IMG-LOGO
Internasional

Selamatkan Kerajaan, Pangeran Saudi Serukan Kudeta Raja Salman

Kamis 24 Mei 2018 2:45 WIB
Bagikan:
Selamatkan Kerajaan, Pangeran Saudi Serukan Kudeta Raja Salman
Foto: Kayhan Ozer/REUTERS
Riyadh, NU Online
Khaled bin Farhan, seorang pangeran Kerajaan Arab Saudi yang diasingkan dan mendapat suaka di Jerman, mengajak paman-pamannya seperti Ahmed dan Muqrin bin Abdul Azis untuk mengambil alih kekuasaan dari Raja Salman bin Abdul Aziz.    

Khaled mengemukakan jika pemerintahan Saudi di bawah Raja Salman saat ini 'tidak rasional dan bodoh.' Salah satu alasannya, Raja Salman mengganti Muhammad bin Nayef dengan Muhammad bin Salman sebagai putra mahkota pada Juni 2017 lalu.

“Jika Raja Salman dalam kondisi kesehatan yang baik, hal-hal tidak akan mencapai tahap ini. Ketika kita melihat kebijakan publik di Arab Saudi, kita bisa melihat bahwa Raja Salman sepenuhnya absen dari layar atau dari panggung politik di Arab Saudi,” kata Khaled.

Khaled bin Farhan menyampaikan seruannya itu kepada Middle East Eyes pada Senin (21/5). Seruan kudeta tersebut ditujukan untuk menyelamatkan kerajaan Arab Saudi. 

Setelah diangkat menjadi putera mahkota, Muhammad bin Salman mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak biasa, bahkan dinilai kelewatan. Pada 2017 lalu, Muhammad bin Salman menangkap ratusan pangeran dan pejabat Saudi dengan dalih pemberantasan korupsi. 

Mereka yang ditangkap kemudian dibebaskan setelah membayar sejumlah tebusan uang. Meski demikian, mereka tidak benar-benar bebas karena setiap gerak-geriknya diawasi. Hal ini lah yang memicu kebencian para pangeran terhadap penguasa Saudi saat ini.

Khaled menyatakan kalau seandainya paman-pamannya itu bersedia untuk melakukan kudeta, maka akan ada banyak eleman bangsa yang siap berdiri di belakangnya. Bahkan, dia mengklaim bahwa 99 persen anggota kerajaan, tentara, dan pasukan keamanan akan mendukungnya. 

“Ada begitu banyak kemarahan di dalam keluarga kerajaan,” katanya. (Red: Muchlishon)
Bagikan:
Kamis 24 Mei 2018 2:0 WIB
Mantap! Al-Qur’an Ini Dibanderol Rp 2,8 Miliar
Mantap! Al-Qur’an Ini Dibanderol Rp 2,8 Miliar
Foto: Wakil Kohsar/AFP
Kabul, NU Online
Sebuah Al-Qur’an yang terbuat dari bahan sutra berhasil disempurnakan di Afghanistan. Dengan selesainya karya tersebut, para seniman yang terlibat berharap bisa membantu melestarikan tradisi kaligrafi yang sudah berlangsung berabad-abad di Afghanistan.

“Fokus kami untuk meyakini bahwa kaligrafi tidak mati di negara ini, menulis merupakan bagian dari budaya kami," kata master kaligrafer, Khwaja Qamaruddin Chishti, dilansir AFP.

Al-Qur’an sutra ini berisi 610 halaman dan digarap oleh 38 kaligrafer dan seniman. Setidaknya butuh waktu dua tahun untuk menyelesaikannya. Adapun sampulnya berupa kulit kambing dengan berat mencapai 8,6 kilogram (19 pon). 

Karya ini diproduksi pengrajin dan seniman Afghanistan binaan Yayasan Turquoise Mountain Inggris di Kabul. Dengan bantuan dana dari USAID, Dewan Inggris, dan Pangeran Charles, Yayasan Turquoise Mountain telah melatih ribuan seniman.  

Direktur Turquoise Mountain Nathan Stroupe mengatakan, jika ada yang tertarik membeli mahakarya itu maka mereka harus menyiapkan dana  sebesar 2,8 miliar rupiah.

“Jika seorang pangeran Saudi atau kolektor buku di London tertarik, kami mungkin akan berpikir harga antara 100.000 hingga 200.000 dollar AS,” sebutnya.

Butuh ketelitian dan kecermatan yang tinggi untuk menyempurnakan karya ini. Para kaligrafer menggunakan pena bambu untuk menyalin ayat demi ayat. Mereka membutuhkan waktu minimal dua hari untuk menyalin setiap halamannya. 

Bahkan lebih lama lagi jika terjadi kesalahan dan harus mengulanginya. Yang tidak kalah rumitnya adalah hiasan di pinggir-pinggir tulisan. Butuh waktu hingga sepekan untuk mengerjakan satu halamannya.

Tinta yang digunakan pun dari bahan alami. Hal ini dimaksudkan agar karya yang dihasilkan sesuai dengan bentuk tulisan yang populer pada era dinasti Timurid –sebuah dinasti yang eksis pada abad ke15-16 M di kota Herat. 

Untuk jenis tulisan, para kaligrafer menggunakan tulisan Naskh. Sebuah gaya kaligrafi yang berkembang pada awal perkembangan Islam. Jenis tulisan ini mempermudah kaligrafer yang menulis dan orang yang membacanya. (Red: Muchlishon)
Rabu 23 Mei 2018 23:59 WIB
Kedubes China-PBNU Kerjasama Bangun Sarana Air Bersih
Kedubes China-PBNU Kerjasama Bangun Sarana Air Bersih
Jakarta, NU Online
Kedutaan Besar Republik Rakyat China (Kedubes RRC) untuk Indonesia dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bekerjasama untuk membangun sarana air bersih. Ada lima lokasi yang akan dibangun sarana air bersih, yaitu Pesantren KHAS Kempek Cirebon, Desa Krangkeng, Desa Dadap (Indramayu), Desa Wanakerta (Karawang), dan Desa Wanasari (Subang). 

Duta Besar Republik Rakyat China (RRC) untuk Indonesia Xiao Qian mengatakan, fasilitas tersebut akan dilengkapi dengan kamar mandi, toilet, penampungan air, dan tangki septik (septic tank).

“Tahun ini kami akan membangun di Cirebon, Indramayu dan Karawang Jawa barat,” kata Qian saat buka puasa bersama dengan Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj di Pesantren Al-Tsaqafah Jakarta, Rabu (23/5).  

Qian menjelaskan, pembangunan sarana air bersih pertama kerjasama dengan PBNU ada di Tanara Banten. Saat ini, fasilitas tersebut sudah digunakan oleh masyarakat sekitar.

Dia berharap, pembangunan sarana air bersih tersebut bisa dinikmati dan dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh masyarakat yang kesulitan mendapatkan air.  

“Memang anggaran dan tempatnya masih terbatas. Namun kerjasama ini akan kami tindaklanjuti dan skalanya akan diperbesar,” terangnya. 

Senada dengan Qian, KH Said Aqil Siroj juga berharap sarana air bersih yang akan dibangun itu bisa memberikan manfaat dan berkah kepada masyarakat sekitar. 

“Ini namanya hubungan kebudayaan, bukan politik,” ucapnya.

Kerjasama bidang lain

Kiai Said menjelaskan, PBNU dan pemerintah China akan menjalin kerjasama di bidang lainnya, terutama pendidikan. Pemerintah China memberikan beasiswa kepada dosen Unusia Jakarta untuk melanjutkan studi ke negeri tirai bambu.

“Ada beasiswa untuk 13 dosen Unusia Jakarta untuk kuliah di China dari pak dubes. Programnya teknik informatika, sains, teknologi, dan lainnya,” katanya.

Untuk jangka panjang, Kepada Dubes Qian Kiai Said menawarkan beasiswa kepada Muslim China untuk studi di Indonesia apabila mereka ingin belajar Islam. 

“Jangka pendeknya pelatihan imam dan khatib Muslim China di NU. Agar ceramahnya santun, ramah, dan sejuk, tidak radikal,” tegasnya. (Muchlishon)
Rabu 23 Mei 2018 22:45 WIB
Cerita Dubes China Bergaul dengan Muslim Sejak Kecil
Cerita Dubes China Bergaul dengan Muslim Sejak Kecil
Jakarta, NU Online
Duta Besar Republik Rakyat China (RRC) untuk Indonesia Xiao Qian menceritakan kalau dirinya sejak kecil sudah bergaul dengan Muslim karena tepat di samping rumahnya berdiri salah satu masjid tertua di China. 

“Saya juga banyak teman-teman Muslim. Saya waktu kecil juga sering main ke masjid yang berada di dekat rumah saya itu. Saya juga ikuti acara Ramadhan dan Idul Fitri di sana,” kata Qian dalam sambutannya pada acara Santunan Anak Yatim dan Buka Puasa Bersama di Pesantren Al-Tsaqafah di Jakarta, Rabu (23/5).

“Saya merasa bergembira datang ke sini untuk santunan anak yatim dan buka bersama Kiai Said,” tambahnya.

Qian menjelaskan kalau saat ini ada sekitar 23 juta Muslim dan 35 ribu masjid di seluruh wilayah China. Seperti Muslim di Indonesia, mereka diberi kebebasan untuk menjalankan ajaran agamanya dengan baik seperti shalat, haji, dan lainnya.

“Pemerintah RRT juga memberikan fasilitas kepada mereka (Muslim China) untuk menjalankan agamanya,” jelasnya.

Qian menurutkan kalau Islam masuk ke China lebih dari seribu tahun yang lalu, jauh sebelum masuk ke Nusantara. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Islam masuk ke China pada era sahabat, bahkan pada zaman Nabi Muhammad masih hidup.

China dan Indonesia

Qian mengatakan bahwa hubungan China dan Indonesia sudah terjalin lama. Bahkan jauh sebelum Indonesia lahir. Pada abad ke-15 misalnya, Laksamana Cheng Ho dari Dinasti Ming datang ke Nusantara. Salah satu misinya adalah mendakwahkan Islam kepada masyarakat Nusantara. Maka tidak mengherankan jika Cheng Ho banyak membangun masjid di kota-kota yang disinggahinya saat berada di Nusantara.

Pada era sekarang, imbuh Qian, hubungan China dan Indonesia juga erat mengingat Presiden China Xi Jinping dan Presiden Indonesia Joko Widodo saling mengunjungi. 

“Presiden Joko Widodo telah lima kali ke Tiongkok dan sudah enam kali melakukan rapat dengan pemimpin Tiongkok. Kita akan terus menerus melakukan kerjasama,” jelasnya.

Qian menyebutkan, China juga menjalin hubungan baik dengan Nahdlatul Ulama (NU), ormas Islam terbesar di dunia. Pemerintah China dan NU sudah beberapa kali menjalin kerjasama dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, budaya, sosial, dan lainnya.

“Minggu lalu Kiai Said juga mengujungi Tiongkok untuk mengenal perkembangan umat Islam di sana. Kunjungan tersebut sangat sukses dan saya sangat bersyukur. Semoga itu bisa mempererat hubungan keduanya,” katanya. (Muchlishon)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG