IMG-LOGO
Risalah Redaksi

Isra’ Mi’raj sebagai Pengingat Keterbatasan Manusia

Sabtu 14 April 2018 13:15 WIB
Bagikan:
Isra’ Mi’raj sebagai Pengingat Keterbatasan Manusia
Setiap tanggal 27 Rajab, kita selalu memperingati Isra’ Mi’raj yang merupakan naiknya Nabi Muhammad ke Sidratul Muntaha, sebuah ruang tak tersentuh manusia, untuk menerima perintah shalat. Peristiwa ini penuh makna dengan adanya bebarapa kali “negosiasi” Nabi yang Muhammad meminta agar jumlah kewajiban shalat dikurangi atas saran dari Rasul yang hidup sebelum kenabiannya mengingat manusia akhir zaman merupakan kaum yang lemah.

Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kini manusia bisa mengendalikan banyak hal. Manusia kini bukan lagi makhluk yang lemah, yang tak berdaya di hadapan alam. Begitu kebanyakan manusia memandang dirinya. Dengan demikian, mereka telah memposisikan diri seperti tuhan yang mampu menciptakan dan mengendalikan hanya hal. 

Kloning untuk menciptakan kembaran binatang sudah dilakukan. Dalam jangka waktu yang tak lama lagi, mungkin saja kloning manusia dilakukan. Atau mungkin saja sudah dilakukan di sebuah laboratorium rahasia, entah di mana lokasinya. Bedah plastik yang mengubah wujud manusia sudah jamak dilakukan. Entah untuk alasan estetika atau untuk kesehatan. Rata-rata umur manusia semakin panjang dan kini terus dikembangkan teknologi untuk memperpanjang umur manusia yang mana sel-sel tubuh tetap dalam kondisi muda. Akankah manusia akan bisa hidup abadi? Itu menjadi pertanyaan yang kini dibahas kembali seiring kemajuan kemajuan teknologi.

Rekayasa genetika juga berhasil menciptakan berhasil menciptakan berbagai jenis hewan sesuai kebutuhan manusia seperti ayam yang cepat besar atau memiliki telur banyak, sapi yang menghasilkan banyak susu, atau domba yang menghasilkan bulu lebih halus. Berbagai varietas tumbuhan baru yang lebih produktif, rasa yang lebih enak, atau lebih tahan terhadap penyakit juga terus dilahirkan. 

Belum lagi penemuan-penemuan baru yang muncul dalam beberapa abad terakhir seperti pesawat terbang yang membuat manusia bisa terbang seperti burung atau kapal selam yang menjadikan manusia memiliki kemampuan layaknya ikan. Penemuan teknologi baru ini mengalami percepatan mengingat dunia usaha atau pemerintah berusaha menjadi yang terdepan dalam sebuah bidang industri atau jasa. 

Apakah dengan segala kemudahan yang berhasil diciptakan ini membuat manusia menjadi lebih bahagia? Ini merupakan pertanyaan yang sulit dijawab. Yang pasti, upaya manusia untuk mengejar kemajuannya telah membuat makhluk hidup lainnya yang dulu hidup berdampingan mengisi bumi ini semakin menderita. Hutan-hutan ditebangi untuk memenuhi hasrat keserakahan manusia. Selanjutnya, hewan yang hidup di dalamnya kini terancam punah. Keseimbangan bumi mulai mengalami goncangan dengan adanya pemanasan global. Suhu udara di beberapa bagian dunia meningkat drastis pada musim panas yang menyebabkan kematian sementara di lokasi lainnya, hujan yang tiada henti menyebabkan banjir bandang di sebuah area yang sebelumnya aman-aman saja. 

Apakah dengan segala kemajuan ini, bumi semakin aman dan terkelola? Ternyata terdapat ancaman baru yang memusnahkan manusia, dari teknologi yang dibuat oleh manusia sendiri. Perang nuklir yang bisa saja terjadi dengan tiba-tiba akan memusnahkan jutaan manusia di kota-kota metropolitan yang mungkin saja menjadi sasaran dari pemimpin tanpa hati nurani yang memerintahkan pengeboman nuklir. Atau bisa saja senjata kimia yang menyebar melalui udara menjadi pembunuh tanpa ampun, yang hanya mematikan manusia tetapi tidak menghancurkan infrastrukturnya. Di satu sisi upaya perbaikan kualitas hidup manusia terus ditingkatkan, alat-alat penghancur peradaban dengan skala yang semakin massif juga terus dikembangkan. 

Temuan kecil dengan efek kupu-kupu mampu menimbulkan badai di tempat lain di dunia. Teknologi digital yang dikerjasakan di garasi atau asrama kampus dengan cepat menyebar ke seluruh dunia. Aplikasi media sosial hanya dalam waktu beberapa tahun sudah dipakai dan menjadi kebiasaan bagi banyak orang di seluruh dunia. Tapi di sisi lain, saat ada kepanikan, maka hal tersebut juga dengan cepat menyebar ke seluruh pelosok dunia. 

Belum lagi, jika muncul sebuah wabah penyakit yang dengan cepat dapat menular ke seantero dunia, mengingat mobilitas manusia yang semakin tinggi dari satu wilayah ke wilayah lainnya. HIV/AIDS yang muncul dari komunitas kecil di suatu tempat, kemudian dengan cepat menyebar melalui beragam cara. Dan baru disadari ketika ketika sudah menjadi wabah yang memakan banyak korban. 

Bahkan, jika memandang dari sudut kemampuan menghadapi alam, manusia kini lebih lemah dari umat-umat terdahulu. Mungkin ini bagian yang dimaksudkan oleh para Rasul terdahulu saat memberi nasehat kepada Nabi Muhammad. Kita sedemikian tergantung dengan teknologi dan peralatan. Tanpa mobil, listrik, korek api, dan bahkan teknologi-teknologi sederhana yang sudah akrab dalam kehidupan sehari-hari, kita mati kutu, terdiam tak bisa melakukan apa-apa. Ketrampilan kita untuk bisa bertahan menghadapi alam sudah hilang tersapu oleh kemajuan teknologi.

Sikap hati-hati dalam menerima dan mengembangkan teknologi baru ini dalam menjaga harkat manusia untuk menyadarkan bahwa ada banyak hal yang di luar kendali manusia, yang bisa menyebabkan kehancuran peradaban manusia itu sendiri. Bahwa manusia sendiri adalah makhluk yang lemah. Isra’ Mi’raj menjadi pengingat bagi kita bahwa manusia tetaplah lemah di hadapan raksasa semesta yang hingga kini masih menyimpan rahasia tak terkira. 

Pengembangan teknologi yang dilandasi dengan etika dan moral, akan menjaga teknologi tersebut untuk kepentingan terbaik manusia, bukan untuk memenuhi hasrat keserakahan pada pemilik modal atau ilmuwan eksentrik yang hanya peduli pada popularitas dan tujuan pribadi semata. (Achmad Mukafi Niam)

Bagikan:
Sabtu 7 April 2018 16:15 WIB
Mendekatkan Seni dan Agama
Mendekatkan Seni dan Agama
Puisi berjudul Ibu Indonesia yang dibawakan oleh Sukmawati Soekarnoputri menimbulkan kontroversi luar biasa di masyarakat karena dianggap menyinggung perasaan umat Islam karena salah satu baitnya membandingkan antara adzan dan kidung. Jutaan ekspresi kekecewaan diunggah di berbagai media sosial. Untungnya Sukmawati segera merespon cepat dengan meminta maaf atas puisi yang menyinggung umat Islam tersebut sehingga kasus tersebut cepat reda. 

Puisi atau seni bisa menggelorakan semangat sebuah bangsa, memperdalam spiritualitas, tetapi juga persoalan bagi masyarakat. Penyair merupakan sebuah profesi yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Pada masa Arab Jahiliyah, mereka menentukan citra baik atau buruk pada orang-orang yang disebutkannya dalam baris-baris syairnya. Di negara-negara otoriter, puisi merupakan sarana untuk untuk mengekspresikan pendapat. Terlihat sederhana, puisi memiliki peran besar dalam sejarah perkembangan manusia untuk mengekpresikan kegelisahan dan membantu menyelesaikan persoalan.

Seni merupakan sebuah ekspresi jiwa yang disampaikan dengan cara yang indah. Puisi adalah ekspresi keindahan dalam bentuk kata-kata. Tradisi berpuisi sudah tumbuh sejak zaman kuno, jauh sebelum era munculnya Islam. Al-Qur’an sendiri disampaikan dalam bentuk bahasa yang sangat indah tiada bandingan. Hingga kini, di tengah munculnya beragam bentuk baru berkesenian, menulis puisi masih menjadi sarana ekpresi banyak seniman. Dalam tradisi lokal, kita mengenal pantun, mocopat, dan lainnya.

Seniman seperti Gus Mus, Cak Nun, atau Taufik Ismail menciptakan puisi untuk mengekspresikan kecintaan kepada Allah. Karya yang mereka ciptakan mampu mendekatkan kita kepada Sang Pencipta. Allah sendiri dalam satu namanya adalah Maha Indah atau Al-Jamil dan mencintai keindahan. Ekspresi kecintaan kepada Rasulullah yang disampaikan dengan membaca beragam shalawat kini juga sangat disukai oleh masyarakat. Lantunan shalawat yang diunggah di berbagai media sosial ditonton oleh jutaan pemirsa. Ini menunjukkan bahwa seni bisa mendekatkan kita dengan tuhan dengan cara yang mengasyikkan. Menghadap tuhan tidak harus selalu dengan wujud ketakutan akan hukuman, tetapi juga bisa melalui kerinduan yang luar biasa. Dan hal itu paling mudah diekspresikan melalui seni.

Sayangnya ada pula seniman yang memaknai kebebasan berekpresi dengan menciptakan karya yang melanggar norma-norma dan harmoni masyarakat, termasuk di antaranya mengamuflasekan konten-konten pornografis sebagai seni. Ini merupakan sebuah area abu-abu yang rawan perdebatan. Bagi masyarakat yang majemuk seperti Indonesia, memahami nilai-nilai kelompok lain juga sangat penting. Seniman seharusnya merupakan orang yang peka terhadap nilai, ekpresi, dan emosi sosial masyarakat di sekitarnya. Bagi kelompok ateis mengekspresikan seni dalam bentuk apa saja boleh, tapi bagi kelompok yang memegang teguh nilai-nilai agama yang kuat, selalu ada kreativitas dalam koridor nilai dan norma masyarakat.

Seni memiliki batasan yang luas dalam pandangan mazhab Islam sangat beragam. Kelompok konservatif bahkan menganggap seni tilawah Al-Qur’an itu haram. Yang masih menjadi perdebatan adalah melukis yang berwujud makhluk hidup. Rujukan-rujukan klasik mengharamkan musik, tetapi musik telah menjadi bagian yang melekat dalam kehidupan sehari-hari. Persoalan-persoalan seperti ini harus diselesaikan oleh para ulama. Almarhum mantan rais ‘aam PBNU Kiai Sahal Mahfudh menyatakan bahwa fiqih harus memberi solusi pada masyarakat. Panduan keagamaan yang jelas akan membantu menumbuhkembangkan bakat-bakat seni yang selama ini masih diliputi keragu-raguan atas status hukum dalam berkesenian.

Ada suatu masa bagi warga NU di mana gitar dianggap haram dan nonton film juga dilarang.  Akibatnya kini tidak banyak pelaku seni peran yang berlatar belakang NU sehingga warna-warna dakwah ala NU kurang tercermin.  Ketika dunia hiburan berkembang dan lebih mudah diakses dengan peralatan yang semakin canggih, ekpresi keislaman yang muncul cenderung konservatif seperti mencitrakan kesalehan sekadar dengan pakaian atau bahasa yang kearab-araban. Sebagian besar hiburan masyarakat kini tergantung pada televisi dan kini, dengan kemudahan membuat video yang bisa diunggah dengan gampang di media sosial, alternatifnya semakin banyak. Komunitas seniman NU saat ini harus berlari kencang mengejar ketertinggalan tersebut agar memiliki pengaruh besar dalam membentuk citra seni Muslim di Indonesia. Dengan jumlah pengikut yang besar, tentu ada banyak bakat terpendam yang siap dikembangkan. 

Upaya untuk mengembangkan seni harus terus diperkuat. Pada muktamar ke-33 NU di Jombang, telah diputuskan untuk membentuk badan otonom Ikatan Seni Hadrah Indonesia (Ishari). Proses pelembagaan untuk memberi wadah bagi para pecinta hadrah yang tumbuh subur tersebut masih terus berjalan. Jika wadah tersebut sudah terbentuk, tentu akan lebih mudah mengorganisirnya. Seni dapat menjadi sebuah strategi dakwah yang dapat dengan mudah diterima banyak pihak di tengah-tengah menguatnya ekspresi keislaman yang cenderung semakin konservatif.

Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia Nadhaltul Ulama (Lesbumi NU) dapat terus diperkuat dan dikembangkan. Wadah ini bisa menjadi sarana bagi para sineas, penyair, pelukis, penulis dan lainnya untuk bersama-sama memaksimalkan potensi yang ada. Sesungguhnya banyak sekali potensi di lingkungan pesantren yang menunggu sentuhan, bimbingan, dan pemberian tantangan agar bisa berkembang dengan maksimal. (Achmad Mukafi Niam)

Ahad 1 April 2018 11:30 WIB
Mengembangkan Potensi Ulama Perempuan Indonesia
Mengembangkan Potensi Ulama Perempuan Indonesia
Ilustrasi (Foto: Romzi Ahmad)
Kabar gembira datang dari Yordania ketika kontingen Indonesia atas nama Rifdah Farnidah menjadi juara kedua dalam Musabaqah Hifdzil Quran atau lomba menghafal Al-Qur’an dengan bacaan tartil atau murottal. Prestasi santri Pesantren Al-Hikam Mussalafiyyah Kabupaten Sumedang yang kini belajar di Institute Ilmu Qur'an (IIQ) Jakarta ini langsung menjadi viral di dunia maya. Ia menjadi satu-satunya juara yang berasal dari luar Timur Tengah.

Di Semarang, Jawa Tangah, baru-baru ini, para ulama perempuan juga berkumpul untuk mendiskusikan berbagai persoalan keislaman dan kebangsaan. Sebelumnya, untuk pertama kalinya, para ulama perempuan menggelar kongres ulama perempuan di Cirebon, Jawa Barat. Pertemuan itu merumuskan peran ulama perempuan di Indonesia. Dengan membentuk sebuah organisasi, maka gerakan tersebut akan semakin kuat karena menggabungkan potensi dari para individu menjadi kekuatan bersama. 

Perkembangan tentang meningkatnya peran perempuan dalam bidang keagamaan dan keulamaan tentu harus disambut dengan suka cita. Selama ini perempuan diidentikkan dengan urusan domestik. Di tengah meluasnya peningkatan peran perempuan dalam banyak bidang, bahkan dengan mulainya menguatnya peran mereka dalam bidang pendidikan dan kesehatan, peran mereka dalam bidang keulamaan cenderung tertinggal dibandingkan dengan capaian peran-peran mereka dalam bidang lain. 

Selama ini, tafsir-tafsir ajaran Islam yang terkait dengan perempuan, sebagian besar dilakukan oleh para ulama laki-laki. Tentu saja, ada bias atas sudut pandang tersebut. Akibatnya, banyak tafsir yang bernada peyoratif terhadap perempuan pada satu persoalan yang menyangkut dirinya. Hasilnya akan berbeda jika para ulama perempuan terlibat dalam proses tafsir atas ajaran-ajaran Islam, dengan mengedepankan sudut pandang mereka. 

Catatan sejarah memang hanya memunculkan sedikit ulama perempuan. Pada era kenabian pun para perawi hadits juga didominasi laki-laki. Hadits yang banyak terkait dengan perempuan banyak diriwayatkan oleh keluarga Rasulullah yang perempuan. Situasi sosial saat itu memang tidak memungkinkan perempuan sebebas laki-laki dalam bergerak sehingga peran-perannya kurang terdokumentasi oleh sejarah. Revolusi sosial memberi ruang bagi perempuan untuk bergerak sebagaimana laki-laki. Dengan demikian, peran yang sebelumnya tertutup bagi mereka, kini bisa dijangkau. Tinggal mereka secara personal memiliki kapasitas apa tidak untuk menduduki posisi tersebut. Peran mereka dalam bidang keilmuan agama juga terbuka lebar.

Panduan-panduan agama bagi perempuan kini menjadi tuntunan yang ditunggu banyak orang mengingat adanya perubahan situasi sosial yang cepat. Banyak perempuan kebingungan bagaimana berperan sebagai sesuai kodratnya dengan baik. Tuntunan klasik melarang perempuan keluar rumah kecuali ditemani muhrim. Sementara situasi saat ini mengharuskan perempuan untuk keluar rumah guna meraih pendidikan, bekerja guna memenuhi kebutuhan rumah tangga, atau hal-hal lainnya. Ini merupakan contoh kecil.

KH Wahid Hasyim ketika menjadi menteri agama membuat kebijakan revolusioner yang memungkinkan perempuan menjadi hakim. NU juga telah memutuskan bahwa perempuan berhak menjadi pemimpin. Masih ada persoalan-persoalan lain yang menunggu keputusan yang bijak sesuai kondisi zaman. Dalam banyak retorika yang disampaikan pada berbagai pidato, sering disampaikan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama di hadapan Allah, tapi dalam realitas kehidupan sehari-hari, relasi yang setara tersebut belum terwujud dengan baik. 

Munculnya para ulama perempuan merupakan buah dari terbukanya akses pendidikan bagi perempuan. Dengan kapasitas keilmuan yang tinggi, mereka mampu menjadi ahli dalam berbagai bidang agama, seperti tafsir, hadits, fiqih, dan lainnya. Jurusan-jurusan tertentu di perguruan tinggi Islam kini juga telah didominasi oleh mereka yang berjenis kelamin perempuan. Jika melihat kecenderungan ini, jumlah ulama perempuan akan semakin banyak. Tafsir agama yang selama ini sangat maskulin akan menjadi lebih ramah terhadap kebutuhan para perempuan.

Ulama perempuan, memiliki tugas untuk membuat tafsir yang moderat tentang peran perempuan. Tafsir konservatif atas perempuan menempatkan kaum hawa sebagai makhluk yang terkungkung, yang menjadi penyebab fitnah, yang nantinya akan mendominasi jumlah penghuni neraka. Dalam sisi yang ekstrem, Islam juga tidak menempatkan perempuan sebagaimana ideologi kelompok feminis liberal yang membolehkan segala hal, asal suka. 

Bersikap ekstem memang mudah, baik ekstem ke kiri atau ke kanan, tetapi berada di tengah-tengah atau moderat bukanlah hal yang mudah karena memerlukan argumentasi yang kuat. Di tengah, berarti juga menjadi hal yang disalahkan oleh mereka yang konservatif atau yang liberal. Dorongan untuk memajukan kaum perempuan kini begitu bergelora, jangan sampai semangat tersebut menjadi ekstrem. Nilai-nilai Islam memberi panduan di tengah-tengah perubahan yang sangat cepat ini. 

Tak mudah untuk menjadi perempuan saat ini. Pada satu sisi, ada peluang besar untuk berada di ruang publik dengan kapasitas pendidikan yang mereka miliki, tetapi nilai-nilai tradisional perempuan sebagai penjaga keluarga membuat mereka memiliki tugas berat. Menjalani peran-peran di dunia publik dan ketika kembali ke rumah, menjalani peran sebagai pengatur kehidupan keluarga. Dinamika untuk mencapai keseimbangan yang ideal ini membutuhkan waktu. Tapi kecenderungan yang ada membawa kita pada sikap yang optimistik. (Achmad Mukafi Niam)

Jumat 23 Maret 2018 16:30 WIB
Menyikapi Ramalan Indonesia Bubar pada 2030
Menyikapi Ramalan Indonesia Bubar pada 2030
Ilustrasi (linikini)
Jagat maya di Indonesia diramaikan oleh ucapan Prabowo Subianto yang mengutip sebuah novel berjudul Ghost Fleet bahwa Indonesia terancam bubar pada 2030. Pernyataan yang disampaikan oleh seorang ketua umum partai oposisi yang juga sedang bersiap-siap untuk mencalonkan diri sebagai presiden Indonesia 2019-2024 mengundang banyak tanggapan dari publik, termasuk presiden dan wakil presiden. 

Lalu, sebenarnya seberapa besar sebuah negara terancam bubar atau menjadi negara gagal. Sejauh ini belum ada ramalan yang komprehensif tentang potensi bubarnya Indonesia. Indeks negara gagal yang dibuat oleh Fund for Peace menempatkan Indonesia dalam tingkat risiko menengah. Jauh dari negara berisiko tinggi seperti Afganistan, Irak, atau Suriah. Persoalan pasti ada, tapi sejauh ini risikonya masih jauh dari penyebab bubarnya sebuah bangsa. 

Sejumlah prediksi yang dilakukan oleh konsultan internasional seperti Price WaterhouseCooper dan McKinsey meramalkan Indonesia akan menjadi kekuatan utama ekonomi dunia pada 2030. Menurut PwC, Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi kelima terbesar di dunia sedangkan McKinsey meramalkan Indonesia akan mendduki posisi ketujuh teratas. Jika ekonomi kuat, biasanya kondisi lain juga akan lebih baik seperti tata kelola pemerintahan, pendidikan, kesehatan, keamanan, dan lainnya. Artinya, semakin jauh Indonesia pada risiko sebagai negara gagal, apalagi bubar. 

Bagaimana dalam menyikapi sebuah ramalan? Sikap optimis sekaligus disertai kewaspadaan pada sejumlah persoalan merupakan hal yang sangat penting. Kehancuran sebuah bangsa tidak dapat diperkirakan dengan tepat karena adanya sejumlah faktor yang berkelindan. Tak ada yang meramalkan Uni Soviet akan bubar pada era 90an. Demikian pula proses pecahnya negara-negara di semenanjung Balkan menjadi sejumlah negara kecil setelah runtuhnya blok Timur juga tidak dapat diperkirakan. Juga tidak ada ramalan tentang Musim Semi Arab yang awalnya disambut dengan optimis ternyata menjadi musih gugur yang menimbulkan penderitaan panjang bagi banyak penduduk di Timur Tengah. Kita belum tahu bagaimana nasib Suriah yang sudah tujuh tahun mengalami peperangan. Irak juga belum sepenuhnya stabil sementara konflik baru muncul di Yaman. 

Indonesia merupakan negara dengan keragaman yang sangat tinggi dari aspek suku, agama, ras, dan golongan. Aspek ini harus diwaspadai dengan baik mengingat belakangan ini mudahnya melakukan upaya pecah belah dengan berita hoaks atau mengadu domba satu kelompok dengan kelompok lain untuk kepentingan politik atau kepentingan pragmatis lainnya. NU dalam hal ini telah berusaha sekuat tenaga untuk menjaga harmoni antara seluruh komponen bangsa. ini bukanlah tugas yang mudah.

Hal lain yang menjadi persoalan genting adalah tingginya ketimpangan ekonomi. Sekelompok kecil dari etnis dan agama minoritas menguasai sebagian besar aset ekonomi nasional. Kelompok besar yang terpinggirkan sewaktu-waktu saat memontumnya tepat, bisa menimbulkan konflik sosial yang secara nasional bisa menghancurkan. Persoalan seperti ini tidak bisa diselesaikan dalam waktu sehari-dua hari, tetapi harus ada desain yang komprehensif bagaimana mengurangi ketimpangan. Bahwa kelompok mayoritas harus merasakan kesejaahteraan dari negeri ini. 

Apa yang terjadi secara nasional juga dipengaruhi oleh situasi geopolitik maupun situasi global. Tiongkok yang secara ekonomi semakin kuat juga dipandang memiliki ambisi kuat untuk melebarkan pengaruhnya di tingkat regional maupun global. ini menimbulkan ketakutan pada kekekuatan lama yang atau negara-negara di sekitarnya. Dan bisa menimbulkan konflik militer. Perang dagang yang berlangsung antara China dan Amerika Serikat juga akan berpengaruh terhadap perekonomian negara-negara di sekitarnya. 

Ilmu soal ramal-meramal kita semakin canggih didasari keinginan negara, perusahaan, atau individu untuk mengantisipasi masa depan dan mempersiapkannya sedini mungkin. Ada orang-orang yang mendedikasikan diri sebagai futurologi, yaitu peramal masa depan. Mereka memberikan nasehat kepada negara, institusi, atau bahkan untuk pribadi-pribadi yang meminta jasa konsultasi bagaimana mengantisipasi masa depan. Ini merupakan sebuah bisnis baru yang menjanjikan.

Kelompok yang besar atau kuat bukan hanya berusaha meramalkan masa depan, tetapi berusaha mendesain masa depan sesuai dengan skenario yang diinginkannya. Tetapi dunia sekarang menjadi semakin kompleks. Semakin banyak faktor yang harus dipertimbangkan sehingga semakin sulit melakukan analisis secara memadai. Hanya dalam waktu beberapa puluh tahun, besaran ekonomi China mampu melampui Amerika Serikat. Perusahaan-perusahaan baru muncul dengan cepat dan meraksasa sementara raksasa lama tumbang dengan seketika. Baik negara maupun korporasi memiliki sumber daya yang besar untuk melakukan upaya rekayasa masa depan. Toh, masa depan tetap merupakan misteri yang tak mudah dikelola. 

Ramalan, dapat menjadi self fulfilling prophecy yaitu ramalan yang mewujud dengan sendirinya karena perilaku kita mengikuti ramalan tersebut. Jika terdapat keyakinan bahwa Indonesia akan runtuh pada 2030, maka masyarakat yang percaya terhadap keyakinan tersebut akan menyiapkan diri menghadapi situasi tersebut seperti mengamankan aset ke luar negeri, mencari kesempatan mengeruk aset negara sebelum benar-benar runtuh, dan hal-hal lain yang merusak bangunan negara yang selama ini sudah tertata dengan baik. Ramalan akan betul-betul terjadi karena perilaku yang mengikuti ramalan tersebut. 

Optimisme akan masa depan Indonesia akan mengarah pada penanaman investasi di Indonesia, memperbaiki hal-hal yang belum beres saat ini, dan hal-hal lain akan mengarah pada perbaikan. ini merupakan perilaku yang mengikuti keyakinan optimis. Jadi, lebih baik kita bersikap optimis sembari terus memperbaiki segala kekurangan yang ada. (Achmad Mukafi Niam)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG