IMG-LOGO
Trending Now:
Pustaka

Gus Dur dan Kelakar Madura

Senin 21 Mei 2018 16:30 WIB
Bagikan:
Gus Dur dan Kelakar Madura
Masyarakat sudah mafhum bahwa yang melekat pada diri KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ialah joke-joke cerdasnya. Bukan hanya menggelitik, tetapi juga satir dan penuh kritik. Perkumpulan masyarakat yang sering menjadi objek humor oleh Gus Dur adalah orang-orang Madura. Karakter khas orang Madura bagi Gus Dur mengajarkan, realitas sosial masyarakat harus dimengerti bahkan dipahami untuk menyelesaikan problem sosial itu sendiri.

Gus Dur bagi orang-orang Madura adalah sosok yang tidak tergantikan dalam hal memahami, mengayomi, memberikan pengertian mendalam bagi karakter dan kultur masyarakat Madura ke dunia luar. Sebab itu, ketika Gus Dur hendak dilengserkan dari kursi Presiden RI, masyarakat yang menyatakan berani mati ialah orang-orang Madura. Bahkan, mereka ‘mengultimatum’ ingin memisahkan diri dari Indonesia.

Mengetahui hal itu, Gus Dur sendiri yang langsung memberikan pemahaman kepada orang-orang Madura agar tetap tenang menyikapi situasi tersebut. Setelah mereka berhasil menenangkan diri, Gus Dur masuk pada persoalan pembentukan negara baru. Gus Dur memberikan uraian kepada orang-orang Madura bahwa ongkos pembentukan negara baru sangat mahal. Apalagi orang-orang Madura bakal bersusah payah harus membuat paspor untuk bepergian.

Penjelasan sederhana dari Gus Dur tersebut langsung bisa diterima oleh orang-orang Madura sehingga mereka mengurungkan niat kuatnya ingin memisahkan diri dari Indonesia. Inayah Wahid (putri Gus Dur) menjelaskan bahwa ke-ngeyelan-an dan kepolosan orang-orang Madura dan jawaban-jawaban nyeleneh mereka adalah karakter kuat masyarakat Madura dan muncul dari bentuk ketulusan dan kejujuran masyarakat Madura.

Hal itu dijelaskan oleh Inayah Wahid dalam kata sambutannya di buku anggitan Sujiwo Tejo berjudul Kelakar Madura buat Gus Dur. Buku ini berisi cerita-cerita pendek (tetapi bukan cerpen) yang mengisahkan kehidupan sosial masyarakat Madura yang dilekatkan dengan sosok Gus Dur. Ini menunjukkan, buku ini berupaya menggambarkan bahwa kelakar, Gus Dur, dan orang Madura merupakan satu kesatuan unsur membentuk kehidupan yang renyah dengan tawa.

Bahkan, salah satu ke-ngeyel-an orang Madura sudah terbentuk dari sejak dini atau anak-anak. Hal ini diceritakan sendiri oleh Sujiwo Tejo. Pria asal Jember berdarah Madura itu menceritakan ada seorang anak kecil bernama Tolak yang memainkan celurit dari kembang turi. Anak kecil Tolak memahaminya kembang turi itulah celurit.

Awalnya ketika ia diajak ibunya makan pecel Ponorogo. Tolak tacengak atau tercengang melihat kembang turi sebagai salah satu sayurnya. (Halaman 25)

“Itu celurit ya, Mak?”

“Kembang Turi.”

“Celurit.”

“Kembang Turi, Cong.”

“Celurit, Mak.”

“Ya sudah, celurit. Sana untuk main. Jangan Dimakan.”

Karakter khas orang Madura yang ada pada diri Tolak terus bersemayam hingga dia sudah beranjak dewasa. Tolak dewasa diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menjadi seorang anggota Dewan dan bercita-cita menjadi Presiden. 

Sujiwo Tejo bercerita, saat itu diadakanlah rapat besar menjelang kedatangan Presiden Gus Dur. Semua politisi membicarakan cara paling ampuh menasihati Gus Dur sebab Gus Dur dikenal sebagai manusia keras kepala.

“Gimana caranya?”

“Gampang, kasih saya waktu tiga bulan?”

“Caranya?”

“Gampang. Sor mejo keh uuuulane jo gelo wis caaarane. Masa sih Gus Dur nggak mau mendengar nasihat seorang Presiden?”

Identitas buku
Judul: Diplomasi untuk Palestina: Catatan Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa
Penulis: H Sujiwo Tejo
Penerbit: Imania
Cetakan: I, Januari 2018
Tebal: 200 halaman
ISBN: 978-602-8648-25-7
Peresensi: Fathoni Ahmad
Bagikan:
Jumat 18 Mei 2018 9:0 WIB
Diplomasi untuk Palestina: Fakta Tersembunyi
Diplomasi untuk Palestina: Fakta Tersembunyi
Sejarah mencatat, Palestina merupakan negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia saat pertama kali diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 saat umat Islam di seluruh dunia sedang menjalankan puasa Ramadhan. Upaya bangsa Indonesia untuk mendapatkan dukungan negara-negara di dunia bukan tanpa upaya, karena para pendiri bangsa, terutama para kiai dari kalangan pesantren mengenal dan berhubungan baik negara-negara di Timur Tengah sebagai sesama negara mayoritas Muslim kala itu.

Memahami akar sejarah tersebut, bangsa Indonesia juga terus berusaha keras untuk membantu kemerdekaan rakyat Palestina yang hingga kini masih jauh panggang dari api. Diplomasi tiada henti dilakukan oleh pemerintah RI untuk menghentikan kebrutalan Israel yang di-backup penuh oleh Amerika Serikat dalam menduduki wilayah Palestina sebab setiap hari menimbulkan banyak korban.

Eskalasi konflik bersenjata tersebut semakin meningkat ketika Amerika Serikat yang kini sedang dipimpin oleh Donald Trump memindahkan kantor Kedutaan Besarnya ke Yerussalem. Itu artinya, Israel secara tidak langsung telah menguasai Al-Quds. Padahal, kota suci tersebut merupakan kediaman dari tiga bangsa, Islam, Nasrani, dan Yahudi itu sendiri. Artinya, Israel seharusnya tak saling mengkoloni, melainkan harus hidup berdampingan sebagai sebuah bangsa.

Tercatat, pemindahan kedutaan besar AS ke Yerussalem memunculkan protes dari rakyat Palestina di perbatasan jalur Gaza dan wilayah lain. Namun, protes tersebut ditanggapi dengan peluru Israel sehingga sekitar 58 rakyat sipil gugur. Bangsa Palestina, bukan hanya yang beragama Islam, tetapi juga yang beragama Nasrani dan Yahudi, kini sebagian besar wilayahnya diduduki oleh Israel. Dari konflik yang membara sejak 1930, sudah tidak terhitung lagi jumlah korban yang bergelimpangan sia-sia.

Medan konflik Palestina-Israel meluas ke sejumlah negara termasuk Indonesia. Namun, konflik yang muncul justru dianggap sebagai konflik agama sehingga memunculkan sentimen kaum beragama di dalam negeri. Bahkan kini dijadikan komoditi politik untuk menarik simpati sejumlah golongan dalam rangka meraih kekuasaan. Persoalan penyelewengan akar konflik Palestina inilah yang menjadi salah satu poin utama dalam buku Makarim Wibisono yang diberi judul Diplomasi untuk Palestina: Catatan Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Makarim merupakan salah seorang diplomat senior yang ditunjuk menjadi pelapor khusus untuk PBB dalam upaya mendapatkan informasi valid mengenai konflik Palestina-Israel. Informasi-informasi dari pelapor khusus tersebut dijadikan pertimbangan-pertimbangan dalam memutuskan kebijakan dua negara serumpun itu. Namun, informasi dan data lengkap yang fakta-fakta di lapangan yang didapatkan oleh Makarim Wibisono seolah hanya menjadi pelengkap report. Sebab hingga kini, PBB tidak berkutik menyelesaikan konflik yang telah merenggut banyak nyawa tersebut.

Setiap upaya pendudukan (baca: penjajahan) selalu memunculkan tragedi dan banyak korban dari kalangan sipil. Upaya pendudukan inilah yang dilakukan oleh pihak Israel sehingga mendapat perlawanan dari rakyat Palestina. Sehingga bukan hanya keliru, tetapi juga sangat salah jika seseorang atau kelompok mempunyai pretensi bahwa konflik Palestina-Israel adalah konflik Islam dan Yahudi. Mengapa sangat salah? Sebab bangsa dan negara Palestina tidak hanya terdiri dari umat Islam, tetapi juga umat Nasrani dan Yahudi. Bahkan, beberapa kali terjadi eskalasi konflik, tidak sedikit umat Yahudi di seluruh dunia mengecam kebrutalan Israel.

Artinya, umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia harus cerdas memahami akar konflik kedua negara tersebut, yakni politik pendudukan, bukan agama. Langkah ini dalam rangka mengurangi medan konflik dalam negeri untuk mencegah sentimen-sentimen umat beragama. Memahami akar konflik ini juga penting untuk tujuan menyamakan persepsi dan memperkuat visi bersama untuk membantu kemerdekaan rakyat Palestina secara de facto dan de jure.

Penjelasan di atas hanya salah satu poin untuk mengurai informasi dan data yang banyak diungkap Makarim Wibisono dalam bukunya itu. Buku ini bukan hanya penting sebagai catatan lengkap yang berisi fakta, informasi, dan data, tetapi juga sebagai input sekaligus instrumen diplomasi untuk rakyat Palestina yang hingga kini masih berjuang keras meraih kemerdekaannya. (Fathoni Ahmad)

Identitas buku
Judul: Diplomasi untuk Palestina: Catatan Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa
Penulis: Makarim Wibisono
Penerbit: LP3ES
Cetakan: Pertama, Mei 2017
Tebal: xxiv + 221
ISBN: 602798428-7
Kamis 10 Mei 2018 3:0 WIB
Beda Identitas Bukan untuk Intoleransi
Beda Identitas Bukan untuk Intoleransi
Bapak Taipei mama Indramyu 
Dia sendiri mirip gadis Turki 
Mengaku lahir di Los Angeles

Potongan syair di atas merupakan lirik lagu berjudul Mucikari karya Doel Sumbang. Syair itu merupakan tren zaman globalisasi yang meniscayakan orang bertemu, berkomunikasi dengan orang tanpa batas negara semudah membalikkan tangan. Beragam media siap memfasilitasinya. Kata orang, dunia makin sempit, sehingga pernikahan antarbangsa dan antarnegara mudah terjadi. Hasil pernikahan tersebut menyebabkan anaknya memiliki identitas yang terpecah, terfragmentaris. Hasil pernikahan orang Indramyu dan Taipei melahirkan anaknya di Los Angeles itu melahirkan gadis berparas Turki. 

Anak itu akan merujuk suku bangsa mana? Ibunyakah (Sunda)? Ayahnyakah (Tionghoa). Atau tak memiliki identitas? Karena itulah sebagian kalangan ada yang menyatakan identitas adalah sesuatu yang terus berubah dan terus berubah. Bahkan jenis kelamin. Tak sedikit orang yang berubah dari pria menjadi wanita. Bahkan sebaliknya. Ini merupakan konsekuensi dari teknologi yang terus berkembang. 

Terlepas dari itu semua, fakta yang tak bisa dibantah adalah identitas itu demikian banyaknya. Mungkin sebanyak manusia itu sendiri. Cuma di antara mereka ada yang beririsan dengan identitas orang lain, semisal sama satu bangsa, satu bahasa, satu negara, satu agama, dan yang lainnya. 

Tentang ragam identitas tersebut, Allah berfirman dalam Al-Qur’an. 

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Qs. al-Hujurat: 13).

Namun, fakta yang tak bisa dibantah juga, karena perbedaan identitas itu ada pihak yang tergoda, dalam kadar ekstrem memusnahkan identitas yang lain dengan genoside misalnya. Dalam bentuk terkecil adalah pengucilan. 

Di Indonesia, negara dengan 17000 pulau, 300 lebih suku bangsa dan 210 juta penduduk, penyingkiran dan pengucilan atas satu identitas terhadap identitas lain sangat berpotensi terjadi. Bukan potensi lagi, tapi kerap terjadi. Terutama kalangan minoritas. Tak sedikit warga yang mengalami intoleransi oleh sesama warga atau bahkan pemerintah. 

Pengalaman mendapatkan intoleransi terdokumentasi pada Antologi Kisah Orang Muda Untuk Perdamaian. Buku ini merupakan kisah nyata dari 12 anak muda di tiga daerah yaitu Cirebon, Tasikmalaya, dan Sukabumi. Ke-12 anak muda itu tentu saja memiliki latar belakang berbeda, ada yang Syi’ah, Ahmadiyah, Ahlussunah. Ada juga yang berpindah identitas dari agama Islam ke Katolik. 

Mereka yang minoritas mengalami intoleransi sejak kecil yang menyisakan trauma di masa dewasanya. Seperti yang dialami Sida (hal 114-123). Di buku ini, tentang Sida diberi judul Ingatan-Ingatan Sida. Kisahnya dimulai dengan ingatan masa kecilnya. Tiada lain adalah ingatan tentang kecemasan. Pada 2007 misalnya, ia melihat sekelompok orang menyerang masjidnya. Peristiwa itu kemudian menjadi jalan pembuka bagi teman-temannya di SD untuk bertanya. Namun, pertanyaan-pertanyaan itu pun membuat Sida tertekan. Hingga kemudian, ia menyadari identitasnya tidak diterima teman-temannya. 

Anak muda yang seidentitas dengan dia, Aulia, di Kuningan, juga mengalami hal serupa pada kisah Kampung Tanpa KTP (hal 48-57). Ia lebih berat lagi kadarnya. Tak diterima identitasnya oleh pemerintah. Orang sekampungnya, yang identitasnya sama, tidak mendapatkan hak atas KTP elektronik. Karena benda itu adalah dasar pegangan tiap warga, akibatnya orang sekampung itu tak bisa mendapatkan akses lain semisal rekening bank, BPJS, dan lain-lain.

Di sisi lain, buku ini juga menampilkan anak muda dari kalangan mayoritas melakukan inisiatif-inisiatif pengikisan intoleransi, dan menampilkan bahwa agamanya tidak mengajarkan sikap seperti itu, misalnya Ahmad Hadid di Cirebon. Ia ingin mengubah citra Islam agama teroris. Islam agama perdamaian. 

Islam menurut saya tidak melakukan kekerasan. Islam itu rahmatan lil alamin. Ya, saya tidak mau agama saya dicap begitu. Saya ingin membuktikan agama agama ‘Islam itu teroris’ salah!

Hadid yang masih berstatus mahasiswa jurusan matematika di Cirebon itu kebetulan senang dengan pemrograman. Ia mengupayakan aplikasi android game toleransi. Anak muda lain, Neneng, menyampaikan toleransi melalui seni. Gugun melalui profesinya sebagai guru dan lain-lain. 

Buku ini cocok untuk dibaca anak muda lain sebagai bahan refleksi dan perbandingan. Sebagai cermin, untuk lebih peka dengan tidak turut melakukan intoleransi, tapi justru toleran. Buku ini ditulis dengan kalimat-kalimat sederhana dan mudah dipahami. Disusun secara berkisah. Tak hanya itu, buku ini juga dikemas dengan gaya anak muda sekali, ada warna-warna ngejreng. Huruf-hurufnya nyaman di mata. Diawali quote dengan huruf-huruf besar. Serta gambar-gambar ilustrasi dengan kartun.    

Data buku 
Judul Buku : Antologi Kisah Orang Muda untuk Perdamaian
Penulis       : Fatimah Zahrah & M. Ahsan Ridhoi
Penerbit     : Wahid Foundation
Cetakan     : Pertama, 2017
ISBN           : 978-602-7891-06-7
Peresensi :  Abdullah Alawi


Ahad 6 Mei 2018 12:30 WIB
Tiryaq al-Mujarrab, Istighotsah Karya Ulama Cirebon
Tiryaq al-Mujarrab, Istighotsah Karya Ulama Cirebon
kitab Tiryaq al Mujarrab
Nadham Istighotsah Tiryaq al-Mujarrab dikarang oleh Syekh Mahmud Muhtar Assirbani, seorang alim asal Cirebon, Jawa Barat. Menurut salah satu cerita, kiai yang terkenal mengarang banyak kitab itu mengarangnya usai menulis kitab biografi Syekh Abdul Qadir Al-Jilani, berdasar ilham dari Allah. 

Meski muda ia sudah dipanggil "Syekh". Konon yang memberikan panggilan itu ialah KH Masduki (Lasem). Panggilan "Syekh" yang diberikan Kiai Masduki tidak asal-asalan. Karena meski terbilang masih muda ia tergolong orang yang pintar dan mempunyai banyak karamah. 

Karamah lain yang dirasakan oleh santri ialah menjelang Syekh wafat, para santri senior dipanggil Syekh untuk bersama-sama mengaji kitab Jamius Shaghir. Anehnya Syekh dan para santri sama-sama menghadap kiblat, ini sebagai firasat bahwa tak lama kemudian Syekh benar-benar dipanggil Allah SWT.  

Kiai Ali Subhan, salah satu muridnya, menuturkan bahwa Tiryaq adalah satu bentuk Istighotsah, bentuk tawasul kawula (hamba) kepada Gusti (Allah). 

Kiai muda yang mulai mengaji kepada Syekh sejak 1991 lalu menjelaskan, tawasul yang dimaksud di dalam kitab itu tawasul ditujukan mulai kepada Nabi, malaikat, sahabat, wali kutub, wali abdal hingga wali autad. 

Siapa pun yang punya hajat, kata kiai yang mukim di Desa Sinanggul Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara, itu bisa mengamalkannya, karena kitab ini diijazahkan untuk kalangan umum. “Bagi yang punya hajat silakan dalam satu majelis membaca Tiryaq 7 hingga 21 kali,” kata Kiai Ali di rumahnya, Jumat (4/5). 

Yang patut diingat, jika ingin merutinkan amalan ini maka pembaca harus yakin dan husnudhon kepada Allah SWT bahwa ia akan senantiasa bersih hatinya juga mendapat rahmat serta berkah dari Allah. Diungkapkan Kiai Ali, di antara fadlilah mengamalkan istighotsah itu akan disenangi dan semakin berwibawa (punya kharisma) di hadapan orang lain. Fadlilah lain di hati akan memancar ilmu ma'rifat serta ilmu hikmah. 

Ditambahkan kiai kelahiran di Jepara, 13 November 1969 itu, Allah akan mengutus rijalul ghaib yang akan selalu menjaga baik saat tidur maupun saat beraktivitas. 

Dengan wasilah (lantaran) nabi dan aulia, pengamal Istighotsah juga akan dibukakan pintu ekonomi dan rezeki. “Insyaallah menjadi kaya tanpa menggantungkan orang lain,” terangnya.

Adapun fadlilah yang lain diberikan pertolongan Allah untuk menaklukkan musuh baik yang berupa jin maupun manusia, dijauhkan dari balak serta bencana juga dikabulkan tujuan dan hajatnya sekaligus akan diampuni dosa dan Insyaallah husnul khatimah.

Semasa masih hidup, Syekh Mahmud, pengasuh pesantren Darul Ulum Asyariah Cirebon, terbilang sering mampir ke Jepara. Di antara ulama Jepara yang pernah ditemuinya ialah KH Muchlisul Hadi, KH Ahmad Kholil, KH Baidlowi, KH Sahil dan sejumlah kiai yang lain. 

Kehadirannya ke Jepara bukan sekadar mampir tetapi pernah pula mengaji kitab Shahih Bukhari di salah satu kiai yang dikunjunginya tersebut. 

Kiai Ali Subhan yang juga guru MA An-Nawawiyah merupakan salah satu yang meneruskan jejak Syekh di Jepara. Waktu masih di pondok ia merutinkan istighotasah itu setiap hari selepas shalat Ashar. 

Sepulang dari pondok ia berinisiatif mengamalkannya secara rutin di kampungnya. Mulai tahun 1999 sampai sekarang di kampungnya Desa Sinanggul Kecamatan Mlonggo kabupaten Jepara dirutinkan membaca Tiryaq setiap malam Senin dan malam Rabu, itu dilakukan di mushalla kampung serta di pesantren yang dikelolanya.  

Selain di Sinanggul, di Desa Margoyoso, Kecamatan Kalinyamatan Kabupaten Jepara juga ada perkumpulan yang sama. Di desa itu kegiatan dilaksanakan setiap malam Jumat. (Syaiful Mustaqim)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG