IMG-LOGO
Trending Now:
Internasional

Putin: Kekacauan Global Terjadi Jika Barat Serang Suriah Lagi

Senin 16 April 2018 4:0 WIB
Bagikan:
Putin: Kekacauan Global Terjadi Jika Barat Serang Suriah Lagi
Foto: Pool/Grigory Dukor/AFP
Moskow, NU Online
Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan, kekacauan dunia akan terjadi jika negara-negara Barat kembali menyerang Suriah. Hal ini dikatakan Putin saat menelepon Presiden Iran Hassan Rouhani setelah Amerika Serikat, Perancis, dan Inggris meluncurkan serangan rudal di Suriah dua hari lalu. 

Dilaporkan Reuters, Senin (16/4), Putin dan Rouhani menyebutkan bahwa serangan koalisi Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis itu telah merusak peluang untuk mencapai resolusi politik dalam konflik multi-sisi yang telah berlangsung selama tujuh tahun dan menewaskan setidaknya setengah juta orang.


Bagi Putin, jika tindakan pelanggaran Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa seperti itu terus dilakukan, maka hal itu akan menyebabkan kekacauan dalam hubungan internasional. 

Koalisi gabungan Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis meluncurkan 105 rudal ke wilayah Suriah. Serangan rudal ini menyasar tiga fasilitas senjata kimia, termasuk pusat penelitian dan pengembangan di distrik Barzeh Damaskus dan dua instalasi dekat Homs. 


Serangan ini merupakan intervensi terbesar negara-negara Barat terhadap Suriah dan sekutunya. Tiga negara Barat tersebut mengatakan bahwa serangan rudal itu hanya untuk melumpuhkan senjata kimia Suriah, tidak bertujuan menjatuhkan Assad atau campur tangan dalam perang saudara.


Presiden Amerika Serikat Donald Trump memuji serangan itu sebagai sebuah keberhasilan untuk melumpuhkan program senjata kimia Suriah. Akan tetapi, Damaskus dan sekutunya mengecam keras serangan itu dan menganggap sebagai tindakan agresi terhadap Suriah. (Red: Muchlishon)
Bagikan:
Senin 16 April 2018 14:15 WIB
TKI di Singapura Selamatkan Anak Majikan dari Kebakaran Kapal Pesiar
TKI di Singapura Selamatkan Anak Majikan dari Kebakaran Kapal Pesiar
Singapura, NU Online
Tindakan  yang dilakukan Enti Sadiyah, seorang Pekerja Migran  Indonesia (PMI) asal Cirebon yang bekerja di Singapura memang sungguh berani dan pantas menuai pujian dan apresiasi yang tinggi.

Betapa tidak, demi  melindungi dan menyelamatkan anak majikannya dari musibah kebakaran di kapal pesiar (yacht),  Enti rela  berkorban dan mempertaruhkan keselamatan dirinya sendiri.

Atase Ketenagakerjaan Indonesia d Singapura Agus Ramdhany menceritakan sepenggal kisah heroik yang dialami Enti saat terbakarnya kapal pesiar  yang  terjadi pada Kamis 22 Maret 2018 di Sentosa Cove, Singapura.

"Berdasarkan laporan sementara, musibah kebakaran di kapal pesiar itu terjadi  secara tiba-tiba. Kobaran api dengan cepat membakar bagian kapal yang menjadi tempat bagi para penumpang kapal," kata Atase Agus seusai mengunjungi korban Enti di Singapore General Hospital (SGH) akhir pekan lalu.

Dalam keterangan pers yang diterima NU Online, Ahad (15/4), Atase Agus menjelaskan saat kejadian itu, secara spontan Enti langsung menggunakan badannya untuk melindungi anak majikannya yang berusia 3 tahun dari kobaran api yang terus membesar dan mengepung lokasi kejadian.

"Dengan aksi yang begitu berani dan heroik, Enti terus berlari untuk mencari jalan keluar dengan menerobos kobaran api sambil  mendekap erat anak majikannya," kata Atase Agus.

Setelah berhasil menyelamatkan anak majikannya, Enti kemudian menyerahkan anak tersebut kepada ibunya yg berada pada posisi aman di dek paling atas kapal pesiar tersebut.

"Meskipun dalam keadaan terkena luka bakar yang cukup parah, Enti  terus berjuang dan berlari keluar kapal dan berteriak-teriak untuk mencari pertolongan dari penduduk dan petugas yang berada di sekitar tempat kejadian" kata Agus.

Sementara itu, seorang anak majikannnya  yang baru  berusia 9 bulan juga berhasil diselamatkan oleh pekerja migran asal Philipina yang juga  bekerja pada keluarga majikannya itu.

Diinformasikan Agus, musibah kebakaran tersebut juga mengakibatkan beberapa crew kapal dan majikan laki-laki mengalami luka bakar,  termasuk anak dan balita yang berhasil diselamatkan Enti dan rekannya dari Philiphina  terkena luka bakar.

Agus menambahkan, akibat kejadian itu Enti yang baru bekerja selama 6 bulan di Singapura itu menderita luka bakar cukup parah hingga mencapai 50% tubuhnya.

"Hampir sekujur tubuhnya menderita luka bakar. Yang agak parah adalah wajah, seluruh bagian lengan dan kaki. Namun saat ini kondisinya terus membaik dan bisa berkomunikasi dengan lancar," kata Agus.

" Alhamdulillah, saat ini kondisi Enti sudah stabil dan berangsur pulih. Namun perawatan intensif terus dilakukan oleh para dokter dan petugas media di SGH ini," kata Atase Agus.

Dikatakan Agus, pihak majikan telah menyampaikan akan  bertanggung jawab  penuh dan menjamin  pengobatan bagi Enti dan pekerja dari Philipina sampai sembuh.

"Majikannya sangat mengapresiasi perjuangan Enti yang telah menyelamatkan anak-anaknya serta  menyatakan bertanggung jawab hingga sembuh dan akan menerima dia bekerja kembali," tutur Agus.

Atase Agus menambahkan pemerintah memberikan apresiasi atas perjuangan  Enti yang berani berkorban untuk menyelamatkan keluarga majikannya. 

"Pemerintah juga akan terus menjaga,  mengawasi dan mengawal  Enti sampai sembuh  dan menyelesaikan masalah ini sampai tuntas," kata Atase Agus. (Red: Kendi Setiawan)
Ahad 15 April 2018 22:45 WIB
Paus Fransiskus Harap Perdamaian di Suriah Segera Terwujud
Paus Fransiskus Harap Perdamaian di Suriah Segera Terwujud
Foto: Arlindo Homem / Agência Ecclesia
Vatikan, NU Online
Paus Fransiskus meminta para pemimpin dunia untuk mewujudkan perdamaian dan keadilan di negeri Syam. Kegagalan para pemimpin dunia untuk mengakhiri pertumpahan darah di Suriah membuatnya terganggu.

“Saya meminta kembali kepada semua pemimpin politik agar keadilan dan kedamaian dapat terwujud,” kata Paus dalam pidato mingguan di Lapangan Santo Petrus Vatikan, Ahad (15/4), seperti dilaporkan Reuters.

Paus juga mengaku terganggu dengan kondisi dunia saat ini. Baginya, instrumen-instrumen untuk mewujudkan perdamaian di seluruh belahan dunia, termasuk Suriah, itu tersedia, namun para pemimpin dunia tidak berhasil menggunakannya dengan baik sehingga pertikaian terus terjadi.

Pekan lalu, Paus ke-266 ini mengecam serangan gas beracun di Douma. Menurutnya, penggunaan senjata kimia tidak bisa dibenarkan dengan alasan apapun.

Koalisi gabungan Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis meluncurkan 105 rudal ke wilayah Suriah, Sabtu (14/4) pagi. Mereka menganggap bahwa serangannya tersebut adalah untuk melumpuhkan program senjata kimia yang dimiliki Suriah.
Serangan rudal ini menyasar tiga fasilitas senjata kimia, termasuk pusat penelitian dan pengembangan di distrik Barzeh Damaskus dan dua instalasi dekat Homs.

Serangan ini merupakan intervensi terbesar negara-negara Barat terhadap Suriah dan sekutunya. Tiga negara Barat tersebut mengatakan bahwa serangan rudal itu hanya untuk melumpuhkan senjata kimia Suriah, tidak bertujuan menjatuhkan pemerintah Bassar Assad atau campur tangan dalam perang saudara. (Red: Muchlishon)
Ahad 15 April 2018 19:30 WIB
Satu Keluarga Pengungsi Rohingya Diterima Kembali di Myanmar
Satu Keluarga Pengungsi Rohingya Diterima Kembali di Myanmar
Foto: Muclishon/NU Online
Yangon, NU Online
Pemerintah Myanmar telah menerima kembali satu keluarga pengungsi Rohingya. Satu keluarga tersebut terdiri dari lima orang. Ini merupakan pemulangan (repatriasi) yang pertama setelah pemerintah Myanmar dan Bangladesh menekan kesepatan bersama untuk memulangkan kembali warga Rohingya akhir tahun lalu. 

Pemerintah Myanmar mengumumkan pemulangan lima orang warga Rohingya di negara bagian Rakhine Barat pada Sabtu (14/5). Sebelumnya mereka tinggal di kamp-kamp pengungsian di wilayah pinggiran Bangladesh.

Namun demikian, lima orang warga Rohingya yang telah dipulangkan itu tidak mendapatkan kartu identitas diri dari pemerintah Myanmar. Artinya, mereka belum diakui sebagai warga negara Myanmar yang sah seperti dilaporkan The Washington Post.

Saat ini kelima orang tersebut tinggal sementara dengan kerabat di kota Maungdaw, pusat administrasi yang dekat dengan perbatasan Myanmar dan Bangladesh.

Sesuai dengan kesepatakan bersama, proses pemulangan (repatriasi) seharusnya dilaksanakan pada awal tahun ini, namun tak kunjung dijalankan karena persiapannya dianggap belum matang. 

Pemerintah Bangladesh sebetulnya telah memberi Myanmar daftar lebih dari delapan ribu pengungsi siap untuk dipulangkan, tetapi proses pemulangan terus ditunda karena proses verifikasi yang rumit. Hingga hari ini, tidak ada kabar terkait dengan rencana dari Myanmar untuk memulangkan warga Rohingya lebih lanjut. 

Sekitar 700 ribu warga Rohingya di negara bagian Rakhine melarikan diri ke Bangladesh setelah operasi militer tentara Myanmar yang ‘membabi buta.’ Mereka tinggal di kamp-kamp pengungsian dengan kondisi yang sangat menyedihkan karena hidup dengan alat dan fasilitas seadanya. (Red: Muchlishon) 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG