::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Relasi Ulama India dan Nusantara

Jumat, 23 Maret 2018 16:00 Fragmen

Bagikan

Relasi Ulama India dan Nusantara
Pengarang kitab Idzharul Haq, Syekh Rahmatullah al Kairanawi al Hindi adalah pendiri Madrasah Shaulatiyah, Makkah. Kitab itu mematahkan argumentasi pemuka Kristen saat itu, Gottlieb Pfander, ketika kedua pemuka agama ini berdebat soal teologi selama 3 hari di salah satu daerah di India.

Ada yang menilai KH Hasyim Asyari pernah berguru kepada ulama top India ini, meskipun dari tahunnya tampaknya tidak ada pertemuan antara keduanya, sebab Kiai Hasyim tiba di Makkah sekitar 1892, sedangkan Syekh Rahmatullah wafat 1891. Kiai Hasyim mungkin berguru ke putra beliau, Syekh Salim bin Rahmatullah (wallahu a'lam).

Syekh Rahmatullah turut serta menggerakkan revolusi Indian Mutiny, 1857, di mana beliau kemudian diburu Inggris lalu lari ke Makkah dan disambut Sayyid Zaini Dahlan, Mufti Syafiiyah di Haramain. Makkah saat itu adalah kota suci yang kosmopolit dan terbuka untuk kajian keilmuan lintas mazhab, tidak seperti saat ini yang dikuasai Wahabi yang menghendaki monopoli paham keagamaan dan ekspor ideologi.

Selain matarantai keilmuan yang diduga melalui jalur Syekh Rahmatullah al Hindi, keakraban orang orang Indonesia dengan orang India juga ditandai dengan banyaknya muslim Nusantara yang menuntut ilmu di Madrasah Shaulatiyah, yang dari namanya dinisbatkan kepada perempuan dermawan asal India, Begum Shaulatun Nisa, yang telah menjadi donatur tunggal pembangunan madrasah tersebut.

Meskipun di kemudian hari ulama Indonesia memilih mendirikan Darul Ulum setelah keluar ramai-ramai dari Shaulatiyah (karena ketersinggungan nasionalistik), namun transmisi keilmuan kelompok aswaja Nusantara tetap melewati jalur ulama Hindustan. Yang paling populer tentu saja karya kakek dan cucu yang punya nama sama: Syekh Zainuddin Malibary.

Syekh Zainuddin al-Malibari (w. 987 H./1579 M) adalah ulama fiqh madzhab Syafii kelahiran Malabar, India yang juga disebut sebagai Zainuddin Ats-Tsani, karena kakeknya juga bernama Zainuddin. Zainuddin Ats-Tsani ini adalah penulis Fathul Mu’in yang merupakan syarah atas karyanya sendiri, Qurratul ‘Ain bi Muhimmatid Din. Isryadul Ibad ila Sabil Ar-Rasyad adalah karya lainnya.

Sedangkan kakeknya, Zainuddin bin Ali bin Ahmad al-Malibari juga merupakan pakar fiqh Syafiiyah yang lahir di Malibar/Malabar pada tahun 872 H/1467 M dan wafat di Ponani (Fanan) pada 928 H./ 1521 M. Karya sang kakek yang cukup populer di Indonesia adalah kitab tasawuf Hidayatul Adzkiya Ila Thariqil Auliya’.

Zainuddin al-Malibari senior ini juga dikenal dengan nama Zainuddin al-Fanani, dinisbatkan pada nama tempat wafatnya. Kitab Hidayatul Adzkiya Ila Thariqil Auliya’ ini adalah salah satu kitab tasawuf yang paling populer di awal abad ke XX, dimana ulama sekaliber KH. Sholeh Darat memberi syarah kitab ini dengan judul Minhaj al-Atqiya fi Syarh Hidayatul Adzkiya Ila Thariqil Auliya’.

Selain duo Malibari ini, di abad ke 17 dan 18 di wilayah Sumatera dan Jawa para bangsawan Aceh dan Yogyakarta akrab dengan kitab Tuhfat al Mursalah ila Ruh an Nabi, kitab tasawuf yang mengupas Martabat Tujuh dan pemikiran spiritual Ibn Arabi. Kitab karya ulama India, Syekh Fadhlullah Burhanpuri (w. 1620) ini membumi seiring dengan dominasi Tarekat Syattariyah di lingkungan elit keraton. Tarekat ini pun didirikan oleh ulama India, Syekh Abdullah Asysyattari (w. 1485), meskipun transmisi ruhaniah ke ulama Nusantara tidak dari India, melainkan melalui ulama Makkah dan Madinah karena Syekh Abdurrauf Assinkili dibaiat oleh Syaikh Ahmad al-Qusyasyi, sufi Palestina.

Begitu populernya kitab Tuhfah ini, sehingga Pangeran Diponegoro yang menjadi pengamal Tarekat Syattariah menjadikannya sebagai kitab kesayangan, selain kitab Taqrib (kalau Kiai Mojo memilih Fathul Wahhab sebagai kitab pegangan).

***

Pasca kemerdekaan Indonesia, 1945, dan India, 1947, jalur keilmuan kedua negara ini lebih banyak terjalin melalui hubungan para aktivis Jamaah Tabligh, yang mulai menguat sejak 1990-an. Relasinya dipilin melalui transmisi para murid Syekh Muhammad Zakariyya ibn Muhammad Yahya ibn Muhammad Ismail al-Kandhlawi yang masyhur dengan karyanya, Fadhail al Amal, itu.

Di bidang hadis, ada relasi erat pakar hadits India, Muhammad Mustafa Azami, dengan pakar hadits Indonesia, KH Ali Musthafa Ya'qub sejak era 1990-an.

Sedangkan ulama top India saat ini, Maulana Wahiduddin Khan tidak begitu populer di Indonesia. Maklum, di negara kita, pejuang perdamaian dan kemanusiaan akan kalah pamor dan kalah populer dibandingkan dengan tukang pentung dan penganjur kekerasan. Padahal nama terakhir ini turut andil dalam menjaga stabilitas kehidupan beragama di India. Ulama berwajah teduh dan berpenampilan kalem ini giat mengkampanyekan moderatisme Islam sejak tahun 1970-an. Maulana Wahiduddin Khan juga mendirikan Center for Peace and Spirituality, satu yayasan yang mendakwahkan kedamaian dan spiritualitas, tasawuf. Ia kerap berkunjung ke berbagai wilayah dan bertemu berbagai tokoh lintas iman untuk berdialog, bukan berdebat.

Pada 2015 lalu, di Abu Dhabi, beliau mendapat penghargaan dari Majlis Hukama al-Muslimin pimpinan Syekh Abdullah bin Bayyah atas kerja kerasnya mengkampanyekan perdamaian sepanjang hidupnya.

Ini hanya artikel rintisan. Masih banyak yang belum ditulis mengenai relasi penting ulama India dan Indonesia sejak awal masuknya Islam di Nusantara, yang ditengarai--antara lain-- melalui jalur Gujarat. WAllahu a'lam bisshawab. (Rijal Mumazziq)