::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

LBM Lampung Bukukan Tradisi dan Amaliah Bulanan NU

Kamis, 12 April 2018 15:30 Daerah

Bagikan

LBM Lampung Bukukan Tradisi dan Amaliah Bulanan NU
Pringsewu, NU Online
Dalam rangka menjelaskan dalil tentang budaya atau tradisi dan amaliah-amaliah yang biasa dilakukan oleh warga NU setiap bulannya, Lembaga Bahtsul Masail (LBM) NU Provinsi Lampung menerbitkan sebuah buku yang diberi judul Tradisi dan Amaliah Bulanan Warga NU.

Buku setebal 123 halaman ini memaparkan dalil-dalil amaliah warga NU dengan tujuan memberikan pemahaman bahwa apa yang selama ini dilakukan mempunyai dasar dan dalil dari sumber yang bisa dipercaya.

"Bukan amalan yang diada-adakan tanpa dasar hukum. Juga bukan sebuah prilaku bid’ah dlalalah yang pelakunya dianggap sesat dan diancam api neraka," jelas KH Munawir, Ketua LBM NU Provinsi Lampung yang akrab disapa Gus Nawir menjelaskan tentang isi buku tersebut, Kamis (12/4).

Lebih lanjut Gus Nawir menjelaskan bahwa sebelum Islam masuk ke Indonesia perbuatan bid’ah dlalalah, munkar dan khurafat banyak sekali terjadi. Perbuatan tersebut banyak dilakukan karena sudah menjadi tradisi dan budaya. Namun oleh oleh para ulama pembawa risalah Islam, budaya dan tradisi yang ada tersebut tidak serta merta dihilangkan begitu saja. Para ulama menyikapi  budaya dan tradisi tersebut dengan bijaksana.

"Budaya atau tradisi yang memang menurut agama Islam sudah benar, dimasukkan ke dalam bingkai Islam. Bahkan bisa menjadi media da’wah seperti gotong-royong dan yang lainnya yang sudah ada sebelum Islam masuk ke Indonesia. Kita tinggal mentauhidkan saja," jelasnya.

Budaya atau tradisi yang menurut Islam keliru, tetapi masih bisa diperbaiki semisal budaya menghormati roh leluhur, seperti ritual selamatan ketika ada orang meninggal lanjutnya, dimasukkan nilai-nilai agama Islam.

"Selamatannya diganti Laa ilaaha illa allah. Makannya atau suguhannya diniati shadaqah dan tauhidnya ditegakkan lalu jadilah tradisi tahlilan seperti dilakukan warga NU sekarang ini," terang Ketua Komisi Fatwa MUI Lampung ini.

Selanjutnya budaya atau tradisi yang menurut islam tidak bisa ditoleransi lagi, karena memang masuk dalam kategori perbuatan munkar dihilangkan dengan cara yang bijaksana.

"Dengan buku dalil amaliah setiap bulan ini kita berharap amaliah warga NU akan senantiasa langgeng dan warga NU penuh kemantapan dalam melaksanakannya," pungkasnya. (Muhammad Faizin)