IMG-LOGO
Opini

Keras Melawan Terorisme

Ahad 13 Mei 2018 14:15 WIB
Bagikan:
Keras Melawan Terorisme
Oleh M. Kholid Syeirazi

Sudah lama NU dan orang-orangnya dituding sebagai kelompok yang “bersikap keras terhadap umat Islam dan berlaku lemah lembut terhadap orang-orang kafir.” Belakangan tudingannya lebih serem: Anshârut Thâgût, pembela Thagut. Kata mereka, “Banser lebih rajin jaga Gereja dan ketimbang pengajian.”

Orang-orang NU tidak perlu berkecil hati. Sebenarnya NU menjaga Islam dari orang-orang yang merusak, yaitu sekelompok orang yang menggunakan Islam untuk berbuat jahat. Ada yang menyangkal keberadaan mereka. Abu Bakar Baghdadi, konco-konconya, dan yang sealiran dengannya, kurang bukti apa! Mereka syahadat dan takbir, tetapi menggorok orang, bahkan sesama ahlul qiblat. Dan terhadap mereka yang menggunakan Islam untuk berbut jahat, sikap kita kadang harus lebih keras ketimbang terhadap non-Muslim. Ibn Hajar al-Asqalani, dalam Fathul Bârî syarah Shahîh Bukhârî, Juz 12, h. 253 mengutip pendapat Ibn Hubairah terkait Khawarij yaitu pendahulu kelompok takfiri yang kerap menggunakan kekerasan dan menghalalkan darah sesama umat Islam:

أن قتال الخوارج أولى من قتال المشركين. والحكمة فيه أن قتالهم حفظ رأس مال الإسلام، وفي قتال أهل الشرك طلب الربح. وحفظ رأس المال أولى.

“Sungguh memerangi Khawarij lebih utama ketimbang memerangi orang-orang musyrik. Hikmahnya adalah bahwa dalam memerangi Khawarij  terpelihara modal pokok Islam, sementara memerangi orang musyrik dapat laba. Menjaga modal pokok lebih utama ketimbang mencari laba.”

Baca juga: NU, Jihad Tolikara dan Jihad Myanmar
Modal pokok Islam, sesuai dengan namanya, adalah agama damai dan mengupayakan perdamaian. Sekarang ada sekelompok orang Islam, karena keyakinan tertentu, bekerja untuk mengubahnya menjadi agama teror dan kekerasan. Terorisme lahir dari cita-cita politik, bukan agama, yaitu menegakkan pemerintahan Islam yang tidak jelas bentuknya.  Orang-orang yang bercita-cita menegakkan pemerintahan Islam, dengan cara-cara tidak Islami, menganggap NKRI sebagai Thagut, bercita-cita memberontak terhadap kekuasaan yang sah yang dihasilkan dari proses syûrâ yang diakui dalam Islam, harus disikapi dengan tegas dan keras karena mereka justru menggerogoti Islam itu sendiri. Kemuliaan Islam dan ajarannya defisit justru di tangan mereka.

Islam bukan agama teror dan kekerasan! NKRI dan negara-negara lain di dunia adalah produk mu’âhadah wathaniyah, konsensus yang sah. Karena itu umat Islam di seluruh dunia harus taat dan patuh kepada pemimpinnya selagi tidak dihalangi untuk menjalankan salat berjamaah, menggemakan adzan, membangun masjid/tempat ibadah, menyuruh maksiat atau melakukan kezaliman yang nyata.

Nation-state di seluruh dunia sah,  karena itu umat Islam di manapun tidak perlu berpikir membangun imperium Islam dunia dengan cara-cara yang tidak Islami. Orang-orang Islam harus berhenti bercita-cita bughat atau mengadakan konsensus di atas konsensus. NKRI yang pluralistik adalah konsensus yang dibentuk oleh para hakam (juru runding) yang bekerja dalam BPUPKI/PPKI. Al-Qur’an (QS. an-Nisâ’/4: 35) membolehkan dan mengakui keberadaan hakam untuk menghindari perpecahan. Jika hakam saja boleh dalam urusan domestik, apalagi dalam urusan publik yang menentukan nasib banyak orang.

Saya meyakini terorisme dalam Islam lahir dari cita-cita politik, bukan agama. Terorisme harus disikapi keras dan tegas. Tidak ada toleransi terhadap terorisme dan teroris. Adapun satu tingkat di bawahnya, yaitu orang Islam eksklusif, yang meyakini kebenaran mutlak Islam sembari menafikan hak orang lain meyakini kebenaran ajaran agamanya, harus diupayakan dialog tanpa letih dan pengajaran Islam yang benar, yaitu Islam yang mempromosikan keadilan, perdamaian, dan toleransi: Islam yang berwawasan kebangsaan. 

Setelah insiden Mako Brimob dan teror di Gereja Surabaya hari, kita harus sehati dan sepikiran bahwa tidak ada tempat bagi terorisme di sini, di sana, dan di mana saja. Tidak perlu menutup-nutupi dan membela aksi terorisme dengan alasan apa pun. Kalau misalnya tidak puas dengan kinerja pemerintahan, jadilah oposisi loyal. Kritiklah, kalau perlu keras, tetapi jangan asbun. Himpun kekuatan dan rebutlah kekuasaan dengan cara konstitusional, dengan program-program alternatif, tanpa perlu berternak kebencian.

Setiap negara di dunia pasti punya masalah keadilan dan distribusi kesejahteraan, hanya negeri surga yang bebas dari kerakusan manusia. Tetapi, kalau pun sekarang kita menghadapi masalah ketimpangan, tidak berarti membenarkan terorisme, pun dengan cara tersamar.

Apa maksud pembenaran tersamar? Menutup-nutupi aksi terorisme, mengembangkan teori konspirasi, menyebutnya rekayasa, menggunakan dalih reaksi atas ketidakadilan. Itu semua adalah bentuk pembenaran tersamar. Selagi kita, umat Islam, tidak mau jujur kepada diri sendiri, kita tidak akan bisa melenyapkan terorisme!


Penulis adalah Sekretaris Jenderal PP ISNU

Bagikan:
Ahad 13 Mei 2018 20:0 WIB
Bab Kematian dan Islam Nusantara dalam ‘Putih’ Efek Rumah Kaca
Bab Kematian dan Islam Nusantara dalam ‘Putih’ Efek Rumah Kaca
Oleh Sobih Adnan

Indonesia memiliki 4 persen dari jumlah total penduduk di dunia, namun ihwal musik, rezeki yang bisa dikelola darinya cuma 0,4 persennya saja. Begitu, menurut Yonder Music, salah satu perusahaan video streaming yang bermarkas di Amerika Serikat (AS) pada pertengahan 2016 lalu. 

Faktornya, beragam. Penulis menduga, selain karena desakan teknologi digital yang kian memungkinkan publik mendapatkan produk secara cuma-cuma, musabab lainnya adalah anjloknya kualitas karya musisi di Indonesia.

Tolok ukurnya gampang. Nama-nama kelompok musik pop, misalnya, relatif tak ada yang baru atau mampu menggeser pamor band-band yang sudah ada sebelum tahun 2000-an. Masih eksis dan digandrunginya grup Slank, Dewa 19, Sheila On 7, dan para pemain lawas lainnya menunjukkan betapa perkembangan musik di dalam negeri ini memang stagnan. 

Kabar baiknya, kualitas karya dan perkembangan teknologi yang mengepung itu tampak masih bisa diolah dengan apik oleh para musisi label indie. Platform digital yang serba terbuka berpadu dengan proses kekaryaan yang tak sembarang menjadikan mereka makin menemukan dunia dan rezekinya tersendiri. Untuk nama-nama sekelas Mocca, White Shoes and The Couples Company, The S.I.G.I.T, atau Burgerkill, bahkan mampu menggaet penggemar sendiri di kancah musik dunia.

Yang tak kalah moncer, ada kelompok SORE, Payung Teduh, dan Efek Rumah Kaca (ERK). Tentang satu nama yang disebut terakhir inilah penulis merasa menemukan banyak hal menarik. Salah satunya, soal bagaiamana cara ERK mampu menyelaraskan komposisi musik, lirik, dan pesan yang ingin disampaikan kepada khalayak secara tidak main-main. 

Hampir di keseluruhan albumnya, boleh dibilang ERK berhasil menempatkan lagu-lagu berbobot. Tapi dari sekian banyak karya yang dimiliki, ada satu lagu berjudul "Putih" yang dianggap penulis paling bisa mewakili betapa jeniusnya Cholil Mahmud, sang pentolan grup tersebut dalam melahirkan karya-karya yang banyak diminati.

Sudut pandang

Lagu Putih terbagi dalam dua segmen. Yakni, ihwal kematian (tiada) dan kelahiran (ada). Soal pemilihan judul, tak ditemukan penjelasan persis. Yang jelas, dalam album Sinestesia yang dirilis 2015 lalu ini memang didominasi penamaan judul yang diambil dari banyak sebutan warna; Merah, Biru, Jingga, Hijau, dan Kuning.

Durasi Putih melebihi standar lagu 3 menitan. Sekali putar, pendengar membutuhkan 9 menit 46 detik untuk bisa menikmati secara keseluruhan. Barangkali, rentang waktu sepanjang ini lantaran masing-masing segmen dibentuk selaras dengan ukuran satu lagu tersendiri.

Daya tarik pertama dalam lagu ini adalah mengenai sudut pandang yang diambil. Padahal, bercerita tentang kematian, namun secara penuh cerita yang dibangun justru menggunakan sudut pandang orang pertama. 

Saat kematian datang
Aku berbaring dalam mobil ambulans
Dengar, pembicaraan tentang pemakaman
Dan takdirku menjelang
Sirene berlarian bersahut-sahutan
Tegang, membuka jalan menuju Tuhan
Akhirnya aku usai juga.

Pencerita dengan kata ganti “aku” adalah orang yang tengah mengalami dan memahami kematian. Kali pertama mendengarkan lagu ini, nyaris tak habis pikir, betapa si pencipta yang saat berkarya tentu masih dalam keadaan hidup itu mampu memosisikan diri sebagai orang yang sedang berada di ambang batas menemui ajal. Belum lagi, proses lepasnya ruh yang dalam lagu tersebut digambarkan dengan nuansa yang amat karib dalam kajian-kajian di dunia pesantren.

Ambil misal, dalam La’aali Masnunah diterangkan adanya sebuah pendapat bahwa tidak setiap manusia yang meninggal menyadari kondisi yang tengah dialaminya. Proses terlepasnya ruh dari jasad lebih mirip mimpi. Ketika sanak keluarga disibukkan dengan kain kafan dan persiapan pemakaman, ruh baru memafhumi kematiannya melalui penanda sosok yang berdiri tepat di posisi kepalanya.

Sosok tersebut digambarkan amat tampan jika terbentuk dari amal baik, atau sangat buruk dan menakutkan sesuai dengan dosa-dosa yang sudah terlampau banyak diperbuat. Setelah menyadari kepulangannya, barulah ruh ditempa rasa haru dan gemetar. Dalam lagu ERK, perasaan itu dilukiskan melalui kalimat "Akhirnya aku usai juga", berulang-ulang.

Tengok pula bait berikutnya;

Saat berkunjung ke rumah
Menengok ke kamar ke ruang tengah
Hangat, menghirup bau masakan kesukaan
Dan tahlilan dimulai
Doa bertaburan terkadang tangis terdengar
Akupun ikut tersedu sedan
Akhirnya aku usai juga
Oh, kini aku lengkap sudah

Perjalanan ruh berikutnya, apabila merujuk Daqaiqul Akhbar fi Dzikril Jannati wan Nar karangan Abdirrahim bin Ahmad al Qadhiy dijelaskan bahwa Nabi Muhammad Saw. bersabda; Ketika ruh keluar dari tubuh anak cucu Adam dan telah lewat 3 hari, ia berkata: Wahai Tuhanku, izinkanlah aku berjalan-jalan dan melihat jasad tempatku berada. Allah pun mengizinkannya, maka ruh pergi mendatangi kuburannya dan memandanginya dari kejauhan, dan sungguh mengalir darah dari hidung dan mulutnya, maka menangislah ruh dengan tangisan yang berkepanjangan, lantas berkata: Wahai jasadku yang miskin, hai kekasihku, apakah engkau ingat hari-hari kehidupanmu (di dunia), ini adalah rumah tempatnya kesunyian, bala', kepayahan, kesusahan dan penyesalan."

Sementara dalan riwayat Abu Hurairah dikatakan, ketika seorang mukmin meninggal dunia, ruhnya berputar mengelilingi rumahnya selama 1 bulan. Dia melihat harta yang ditinggalkannya, bagaimana pembagian dan pembayaran utang-utangnya. Setelah masa itu, barulah dia kembali pada kuburnya dan berputar-putar selama setahun. Dilihatnya siapa orang-orang yang mendoakan dan yang bersusah hati atas kepergiannya. Setelah genap satu tahun, ruhnya diangkat dan dikumpulkan dengan ruh-ruh lain sampai hari kiamat, tepatnya, saat malaikat Israfil meniupkan sangkalala.

Tradisi Nusantara

Masih dalam segmen "Tiada", ERK tak lupa mengutip suasana yang bersumber dari tradisi Muslim yang banyak dilakukan di Indonesia. Bahkan disebut kata "tahlilan", term yang tak lazim dan tak mudah ditemukan dalam album religi musisi kebanyakan. 

ERK, barangkali tak ambil pusing tentang adu dalil bid’ah atau tidak. Penggalan pertama lagu Putih ini menyatakan betapa seriusnya Cholil dan kawan-kawan menyajikan sesuatu yang dekat dan ada di tengah masyarakat Indonesia.

Awal 2017, survei yang dirilis Alvara Research Center menyebutkan, sebanyak 83,4 persen muslim Indonesia menjalani tradisi tahlilan. Jadi, dengan lirik sedalam ini, sudah barang tentu ERK tak usah takut kehilangan pangsa pasar. Apalagi, dalam album yang sama ERK sendiri yang menjudulkan bahwa "Pasar Bisa Diciptakan."

Kepekaan ERK dalam memotret tradisi masyarakat Indonesia ini menjadi nilai tambah berikutnya setelah mampu dengan fasih memainkan sudut pandang. Belum lagi, ketika disorot dari komposisi nada yang dimainkan, antara bab kematian dan kelahiran, ERK mampu menghadirkan suasana kontras antara makna permenungan dan penyambutan.

Sekali lagi, ERK begitu canggih dalam menghadirkan tradisi Islam di Nusantara. Dalam penutup segmen “Tiada”, karya band yang lahir pada 2001 ini kian sempurna melalui lirik berbunyi;

Dan kematian, keniscayaan
(Laa ilaaha illallah)
Di persimpangan, atau kerongkongan
(Laa ilaaha illallah)
Tiba tiba datang, atau dinantikan
(Laa ilaaha illallah)
Dan kematian, kesempurnaan
(Laa ilaaha illallah)
Dan kematian hanya perpindahan
(Laa ilaaha illallah)
Dan kematian, awal kekekalan
(Laa ilaaha illallah)
Karena kematian untuk kehidupan tanpa kematian.

Alhasil, abadilah ERK dalam setiap karya-karyanya.


Penulis adalah santri penikmat kopi, musik, dan puisi. Bekerja sebagai content editor di Metro TV.

Ahad 13 Mei 2018 7:30 WIB
Abraham Ben Moses dan Ujaran Kebencian
Abraham Ben Moses dan Ujaran Kebencian
Oleh Warsa Suwarsa

Di negara yang berketuhanan ini, warga negara, siapa pun dia, diberikan kemerdekaan untuk menganut agama atau keyakinan sesuai dengan kepercayaannya. Begitulah nilai ideal yang tercantum di dalam Pancasila sila pertama dan dibakukan dalam landasan konstitusional negara ini dalam UUD 1945 Pasal 29. Bagi saya – sebagai orang Islam – nilai yang terkandung di dalam dua landasan bangsa ini sejalan dengan salah satu ayat di dalam kitab suci yang sering saya baca: Laa Ikraaha fi ad-diini, tidak ada paksaan kepada orang lain dalam meyakini satu kepercayaan/agama.

Kemerdekaan dan kebebasan warga negara di dalam menganut suatu agama  atau keyakinan bukan berarti siapa pun dengan sebebasnya dan seenak perut melecehkan keyakinan lain yang tidak sejalan dengan keyakinan dirinya. Sebenarnya, sejarah pertikaian antara satu keyakinan dengan keyakinan lainnya justru tidak disebabkan oleh inti dari ajaran agama. Ajaran agama sama sekali tidak pernah mengajarkan pertikaian, bencana kemanusiaan, hingga pertumpahan darah. Pandangan orang-orang Barat terhadap sejarah Islam yang acapkali diwarnai oleh perang, pertumpahan darah, secara ilmiah selalu tidak berimbang. Mereka sering menempatkan diri mereka sebagai orang-orang yang –seolah- terlibat langsung dalam peristiwa sejarah yang telah berlangsung jauh di belakang kita.

Begitu juga dengan kita, hanya karena pertimbangan ketauhidan, keesaan Tuhan, beberapa tahun terakhir ini kita dikejutka oleh pernyataan seorang yang berpredikat ulama menyerang keyakinan umat Kristiani dengan kalimat kurang baik: Jika Tuhan memiliki anak, lalu siapa bidan yang membantu proses kelahirannya. Karena sampai saat ini, konsep ketauhidan yang kita yakini baru sebatas pada hitungan matematis, kita sering memperdebatkan Tuhan dengan pemikiran yang sangat dangkal. Saat kita meyakini Tuhan ada satu, dengan spontan pikiran kita akan berprasangka baik “satu” secara matematis, satu yang dapat dihitung dengan acungan satu jari, satu dalam bentuk hitungan bilangan asli. Ketika ada orang lain yang memiliki pandangan trinitas dan tritunggal, maka pikiran kita langsung memberikan vonis, pandangan trinitas, tritunggal, dan trimurni tentang Tuhan itu sungguh tidak mencerminkan ketauhidan. Karena apa? Karena satu versi kita bukan merupakan kesatuan atau manunggal. Toh, sampai saat ini pun kita sama sekali masih menyatakan sama antara kalimah (kata) Ahad dengan Wahid.

Beberapa bulan lalu, seorang pendeta bernama Abraham Ben Moses dinyatakan telah menistakan agama Islam karena terbukti melecehkan dan melakukan penghinaan kepada Nabi Muhammad SAW. Telah sejak lama, saya mencermati konten-konten pidato dari pendeta ini. Seorang dengan latar belakang Muhammadiyah, pernah menjadi pengajar di Pesantren Az-Zaitun, memiliki nama Saifudin Ibrahim saat masih memeluk Islam, sejak tahun 2007 silam. Dalam pidato-pidatonya memang sering menebar kebencian, Nabi Muhammad SAW sering disebutkan oleh pendeta ini dengan julukan Mr. M. Celakanya, dia telah memosisikan diri seolah sebagai pelaku sejarah yang pernah hidup di zaman Jahiliyyah. 

Dia sering mempertanyakan kenapa Nabi Muhammad SAW tidak memiliki nabi pendamping seperti halnya Musa oleh Harun atau Isa oleh Yohannes? Terus terang bagi saya sendiri, muatan-muatan pidato yang disampaikannya sama sekali tidak memiliki nilai apa pun, kering, dan cenderung tidak memiliki aspek historis berarti meskipun disampaikan dengan nada berapi-api. Bisa saja, pemahamannya terhadap sejarah bangsa Semit pun hanya dia dapatkan dari cerita-cerita yang secara tekstual hanya tertulis di dalam kitab suci saja.

Beberapa tahun lalu, barangkali demi alasan dirinya sebagai seorang pendeta mengkonversi nama dari bahasa Arab ke dalam bahasa Ibrani dan anglo saxon: dari Saifudin Ibrahim menjadi Abraham Ben Moses. Cerita ini mungkin akan mengingatkan kita kepada prosesi baiat sekaligus pembaptisan di dalam salah satu aliran dalam Islam. Orang-orang yang masuk ke dalam gerakan NII (Negara Islam Indonesia) beberapa saat setelah melakukan baiat atau sumpah setia akan dibaptis, diganti namanya. Ujang bisa berubah nama menjadi Zaid atau Abu Bakar, Kemed juga harus diganti nama menjadi Utsaimin. Artinya muatan-muatan berbau lokal oleh gerakan sempalan dan kaum purifikasi telah dianggap kafir tulen. Padahal mereka hanya mengganti nama saja dari nama-nama lokal menjadi nama dalam Bahasa Arab. Jelas, sama sekali tidak akan pernah menambah dan mengurangi keimanan seseorang.

Abraham Ben Moses pun bisa jadi memiliki pikiran yang sama dengan orang-orang NII. Jika kita mencermati leksikal makna, Abraham Ben Moses memiliki arti Ibrahim anak laki-laki  Musa. Sebuah nama yang sangat menarik. Jika diusut melalui pandangan biblical saja, nama seperti ini sama sekali kurang mencerminkan pemahaman si pemakai nama terhadap cerita yang berkembang di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Sejak kapan Ibrahim menjadi anak Nabi Musa? Bukankan Musa memiliki dua anak Gersom dan Eliezer? Bukankan ayah kandung Ibrahim itu bernama Terah atau Azar dalam versi Islam? Alasan menjadi lebih kuat, bagaimana seorang Abraham Ben Moses dapat dengan mudah mempertanyakan sejarah Nabi Muhammad SAW dan menyerangnya dari berbagai sudut saat dirinya sama sekali tidak pernah memahami sejarah yang diceritakan di dalam kitab sucinya.

Maka, jika manusia telah menjadikan agama yang dianutnya menjadi Tuhannya, menjadi ladang mengais rezeki, menjadi media untuk menghantarkan dirinya menjadi penguasa, dan dijadikan alat politik, sudah dapat dipastikan, agama hanya akan dijadikan senjata untuk menyerang dan melecehkan agama serta keyakinan orang lain. Pikirannya manusia-manusia seperti ini hanya akan tersita untuk membicarakan: perang salib, perang sabil, perang akhir zaman, dajjal, dan kebangkitan Imam Mahdi. Sangat aneh, peperangan sering ditunggu-tunggu dan dinantikan kedatangannya. Bukankah arti agama itu anti-kekacauan?


Penulis merupakan guru di MTs Riyadlul Jannah Kota Sukabumi, aktif menulis di surat kabar cetak dan elektronik.

Sabtu 12 Mei 2018 21:0 WIB
Menetapkan Kewaspadaan Pasca-Pembubaran HTI
Menetapkan Kewaspadaan Pasca-Pembubaran HTI
Ilustrasi: HTI mencatut nama NU saat kampanye gagasan khilafah
Oleh Faisol Ramdhoni

Tertolaknya gugatan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) oleh Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta semakin menegaskan kebijakan pemerintah yang membubarkan dan melarang keberadaan HTI di Indonesia.  Setelah sebelumnya diawali dengan terbitnya Perppu Ormas No. 2 tahun 2017, yang kemudian dijadikan UU resmi oleh DPR RI. 

Akan tetapi, apakah setelah HTI dibubarkan para pangusungnya juga akan bubar? Apakah ideologi khilafah yang sebelumnya terus dikampanyekan di telinga masyarakat awam secara langsung hilang juga? Tentu jawabannya tidak. Karena ada sisi perbedaan antara ide dan sekumpulan masyarakat. 

Jacques Derrida dalam bukunya Specter of Marx menyatakan bahwa pada dasarnya ideologi-ideologi di dunia tak pernah benar-benar mati melainkan hanya bersembunyi dan melatenkan diri. Pernyataan ini harus menjadi perhatian dan kewaspadaan siapa saja, bahwa secara organisasi HTI boleh bubar, namun sebagai sebuah kekuatan idiologi Khilafah yang diusung oleh HTI tidak akan pernah bisa diberangus dan akan terus bergerak. Secara de facto gerakan ini akan terus mengupayakan indoktrinasi paham kepada masyarakat atau kelompok lain. Meski pemerintah telah dengan tegas memberikan sanksi kepada mantan anggota HTI yang bersikukuh mendistribusikan ideologi khilafah namun tampaknya ini justru dimaknai sebagai gertak sambal. 

Fakta sejarah juga menguatkan hal di atas, proklamasi berdirinya Negara Islam Indonesia pada tahun 1953 oleh Daud Beureuh Pimpinan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) menjadi bukti nyata bahwa idiologi khilafah sudah ada di republik ini sejak lama. DI/TII boleh saja telah dilumpuhkan puluhan tahun silam beserta pemimpin tertingginya, tetapi obsesi ideologis untuk membangun khilafah islamiyah di republik ini takkan pernah benar-benar punah. HTI menjadi penerus ideologi, meski garis genealoginya tidak lahir dari DI/TII namun bisa dilihat dari kesamaan obsesinya tersebut. Bagi para eks-HTI, penegakan Khilafah bukan lagi sekedar gagasan namun telah menjelma sebagai sebuah keyakinan. 

Baca juga: NU Kecam Spanduk Palsu Pagar Nusa di Muktamar Khilafah HTI
Seorang sosiolog Islam, Ali Syariati menyampaikan bahwa keyakinan merupakan faktor paling pokok yang mendorong dan menguatkan seseorang dalam beridiologi dan kuat dalam memperjuangkan cita-cita idiologinya. Maka sangat dimungkinkan para eks-HTI akan tetap bermetamorfosa menjadi gerakan model baru. Para eks-HTI selalu punya langkah tersembunyi untuk menghindari politik identitas. Kenapa demikian? karena kelompok ini sengaja mengurungkan niat agar dianggap tenggelam begitu dalam sehingga kebanyakan mengira bahwa eks-HTI sudah lost power. Proses doktrinasi ideologi akan terus berkembang dengan pola gerakan yang variatif. Gerakan bawah tanah dan penguatan sisi ekspansi akan menjadi strategi shoot on target untuk menginvasi negara. 

Pada titik itulah, kewaspadaan menjadi penting untuk dimiliki oleh kita semua para pecinta NKRI. Kita tidak boleh lengah dan terninabobokan dengan telah dibubarkan dan dilarangnya HTI oleh Negara. Apalagi dalam amatan penulis, ada situasi internal dan eksternal yang sangat berpotensi mendorong keberadaan HTI di Indonesia. . 

Pada situasi internal, kita dihadapkan pada situasi kebangkitan populisme di Indonesia yang turut ditandai dengan adanya kebangkitan radikalisme Islam, yang mendorong sentimen anti-China dan nasionalisme ekonomi. Gerakan ini dipimpin oleh kelompok Islam radikal yang semakin tumbuh kuat di Indonesia. Walaupun mereka telah gagal untuk mendominasi politik utama, namun para populis Islam berada di posisi yang bagus dalam mengambil keuntungan sosial, politik, dan ekonomi, untuk meningkatkan pergerakan mereka, terutama mengingat ketimpangan antara etnisitas masih sangat tinggi, dan Muslim di Indonesia masih terus merasa terpinggirkan di negara di mana mereka adalah kelompok mayoritas. 

Isu-isu ketimpangan dan kesenjangan tersebut terus diproduksi dan dipropagandakan sembari menawarkan konsepsi formalisme syariat Islam sebagai solusi. Terbukti gerakan Islam Radikal ini banyak masuk dan diterima di organisasi-organisasi Muslim, partai-partai politik, serta universitas. Penelitian yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada tahun 2011 di lima universitas ternama seperti UGM, UI, IPB, UNAIR dan UNDIP menunjukkan peningkatan pemahaman konservatif atau fundamentalisme keagamaan khususnya di kalangan mahasiswa di kampus-kampus umum. 

Selain itu, Survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP), yang dipimpin oleh Prof Dr Bambang Pranowo --yang juga guru besar sosiologi Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, pada Oktober 2010 hingga Januari 2011, mengungkapkan hampir 50% pelajar setuju tindakan radikal. Data itu menyebutkan 25% siswa dan 21% guru menyatakan Pancasila tidak relevan lagi. Sementara 84, 8% siswa dan 76, 2% guru setuju dengan penerapan Syariat Islam di Indonesia. Jumlah yang menyatakan setuju dengan kekerasan untuk solidaritas agama mencapai 52, 3% siswa dan 14, 2% membenarkan serangan bom. 

Survei Alvara Research Center juga menemukan ada sebagian milenial atau generasi kelahiran akhir 1980-an dan awal 1990-an, setuju pada konsep khilafah sebagai bentuk negara. Survei yang dilakukan terhadap 4. 200 milenial yang terdiri dari 1. 800 mahasiswa dan 2. 400 pelajar SMA di Indonesia menghasilkan mayoritas milenial memang memilih Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk negara. Namun ada 17, 8 persen mahasiswa dan 18, 4 persen pelajar yang setuju khilafah sebagai bentuk negara ideal sebuah negara

Data-data di atas mengajak kita untuk lebih membuka mata untuk melihat bahwa di ladang kebangsaan kita telah terjadi proses transformasi idiologi radikalisme yang sudah berjalan lama. Bahwa di tubuh sebagian generasi penerus bangsa kita tersimpan virus khilafah. Kemudian, akan mereka sebarkan secara senyap meski tanpa harus berbaju HTI. 

Kondisi ketimpangan dan kesenjangan yang membangkitkan gerakan pupulisme di Indonesia akan dimanfaatkan sebagai penggerak laju gagasan Khilfah sebagai solusi. Jiwa idealisme yang masih tinggi berada di generasi muda/millenial menjadi titik untuk mempertemukan isu ketimpangan dan idiologi khilafah sebagai pembebasan. Potensi membesarnya penerimaan Khilafah di generasi muda/millenial inilah yang patut kita waspadai secara ketat. 

Sementara di situasi eksternal, Mantan Panglima TNIJenderal TNI Gatot Nurmantyo pernah mengatakan bahwa di skala Internasional sedang terjadi konflik antar negara di seluruh dunia yang sejatinya dilatarbelakangi oleh perebutan energi dan pangan. Indonesia yang selama ini dikenal dengan kekayaan sumber daya alamnya bisa menjadi sasaran selanjutnya. 

Terkait dengan itu, menarik untuk menelisik lontaranKH As’ad Said Ali, Wakil Ketua PBNU periode 2010-2015, terkait Hizbut Tahrir yang mempunyai izin dan dibiarkan berkembang dengan baik hanya di Amerika dan Inggris. Padahal di banyak negara HTI dianggap ancaman dan dilarang keberadaannya. Sebagai tokoh yang pernah bekerja di dunia intelejen, tentu analisanya tidak bisa disepelekan. Kecurigaannya terhadap keberadaan HTI di dua negara besar tersebut memang disengaja untuk menjadi corong negara-negara Barat yang bertujuan mengobok-obok negara Islam atau negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam layak dicermati. Dan tujuannya untuk merebut kekuasaan dalam pengelolaan sumber daya alam. 

Memang, untuk Indonesia, dampak negatif dari keberadaan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) belum terasa. Namun, jika mau mencermati keterlibatan mereka di negara lain, seperti Libya maupun Suriah, tentu kita bakal berpikir dua kali. Dalam kasus Libya, misalnya, diawal-awal revolusi negeri ini, HT membangun persepsi bahwa Moammar Qaddafy adalah antek Barat, Inggris. Akibatnya,  pecah revolusi Libya yang telah meluluhlantakan seluruh sistem infrastruktur negara itu, menewaskan ribuan warga negara, serta mengakibatkan terpecah-belahnya wilayah Libya. 

Situasi chaos semacam itu ternyata kemudian hanya menjadi “karpet merah” bagi Barat untuk menguasai sumber daya alam Libya. Sebab beberapa hari berselang setelah tumbangnya Moammar Qaddafy, ENI perusahaan minyak asal Itali mulai beroperasi. Mereka memompa dengan awal produksi 31. 000 barel per hari. Sedangkan TOTAL, perusahaan minyak asal Perancis memulai produksi di fasilitas produksi lepas pantai Al-Jurf memulai dengan kapasitas produksi 40. 000 barel per hari. 

Ironisnya, pasca tumbangnya rezim berkuasa dan porak-porandanya Libya akibat perang saudara, kelompok radikalis yang sempat bermimpi menegakkan daulah Islamiyah dengan sistem khilafah, tidak kelihatan batang hidungnya. Sementara saudara-saudara mereka, baik yang seiman atau tak seiman, kalau tidak tewas akibat perang, mereka kehilangan sanak saudaranya, atau mengungsi ke negara-negara Eropa, negeri Barat yang non-muslim. Alih-alih meraih kemakmuran/kesejahteraan, yang rakyat Libya temukan saat ini adalah kesengsaraan dan kemiskinan jika tidak menjadi warga kelas dua wilayah pengungsian. 

Apa yang terjadi di Lybia dan di sejumlah negara timur tengah tersebut bisa jadi di replikasi di Indonesia. Untuk itulah, penting kiranya bagi kita semua, segenap elemen kebangsaan untuk menetapkan kewaspadaan pasca dibubarkannya HTI. Apalagi perkembangan situasi internal dan ekternal kekinian seperti yang dibahas di atas sangat mendukung untuk muncul dan dimunculkannya kembali HTI, untuk bangkit dan dibangkitkannya kembali HTI, untuk hadir dan menghadirkankembali HTI. Baik dalam memakai baju lama mapun baju baru. Baik untuk tujuan agenda penegakan Khilfah maupun agenda melapangkan jalan infiltrasi negara luar dalam perebutan kekuasaan dan penguasaan sumber daya alam Indonesia. 

Sebagai penutup tulisan, ijinkan penulis berpesan satu kalimat yakni “Tetaplah terus waspada terhadap gerakan idiologi HTI demi NKRI!”


Penulis adalah Ketua Lakpesdam PCNU Sampang

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG