IMG-LOGO
Risalah Redaksi

Radikalisme yang Menyebar secara Senyap pada Remaja dan Pemuda

Ahad 20 Mei 2018 14:15 WIB
Bagikan:
Radikalisme yang Menyebar secara Senyap pada Remaja dan Pemuda
Rakyat Indonesia dikejutkan dengan serangkaian pengeboman di tiga gereja dan kantor kepolisian di Surabaya pada 13-14 Mei 2018. Yang memprihatinkan, aksi bom bunuh diri tersebut dilakukan oleh satu keluarga, termasuk mengorbankan remaja dan anak kecil. Ini merupakan fenomena baru dalam aksi terorisme yang terjadi di Indonesia. Tugas berat aparat keamanan dan masyarakatlah untuk mengantipasi agar kejadian serupa tidak terjadi lagi di masa mendatang.

Dari informasi yang beredar di Facebook yang diunggah teman remajanya, Ahmad Faiz Zainuddin sosok pria pelaku bom bunuh diri bernama Dita Supriyanto yang mengorbankan seluruh keluarganya tersebut sudah sejak remaja terlibat dalam pengajian-pengajian kelompok ekstrem yang menganggap pemerintah itu thaghut dan yang di luar kelompoknya adalah kafir. Dia juga berusaha merekrut para yuniornya yang sedang mencari jati diri untuk masuk dalam kelompok ekstremnya.
 
Setelah era reformasi yang menandai dimulainya kebebasan di Indonesia, kelompok-kelompok Islam transnasional semakin kencang memanfaatkan situasi tersebut untuk mengembangkan ajarannya. Mereka menyasar para pemuda dan remaja di kampus atau sekolah menengah atas sebagai sasaran indoktrinasi ideologi radikalnya. Jika sebelumnya, proses tersebut berjalan secara sembunyi-sembunyi dengan sistem sel, sejak itu, rekrutmen anggota baru menjadi lebih terbuka. Menyasar generasi muda yang memiliki ghirah keislaman tinggi tetapi memiliki bekal pengetahuan agama minim.

Jika dihitung, tentu potensi radikalisme dari bibit-bibit yang ditanam oleh kelompok radikal sejak era 90an sampai sekarang sudah banyak yang matang dan siap beraksi dalam berbagai bentuk. Mereka mencari momentum untuk melaksanakan aksinya. Dalam perspektif ini, sebenarnya kejadian-kajadian terorisme bukanlah sebuah kejutan. Sekalipun kelompok mereka sangat kecil dalam proporsi jumlah penduduk Indonesia, tapi tindakannya bisa menyebabkan keresahan masyarakat. Ketenangan yang ada sifatnya hanya sementara, yang setiap saat bisa terjadi aksi-aksi yang mematikan.

Survei yang dilakukan oleh PPIM UIN Syarif Hidayatullah pada akhir 2017 menunjukkkan adanya potensi radikalisme di kalangan generasi Z, yaitu generasi yang lahir sejak pertengahan 1990-an sampai pertengahan 2000an. Temuannya adalah sebesar 37.71 persen memandang bahwa jihad atau khital, alias perang, terutama perang melawan non-Muslim. Selanjutnya 23.35 persen setuju bahwa bom bunuh diri itu jihad Islam. Lalu 34.03 persen setuju kalau Muslim yang murtad harus dibunuh. Temuan lain, 33,34 persen berpendapat perbuatan intoleran terhadap kelompok minoritas tidak masalah. Para generasi Z ini mereka mendapatkan banyak materi Islam salah satunya dari internet dan medsos.

Kelompok radikal menggunakan internet dan media sosial dengan serius karena menjangkau warganet secara luas. Dari ratusan ribu atau jutaan yang menonton atau membaca informasi yang diunggah, dalam persentase tertentu ada yang terdoktrinasi. Dari situ, tinggal membina, membangun jejaring dan merawatnya untuk memperkuat posisi dan suatu saat dimanfaatkan bagi kepentingan kelompoknya. 

Persoalan radikalisme kian diperumit dengan adanya kepentingan politik. Parpol tertentu cenderung membiarkan atau mendiamkan kelompok-kelompok radikal berkembang karena kelompok tersebut merupakan basis pemilih saat pemilihan umum atau kepentingan penekan terhadap kelompok lain yang tidak sepakat dengannya. 

Dari binaan-binaan yang dilakukan oleh kelompok garis keras pada remaja dan pemuda di sekolah dan kampus, tentu tidak semuanya akan melakukan tindakan kekerasan dan terorisme. Bahkan potensi yang akan secara langsung melakukan tindakan ini hanya, tetapi ada peran-peran lain yang dijalankan untuk menjalankan agenda Islam radikal. Bisa sebagai politisi yang memberi perlindungan politik, menyandang dana untuk kelanjutan aktivitas mereka, sebagai pengajar yang akan meneruskan bibit-bibit radikalisme ke generasi yang lebih baru atau bahkan sekadar sebagai pendukung pasif yang menyampaikan simpatinya di media sosial saat terjadi aksi terorisme. 

Dalam terorisme di Surabaya, terbukti terdapat sejumah akun yang tidak mengecam atau merasa prihatin terhadap kejadian tersebut, tetapi mengembangkan teori konspirasi bahwa aksi tersebut sengaja dilakukan pihak tertentu sebagai pengalih isu atau kepentingan lain yang tersembunyi. Suara masyarakat yang terpecah sekalipun banyak korban nyawa menunjukkan dalam taraf tertentu, penerimaan atas aksi tersebut yang diekspresikan secara langsung melalui media sosial. 

Para remaja dan pemuda yang kini terindoktrinasi ajaran radikal ibarat bibit-bibit yang baru mau bertumbuh, saat ini mereka yang tidak menimbulkan bahaya apa pun bagi masyarakat, tapi semaian yang terus dipupuk dan dirawat dengan radikalisme akan menjadi sangat berbahaya pada 20-30 tahun mendatang ketika mereka sudah dewasa, memiliki kekuasaan, sumberdaya atau akses tertentu.

Kinilah saatnya kita berpikir secara serius upaya penanganan penanaman ajaran radikal di kalangan generasi muda. Jika tidak, Indonesia bisa menjadi ajang pertempuran tiada habisnya sebagaimana terjadi di Afganistan. Pembinaan Islam di tingkat sekolah menengah atas mungkin lebih mudah dilakukan oleh guru agama atau pihak sekolah. Mahasiswa di kampus perlu pendekatan yang berbeda karena mereka lebih dewasa dan lebih bebas dalam berorganisasi. Organisasi-organisasi mahasiswa Islam moderat harus didorong untuk lebih aktif dalam membimbing mahasiswa baru agar mereka tidak gampang tergiur dengan ajakan Islam radikal yang disampaikan dengan cara menarik. (Achmad Mukafi Niam)

Bagikan:
Jumat 11 Mei 2018 14:15 WIB
Para Penghafal Al-Qur’an, Penjaga Otentisitas Kitab Suci
Para Penghafal Al-Qur’an, Penjaga Otentisitas Kitab Suci
Ilustrasi (NU Online)
Gairah untuk menghafal Al-Qur’an atau menghatamkannya secara bersama-sama dalam beberapa tahun belakangan ini meningkat drastis. Pesantren tahfidz marak didirikan di mana-mana dan keinginan untuk masuk ke dalamnya juga kuat. Para remaja dengan penuh semangat dan dorongan penuh dari orang tuanya menghabiskan masa-masa emasnya untuk menghafalkan firman suci ini sementara teman sebayanya hanya menghabiskan waktu untuk bermain-main. Perlombaan hafalan Al-Qur’an juga digelar di banyak tempat dengan jumlah peserta yang semakin hari semakin meningkat.

Kegiatan membaca dan menghatamkan Al-Qur’an secara bersama-sama populer dengan sebutan one day one juz (ODOJ), yaitu sekelompok orang yang setiap hari menghatamkan 30 juz Al-Qur’an dengan sistem pembagian satu orang membaca satu juz. Biasanya mereka adalah kelompok pengajian, komunitas dalam satu lingkungan, atau anggota sebuah keluarga besar. Media sosial membantu mengoordinasi kegiatan ini agar bisa berjalan dengan baik sekalipun para anggotanya berjauhan. 

Fenomena baru tersebut tentunya harus kita apresiasi, bahwa di tengah-tengah kecenderungan umum menyibukkan diri dengan internet, media sosial dan beragam hiburan yang melenakan, masih ada orang-orang yang dengan tekun menyisihkan sebagian waktu untuk mengaji Al-Qur’an. Yang menemukan oase spiritualitas dengan membaca kalam ilahi. Tidak mudah untuk bisa konsisten dari hari ke hari untuk secara rutin membaca Al-Qur’an, apalagi menghafalkan sebanyak 30 juz. 

Dalam keyakinan banyak orang, bahwa membaca Al-Qur’an merupakan kegiatan berpahala. Tentu itu benar adanya karena banyak sekali dalil yang menjelaskan keutamakan dalam membaca Al-Qur’an. Tradisi yang berjalan selama Ramadhan adalah bertadarus seusai shalat Tarawih, yang selama sebulan penuh menghatamkan Al-Qur’an selama beberapa kali. Tentu ini didasari keyakinan bahwa membaca Al-Qur’an selama Ramadhan mendatangkan banyak pahala. 

Selanjutnya adalah bagaimana agar tradisi yang sudah berjalan dengan baik ini bisa kita tingkatkan kualitasnya. Bagaimana dari sekadar membaca ayat-ayat berbahasa Arab yang tidak dipahami artinya, bisa mulai mengarah dengan mempelajari tafsir dan maknanya. Ini merupakan pekerjaan besar mengingat Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab yang bukan merupakan bahasa ibu kita. Belum lagi jika ingin mempelajari ilmu-ilmu pendukung lain agar bisa memaknai dan menafsirkan Al-Qur’an dengan baik.

Sama dengan upaya membaca Al-Qur’an, mempelajarinya membutuhkan sikap istiqamah atau konsistensi, bahkan lebih berat lagi karena memerlukan upaya berpikir lebih keras. Tetapi dengan sikap istiqamah ini, hal-hal kecil yang kita lakukan setiap hari akan terakumulasi. Pengetahuan tentang Al-Qur’an yang dipelajari setiap hari akan terus meningkat dengan berjalannya waktu. Sungguh sayang jika kita sudah cukup puas hanya dengan membaca satu juz setiap hari, dari tahun ke tahun seperti itu tetapi tanpa pengetahuan yang bertambah mendalam tentang Al-Qur’an itu sendiri. 

Kini saatnya mulai mengkampanyekan bagaimana agar kualitas kita dalam mempelajari Al-Qur’an semakin meningkat. Tahap pertama tentunya adalah mempelajari bahasa Arab yang merupakan bahasa Al-Qur’an sehingga kita memahami arti dari ayat-ayatnya. Selanjutnya bagaimana mempelajari ilmu-ilmu pendukung dalam menafsirkan Al-Qur’an karena kitab suci tidak bisa dibaca secara tekstualis. Ada asbabun nuzul yang menjadi dasar turunnya ayat tersebut, ada hadist terkait sebagai penjelas sebagai ayat mengingat Al-Qur’an sifatnya makro, ada keterkaitan dengan ayat lain, ada aspek terkait ilmu bahasa Arab, dan lainnya. 

Untungnya dukungan yang diberikan oleh institusi pendidikan bagi penghafal Al-Qur’an kini cukup tinggi. Sejumlah perguruan tinggi memberikan beasiswa bagi para penghafal Al-Qur’an. Tentu ini didasari alasan bahwa hanya orang-orang istimewa yang mampu menghafal Al-Qur’an dan karena itu mereka layak untuk terus dikembangkan potensinya. Ada banyak aspek pengetahuan yang bisa digali dalam Al-Qur’an, bukan hanya pengetahuan terkait agama saja, tetapi juga sains secara umum. Dengan demikian, hal tersebut dapat meningkatkan iman kita kepada Allah. 

Selain perguruan tinggi, pesantren-pesantren Al-Qur’an juga membebaskan para santrinya untuk biasa hidup selama di pesantren. Ini menunjukkan komitmen masyarakat akan pentingnya Al-Qur’an dan mendukung orang-orang yang bersedia mengabdikan dirinya untuk mempelajari dan menjaganya. 

Menghafal Al-Qur’an merupakan aktivitas yang berat dan menjaga agar tetap hafal merupakan hal yang lebih berat lagi. Dibutuhkan konsistensi untuk setiap hari mengulang hafalan pada bagian tertentu. Hanya orang-orang dengan kualitas tertentu yang mampu menjaga hafalan dengan baik. Butuh energi besar untuk memastikan semuanya berjalan sesuai sesuai dengan ketentuan. Para penghafal Al-Qur’an karena itu butuh dukungan keuangan yang memadai agar bisa hidup dengan layak sembari menjaga agar sinar-sinar Al-Qur’ani tetap memancar. 

Umumnya para penghafal Al-Qur’an adalah para ustadz/ustadzah yang dihidupi oleh masyarakat dengan peran-peran keagamaan yang mereka jalankan di lingkungan mereka. Banyak pula yang menjalankan aktivitas pekerjaan normal dan kemudian menyisihkan sebagian waktunya untuk menjaga hafalannya. Semua itu membutuhkan komitmen besar dan sudah selayaknya kita dan masyarakat secara umum memberi dukungan agar mereka dapat tetap menjaga Al-Qur’an dengan baik. (Achmad Mukafi Niam)

Ahad 6 Mei 2018 7:30 WIB
Menyiapkan Guru-guru NU pada Teknologi Pembelajaran Digital
Menyiapkan Guru-guru NU pada Teknologi Pembelajaran Digital
Guru merupakan faktor utama penentu keberhasilan pendidikan. Di bawah bimbingan pendidik yang kompeten dan berdedikasi, potensi-potensi yang terpendam dalam diri para siswa dapat dikembangkan dengan maksimal. Karena itu, untuk meningkatkan kualitas pendidkan di lingkungan NU, upaya peningkatan kualitas para guru menjadi suatu kemestian. Penyiapan para guru NU dengan teknologi pembelajaran digital akan mengakrabkan para guru dengan teknologi pembelajaran terbaru ini. 

Peningkatan kapasitas para guru sangat krusial di era saat ini mengingat terjadinya perubahan yang sangat cepat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Generasi baru yang lahir setelah tahun 2000, yang kini sedang duduk di sekolah memiliki cara berpikir dan bertindak yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka merupakan generasi digital native atau sejak lahir telah bersentuhan dengan dunia digital. Para guru, yang lahir di era sebelumnya, merupakan kelompok digital immigrant atau orang-orang yang mempelajari teknologi digital setelah mereka dewasa. Karena belajar teknologi digital setelah dewasa, banyak di antaranya yang mengalami kegagapan.

Kelompok digital native dan digital immigrant memiliki karakteristik dan perilaku yang berbeda ketika berhadapan dengan teknologi. Para guru, jika ingin berhasil dalam mengajar, harus memahami bagaimana cara berpikir anak-anak masa kini lalu menggunakan metode yang tepat dalam proses belajar-mengajar. Metode pembelajaran yang banyak menghafal sebagaimana digunakan di masa lalu tampaknya harus dievaluasi mengingat teknologi kini mampu menyimpan materi-materi ke dalam jaringan, lalu kita dapat mengaksesnya dengan mudah kapan saja, di mana saja tanpa perlu kita menghafalnya. Tugas guru adalah bagaimana mendorong rasa keingintahuan siswa agar berkembang dengan baik mengingat internet menjadi sumber pengetahuan yang tak terbatas. 

Kini, kita dapat belajar “apa saja” melalui internet. Video-video pembelajaran yang berserakan di Youtube atau situs lain dapat dengan gampang diakses. Jika belum paham materinya, kita dapat mengulangi materi sampai bisa memahami. Beragam aplikasi yang tersedia di play store atau app store menyediakan wahana pembelajaran yang interaktif, yang menyediakan latihan-latihan pada materi yang kita pelajari. Sejumlah perusahaan telepon genggam dunia juga mengembangkan materi pembelajaran yang efektif sebagai nilai lebih mereka di hadapan konsumen. Peran guru dalam hal ini adalah bagaimana mengarahkan para siswa memanfaatkan kekayaan teknologi ini. Untuk bisa mengarahkannya, maka mereka sendiri harus paham dan akrab teknologi pembelajaran berbasis digital.

Bagaimana kesiapan para guru NU yang tergabung dalam Persatuan Guru NU (Pergunu) untuk memanfaatkan teknologi pembelajaran ini? Beberapa tentu sudah akrab dengan teknologi baru ini, tetapi masih banyak yang menggunakan cara-cara pembelajaran konvensional yang sudah dijalankan selama bertahun-tahun sebelumnya. Para guru yang baru lulus lebih mudah menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi sementara guru yang sudah berumur cenderung menggunakan pola pembelajaran yang selama ini dijalani selama karir mengajarnya. 

Keberadaan telepon cerdas kini sudah menyebar secara merata, termasuk di kalangan para pendidik. Beragam aplikasi pembelajaran juga bisa diunduh dengan gratis. Persoalannya saat ini adalah bagaimana para guru selalu terdorong untuk menggunakan teknologi untuk pembelajaran sehingga siswa dapat mempelajari dan mamahami suatu materi pelajaran dengan cepat. Menciptakan budaya pembelajaran digital akan mempercepat proses digitalisasi pembelajaran.

Tetapi ada peran guru yang tidak dapat digantikan oleh teknologi digital, yaitu peran sebagai pemberi teladan dan mengajarkan karakter kepada siswanya. Di sinilah kekuatan para pendidik di lingkungan NU. Ini harus dijaga bahkan diperkuat. Internet di mana  beragam nilai-nilai moral ditawarkan bisa menjadi jebakan bagi anak didik jika mereka tidak mendapatkan bimbingan yang baik dari para guru. Kelompok-kelompok radikal juga menyasar pengikut baru melalui internet yang merupakan orang-orang yang labil dan belum memiliki pegangan hidup yang mapan.

Peran guru juga sangat krusial dalam membimbing siswa bagaimana menggunakan internet atau teknologi digital dengan bijak. Kekhawatiran para orang tua adalah konten pornografi yang kini dengan mudah diakses melalui internet. Bukan hal yang bijak juga jika menghalangi para siswa untuk mengakses internet karena ketakutan mereka akan terpapar pornografi. Ini merupakan dampak negatif yang harus dicarikan solusinya. Masa depan generasi muda, tergantung pada kemampuan mereka dalam memanfaatkan internet dengan baik. Karena itu, membimbing mereka berinternet secara sehat menjadi sangat penting.

Hal lain adalah munculnya media sosial sebagai sarana untuk bersosialisasi di dunia maya. Kini banyak orang menghabiskan waktunya selama berjam-jam dalam sehari untuk menelusuri media sosial, dari satu grup ke grup lain, dari satu aplikasi ke aplikasi lain. Baik sekedar membaca, memberi tanda suka, berkomentar atau menggunggah materi. Banyak waktu produktif hilang karena fenomena media sosial yang sangat melenakan ini. Para siswa, juga memiliki kecenderungan yang sama untuk teradiksi dengan media sosial secara berlebihan. Sekali lagi, di sini peran guru untuk membimbing mereka.

Menjadi guru di era digital merupakan tugas yang lebih menantang dibandingkan dengan era analog pada generasi sebelumnya. Tentu ini merupakan "berkah" dari kemajuan, tetapi menuntut para pendidik untuk lebih proaktif dalam memanfaatkan teknologi pembelajaran. Organisasi guru seperti Pergunu harus menyiapkan para guru untuk lebih siap menghadapi perkembangan teknologi baru ini. (Achmad Mukafi Niam)

Sabtu 28 April 2018 21:40 WIB
Menangkap Potensi Turis Muslim dengan Wisata Halal
Menangkap Potensi Turis Muslim dengan Wisata Halal
Ilustrasi (via alarbaiya.net)
Tren menjalankan perjalanan wisata kini menjangkau seluruh dunia, termasuk umat Islam di berbagai kawasan. Dalam perspektif lokal, jika akhir pekan atau musim liburan panjang, maka kawasan-kawasan wisata di penjuru Indonesia selalu dipenuhi pengunjung. Bukan hanya wisatawan lokal, kunjungan wisata dari berbagai negara juga meningkat drastis. Kawasan Puncak di Cianjur Jawa Barat kini juga merupakan salah satu tujuan utama turis-turis dari jazirah Arab yang merindukan udara dingin dan segar mengingat tempat tinggal mereka yang panas dan bergurun. 

Meningkatnya jumlah turis dikarenakan semakin sejahteranya Muslim di berbagai negara dan juga semakin murahnya biaya perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Wisata juga sudah menjadi industri yang dikelola dengan baik, yang dipromosikan dengan gencar untuk menarik minat calon pengunjung. Banyak faktor yang mendorong manusia untuk lebih rajin berpiknik dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya.

Dengan adanya kebutuhan menjalankan ibadah harian seperti shalat lima waktu, tempat-tempat wisata yang pengunjungnya Muslim sudah seharusnya menyediakan sarana yang memudahkan umat Islam menjalankan kewajibannya. Untuk memfasilitasi atau menarik konsumen wisata Muslim maka lahirlah beberapa istilah seperti wisata halal, wisata syariah, dan wisata religi. 

Wisata religi muncul dalam Perpres RI No. 50 Tahun 2011 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional. Pasal 14 ayat 1 pada aturan tersebut menjelaskan bahwa daya tarik wisata meliputi, wisata alam, budaya, dan hasil buatan manusia. Selanjutnya daya tarik wisata hasil buatan manusia dikembangkan dalam berbagai sub jenis atau kategori kegiatan wisata, satu darinya ialah wisata religi. Jenis wisata ini menekankan keindahan dan keunikan dari tempat-tempat yang memiliki nilai religius seperti masjid, makam suci, dan tempat lain yang terkait dengan nilai-nilai keagamaan.

Wisata syariah merupakan konsep yang dikembangkan dengan mempertimbangkan kesesuaian wisata tersebut dengan ketentuan syariah dalam Islam seperti hiburan yang tidak bertentangan dengan syariah, makanan halal, atau hal-hal lain menegaskan bahwa upaya untuk menyegarkan diri tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Belakangan, yang sedang menjadi tren global adalah wisata halal. Konsep ini muncul ketika banyak Muslim yang melancong ke luar negeri di mana mereka mengharapkan agar kebutuhan bertindak sebagai Muslim yang baik terpenuhi. Jadi wisata halal tidak identik dengan wisata religi yang mengunjungi masjid atau tempat-tempat suci. Wisata halal bisa mengunjungi obyek pantai, gunung, tempat buatan manusia, kuliner, atau yang lainnya tetapi memenuhi kebutuhan akan Muslim. Studi Crescent Rating di 130 negara tentang wisata halal menunjukan terdapat enam kebutuhan utama bagi Muslim saat berwisata yang meliputi 1) Makanan halal; 2) Fasilitas shalat; 3) Kamar mandi dengan air untuk wudhu; 4). Pelayanan saat bulan Ramadhan; 5) Pencantuman label non halal (jika ada makanan yang tidak halal), dan 6) Fasilitas rekreasi yang privat (tidak bercampur baur secara bebas).

Mengingat potensi pasar Muslim yang besar, banyak negara-negara dengan penduduk Muslimnya minoritas mengembangkan konsep wisata halal ini untuk menarik turis datang ke negerinya. Jepang, Taiwan, Korea, dan negara-negara lain yang menjadikan sektor wisata halal sebagai salah satu pendapatannya mengingat ada 1.6 Miliar penduduk Muslim di bumi ini. Upaya tersebut tidak sia-sia karena jutaan turis mengunjungi negara yang ramah dalam penyediaan fasilitas bagi mereka.

Malaysia merupakan negara dengan peringkat teratas terkait dengan penyediaan fasilitas halal sementara Indonesia hanya menduduki peringkat keenam. Pada 2015, provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menerima penghargaan World Halal Travel Awards karena dianggap telah memenuhi sejumlah kriteria wisata halal di tingkat dunia.

Indonesia merupakan negara dengan potensi wisata yang luar biasa, baik dari sektor wisata alam, budaya, atau bangunan buatan manusia. Sayangnya potensi tersebut belum dikembangkan dengan baik. Banyuwangi merupakan salah satu daerah yang bisa menjadi contoh bagaimana memaksimal potensi yang selama ini masih belum tergarap. 

Mengembangkan potensi wisata tidak harus dengan rumusan konvensional 3 S (sun, sea, and sex) yang mengorbankan nilai-nilai agama dan budaya demi meraih uang dari para turis yang mencari kesenangan. Wisata tak juga harus membiarkan perilaku liar dari turis, entah dari mana dengan menutup diri bahwa perilaku mereka jauh dari nilai-nilai masyarakat di sekitarnya. 

Wisata halal bisa menjadi strategi untuk mengembangkan sektor wisata yang memberikan keuntungan finansial tetapi dari sisi lain tetap menjaga nilai-nilai keislaman, bahkan turut menjaga ajaran Islam terlaksana bagi Muslim yang datang dari luar. Fasilitas tak harus dibangun dengan mewah, tetapi yang lebih penting lagi adalah kebersihan dan kemudahan aksesnya. Yang harus dipahami adalah soal khilafiyah dalam tata cara beribadah sesuai dengan mazhab di masing-masing negara. Tapi hal ini sekaligus dapat memperkaya pemahaman kita akan keragaman Islam. (Achmad Mukafi Niam)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG