IMG-LOGO
Trending Now:
Pustaka

Nasionalisme Kaum Sarungan

Selasa 22 Mei 2018 17:35 WIB
Bagikan:
Nasionalisme Kaum Sarungan
Buku ini tak ada kaitan langsung dengan peristiwa teror bom Surabaya. Namun kehadirannya menjadi aktual untuk menjelaskan problem-problem kesesatan pikir yang melatarbelakangi aksi teror menyedihkan itu. Ditulis dalam tiga bagian, buku Nasionalisme Kaum Sarungan karya A. Helmy Faishal Zaini sangat direkomendasikan sebagai pegangan bagi para aktivis Kerohanian Islam. 

Sebagian besar kelompok-kelompok ekstrem (termasuk pelaku teror bom Surabaya) hampir bisa dipastikan mempelajari agama dari sumber yang sangat terbatas. Dalam lieratur pendidikan, cara belajar mereka disebut tekstualis. Memahami segala sesuatu hanya dari sumber teks-teks klasik otoritatif tanpa diimbangi dengan upaya-upaya ijtihadiyah berbasis manhajul fikr yang kritis dan kontekstual.

Inilah yang membuat pemahaman agama mereka cenderung dangkal. Ekspresi keberagamaannya kaku. Menganggap apapun masalah aktual yang tidak ada dalam teks suci sebagai melenceng dan bid’ah. Menghukumi para pelakunya sebagai kafir. Dan seterusnya. Sebuah konstruksi beragama yang normatif, yang dangkal ke dalam, sehingga kaku ke luar. Produk-produk hukum agama dipahami ‘all given’ sebagaimana tertuang dalam teks-teks resmi agama saja.
 
Di sinilah penulis menjelaskan bahwa prinsip pengambilan hukum agama bukan hanya bersumber dari teks. Sebab tidak semua problematika manusia dijelaskan problem solving-nya oleh agama secara eksplisit. Ada hal-hal yang hanya disinggung secara implisit. Bahkan makin banyak masalah-masalah kontemporer yang membutuhkan istinbat hukum sebagai mekanisme ijtihad hukum ‘pasca’ teks.

“Idza wujida nash fatsamma maslahah. Idza wujidal maslahah fasyar’ullah." Demikian penulis mengutip sebuah kaidah fiqih. Yang artinya, “Jika ditemukan teks (sumber hukum) maka di sana ada kebaikan. Jika ditemukan kebaikan (meskipun tak ada sumber hukum) maka di sana adalah hukum Allah.

Sesuatu yang baik dan tidak menyimpang dari agama, tidak perlu diributkan dasar hukumnya. Apapaun amalan atau perbuatan, kalau menurut muslim baik, membawa maslahah, maka insya Allah menurut Allah juga baik.

Buku 236 halaman ini mengingatkan, penyakit akibat memahami agama secara tekstual, terbatas, dan dangkal, suatu kelompok cenderung merasa menjadi yang paling benar. Dengan memonopoli kebenaran itu, mereka lalu menyesatkan yang lain. Dari sinilah benih radikalisme berkembang.
 
Pesan penulis, agama jangan jadi sumber kekerasan. Agama jangan jadi sumber permusuhan. Agama harus selalu memberi ruang untuk membicarakan perbedaan-perbedaan. Berupaya mengikatkan persamaan-persamaan. Membangun sikap respek dan toleran terhadap hal-hal yang berseberangan. Sebab agamaku, agamamu, agama kita adalah agama kasih sayang. 

Identitas buku:
Judul: Nasionalisme Kaum Sarungan
Penulis: A. Helmy Faishal Zaini
Tebal: 236 Halaman
Penerbit: Penerbit Buku Kompas 
Tahun Terbit: 2018
Peresensi: Didik Suyuthi
Bagikan:
Selasa 22 Mei 2018 11:30 WIB
Risalah Ash-Shiyam, Kitab Pegon Pedoman Puasa Karya Ulama Kendal
Risalah Ash-Shiyam, Kitab Pegon Pedoman Puasa Karya Ulama Kendal
Puasa di Bulan Ramadhan merupakan salah satu ibadah wajib yang harus dijalankan oleh seorang muslim. Dalam menjalankan ibadah puasa, ada ketentuan-ketentuan khusus yang membedakan antara pelaksanaan ibadah puasa dengan ibadah-ibadah yang lain, dan juga antara ibadah puasa yang dijalankan umat Islam dengan ibadah-ibadah puasa yang dijalankan oleh umat beragama lain.

Bagi orang awam, ilmu tentang ketentuan-ketentuan berpuasa yang bisa menjaga sah-nya sebuah puasa, maupun menjaga keutamaan sebuah puasa sangat lah penting. Sehingga, Simbah Kiai Haji Ahmad Abdul Hamid pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah Kendal, yang juga merupakan Imam Masjid Besar Kendal ini, tergerak hatinya untuk menyusun sebuah kitab tentang panduan berpuasa. 

Atas dasar rasa empatinya terhadap keberagamaan orang-orang muslim awam di Nusantara khususnya dalam hal puasa tersebut, Mbah Kiai Hamid Kendal menyusun sebuah kitab bertuliskan Arab Pegon yang membahas tentang persoalan puasa, yaitu Risalah Ash-Shiyam. Kitab ini merupakan panduan praktis berpuasa bagi umat Islam Nusantara.

Tujuan beliau menulis kitab tersebut adalah supaya umat Islam Nusantara semakin giat untuk berpuasa, beribadah dan menjalankan kebaikan di bulan Ramadhan, sebagaimana yang tersurat dalam mukadimah kitab:

رِسَالَةُ الصِّيَامْ ڤُوْنِيْكَا مِيْنَوڠْكَا كَڠْڮَيْ تُونْتُونَانْ دَاتٓڠْ ڤَارَا سٓدَيْرَيكْ مُسْلِمِيْنْ تُوِينْ مُسْلِمَاتْ إِڠْكَڠْ سَامِي بٓتَاهَاكٓنْ، سُوْڤَادَوْسْ نَمْبَاهْ ڮِيْيَاتْ (سٓرٓڮٓڤْ) اَڠْڮَينْ إِيْڤُونْ تُوْمِينْدَاءْ عِبَادَةْ وَونْتٓنْ وُوْلَنْ إِڠْكَڠْ مُولْيَا (رَمَضَانْ)

Artinya: Kitab Risalatus Shiyam ini merupakan kitab pedoman bagi saudara-saudara muslimin muslimat yang membutuhkan, supaya menambah giat dalam beribadah di bulan yang mulia (Ramadhan).

Di dalam khazanah keilmuan Islam Nusantara, dikenal beberapa kitab panduan beribadah praktis yang ditulis oleh ulama-ulama Nusantara, seperti: kitab pegon panduan shalat yang ditulis oleh Simbah Kiai Haji Asnawi Kudus berjudul Fasholatan, kitab pegon panduan shalat dan haji yang ditulis oleh Simbah Kiai Haji Bisri Mustofa Rembang berjudul Qawa’id Bahiyyah Tuntunan Shalat, Manasik Haji, dan lain sebagainya.

Dan Risalah Ash-Shiyam merupakan kitab praktis panduan ibadah puasa bagi umat Islam Indonesia, yang mudah dipahami oleh orang-orang awam. Menurut Simbah Kiai Bisyri Mustofa Rembang, penulis Tafsir Pegon Al-Ibriz, kitab Risalah Ash-Shiyam ini sangat cocok dijadikan pedoman berpuasa untuk kaum muslimin muslimat Nusantara, karena pembahasan-pembahasannya dilandaskan kepada kitab-kitab Ahlussunnah wal Jama’ah yang mu’tabarah, bahasanya gamblang dan mudah dipahami, serta disusun secara sistematis.

Kitab Risalah Ash-Shiyam ini berisi tentang beberapa pembahasan, antara lain: tentang dalil wajib puasa Ramadhan, kemuliaan bulan Ramadhan, kemuliaan orang yang berpuasa di bulan Ramadhan, tatacara mengetahui awal Ramadhan, syarat-syarat sah berpuasa, syarat-syarat wajib berpuasa, rukun-rukun berpuasa, hal-hal yang membatalkan puasa, hal-hal yang mewajibkan qadha’ puasa dan membayar kaffarah, hal-hal yang membatalkan puasa yang mewajibkan qadha’ namun masih tetap harus melanjutkan berpuasa, jenis-jenis alasan yang membolehkan untuk membatalkan puasa, hal-hal sunnah dalam berpuasa, derajat orang berpuasa, hikmah berpuasa, tatacara shalat tarawih, keutamaan membaca al-Qur’an di bulan Ramadhan, penjelasan tentang Nuzulul Qur’an, penjelasan tentang Lailatul Qadar, kewajiban berzakat, zakat fitrah., shalat Id dan persoalan-persoalan penting lainnya. 

Dari sisi bentuknya memang kitab Risalah Ash-Shiyam terbilang kecil. Namun dari sisi kontennya, kitab ini sangat berbobot karena pembahasannya detil dan mendalam.Pada setiap pembahasan, Simbah Kiai Hamid Kendal selalu menyertakan landasan dari ayat-ayat al-Qur’an maupun hadits-hadits Nabawi.

Selain itu, kitab ini juga dilengkapi dengan doa-doa dan dzikir praktis yang dibutuhkan oleh orang-orang awam dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan, seperti bacaan niat berpuasa, doa ketika berbuka, dzikir dan doa setelah menjalankan shalat tarawih dan lain-lain.

Kitab Risalah Ash-Shiyam ini menunjukkan, betapa Simbah Kiai Hamid Kendal, yang konon mencetuskan kalimat penutup yang populer di kalangan Nahdliyin wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq itu, sangat peduli kepada umat.

Beliau benar-benar kiai yang al-ladzina yandhuruna ilal ummah bi ‘ainir rahmah, memandang umat dengan pandangan kasih sayang. Simbah Kiai Ahmad Abdul Hamid dilahirkan di Kendal pada tahun 1915 M, dan wafat pada 14 Februari 1998 M bertepatan dengan 16 Syawal 1418 H. (lahul fatihah)

Kitab Risalah Ash-Shiyam ini selesai ditulis di Kendal pada 5 Oktober 1956 M yang bertepatan dengan 1 Rabi’ul Awal 1376 H. Diterbitkan oleh percetakan Thoha Putra Semarang dengan ketebalan 76 halaman. Wallahu a’lam bisshawab

Sahal Japara, pemerhati aksara Arab Pegon, khadim di Yanbu’ul Qur’an 1 Pati
Senin 21 Mei 2018 16:30 WIB
Gus Dur dan Kelakar Madura
Gus Dur dan Kelakar Madura
Masyarakat sudah mafhum bahwa yang melekat pada diri KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ialah joke-joke cerdasnya. Bukan hanya menggelitik, tetapi juga satir dan penuh kritik. Perkumpulan masyarakat yang sering menjadi objek humor oleh Gus Dur adalah orang-orang Madura. Karakter khas orang Madura bagi Gus Dur mengajarkan, realitas sosial masyarakat harus dimengerti bahkan dipahami untuk menyelesaikan problem sosial itu sendiri.

Gus Dur bagi orang-orang Madura adalah sosok yang tidak tergantikan dalam hal memahami, mengayomi, memberikan pengertian mendalam bagi karakter dan kultur masyarakat Madura ke dunia luar. Sebab itu, ketika Gus Dur hendak dilengserkan dari kursi Presiden RI, masyarakat yang menyatakan berani mati ialah orang-orang Madura. Bahkan, mereka ‘mengultimatum’ ingin memisahkan diri dari Indonesia.

Mengetahui hal itu, Gus Dur sendiri yang langsung memberikan pemahaman kepada orang-orang Madura agar tetap tenang menyikapi situasi tersebut. Setelah mereka berhasil menenangkan diri, Gus Dur masuk pada persoalan pembentukan negara baru. Gus Dur memberikan uraian kepada orang-orang Madura bahwa ongkos pembentukan negara baru sangat mahal. Apalagi orang-orang Madura bakal bersusah payah harus membuat paspor untuk bepergian.

Penjelasan sederhana dari Gus Dur tersebut langsung bisa diterima oleh orang-orang Madura sehingga mereka mengurungkan niat kuatnya ingin memisahkan diri dari Indonesia. Inayah Wahid (putri Gus Dur) menjelaskan bahwa ke-ngeyelan-an dan kepolosan orang-orang Madura dan jawaban-jawaban nyeleneh mereka adalah karakter kuat masyarakat Madura dan muncul dari bentuk ketulusan dan kejujuran masyarakat Madura.

Hal itu dijelaskan oleh Inayah Wahid dalam kata sambutannya di buku anggitan Sujiwo Tejo berjudul Kelakar Madura buat Gus Dur. Buku ini berisi cerita-cerita pendek (tetapi bukan cerpen) yang mengisahkan kehidupan sosial masyarakat Madura yang dilekatkan dengan sosok Gus Dur. Ini menunjukkan, buku ini berupaya menggambarkan bahwa kelakar, Gus Dur, dan orang Madura merupakan satu kesatuan unsur membentuk kehidupan yang renyah dengan tawa.

Bahkan, salah satu ke-ngeyel-an orang Madura sudah terbentuk dari sejak dini atau anak-anak. Hal ini diceritakan sendiri oleh Sujiwo Tejo. Pria asal Jember berdarah Madura itu menceritakan ada seorang anak kecil bernama Tolak yang memainkan celurit dari kembang turi. Anak kecil Tolak memahaminya kembang turi itulah celurit.

Awalnya ketika ia diajak ibunya makan pecel Ponorogo. Tolak tacengak atau tercengang melihat kembang turi sebagai salah satu sayurnya. (Halaman 25)

“Itu celurit ya, Mak?”

“Kembang Turi.”

“Celurit.”

“Kembang Turi, Cong.”

“Celurit, Mak.”

“Ya sudah, celurit. Sana untuk main. Jangan Dimakan.”

Karakter khas orang Madura yang ada pada diri Tolak terus bersemayam hingga dia sudah beranjak dewasa. Tolak dewasa diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menjadi seorang anggota Dewan dan bercita-cita menjadi Presiden. 

Sujiwo Tejo bercerita, saat itu diadakanlah rapat besar menjelang kedatangan Presiden Gus Dur. Semua politisi membicarakan cara paling ampuh menasihati Gus Dur sebab Gus Dur dikenal sebagai manusia keras kepala.

“Gimana caranya?”

“Gampang, kasih saya waktu tiga bulan?”

“Caranya?”

“Gampang. Sor mejo keh uuuulane jo gelo wis caaarane. Masa sih Gus Dur nggak mau mendengar nasihat seorang Presiden?”

Identitas buku
Judul: Diplomasi untuk Palestina: Catatan Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa
Penulis: H Sujiwo Tejo
Penerbit: Imania
Cetakan: I, Januari 2018
Tebal: 200 halaman
ISBN: 978-602-8648-25-7
Peresensi: Fathoni Ahmad
Jumat 18 Mei 2018 9:0 WIB
Diplomasi untuk Palestina: Fakta Tersembunyi
Diplomasi untuk Palestina: Fakta Tersembunyi
Sejarah mencatat, Palestina merupakan negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia saat pertama kali diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 saat umat Islam di seluruh dunia sedang menjalankan puasa Ramadhan. Upaya bangsa Indonesia untuk mendapatkan dukungan negara-negara di dunia bukan tanpa upaya, karena para pendiri bangsa, terutama para kiai dari kalangan pesantren mengenal dan berhubungan baik negara-negara di Timur Tengah sebagai sesama negara mayoritas Muslim kala itu.

Memahami akar sejarah tersebut, bangsa Indonesia juga terus berusaha keras untuk membantu kemerdekaan rakyat Palestina yang hingga kini masih jauh panggang dari api. Diplomasi tiada henti dilakukan oleh pemerintah RI untuk menghentikan kebrutalan Israel yang di-backup penuh oleh Amerika Serikat dalam menduduki wilayah Palestina sebab setiap hari menimbulkan banyak korban.

Eskalasi konflik bersenjata tersebut semakin meningkat ketika Amerika Serikat yang kini sedang dipimpin oleh Donald Trump memindahkan kantor Kedutaan Besarnya ke Yerussalem. Itu artinya, Israel secara tidak langsung telah menguasai Al-Quds. Padahal, kota suci tersebut merupakan kediaman dari tiga bangsa, Islam, Nasrani, dan Yahudi itu sendiri. Artinya, Israel seharusnya tak saling mengkoloni, melainkan harus hidup berdampingan sebagai sebuah bangsa.

Tercatat, pemindahan kedutaan besar AS ke Yerussalem memunculkan protes dari rakyat Palestina di perbatasan jalur Gaza dan wilayah lain. Namun, protes tersebut ditanggapi dengan peluru Israel sehingga sekitar 58 rakyat sipil gugur. Bangsa Palestina, bukan hanya yang beragama Islam, tetapi juga yang beragama Nasrani dan Yahudi, kini sebagian besar wilayahnya diduduki oleh Israel. Dari konflik yang membara sejak 1930, sudah tidak terhitung lagi jumlah korban yang bergelimpangan sia-sia.

Medan konflik Palestina-Israel meluas ke sejumlah negara termasuk Indonesia. Namun, konflik yang muncul justru dianggap sebagai konflik agama sehingga memunculkan sentimen kaum beragama di dalam negeri. Bahkan kini dijadikan komoditi politik untuk menarik simpati sejumlah golongan dalam rangka meraih kekuasaan. Persoalan penyelewengan akar konflik Palestina inilah yang menjadi salah satu poin utama dalam buku Makarim Wibisono yang diberi judul Diplomasi untuk Palestina: Catatan Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Makarim merupakan salah seorang diplomat senior yang ditunjuk menjadi pelapor khusus untuk PBB dalam upaya mendapatkan informasi valid mengenai konflik Palestina-Israel. Informasi-informasi dari pelapor khusus tersebut dijadikan pertimbangan-pertimbangan dalam memutuskan kebijakan dua negara serumpun itu. Namun, informasi dan data lengkap yang fakta-fakta di lapangan yang didapatkan oleh Makarim Wibisono seolah hanya menjadi pelengkap report. Sebab hingga kini, PBB tidak berkutik menyelesaikan konflik yang telah merenggut banyak nyawa tersebut.

Setiap upaya pendudukan (baca: penjajahan) selalu memunculkan tragedi dan banyak korban dari kalangan sipil. Upaya pendudukan inilah yang dilakukan oleh pihak Israel sehingga mendapat perlawanan dari rakyat Palestina. Sehingga bukan hanya keliru, tetapi juga sangat salah jika seseorang atau kelompok mempunyai pretensi bahwa konflik Palestina-Israel adalah konflik Islam dan Yahudi. Mengapa sangat salah? Sebab bangsa dan negara Palestina tidak hanya terdiri dari umat Islam, tetapi juga umat Nasrani dan Yahudi. Bahkan, beberapa kali terjadi eskalasi konflik, tidak sedikit umat Yahudi di seluruh dunia mengecam kebrutalan Israel.

Artinya, umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia harus cerdas memahami akar konflik kedua negara tersebut, yakni politik pendudukan, bukan agama. Langkah ini dalam rangka mengurangi medan konflik dalam negeri untuk mencegah sentimen-sentimen umat beragama. Memahami akar konflik ini juga penting untuk tujuan menyamakan persepsi dan memperkuat visi bersama untuk membantu kemerdekaan rakyat Palestina secara de facto dan de jure.

Penjelasan di atas hanya salah satu poin untuk mengurai informasi dan data yang banyak diungkap Makarim Wibisono dalam bukunya itu. Buku ini bukan hanya penting sebagai catatan lengkap yang berisi fakta, informasi, dan data, tetapi juga sebagai input sekaligus instrumen diplomasi untuk rakyat Palestina yang hingga kini masih berjuang keras meraih kemerdekaannya. (Fathoni Ahmad)

Identitas buku
Judul: Diplomasi untuk Palestina: Catatan Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa
Penulis: Makarim Wibisono
Penerbit: LP3ES
Cetakan: Pertama, Mei 2017
Tebal: xxiv + 221
ISBN: 602798428-7
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG