IMG-LOGO
Pustaka

Mereka yang Menentang Dakwah Muhammad

Jumat 20 April 2018 6:0 WIB
Bagikan:
Mereka yang Menentang Dakwah Muhammad
Foto: Istimewa
Menjadi orang baik (shalih) itu mudah, tapi menjadi orang yang memperbaiki (muslih) itu sulit. Mengapa? Karena orang yang melakukan perbaikan, apapun itu, pasti akan banyak yang memusuhinya. 

Begitu pun yang dialami Nabi Muhammad saw. Sebelum usianya menginjak kepala empat, Muhammad adalah orang baik akhlaknya, luhur budi pekertinya, dan elok perangainya. Masyarakat Mekkah pada saat itu berbuat baik kepada Muhammad. Tidak ada yang membenci anak Abdullah ini. Semuanya sayang kepada Muhammad karena keshalihannya.

Akan tetapi, kondisi seperti itu berubah manakala Muhammad diangkat menjadi seorang nabi dan rasul. Muhammad mulai memperbaiki tatanan masyarakatnya, terutama dalam hal akidah dan akhlak. Ia menyeru kepada seluruh penduduk Makkah untuk meninggalkan agama nenek moyangnya dan memeluk Islam. Caranya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat.

Muhammad juga mulai memperbaiki akhlak masyarakatnya. Bangsa Arab dikenal dengan masyarakat Jahiliyyah. Sebutan itu bukan karena kebodohan mereka dalam hal ilmu pengetahuan, namun karena kebobrokan akhlak mereka. Iya, masyarakat Arab pada saat itu memiliki akhlak yang bejat. Mereka membunuh bayi perempuan, memperlakukan mena perempuan dan budak secara tidak manusiawi, dan masih banyak lagi.

Muhammad yang dulu –saat menjadi orang baik- tidak punya musuh, mendadak memiliki banyak musuh setelah ia ‘mendeklarasikan diri' menjadi orang yang memperbaiki (muslih). Muhammad mendakwahkan Islam ke seluruh penjuru Makkah. Tidak sedikit yang menerima seruannya, namun banyak pula yang menentang dakwahnya. 

Mereka yang menentang Muhammad datang dari berbagai macam suku, termasuk dari suku yang sama dengan Muhammad, suku Quraish dan bani Hasyim. Abu Lahab misalnya yang merupakan paman dari Muhammad sendiri. 

Mereka yang menentang dan hendak mencelakakan Muhammad memiliki berbagai macam motif. Ada yang motifnya balas dendam (Zainab binti al-Harits), kekuasaan (Abu Lahab), harga diri dan kehormatan (al-Walid bin al-Mughirah), kedudukan sosial dan ekonomi (Umayyah bin Khalaf al-Jumahi), dan lainnya. 

Buku Para Penentang Muhammad saw. ini merupakan ‘ensiklopedia mini’ yang membahas tentang mereka yang menentang dakwah Muhammad. Di buku ini, ada 23 penentang Muhammad yang dibahas dengan cukup rinci Mulai dari nasabnya, kehidupannya, motif memusuhi Muhammad, berbagai macam upaya untuk mencelakakan Muhammad, dan cerita akhir hidupnya. 

Bisa dibilang buku ini adalah satu-satunya yang membahas tentang para penentang dakwah Muhammad dengan cukup detail. Meski tidak membahas semua penentang nabi –yang jumlahnya pasti dari 23 orang yang dibahas dalam buku ini, buku ini patut diapresiasi karena telah mengulas sekelumit cerita tentang kisah para penentang Muhammad. Sebagaimana yang dikatakan penulis buku, para penentang Muhammad adalah pengisi sejarah dari sisi yang lain. Kehadiran mereka memudahkan manusia untuk membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Ada hikmah tersendiri karena sejarah dakwah Islam akan terasa ‘hambar’ tanpa adanya mereka, para penentang Muhammad. 

Namun demikian, mereka yang ada di buku ini bukan untuk ditiru, melainkan dijadikan pelajaran (ibrah) bahwa siapapun yang menantang kebenaran Islam maka akan celaka.  

Terlepas dari itu semua, buku ini mudah dipahami dan terasa mengalir karena ceritanya runtut dan bahasa yang digunakan tidak ndakik-ndakik. 

Peresensi adalah A Muchlishon Rochmat

Identitas buku:
Judul buku : Para Penentang Muhammad SAW.
Penulis : Misran dan Armansyah 
Penerbit         : Safina
Cetakan         : I, Februari 2018
Tebal : 334 Halaman
ISBN : 978-602-5453-22-9
Bagikan:
Kamis 19 April 2018 14:30 WIB
Melihat Pesona Turki, Menatap Wajah Indonesia
Melihat Pesona Turki, Menatap Wajah Indonesia
Buku ini bukanlah novel, bukan pula kumpulan cerpen, apalagi antologi puisi. Namun membaca buku ini, saya seperti dibawa larut dalam ingar-bingar dan warna-warni kehidupan Turki, lengkap dengan beragam pesona di dalamnya.

Buku ini sangat menyala dan nikmat dibaca. Tentu lantaran ditulis oleh mereka yang pernah menghirup udara Turki, mencium bau keringat masyarakat di sana, dan mencercap segala budaya di dalamnya.

Mereka—penulis buku ini—adalah diaspora Indonesia di Turki, baik dalam kurun waktu lama maupun singkat, dengan latar belakang beragam mulai dari pelajar, mahasiswa, alumni, bahkan ada yang sudah menetap karena bekerja hingga berkeluarga di Turki. Para diaspora ini tentu saja mengalami proses kebatinan selama hidup dan berinteraksi dengan masyarakat Turki (hlm vi). Inilah yang menjadikan buku ini terasa hidup. 

Bagi saya, paling tidak ada dua alasan mengapa buku berjudul Kirmizi Beyaz: Warna-Warni Kehidupan Turki ini menarik untuk dibaca. Pertama, entah kebetulan atau tidak, Turki dan Indonesia memiliki banyak kesamaan.

Kedua negara ini memiliki mayoritas penduduk Islam dengan karakter moderat, punya bendera yang sama-sama didominasi warna merah dan putih, menganut sistem demokrasi, sama-sama mengalami masa kelam rezim represif militer, bahkan keduanya sama-sama tergabung dalam dalam beberapa organisasi internasional seperti Development Eight (D8), Organization of Islamic Conference (OIC), Global Twenty (G20) (hlm v). Ini artinya, membaca buku ini seolah kita sedang menatap wajah Indonesia.

Kedua, tulisan-tulisan yang tercakup dalam buku ini melingkupi bidang keilmuan yang beragam, seperti praktik keislaman di Turki, model pendidikan Turki, dominasi maskulin dan partiarkal di Turki, diplomasi politik Turki, budaya kerja dan pelayanan publik di Turki, sejarah konglomerasi di Turki, pemahaman atas disabilitas dan difabilitas di Turki, etnis Turki di Jerman, hingga menceritakan sejarah kudeta dan evolusi kepemimpinan di Turki.

Dalam tulisan “Berjayanya AKP dan Modalitas Kepemimpinan Erdogan” misalnya dijelaskan, secara politik, Turki muncul sebagai kekuatan baru di Timur Tengah. Di saat kemunculannya, negara-negara lain di kawasan itu justru bergulat dengan gejolak internal (Arab Spring) yang merongrong stabilitas politik di negara masing-masing.

Namun Turki tampil menjadi negara bersinar dengan julukan Turkish Model, yakni sebuah negara Muslim yang mampu menerapkan demokrasi dengan baik dan dapat perform dalam bidang ekonomi (hlm 146). 

Tentu capaian Turki tersebut membuka mata kita bahwa seperti halnya Indonesia, Turki juga punya kompatibilitas tinggi terkait hubungan Islam dan demokrasi. Lebih dari itu, Indonesia dan Turki sama-sama bukan Arab, dan keduanya mempraktikkan gagasan demokrasi, modernisasi, dan pluralisme.

Islam di Indonesia dan di Turki juga sama-sama mayoritas Muslim sunni. Apalagi lewat referendum April 2017 lalu, pemerintahan Turki sudah berganti dari sistem parlementer ke sistem presidensil. Inilah salah satu bahasan menarik dalam buku ini.

Hal menarik lainnya dapat dibaca dalam tulisan “Budaya Kerja dan Pelayanan Publik di Kota Eskisehir Turki”. Di sini disebutkan, pemimpin di Turki bukan lagi sebagai agent of change tapi juga sebagai agent of services (halaman 53).

Di Turki, perbaikan fasilitas jalan diperbaiki setiap enam bulan sekali, entah sudah rusak atau belum. Setiap kota memiliki lapangan udara domestik sebagai penghubung lalu lintas antarkota, di setiap kota bejibun taman yang disapu pagi, siang dan malam, transportasi terintegrasi, fasilitas kesehatan ada di setiap desa, budaya malu masuk dalam dunia kerja, dan pemimpin selalu terlibat dalam kegiatan warganya. 

Segala bentuk pelayanan publik di Turki seperti terdorong oleh besarnya cinta kepada negara yang juga sudah tertanam sejak “anaokul” (TK) atau “ilkokul” (sekolah dasar). Setiap pemimpin melakukan pekerjaan atas dasar kecintaan (halaman 59).

Tentu tema bahasan ini sangat inspiratif. Indonesia perlu belajar dari Turki terkait budaya kerja dan pelayanan publik. Seperti halnya Turki, para pemimpin Indonesia tidak boleh hanya sebagai agent of change, namun harus bertransformasi jadi agent of services.

Sekali lagi, membaca buku ini seolah sedang berselancar menyusuri setiap sudut kota Turki, lengkap dengan beragam khazanah dan peradabannya. Karena itu, saya sepakat dengan apa yang disampaikan Prof Komaruddin Hidayat (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) dalam pengantarnya, “Buku ini setidaknya memberikan gambaran tentang multidimensi masyarakat dan negara Turki.

Sebuah kesaksian dari dekat menurut pengalaman dan versi masing-masing penulis, yang sangat berharga bagi mereka yang masih asing tentang Turki”.

Peresensi adalah Ali Rif’an, Alumnus Pascasarjana Universitas Indonesia.

Identitas buku:
Judul buku: Kirmizi Beyaz: Warna-warni Kehidupan Turki
Editor: Budy Sugandi, Luthfi W. Eddyono, Safrin La Batu
Penerbit: Aura Publishing
Cetakan: I, April 2017
Tebal: xvi + 218 halaman
ISBN: 978-602-6565-90-7
Kamis 12 April 2018 20:0 WIB
Fathul Mannan, Kitab Pegon Pegangan Baca Al-Qur’an
Fathul Mannan, Kitab Pegon Pegangan Baca Al-Qur’an
Al-Qur’an merupakan kalam Allah yang diturunkan kepada Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang menjadi mukjizat, dan dianjurkan untuk dibaca oleh umat Islam setiap saat. Membaca Al-Qur’an, dalam ajaran Islam, termasuk ibadah yang sangat dianjurkan untuk diamalkan setiap hari. Akan tetapi, banyak diantara kalangan umat Islam Nusantara, khususunya Jawa, yang belum mengerti secara mendalam, tentang tatacara membaca Al-Qur’an yang baik dan benar, sehingga masih banyak yang membaca Al-Qur’an secara serampangan dan tidak sesuai dengan ilmu tajwid Al-Qur’an.

Pada zaman sekarang, ilmu tajwid dan ilmu qiraat, sudah jarang diminati untuk dipelajari dan diteliti secara mendalam. Ilmu tajwid sering dianggap sebagai ilmu yang ringan, ilmu kulit, dan ilmu yang hanya layak dipelajari oleh anak-anak kecil di Taman Pendidikan Al-Qur’an. Anggapan ini tentu saja keliru, karena segala ilmu yang bersinggungan dengan Al-Qur’an, baik secara lahir maupun batin, merupakan ilmu-ilmu pokok yang harus dipelajari oleh seorang Muslim.

Berangkat dari latar belakang, bahwa: (1) masih banyak masyarakat Islam Indonesia yang belum mampu untuk membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, (2) masih banyak masyarakat Islam Indonesia yang belum memahami ilmu tajwid, (3) langkanya referensi dan kajian tentang ilmu tajwid; Kiai Maftuh Basthul Birri, sang begawan Al-Qur’an, pengasuh Pondok Pesantren Murottilil Qur’an Lirboyo Kediri, tergerak hatinya untuk menulis kitab pegon tentang ilmu tajwid berjudul Fathul Mannân li Tashhîh Alfâdz al-Qur’ân ini. Kiai Maftuh Basthul Birri, di dalam kitab tersebut dhawuh (dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab pegon, red):

كَاڤْرَاهِيْڤُونْ تِيْيَاڠْ مَاهَوسْ اَلْقُرْآنْ سَامِيْ كِيْرَاڠْ ڤَاڠٓرْتَوْسَانْ إِيْڤُونْ دُوْمَاتٓڠْ حُكُمْ-حُكُمْ وَاهَوْسَانْ، سَاهِيڠْڮَا مَاهَوسْ إِيْڤُونْ سَامِيْ سٓمْبٓرَانَا لَنْ كِيْرَاڠْڤَاڠٓرْتَوْسَانْ إِيْڤُونْ. أَمَرْڮِيْ وَونْتٓنْ كَلَانِيْڤُونْڠَاهَوسْ إِيْڤُونْ تَكْسِيهْ كِيْرَاڠْ، أُوْتَاوِيْ لَاتِيْهَانْ دِيْسِيڤْلِينْ إِيْڤُونْ إِڠْكَڠْ كِيْرَاڠْ، لَاجٓڠْ اَڠْڮَامْڤِيلْ أَكٓنْ وَاهَوْسَانْ

Artinya: “Kebanyakan orang membaca Al-Qur’an kurang memiliki pengetahuan tentang hukum-hukum bacaan, sehingga bacaannya pun ngawur dan tidak sesuai aturan. Hal itu disebabkan, adakalanya karena jarang mengaji, atau sering mengaji namun tidak disiplin dalam menerapkan hukum-hukum bacaan sehingga menyepelekan bacaan.” 

Di dalam kitab Fathul Mannan ini, Kiai Maftuh yang terkenal memiliki standar tinggi dalam hal bacaan Al-Qur’an, mengupas tuntas tema-tema penting di dalam ilmu tajwid, yang sesuai dengan riwayat bacaan Imam Hafsh bin Sulaiman, salah satu perawi Qiraat Imam ‘Ashim bin Abi Najud. Pembahasan-pembahasan di dalam kitab tersebut disandarkan kepada kitab-kitab ilmu tajwid yang sudah terkenal valid dan terpercaya, seperti: kitab al-Mandzûmah asy-Syâthibiyyah, al-Mandzûmah al-Jazariyyah, Irsyâd al-Ikhwân Syarh Mandzûmat Hidâyat ash-Shibâan, al-Itqân fi ‘Ulûm al-Qur’ân, al-Minah al-Fikriyyah, Sirâj al-Qâri’, Nihâyah al-Qaul al-Mufîd dan kitab-kitab lain yang membahas ilmu tajwid dan qiraat. 

Selain pembahasan yang mendetail tentang tema-tema pokok ilmu tajwid yang ditulis dengan aksara Pegon, yang menarik dari kitab ini adalah bahwa kitab ini ditashih oleh para ulama besar ahli Al-Qur’an Nusantara, seperti: Simbah KH Muhammad Arwani Amin Sa’id pendiri Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an Kudus, Simbah KH Nawawi Abdul Aziz pengasuh Pondok Pesantren An-Nur Ngrukem Yogyakarta, Simbah KH Ahmad Munawwir bin KH Muhammad Munawwir salah satu pengasuh Pondok Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, Simbah KH Adlan ‘Aly pendiri Pondok Putri Walisongo Cukir Jombang, dan Simbah KH Abu Syuja’ Ngadiluwih Kediri. Semua kiai-kiai yang mentashih kitab Fathul Mannan merupakan guru-guru dari Kiai Maftuh Basthul Birri.

Kiai Muhammad Arwani Amin Kudus mengomentari kitab Fathul Mannan karya Kiai Maftuh, dengan berkata bahwa kitab ini merupakan kitab ilmu tajwid lengkap, yang membahas pokok-pokok bahasan ilmu tajwid yang sangat penting dan jarang dibahas di dalam kitab-kitab tajwid lain, yang berbahasa Indonesia maupun yang berbahasa Jawa. 

Kiai Nawawi Ngrukem Yogyakarta mengomentari kitab Fathul Mannan, dengan menyatakan bahwa kitab ini merupakan kitab yang sangat bagus dan cocok untuk dipelajari oleh para pemula. Bahkan Kiai Nawawi Ngrukem menganggap bahwa upaya yang dilakukan oleh Kiai Maftuh, merupakan aplikasi dari konsep hifdhul hâl atau menjaga laku, yakni laku dalam membaca Al-Qur’an supaya sesuai dengan aturan dan kaidah yang berlaku. Di dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim disebutkan, bahwa afdhalul ‘ilmi ‘ilmul hâl wa afdhalul ‘amal hifdhul hâl, sebaik-baik ilmu adalah ilmu laku dan sebaik-baik amal adalah menjaga laku. Membaca Al-Qur’an merupakan ‘amal al-hâliy, yakni sebuah amal atau laku yang dianjurkan untuk dilakukan setiap hari. Amal atau laku ini harus dijaga, dari segala bentuk penyimpangan dan kesalahan. Dan kitab Fathul Mannan ini merupakan panduan untuk menjaga amal “Membaca Al-Qur’an”, agar tidak terjatuh dalam kesalahan, baik yang bersifat ringan (lahn khafiy) maupun yang bersifat berat (lahn jaliy). 

Kiai Maftuh Basthul Birri, maupun guru-gurunya yang telah disebut di atas, merupakan tokoh-tokoh pejuang Al-Qur’an yang sangat terkenal ketat dalam hal bacaan Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an bagi mereka, tidak boleh sembarangan, tidak boleh asal bunyi, dan harus sesuai dengan kaidah-kaidah tajwid yang telah ditetapkan. Hal ini senada dengan sebuah syair yang digubah oleh Syekh Syamsuddin Ibn al-Jazari:

وَالْأَخْذُ بِالتَّجْوِيْدِ حَتْمٌ لَازِمٌ :: مَنْ لَّمْ يُجَوِّدِ الْقُرْأَنَ آثِمٌ

Membaca Al-Qur’an dengan tajwid merupakan sebuah kewajiban yang harus dilakukan :: 
Barang siapa tidak membaca Al-Qur’an dengan tajwid maka ia berdosa kepada Tuhan

Sikap ketat dalam membaca Al-Qur’an yang diterapkan oleh Kiai Maftuh tersebut bisa terbaca dan bisa dirasakan melalui karya beliau Fathul Mannân li Tashhîh Alfâdz al-Qur’ân ini. Penjelasan mengenai bab-bab ilmu tajwid begitu detail, dan sangat mudah dipahami oleh para pemula, karena ditulis dengan menggunakan Aksara Pegon. 

Kitab Fathul Mannân li Tashhîh Alfâdz al-Qur’ân selesai ditulis oleh Kiai Maftuh Basthul Birri pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 1397 H/Februari 1977 M, terdiri dari 3 juz yang terangkum menjadi satu, memiliki ketebalan 148 halaman, dan dicetak oleh penerbit toko kitab Al-Ihsan Surabaya.

Kepada Kiai Maftuh Basthul Birri, dan para begawan Al-Qur’an Nusantara, al-Fatihah...


Sahal Japara, kepala SMPQT Yanbu’ul Qur’an 1 Pati, pemerhati aksara Arab Pegon

Kamis 12 April 2018 15:45 WIB
Berislam Tanpa Melepas Baju Indonesia
Berislam Tanpa Melepas Baju Indonesia
Masyarakat Indonesia sejak dulu sudah akrab dengan ritus yang ditradisikan secara turun temurun. Hampir semua suku mengenal upacara-upacara adat, sejak kelahiran seseorang hingga kematiannya. Melihat hal tersebut, pendakwah Islam di tanah Nusantara ini enggan menghilangkan budaya itu mengingat eratnya ikatan dengan khalayak. Justru, para dai itu menjadikan budaya sebagai media guna mengantarkan Islam ke hati masyarakat Nusantara. Tak ayal, Islam sebagai agama baru bertahan lama hingga saat ini. Tidak seperti di belahan wilayah lain yang masuk dengan peperangan.

Islam di Indonesia tidak memandang sebelah mata terhadap agama lainnya. Mereka bersatu padu dalam bingkai kenegaraan. Persaudaraan antarmuslim (ukhuwah islamiyah), persaudaraan antar sesama bangsa (ukhuwah wathaniyah), dan persaudaraan antarmanusia (ukhuwah basyariyah/insaniyah) menjadi landasan masyarakat Islam di Nusantara dalam menjaga hubungan baik dengan semua elemen bangsa tanpa membedakan suku, agama, ataupun ras, golongan. Hal itu juga memberikan pandangan kenegaraan mereka tidak eksklusif. Artinya, sistem kenegaraan tidak berdasarkan agama, tetapi berdasarkan kedamaian (darussalaam).

Namun belakangan, ada kelompok baru yang mengatasnamakan Islam tetapi enggan mengadaptasi budaya. Mereka juga seperti tak ingin melihat perbedaan. Padahal itu merupakan fitrah dan sudah ada sejak mereka sendiri belum diadakan. Keyakinan kuat dengan dasar lemah mereka membuatnya eksklusif setiap pandangannya. Mereka ingin semuanya seragam.

M Zidni Nafi’ menguraikan permasalahan itu secara rinci dalam bukunya. Tak hanya membeberkan masalahnya saja, tentu ia juga memberikan solusi atas permasalahan tersebut. Zidni mendasari pandangannya pada literatur-literatur klasik dan kontemporer sehingga pembahasannya cukup komprehensif. Ia juga mengutip pandangan ulama terkini sehingga betul-betul tidak kehilangan konteksnya.

Buku pertamanya ini semakin lengkap dengan pengambilan contoh dari dua begawan besar Islam Nusantara,  yakni Gus Dur dan Gus Mus. Ia menuliskan intisari pandangan dua ulama itu dalam bukunya, baik berdasar tulisannya maupun laku dan ceramahnya.

Buku ini dibagi menjadi empat bagian. Bagian pertama Romantisme Keislaman dan Keindonesiaan membahas hubungan agama dan kenegaraan. Bagian kedua Tantangan Keberagaman dan Keberagamaan menguraikan toleransi dan hubungan persaudaraan. NU, Pesantren, dan Komitmen Kebangsaan menjadi bagian ketiga yang menjelaskan peran santri, kiai, pesantren, dan NU dalam menjaga kedaulatan negara. Gus Dur dan Gus Mus, Para Guru Pencerah Bangsa menjadi bagian puncak buku ini. Bagian terakhir ini menguraikan dua pandangan kiai besar itu tentang permasalahan di Indonesia.

Buku ini ditulis untuk menyadarkan pembaca bahwa mengenakan pakaian Islam itu tidak perlu melepas baju kebangsaan kita sebagai warga negara Indonesia.

Peresensi: Syakir NF

Data Buku:

Judul : Menjadi Islam, Menjadi Indonesia
Penulis : M Zidni Nafi’
Kata Pengantar : Ahmad Baso
Penerbit         : Elex Media Komputindo
Tebal : xvi + 349
Cetakan         : Pertama, Maret 2018.

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG