan negara lewat pengamalan nilai-nilai Pancasila; tidak hanya semangat beragama, tetapi juga harus dibarengi dengan kemampuan memahami agama; juga menegakkan perdamaian yang selama ini terjaga dengan baik antaranak bangsa.

Buku ini tidak hanya apik meramu konteks kehidupan dan realitas sosial kekinian, tetapi juga mengaitkannya dengan informasi-informasi sejarah. Seakan, dari setumpuk problem yang kini mendera bangsa Indonesia, penulis buku ingin mengajak masyarakat belajar terhadap sejarah panjang yang telah dilalui bangsa Nusantara agar tidak gagap atau bahkan krisis identitas. Apalagi sampai menggerus kebinekaan yang selama ini sudah terajut dengan baik.

Masyarakat tentu paham dengan salah satu pembesar Kerajaan Majapahit, Patih Gadjah Mada. Politik Majapahit memang kala itu ingin ‘memeluk’ Nusantara secara keseluruhan dalam kerajaan agungnya. Salah satu langkahnya, Gadjah Mada terobsesi menyatukan Nusantara dengan Sumpah Palapanya.

Menurut penulis buku, Sumpah Pemuda lahir sebagai bentuk pengabdian, pernyataan, pengharapan, dan pembuktian. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Gadjah Mada dalam Kitab Negarakertagama anggitan Mpu Prapanca yang dikutip penulis buku dari Slamet Muljana (Menuju Kemegahan, 2015):

Gadjah Mada berujar: “jika telah berhasil menundukkan Nusantara, saya baru akan istirahat. Jika Gurun (Lombok), Seran (Seram), Tanjung Pura (Kalimantan), Haru (Sumatera Utara), Pahang (Malaya), Dompo, Bali, Sunda, Sriwijaya (Palembang), Tumasik (Singapura) telah tunduk, saya baru akan istirahat.”

Sumpah ini diucapkan sebagai janji sepenuh hati oleh Patih Gadjah Mada pada 1256 Saka atau 1334 Masehi yang diungkap penulis buku di halaman 42. Terlepas dari tujuan politik Kerajaan Majapahit, gagasan penyatuan Nusantara bukan hanya ambisi semata, tetapi juga renungan mendalam bahwa bangsa Nusantara merupakan kumpulan masyarakat yang meskipun berbeda-beda, tetapi mempunyai karakteristik yang sama. Di titik ini, penulis resensi teringat pernyataan Gus Dur, “Semakin berbeda kita, semakin kita mengetahui titik-titik persatuan kita.” (Wisdom Gus Dur, 2014). 

Salah satu karakteristik bangsa Nusantara ialah berpikiran terbuka (eklektik). Sebab itu, meskpiun Hindu dan Budha adalah agama yang ada terlebih dahulu sebelum Islam, tetapi ketika para Sufi masuk ke Nusantara membawa misi dakwah, masyarakat Nusantara tidak begitu saja menolak. Bahkan, dengan dakwah yang ramah dan substantif, para sufi yang juga dikenal sebagai Wali Songo itu berhasil menyebarluaskan ajaran Islam dengan damai.

Merunut dakwah yang dilakukan oleh Wali Songo tersebut, mereka juga tetap menjaga kebinekaan yang telah berlangsung di tengah masyarakat. Tradisi dan budaya yang secara substansi syariat (maqashidus syariah) tidak bertentangan dengan ajaran Islam, tidak mereka tolak dan tidak mereka berangus.

Justru Wali Songo menggunakan tradisi dan budaya yang berkembang di masyarakat sebagai instrumen dakwahnya. Logika sederhananya, untuk mengganti air kotor yang ada di dalam gelas, tidak harus mengahncurkan gelasnya.

Sebab itu, keberagaman tradisi, budaya, suku, bangsa, etnis, ras, maupun keyakinan agama yang telah menjadi ciri khas bangsa Indonesia harus tetap terjaga. Meminjam Gus Dur, Indonesia lahir karena perbedaan, tanpa ada perbedaan tak ada Indonesia. Karena bineka adalah embrio Indonesia. Selamat membaca!

Identitas buku:
Judul: Merawat Kebinekaan: Pancasila, Agama, dan Renungan Perdamaian
Penulis: Munawir Aziz
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Cetakan: Pertama, 2017
ISBN: 978-602-04-5100-8
Tebal: xvii + 220 halaman
Peresensi: Fathoni Ahmad
Selasa 20 Februari 2018 17:19 WIB
Bekal Berumah Tangga dari KH Hasyim Asy’ari
Bekal Berumah Tangga dari KH Hasyim Asy’ari
Tradisi akademik dalam bentuk menulis buku dan kitab telah berabad-abad diwariskan oleh para ulama pendahulu. Begitu juga yang dilakukan oleh salah seorang Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari (1871-1947). Ia menulis puluhan kitab fiqih dan hadits yang menjadi kepakarannya.

Berdasarkan proses tashih dan pengumpulan yang dilakukan oleh KH Ishomuddin Hadziq (cucu KH Hasyim Asy’ari), kakek Gus Dur tersebut telah menulis sebanyak 20 buah kitab. Termasuk kitab Dhau’ al-Misbah fi Bayani Ahkam an-Nikah yang diterjemahkan oleh Yusuf Suharto, kiai muda kelahiran Banyuwangi yang saat ini tinggal di Jombang.

Dari terjemahan kitab Dhau’ al-Misbah fi Bayani Ahkam an-Nikah yang diberi judul Nasehat Pernikahan Sang Kiai: Bekal Utama Mengarungi Bahtera Rumah Tangga ini, Yusuf Suharto berupaya menyebarluaskan karya Kiai Hasyim Asy’ari kepada masyarakat luas agar ajaran-ajarannya juga membumi, tidak hanya di kalangan pesantren.

Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Langgar Swadaya ini memuat penjelasan Kiai Hasyim Asy’ari terkait dengan hukum-hukum nikah, rukun, dan hak-hak dalam perkawinan. Kitab yang ditulis oleh ayah KH Wahid Hasyim ini sangat ringkas. Setelah diterjemahkan dalam bentuk buku hanya memuat 71 halaman.

Tetapi, masyarakat perlu mengetahui sebab-musabab kenapa Kiai Hasyim Asy’ari menuliskan kitab nikah sebegitu singkatnya. Dalam muqaddimahnya, setelah mengucap rasa syukur dan menyampaikan shalawat kepada Nabi Muhammad, Kiai Hasyim Asy’ari memberikan penjelasan:

Inilah risalah yang berisikan beberapa hukum pernikahan. Adapun yang mendorong saya menulis risalah ini adalah banyaknya orang awam di negeri saya ini yang hendak menuju jenjang pernikahan tetapi tidak mempelajari terlebih dahulu syarat, rukun, dan etikanya. Padahal bagi mereka mempelajari semua itu adalah wajib.

Saya sempat mengamati penyebabnya mengapa mereka tidak mempelajari rukun, syarat, dan etika pernikahan. Ternyata penyebabnya adalah pembahasan pernikahan berada dalam kitab-kitab besar dan berjilid-jilid. Akibatnya mereka tidak bersemangat mempelajarinya.

Itulah penggalan dua paragraf dari muqaddimah kitab Dhau’ al-Misbah fi Bayani Ahkam an-Nikah yang diutarakan oleh Kiai Hasyim Asy’ari. Di situ jelas sekali ditulis bahwa Kiai Hasyim berupaya menyajikan hal-hal yang berkaitan dengan kewajiban nikah dalam bentuk risalah atau kitab yang lebih singkat sehingga mudah dipahami dan dimengerti oleh masyarakat luas.

Tentu Kiai Hasyim Asy’ari menyarikan risalah singkat ini dengan merujuk kepada kitab-kitab karya ulama yang tebal dan berjilid-jilid. Buku ini layaknya seorang dosen menyusun diktat kuliah bagi para mahasiswanya berdasar sumber-sumber primer. Namun, bukan berarti masyarakat tidak perlu mempelajari lebih jauh lagi keterangan para ulama dari kitab-kitab yang berjilid-jilid itu.

Orang awam yang dimaksud Kiai Hasyim Asy’ari tentu masyarakat zaman dulu, ketika mereka belum memiliki kesadaran kuat dalam mempraktikkan ibadah sesuai syariat Islam, yaitu pernikahan. Bagi kaum santri dan kalangan pesantren, mempelajari syariat berdasarakan kajian berbagai kitab mungkin sudah terbaisa. Tetapi bagi masyarakat awam, seorang ulama harus pandai menyiasati dakwahnya, baik dakwah dalam bentuk lisan maupun tulisan.

Dari sudut pandang demikian, Kiai Hasyim Asy’ari tidak hanya mumpuni dalam keilmuan agama Islam, tetapi ia juga memahami kondisi sosial masyarakatnya sehingga dakwah yang berusaha disampaikannya mudah diterima dan dipahami.

Kiai Hasyim tidak mau membandingkan antara kemampuan dan ghirah (semangat, motivasi) santri dalam menuntut ilmu agama dengan masyarakat yang membutuhkan sajian praktis dalam memahami ilmu agama. Sebab itulah risalah singkat tentang syarat, rukun, dan etika pernikahan ini merupakan pegangan yang sangat penting bagi masyarakat umum.

Karena diperuntukkan bagi masyarakat umum, buku ini tidak hanya berlaku bagi masyarakat pada konteks ketika kitab ini ditulis, namun tetap menjadi rujukan penting bagi masyarakat sekarang. Yakni bagaimana seorang Kiai Hasyim Asy’ari, sang pemilik sanad ke-14 dari Kitab Shahih Bukhori Muslim ini menyajikan keterangan dan dalil terkait pernikahan.

Keterangan dan dalil yang disajikan oleh Kiai Hasyim merujuk pada kitab-kitab babon (besar) seperti Kitab al-Um karya Imam Syafi’i dan Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali. Karena risalah ini tidak hanya memuat syarat dan rukun, tetapi etika, hak dan kewajiban suami-istri dalam berumah tangga. Selamat membaca!

Identitas buku:
Judul: Nasehat Pernikahan Sang Kiai: Bekal Utama Mengarungi Bahtera Rumah Tangga
Penerjemah: Yusuf Suharto
Penerbit: Langgar Swadaya Depok
Cetakan: Pertama, 2015
ISBN: 978-979-16662-7-5
Peresensi: Fathoni Ahmad
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG