IMG-LOGO
Nasional

Umat Islam Harus Bisa Bedakan Ulama dan Khutaba

Jumat 25 Mei 2018 22:15 WIB
Bagikan:
Umat Islam Harus Bisa Bedakan Ulama dan Khutaba
Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah Syekh Muhammad Irfa’i Nahrowi An-Naqsyabandi
Ciamis, NU Online
Syekh Muhammad Irfa’i Nahrowi An-Naqsyabandi menjelaskan bahwa umat mesti membedakan dengan tegas yang mana ulama dan yang mana sekadar khutaba’ (penceramah). Ia menyampaikan hal itu pada pengajian rutin di kesempatan Ramadhan tahun ini.

“Jangan kaburkan istilah ulama dengan khutaba, sabda Rasulullah, sebagaimana diperingatankan oleh Sahabat Ibnu Mas'ud RA, "Sesungguhnya kalian sekarang ini pada zaman yang masih banyak ulamanya, sedikit tukang ceramahnya. Dan sesungguhnya setelah kalian akan datang suatu zaman yang banyak tukang ceramahnya dan sedikit ulamanya," tuturnya, pada kesempatan ngaji sore di Pesantren Qoshrul Arifin Kasepuhan Atas Angin, Cikoneng, Ciamis. Kemudian beliau membacakan surat Al-Fathir: 28.  

Kedudukan ulama itu sangat tinggi sekali, lanjutnya. Ulama itu adalah mereka yang takut (yakhsya) kepada Allah. Hanya para ulamalah yang takut kepada Allah. Dengan kata lain, hanya orang pandailah yang takut kepada Allah. Kalau Allah melarang membuka aib orang lain, sedang dia tahu membuka aib itu dilarang, dan dia membuka aib orang lain di muka umum, menghina dan memperolok-olok, bukankah ulama. 

“Ulama itu pewaris Nabi, sementara Nabi kita tidak memiliki tutur kata yang fahisy dan tidak pula mutafahisy (keji, jorok dan menyakitkan hati). Bisakah orang seperti itu dikatakan ulama?” Mencaci-maki sesembahan selain Allah saja tidak boleh, kenapa mencaci-maki sesama Muslim, sesama anak bangsa?” tanya beliau menyirat keprihatinan.

Seandainya orang yang berkata keji, jorok dan menyakitkan hati dikatakan ulama, mereka termasuk ulama apa namanya? Apakah tidak lebih baik seandainya gelar ulama itu biar Allah saja yang memberikannya, tegasnya.  

“Mari kita pahami Islam; Al-Qur'an dan Al-Hadits sampai hakikatnya. Jangan sekadar kulitnya saja. Demikianlah agar hati kita tidak keras, sekeras batu bahkan lebih, dan agar kiblat pandang awamul muslimin tepat (tidak salah),” tutur Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah ini lebih memperjelas.

Kiyi yang didapuk menjadi anggota Dewan Khas PB Majelis Dzikir Hubbul Wathon (MDHW) ini mengajak agar menjadikan momentum puasa di bulan Ramadhan ini sebagai sarana mujahadah untuk memperbaiki diri.

“Mari di bulan Ramadhan ini kita sempurnakan puasa agar kita termasuk orang muttaqin, orang yang bertaqwa; orang yang terjaga akal bicaranya, terjaga jiwa perasaannya, hati dan perbuatannya dari hal-hal yang dilarang oleh Allah,” pungkasnya. (Fuad Athor/Abdullah Alawi)
Tags:
Bagikan:
Jumat 25 Mei 2018 23:45 WIB
Pendaftaran Program 5000 Doktor Kemenag Ditutup 31 Mei 2018
Pendaftaran Program 5000 Doktor Kemenag Ditutup 31 Mei 2018
Bekasi, NU Online 
Kementerian Agama tengah membuka pendaftaran Beasiswa Program Doktor Dalam Negeri. Program ini dibuka bagi dosen dan tenaga kependidikan binaan Kementerian Agama sejak 13 April dan akan ditutup pada 31 Mei 2018. 

Kasubdit Ketenagaan Ahmad Syafii, mengajak para dosen dan tenaga kependidikan yang berminat untuk mendapat beasiswa doktor untuk segera daftar. Program ini sendiri terdiri dari Beasiswa Full Scholarship (BS) dan Bantuan Penyelesaian Pendidikan (BPP).

“Enam hari lagi pendaftaran akan ditutup. Kita imbau kepada yang berminat untuk segera mendaftar dan bagi yang sudah mendaftar untuk segera melengkapi berkas persyaratan beasiswa yang diajukan agar tidak terlambat nantinya,” tutur Syafii dalam kesempatan Sosialisasi Penyelenggaraan Beasiswa Studi Dalam Negeri di Bekasi, Jumat (25/05) sebagaimana diberitakan Kemenag.go.id.

Kegiatan ini diikuti oleh 36 perguruan tinggi mitra, dari Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) negeri maupun swasta, serta Perguruan Tinggu Umum (PTU).

Menurut Syafii, dari hasil update terkini, jumlah pendaftar sudah lebih dari empat ribu. Namun, pendaftar yang melengkapi berkas masih sedikit.

“Kita sudah mendapatkan 4.098 pendaftar. Namun yang melengkapi berkas masih sangat kecil, yakni full scholarship 696 orang dan BPP 165 orang. Selebihnya berkasnya belum lengkap,”paparnya

Kasi Peningkatan Profesi  PTKIN Adib Abdusshomad menambahkan bahwa bagi mereka yang mendaftar agar dipastikan mengakses laman yang benar. “Ini adalah laman pendaftaran: http://5000doktor.diktis.id/registration. Bagi yang masih ada kendala dapat menghubungi panitia ke email moradn2018@gmail.com,”pungkasnya. 

Tes seleksi program beasiswa ini, untuk pilihan di PTKI akan digelar pada 27 - 28 Juni. Ujian berupa tes tertulis dan wawancara. Sedang ujian wawancara untuk peserta dengan pilihan PTU akan digelar pada 4 Juli 2018. (Abdullah Alawi)
 

Jumat 25 Mei 2018 22:25 WIB
Pemberdayaan Difabel, Realisasi Hasil Munas NU 2017
Pemberdayaan Difabel, Realisasi Hasil Munas NU 2017
Sekjen PBNU HA Helmy Faishal Zainy memperlihatkan batik karya difabel Blora
Jakarta, NU Online
Sekretaris Jenderal PBNU HA Helmy Faishal Zaini, menegaskan NU memiliki komitmen terhadap penyandang disabilitas. Ia menyebut salah satu pembahasan pada Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar (Munas Konbes) NU di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) tahun 2017, adalah problematika terkait fiqih disabilitas.

"Apa yang menjadi program NU Care-LAZISNU ini bukan hanya pengumpulan zakat, infak, dan sedekah semata, juga melainkan pemberdayaan. LAZISNU melakukan sesuatu yang bermakna, melakukan afirmasi, memerhatikan saudara-saudara difabel yang secara kodrati memiliki beberapa kekurangan," jelas Helmy pada peluncuran Difabel Berdaya di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Kamis (24/5).

Menurutnya, program Difabel Berdaya program yang menginspirasi. "Pembelajaran kita dari kaum difabel, yang di tengah keterbatasannya bisa melahirkan karya berupa batik dengan corak-corak yang bagus," kata Sekjen Helmy.

Ditambahkan para difabel di Blora itu tidak hanya mandiri, tapi juga bisa memberdayakan sesama difabel dan memberi bantuan kepada para mustahik. "Sesuai dengan tema, program ini berbagi dan menginspirasi," ucapnya.

Helmy pun mengajak semua masyarakat, stakeholder, baik yang ada di pemerintahan, BUMN, untuk turut pula mendukung dan memberdayakan kaum yang sering dianggap lemah.

Difabel Berdaya diluncurkan oleh NU Care-LAZISNU sesuai tema besar Ramadhan 1439 Hijirah Berbagi dan Menginspirasi. (Wahyu Noerhadi/Kendi Setiawan)
Jumat 25 Mei 2018 21:45 WIB
Ramadhan Bulan Belanja Sosial
Ramadhan Bulan Belanja Sosial
Batik karya difabel Blora dipamerkan pada peluncuran Difabel Bedaya di Gedung PBNU, Kamis (24/5)
Jakarta, NU Online
Ketua PBNU, H Sulton Fathoni menyambut baik program Difabel Berdaya yang diluncurkan oleh NU Care-LAZISNU. Dirinya menyebut bahwa Ramadhan merupakan bulannya bagi Muslim untuk belanja sosial.

"Melakukan hal-hal baik yang berdampak pada keshalehan sosial, salah satunya dengan memberdayakan para difabel," ujarnya di Masjid Annahdlah, Gedung PBNU, Kamis (24/5) sore.
.
Belanja sosial yang dimaksud adalah membeli produk batik karya para difabel yang tergabung dalam komunitas Difabel Blora Mustika (DBM). Pemasaran batik tersebut menjadi salah satu cara dalam pemberdayaan kepada para difabel yang digagas NU Care-LAZISNU.

Ia berharap belanja sosial tersebut mendapat sambutan dari masyarakat luas.

Sementara itu, Direktur Filantropi Indonesia, Hamid Abidin, menyoroti bulan Ramadhan sebagai bulan filantropi. Ia menyebut data tahun 2017, penghimpunan dana zakat, infak, sedekah (ZIS) yang dikelola Baznas dari masyarakat khusus bulan Ramadhan mencapai dua triliun. 

Hamid menyampaikan beberapa catatan terkait program yang dicanangkan NU Care-LAZISNU di bawah tagline Berbagi dan Menginspirasi. "Terobosan menarik dan baru yang patut diapresiasi. Program ini (Difabel Berdaya) mengombinasikan pemberdayaan ekonomi dengan kesenian batik. Ada tiga sasaran yang dituju yaitu difabel, ekonomi, dan seni budaya," papar Hamid.

Menurut Hamid, peran NU Care-LAZISNU di dunia filantropi sebagai perantara antara komunitas difabel dengan para donatur. Hal itu masih menjadi problem dan minim digarap oleh lembaga sosial yang lain. "Peran NU Care-LAZISNU di filantropi sebagai intermediary, perantara. Hal ini penting dilakukan untuk kegiatan filantropi di Indonesia. Mudah-mudahan bisa lebih luas jangkauannya," pungkas Hamid. (Wahyu Noerhadi/Kendi Setiawan)


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG