IMG-LOGO
Humor

Santri dan Preman Naik Bus AC

Jumat 25 Mei 2018 9:48 WIB
Bagikan:
Santri dan Preman Naik Bus AC
Ilustrasi humor. (ist)
Bayu Sukoco, santri asal Purworejo yang mondok di sebuah pesantren di Tuban, Jawa Timur hendak pulang ke kampungnya karena libur bulan Ramadhan telah tiba.

Di dalam bus AC yang ia tumpangi, Koco sapaan akrabnya, duduk persis di belakang seorang laki-laki kekar dan berambut gondrong.

Laki-laki yang dikenal sebagai preman kampung tersebut pertama kalinya naik bus AC. Udara yang keluar dari lubang AC berhembus kencang menimpa pundaknya.

Saking kencangnya angin AC, pundak si preman kampung bagaikan tertepuk. Dia refleks mengira pundaknya ada menepuk.

“Hei, siapa yang menepuk pundak gue?!” si preman sedikit berteriak.

Koco yang berada di belakang berkata, “Itu AC mas.”

“Jangankan ASE, si Asyong aja gue ladenin,” ujar si gondrong mengira AC (ASE) nama orang. (Fathoni)
Tags:
Bagikan:
Sabtu 12 Mei 2018 9:35 WIB
Sopir Angkot dan Pemuka Agama di Depan Pintu Surga
Sopir Angkot dan Pemuka Agama di Depan Pintu Surga
Alkisah dalam kebangkitan hidup di akhirat, tiga pemuka agama terlihat berdebat tentang siapa yang berhak masuk pintu surga terlebih dahulu. Malaikat tidak mau memutuskan siapa yang boleh masuk terlebih dahulu sebelum debat mereka clear.

Namun, tiba-tiba saja ada seorang pemuda compang-camping, tidak terlalu gagah mendekati pintu surga meminta masuk kepada Malaikat. Malaikat mengecek buku daftarnya, tak lama Malaikat mempersilakan pemuda itu masuk surga. Tiga pemuka agama tersebut protes.

Salah satu pemuka agama bertanya, “Pak Malaikat, itu tadi siapa? Kok langsung nyelonong masuk surga?”

“Itu si Ucok, pemuda rantau asal sebuah desa di ujung Sumatera,” jawab Malaikat.

“Emang dia kelebihannya apa dibanding kita bertiga, kok nggak ditanya?”

“Dia sopir angkot jurusan Senen-Kampung Melayu tukang ngebut,” jelas Malaikat.

“Loh, lha kita bertiga ini pemuka agama. Kita lebih berhak masuk surga duluan dibanding dia.”

Malaikat mengungkap, “Ah sampeyan bertiga ini gimana. Justru karena si Ucok ini tukang ngebut saat bawa angkot membuat para penumpang selalu menyebut-nyebut nama Gusti Allah supaya nggak kecelekaan. Sampeyan bertiga ini sebaliknya, kalau ceramah dan khotbah bikin jamaah bosen dan ngantuk semua. Boro-boro jamaah mau berkhidmah dan ingat kepada Allah.” (Ahmad)

Disarikan dari buku “Gus Durku, Gus Dur Anda, Gus Dur Kita” karya Muhammad AS Hikam (2013).
Kamis 26 April 2018 9:0 WIB
Meningkatkan Daya Ingat
Meningkatkan Daya Ingat
Ilustrasi (ist)
Sudah lazim seorang santri mendapatkan tugas-tugas menghafal berbagai materi di pesantren. Mulai dari Al-Qur’an, Hadits, nadzom-nadzom kitab, dan sejumlah syair dalam bahasa Arab.

Saking banyaknya tugas menghafal, santri bernama Roni kadang sering lupa dalam beberapa hal.

Sadar akan dirinya yang sering lupa, Roni lalu mencoba ‘konsultasi’ dengan teman santrinya bernama Joko.

“Kamu sudah melakukan usaha apa agar sifat pelupamu hilang?” korek Joko.

“Saya sudah beli buku soal kiat-kiat cepat meningkatkan daya ingat. Buku itu ditulis oleh Profesor terkenal,” jawab Roni pede.

“Hasilnya?” Joko lagi.

“Sama saja, Jok,” kata Roni.

“Kenapa, teori Profesor itu gagal?” selidik Joko.

“Bukan begitu, saya lupa di mana naruh buku itu,” seloroh Roni. (Fathoni)
Selasa 24 April 2018 13:15 WIB
Gus Dur soal Korupsi dari Masa ke Masa
Gus Dur soal Korupsi dari Masa ke Masa
Almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid.
Sore itu seperti biasa Gus Dur menerima beberapa tamu dengan berbagai macam tujuan. Ada yang ingin meminta nasihat, saran, dan masukan. Ada juga yang hanya ingin mendengarkan joke terbarunya.

Gus Dur salah satu pemimpin nasional yang mempunyai sikap tegas terhadap kejahatan korupsi. Kebetulan, salah satu tamunya mengungkapkan kegelisahan tentang korupsi di Indonesia yang seolah menjadi ‘lingkaran setan’.

“Gus, tentang korupsi di negara kita, kenapa ya Gus seolah sudah menjadi budaya?” tanya salah seorang tamu.

Gus Dur sudah bisa merasakan, itu pertanyaan yang terlontar secara serius. Terbukti dengan gestur dan intonasi suara sang tamu. Namun, ia berupaya tetap santai menanggapi pertanyaan tersebut.

“Ah, budaya gimana? Zaman sekarang korupsi relatif bisa dipantau dibanding era-era sebelumnya,” jawab Gus Dur enteng.

“Memang korupsi di zaman-zaman sebelumnya gimana, Gus?” tanya seorang tamu lainnya.

“Karena di zaman Orde Lama, korupsi di bawah meja. Di zaman Orde Baru di atas meja. Nah, di zaman reformasi, mejanya sekalian dikorupsi,” lontar Gus Dur.

“Geeerrrrr...” tawa semua tamu meledak. (Ahmad)

Disarikan dari buku “The Wisdom of Gus Dur: Butir-butir Kearifan Sang Waskita” (2014)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG