IMG-LOGO
Nasional

Kiai Sahal, Produk Dalam Negeri Tapi Kualitas Ekspor

Senin 19 Maret 2018 6:0 WIB
Bagikan:
Kiai Sahal, Produk Dalam Negeri Tapi Kualitas Ekspor
Jakarta, NU Online
Santri KH MA Sahal Mahfudh Ulil Abshar Abdalla mengatakan, Kiai Sahal tidak pernah kuliah di luar negeri, baik di negara Timur Tengah atau Barat, namun ia memiliki kualitas keilmuan dan wawasan yang luas.

“Beliau adalah kiai produk asli dalam negeri, tapi kualitas ekspor,” kata Ulil saat memberi Mauidlah Hasanah saat acara Haul Masyayikh Perguruan Islam Mathali’ul Falah dan Hataman Bulanan KMF Jakarta di Ndalem Kiai Sahal di Pejaten, Jakarta, Ahad (18/3). 

Kiai Sahal memulai pendidikan formalnya di Madrasah Ibtidaiyyah (1943-1949) dan Madrasah Tsanawiyah (1950-1953) di Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM). Tahun 1953-1957, Kiai Sahal belajar di Pesantren Bendo Pare Kediri di bawah asuhan Kiai Muhajir. Lalu kemudian ia melanjutkan belajar di Pesantren Sarang selama 3,5 tahun (1957-1960).

Meski hanya mengenyam pendidikan di pesantren, lanjut Ulil, Kiai Sahal mampu membuat santrinya memiliki pandangan yang luas terhadap dunia ini. 

“Perasaan saya ketika diajar Kiai Sahal, beliau membuat kita merasa dunia kita menjadi luas sekali meski kita santri Kajen yang ada di pelosok,” tuturnya.

Ia mengaku heran karena Kiai Sahal yang hanya produk pesantren bisa memiliki pandangan yang luas dan lain dengan kiai-kiai Kajen lainnya meski kitab yang dibaca sama. 

“Kiai yang kelihatan sekali pandangannya itu metropolitan. Pandangannya melintasi bukan hanya Indonesia tapi luar Indonesia,” terangnya.

Ia menduga, pandangan luas yang dimiliki Kiai Sahal itu ada kaitannya dengan kitab Ihya Ulumuddin. Ini didasarkan pengalaman Ulil saat mewawancarai Kiai Sahal ketika masih menjadi santri di Perguruan Islam Mathali’ul Falah dulu. Menurutnya, Kiai Sahal merujuk kitab Ihya Ulumuddin ketika waktu itu diwawancarai mengenai kategori ilmu pengetahuan.

Al Ghazali, imbuh Ulil, membagi ilmu pengetahuan menjadi dua, yaitu ilmu muamalah (ilmu yang berkaitan dengan interaksi antar sesama manusia) dan mukasyafah (ilmu tasawuf). Sementara ilmu muamalah juga dibagi menjadi dua yakni ilmu muamalah syar’iyyah (ilmu yang berasal dari wahyu) dan ghoiru syar’iyyah (tidak berasal dari wahyu). 

Ulil menambahkan, ilmu muamalah ghoiru syar’iyyah juga dibagi lagi menjadi dua yaitu mahmudah (dianjurkan untuk mempelajarinya seperti ilmu kedokteran) dan madzmumah (tidak dianjurkan untuk mempelajarinya seperti ilmu sihir).   

Ilmu muamalah ghoiru syar’iyyah mahmudah itu ada kategorinya yang fardlu kifayah. Kata Al-Ghazali Ilmu muamalah ghoiru syar’iyyah mahmudah itu seperti kedokteran. Di sini saya baru tahu kenapa Kiai Sahal mendirikan RSI (Rumah Sakit Islam),” terangnya.

“Kiai Sahal tidak hanya sekedar baca Ihya, tapi melaksanakan Ihya di dalam tindakan nyata,” tambahnya. (Muchlishon)
Bagikan:
Senin 19 Maret 2018 21:45 WIB
Gus Mus: Islam Mengubah Suatu Persoalan Secara Bertahap
Gus Mus: Islam Mengubah Suatu Persoalan Secara Bertahap
Jakarta, NU Online
Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang, Jawa Tengah KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus menjelaskan, Islam mengubah tatanan masyarakat secara bertahap, tidak langsung merombak semuanya seketika itu juga. 

“Sehingga penghapusan katakan lah perbudakan sampai budak tidak ada lagi dalam Islam, meski di tempat lain masih ada, itu bukan secara drastis,” kata Gus Mus dalam sebuah video yang diunggah akun GusMus Channel di Youtube, Senin (19/3).

Gus Mus melanjutkan, Islam berupaya menghapus perbudakan dengan cara mempermudah proses penghapusannya seperti seorang yang melanggar aturan tertentu maka hukumannya adalah dengan memerdekakan budak. 

“Sekarang, dihapuskan atau tidak dihapuskan sudah tidak ada lagi perbudakan dalam Islam,” kata Gus Mus menjawab pertanyaan dari Gus Yahya yang menyebutkan Abraham Lincoln menghapus sepenuhnya perbudakan di Amerika Serikat.   

Mustasyar PBNU ini menerangkan, misi daripada Nabi Muhammad adalah menyempurnakan apa yang sudah ada. Perbudakan tidak bisa dibenarkan dan dilanggengkan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan.

"Ini bagian daripada itu, menyempurnakan," tambahnya.  

Dalam penghapusan perbudakan, Gus Mus memadankan dengan kasus pelajaran minuman keras. Awalnya, Al-Qur’an memberikan informasi tentang buah kurma dan anggur yang mengandung alkohol, lalu disebutkan adanya manfaat dan mudarat dari minuman keras, kemudian larangan shalat saat mabuk, dan penetapan keharaman minuman keras (khamr). Ini terekam dalam Al-Qur’an Surat An-Nahl: 67, Al-Baqarah: 219, An-Nisa: 43, dan Al-Maidah: 90-91.

“Ini bagaimana Kanjeng Rasul, Islam menyempurnakan. Yang disempurnakan bukan hanya tata nilai, tapi manusianya juga disempurnakan,” tutup dia. (Muchlishon)
Senin 19 Maret 2018 21:15 WIB
Menteri Pertanian Sebut Swasembada Jagung Berkat PBNU
Menteri Pertanian Sebut Swasembada Jagung Berkat PBNU
Jakarta, NU Online
Tahun 2016 lalu, Indonesia masih mengimpor 3,6 juta ton jagung. Tetapi tahun 2018 berubah, Indonesia telah mengekspor jagung ke Malaysia dan Filipina dengan nilai 10 sampai 12 triliyun. Salah satu yang membuat hal itu bisa terjadi, menurut Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, adalah berkah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

“Salah satu yang berkontribusi adalah PBNU,” kata menteri asal Bone, Sulawesi Selatan itu pada penandatanganan kerja bersama Road to Pesantren Agro di Gedung PBNU lantai 8, Jalan Kramat Raya No 164, Jakarta, Senin (19/3).

PBNU tahun ini menargetkan menanam jagung di 100 ribu hektar lahan. Menanggapi hal itu, pria yang meraih titel sarjana hingga doktornya di Universitas Hasanuddin itu berharap PBNU bisa menggarap lebih dari itu.

“Mimpi besar kami khusus dari PBNU 100 ribu (hektar) ya pak? Naikkan lagi 200 ribu,” katanya. “Terlalu kecil (100 ribu hektar),” lanjutnya.

Selain PBNU, Menteri Amran juga menyebut ekspor itu berkat kontribusi para bupati. Hal itu mengingat peran bupati yang mengolah lahan tidurnya dengan menanam jagung. Menurutnya, 800 dari 900 orang Gorontalo yang berangkat ke tanah suci itu karena jagung.

Amran juga menyebutkan bahwa kualitas jagung Indonesia baik. Hal itu dapat dilihat dari kaki ayam yang mengonsumsinya berwarna kuning.

Program Budidaya Jagung Nasional kerja sama PBNU dan Kementerian Pertanian juga melibatkan 27 kabupaten dan kota, Kementerian Pertanian, Kementerian Desa, Transmigrasi, dan Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah.

Selain jagung, pemerintah saat ini juga telah berhasil mengekspor bawang ke enam negara.

Mimpi Besar Lain
Selain ingin menanam jagung di 200 ribu hektar atas kerjasama dengan PBNU, Menteri Amran juga berencana memberikan edukasi dan pendampingan. Selama ini, beberapa petani membiarkan tanah tidur saat hujan.

“Mimpi besar lainnya, membangunkan petani tidur dan lahan tidur,” katanya.

Amran menceritakan bahwa Jerman melakukan daur ulang air hujan hingga 40 kali. Ia juga bermimpi agar Indonesia dapat memanfaatkan air hujan sebelum sampai ke lautan.

“Bagaimana air hujan di Indonesia jangan ada yang lepas ke lautan sebelum menjadi karbohidrat,” ujarnya.

Amran juga ke depan berencana menggeser fokus ke rempah-rempah. Ia mengingatkan kembali para hadirin bahwa Indonesia dulu dijajah bukan karena tambang, tetapi karena rempah-rempah. Menurutnya, pala Nusantara cukup hebat.

“Sedihnya yang pelihara Allah, yang tanam Allah, yang panen baru manusia,” keluh Amran. (Syakir NF/Ibnu Nawawi)

Senin 19 Maret 2018 21:10 WIB
PBNU dan Pemerintah Optimis Swasembada Jagung 100.000 Hektar
PBNU dan Pemerintah Optimis Swasembada Jagung 100.000 Hektar
Jakarta, NU Online
Penanggung jawab program penanaman jagung H Umar Syah mengaku optimis melanjutkan kerja sama dengan Kementerian Pertanian dalam penanaman jagung di sejumlah daerah karena semua hambatan, termasuk pembeli sudah terjawab. 

"Kami semakin optimis," katanya di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (19/3). 

Menurut pria yang juga Ketua PBNU itu, sebelumnya persoalan tentang kejelasan keberadaan pembeli banyak dikhawatirkan oleh masyarakat dan pemerintah daerah (pemda), termasuk PBNU.

"Semangat pemda juga tinggi karena dia melihat ada pembeli," katanya. 

Optimisme juga muncul dari Menteri Pertanian H Andi Amran Sulaiman. Menurut Umar, pada lanjutan kerja sama ini, Menteri Amran tercengang melihat semangat kerja dan perkembangan tim yang menangani penanaman jagung.

"Malah Pak Amran menantang bukan 100.000, tapi 200.000 hektar," jelasnya. 

Pada 2017, PBNU menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Kementerian Pertanian tentang penanaman jagung dengan target sepuluh ribu hektar. 

Pada tahun ini, PBNU dengan Kementerian Pertanian RI melanjutkan program kerja sama tersebut dengan menargetkan penanaman jagung lebih luas, yakni 100.000 hektar. 

Untuk menyukseskan program tersebut, PBNU juga melibatkan 27 bupati menggandeng pihak lain, seperti perbankan, perusahaan pupuk, perusahaan obat-obatan, dan pembeli. (Husni Sahal/Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG