IMG-LOGO
Nasional

Isra Mi'raj adalah Jawaban dari Puncak Kesedihan Nabi Muhammad


Ahad 15 April 2018 13:30 WIB
Bagikan:
Isra Mi'raj adalah Jawaban dari Puncak Kesedihan Nabi Muhammad
KH Musthofa Aqil Siroj
Jakarta, NU Online
Isra' Mi'raj terjadi ketika Nabi Muhammad sedang dalam puncak penderitaan, puncak kesusahan, dan puncak ketidaktentuan. Karena itu, Isra' Mi'raj disebut 'Amul Huzni, yaitu tahun kesedihan. 

Demikian disampaikan Rais Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Musthofa Aqil Siroj dalam ceramahnya pada Peringatan Isra' Mi'raj, di Masjid Raya Jakarta Islamic Centre (JIC), Jalan Kramat Jaya, Jakarta Utara, Sabtu (14/4).

Disebut tahun kesedihan karena selama perjalanan hidupnya, Rasulullah selalu diuji oleh Allah. Setiap orang yang membelanya, pasti meninggal. Dari mulai ayah hingga istri tercintanya. 

"Nabi Muhammad lahir, begitu lahir bapaknya sudah meninggal. Sejak berusia 2 bulan di dalam kandungan ibunya, bapaknya meninggal. Usia 6 tahun, ibunya meninggal. Dipelihara kakeknya selama 2 tahun, kakeknya meninggal. Ikut paman, pamannya meninggal juga. Punya istri, istrinya meninggal," katanya. 

Namun, orang-orang yang tidak suka dan membenci Nabi Muhammad dibiarkan hidup oleh Allah. Misal, seperti Abu Jahal dan Abu Lahab. Sampai suatu ketika, karena sudah sangat memuncak kesedihan, keresahan, dan kegelisahannya, ia bertanya sekaligus mengeluh kepada Allah.

"Ya Allah, saya ini jadi nabi, tapi kenapa yang membela saya meninggal semua?" kata Kiai Musthofa menirukan ucapan Nabi Muhammad. 

Kemudian, Allah menjawab bahwa segala yang terjadi adalah bentuk kesengajaan agar Nabi Pamungkas itu tidak bergantung kepada manusia. Melainkan wajib menggantungkan segala sesuatu kepada Allah yang tidak pernah mati.

"Dan untuk menjawab puncak keresahan itu, Allah mengisra'mi'rajkan Nabi Muhammad. Keresahan Nabi, langsung dijawab oleh Allah," kata Ketua Umum PB Majelis Dzikir Hubbul Wathon (MDHW) asal Cirebon itu. 

Maka itu, tambah Kiai Musthofa, penutup ayat Isra tidak sesuai dengan awalnya. Di awal, digambarkan betapa hebatnya Allah yang telah menjalankan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dalam waktu yang sangat singkat. 

"Karena kehebatan Allah, harusnya di akhir ayat itu bunyinya, Innallaha 'alaa kulli syai-in Qodir. Allah Maha Hebat. Tapi ini kenapa kok malah Innahu huwassami'ul Bashir? Oh, ternyata ada yang Allah lihat dan Allah dengar sehingga Dia mengisra'mi'rajkan Nabi Muhanmad," katanya.

Pengasuh Pondok Pesantren Kempek Cirebon itu menjelaskan bahwa Isra' Mi'raj merupakan jawaban atas keresahan Nabi Muhammad. Allah melihat segala kegelisahan dan mendengar pertanyaan serta keluh kesah Penutup para Nabi dan Rasul itu. Maka, diisra'mi'rajkan. 

"Nabi Muhammad mengajarkan kepada kita, kalau sudah merasa berada di puncak kesedihan, kegelisahan, dan keresahan, kembalilah kepada Allah. Caranya, dengan mengakui bahwa kita lemah. Allah hebat dan kuasa," katanya. 

Karena, Allah menyukai manusia yang mengakui kerendahan di hadapan Allah. Pertama kali Allah mengajarkan doa kepada manusia, yaitu Nabi Adam adalah anjuran untuk merendah dan mengakui kebesaran Allah. 

"Robbanaa dzholamnaa anfusanaa wa illam taghfirlana wa tarhamna lanakunanna minal khosiriin," pungkas saudara kandung dari Ketua Umum PBNU KH Sa'id Aqil Siroj itu. (Aru Elgete/Muiz)
 

Bagikan:
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Maulid Akbar dan Doa untuk Keselamatan Bangsa
Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
IMG
IMG