IMG-LOGO
Opini

Shalat Tarawih, Persatuan, dan Totalitas Ketundukan

Sabtu 26 Mei 2018 22:45 WIB
Bagikan:
Shalat Tarawih, Persatuan, dan Totalitas Ketundukan
Ilustrasi (viata-libera.co)
Oleh Nila Mannan

Sepuluh hari petama bulan Ramadhan sudah dilewati  umat muslim, bulan yang mempunyai banyak keistimewaan yang tak dimiliki oleh bulan-bulan lainnya. Di antaranya adalah pahala yang berlipat dan tak bisa didapatkan kecuali di bulan ini. Di antaranya lagi adalah shalat Tarawih yang disyariatkan di setiap bakda isya’ di bulan Ramadhan. 

Semua ulama sepakat bahwa meramaikan bulan Ramadhan dengan ibadah adalah suatu kesunnahan yang pahalanya lebih besar dibanding dengan ibadah di bulan lainnya, hal ini berdasarkan hadits:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang meramaikan–dengan ibadah—bulan Ramadhan dalam keadaan beriman dan ikhlas  maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (Ibn Battal Abu al-Hasan ‘Ali bin Khalf,  Syarah Shahih Bukhari li Ibn Battal, 2003, juz 1 halaman 95)

Tarawih adalah bid’ah yang baru ada pada masa khalīfah ‘Umar radliyallahu ‘anh. Namun ibadah ini adalah bid’ah hasanah yang sesuai dengan ajaran hadits Nabi. Tatkala Ibn alī al-Qārī keluar pada suatu malam Ramadhan bersama Sayyidinā ‘Umar, beliau melihat beberapa orang mendirikan shalat sendiri-sendiri tanpa berjamaah lalu ‘Umar mengumpulkan mereka di satu tempat untuk melakukan shalat berjamaah. 

Hal ini menunjukkan betapa kebijakan pemerintah haruslah memperhatikan persatuan masyarakatnya dan perintah itu harus diikuti dan dipatuhi, karena mematuhi perintahnya berarti mematuhi perintah Tuhan. “(Padahal) apabila mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulilamri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil amri)” (An-Nisa: 83).

Namun yang masih diperselisihkan adalah jumlah rakaat Tarawih. Ibn al-Qāsim mengatakan, 36 rakaat dan witir tiga rakaat. Praktik ini ditemukan oleh Syaiah dari Imam Daud bin Qays di daerah Madinah, di mana semangat ibadah mereka sangat tinggi (Ibn Rusyd, Bidāyatu al-Mujtahid, juz 1, halaman 219). Mayoritas ulama mengatakan, jumlah rakaat Tarawih adalah 20 rakaat selain witir. 

Baca: Mengapa Jumlah Rakaat Tarawih Berbeda? Ini Penjelasannya
Terlepas dari perbedaan rakaat di atas, kebanyakan –terutama remaja—mencari jamaah Tarawih yang imamnya cepat, bacaan dan gerakannya juga cepat hingga jamaah tak sempat tuma’ninah (diam sejenak seukuran membaca kata ‘subhaanallah’) di setiap rukunnya.

Selain itu bacaan yang dibaca jahr (keras) terkadang sampai tak terdengar membaca surat apa–seperti dukun baca jampi-jampi-padahal dalam shalat tidak boleh membaca selain bacaan Al-Qur’an. Kalau bacaan yang dilantunkan oleh imam tidak bisa dimengerti oleh makmum lantas apa masih dikatakan baca ayat Al-Qur’an? Alhasil, jamaah hanya mengikuti gerakan imam tanpa merenungi ibadah yang mulia ini.

Seharusnya umat Muslim haruslah mampu memahami makna yang terkandung dalam shalat Tarawih, di antaranya adalah totalitas ketundukan seorang hamba pada Tuhannya. 

Semoga kita termasuk Muslim yang mampu. Amin. Wallahu a’lam bishshawab.


Penulis adalah santriwati Ma’had Aly Sukorejo Situbondo

Bagikan:
Sabtu 26 Mei 2018 12:30 WIB
Agnesmo, Sandal, Netizen, dan Banser
Agnesmo, Sandal, Netizen, dan Banser
ilustrasi (foto: istimewa)
Oleh Gatot Arifianto

Media sosial (medsos) di negeri kita dewasa ini seolah menjadi tempat menanam dan merawat benih-benih negatif. Kegaduhan dan kebencian muncul silih berganti, lebih banyak dari yang bersifat maslahat.

Beberapa hari lalu, seorang anggota legislatif di Karawang, Jawa Barat, dihajar sejumlah massa akibat unggahan meme dua orang penting di medsos. Postingan itu menurut mereka, yang terekam dalam video, adalah bentuk pelecehan agama. 

Selain itu, ada pula netizen geram, sebagaimana saat Agnes Monica (Agnesmo) tampil mengenakan kostum dengan tulisan Arab, saat Konser Raya 21 Tahun Indosiar, di Istora Senayan, Jakarta, Senin (12/1/2016).

Sejumlah netizen Indonesia, kala itu menuding Agnesmo melecehkan Islam. Kontroversi kostum Agnesmo membuat Majelis Ulama Indonesia (MUI) turut menanggapi dan menegaskan tidak ada pelecehan mengingat tulisan tersebut ialah Al-Muttahidah, kurang lebih bermakna persatuan.

Demikian juga dengan kemunculan sepasang sandal jepit dengan tulisan huruf Arab beberapa hari lalu. Ada yang marah-marah, mengeluarkan kata-kata kasar, hingga meminta pengunggah gambar dimasukan pesantren agar tak kurang ajar. Padahal, sandal berwarna putih dengan alas hijau itu bertuliskan yamin untuk sebelah kanan dan syimal di sebelah kiri. 

Kegaduhan lain juga terjadi di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Pemilik akun facebook Dodi Poetra BangJou, dengan enteng menghina Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Sirodj dan Ketua Umum PP GP Ansor H Yaqut Cholil Qoumas dengan tulisan tanpa dasar. 

Kemudian di Jakarta, ada seorang anak muda yang wow, mengancam dan menghina Presiden Joko Widodo melalui video tersebar di medsos.  

Dari semua peristiwa itu, ada pro kontra, yang sebagian besar masih tidak produktif, hanya menyenangkan dan menguntungkan tukang goreng yang paham, konflik adalah satu dari beberapa karakteristik isi pesan dalam komunikasi massa disukai publik, sehingga meski  dikemas apik, guna memantik selisih. 

Penjagaan gereja oleh Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang memang memiliki tanggung jawab bersama dengan kekuatan bangsa yang lain untuk tetap menjaga dan menjamin keutuhan bangsa dari segala ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan dalam ikut menciptakan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), seringkali didaur ulang dalam bentuk meme menyudutkan.

Praktis, banyak pihak tak paham dengan penjagaan gereja oleh badan semi otonom GP Ansor ini, akhirnya menuding Banser salah kaprah dalam beragama.  

Pertanyaannya, ada apa dengan Indonesia, negara dengan penduduk muslim terbesar ini? Apa benar banyak yang dungu seperti ujaran khas di jagat medsos? 

Media Sosial dan NU 

Secara harfiah, medsos adalah media untuk bersosialisasi satu sama lain dan dilakukan secara online yang memungkinkan manusia untuk saling berinteraksi tanpa dibatasi ruang dan waktu. Di dalamnya, tentu saja ada hal positif dan negatif. Tapi kenapa yang dominan ialah kabar bohong atau hoaks, konten-konten rasisme, dan konten-konten yang memicu perpecahan bangsa?

Awal 2017,  Survei Masyarakat Telekomunikasi Indonesia (Mastel) dengan melibatkan 1.116 responden, menyebut 92,4 persen responden mengaku mendapatkan berita hoaks dari media sosial, 62,8 persen dari aplikasi pesan instan, dan 34,9 persen dari situs web. 

Berita bohong dengan konten suku, agama, ras dan golongan (SARA) menempati posisi kedua, dengan persentase mencapai 88,6 persen, di bawah sosial politik (Pilkada/pemerintah), 91,8 persen. Peringkat ketiga ialah hoaks tentang kesehatan, dengan persentase 41,2 persen.

Berkunjung ke PBNU, pada, Rabu (2/5/2018), Grand Syeikh Al-Azhar, Ahmad Muhammad Ath-Thayeb mengimbau agar medsos digunakan tidak untuk hal negatif, bukan untuk memecah-belah dan adu domba.

Pernyataan tersebut tentu menyejukkan. Mengingatkan pendapat Imam Malik bin Anas: Jangan biarkan orang yang menyesatkan masuk ke telingamu. Kamu tidak tahu seperti apa masalah yang bisa muncul di dalam dirimu

Kondisi negara, medsos dan perilaku netizen dewasa ini mengingatkan Keputusan Muktamar NU Ke-29 di Cipasung Tasikmalaya, 1 Rajab 1415 H/4 Desember 1994 M. Perihal Tanggung Jawab NU Terhadap Kehidupan Berbangsa di Masa Mendatang.

Umat Islam Indonesia dan NU, sejak semula memandang Indonesia sebagai kawasan amal dan dakwah. Indonesia adalah bagian dari bumi Allah, dan (karenanya) merupakan lahan dari ajaran Islam yang universal itu Kaffatan linnas dan Rahmatan Lil’alamin

Tugas NU disepakati dalam muktamar itu antara lain: Sebagai kekuatan pembimbing spiritual dan moral umat dan bangsa ini, dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara politik, ekonomi, sosial, budaya dan iptek untuk mencapai kehidupan yang maslahat, sejahtera dan bahagia, lahir dan batin, dunia dan akhirat.

Berusaha akan dan terus secara konsisten menjadi Jam’iyah diniyah/organisasi keagamaan yang bertujuan untuk ikut membangun dan mengembangkan insan dan masyarakat Indonesia yang bertakwa kepada Allah SWT, cerdas, terampil, adil, berakhlak mulia, tenteram, dan sejahtera.

Kader-kader muda NU beruntung dibekali tabayyun, yang berasal dari akar kata dalam bahasa Arab: tabayyana – yatabayyanu - tabayyunan, yang berarti mencari kejelasan hakikat suatu fakta dan informasi atau kebenaran suatu fakta dan informasi dengan teliti, seksama dan hati-hati.

Jika ada dungu, tidak mengedepankan Islam ramah, tentu sudah ada lebam di wajah Dodi saat diajak ngopi oleh kurang lebih seratus kader badan otonom NU, PC GP Ansor dan Satkorcab Banser Kabupaten Cirebon. 

Dodi yang memposting ujaran yang sebenarnya bisa diseret keranah hukum, beruntung bersinggungan dengan Ansor dan Banser. Menebus kesalahannya, Dodi hanya diajak menyelami NU lebih dalam dengan mengikuti kaderisasi Ansor.

Lagi-lagi suatu fakta, yang menampik dungu dengan tidak adanya persekusi seperti saat kiai, penyair dan budayawan, Gus Mus yang pernah menjabat sebagai Rais Aam PBNU dicaci Pandu Wijaya di medsos.

Jajaran PC GP Ansor Cirebon menerima penyesalan dan permintaan maaf Dodi karena yang bersangkutan tidak paham NU dan merupakan satu korban dari banyaknya remaja yang terpapar paham takfiri. Relevan dengan pernyataan Sekretaris Jenderal PBNU, Helmy Faisal Zaini: Banyak kelas menengah yang ingin belajar Islam namun salah imam.

Pada acara bertajuk Kopi Darat Netizen Nahdlatul Ulama, di PBNU, Rabu (28/12/2016), Helmy menyebut, mereka rata-rata belajar agama dari medsos. "Kelas menengah banyak yang berimam kepada media sosial dan celakanya banyak yang keliru,” ujarnya.

Sebagai solusi, Helmy mengajak anak-anak muda NU harus bangkit dan menguasai media sosial, yang santun dan beradab sebagai sarana dakwah. 

Detoksifikasi Hasut

Berkaca dari hujatan terhadap Agnesmo, sandal jepit dan beberapa ujaran kebencian hingga olahan fitnah tidak bertanggung jawab di medsos. Siapa akan menampik pernyataan Abu Hamid Al Ghazali? Filsuf dan sofis Persia, 1058-1111 itu menegaskan:  Korupsi agama berasal dari mengubahnya ke kata-kata belaka dan penampilan.

Langkah negara ini masih panjang, Banser tentu akan berkomitmen melawan agitasi dan provokasi yang mengancam NKRI sesuai dengan tanggung jawabnya. Selain itu, netizen yang memiliki medsos mempunyai peran penting untuk membantu arah yang baik. Tidak membuat anak-anak muda seperti Dodi terjerumus dan dijerumuskan dengan sengaja. Sehingga terjadi seperti ditegaskan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur): Agama mengajarkan pesan-pesan damai dan ekstremis memutarbalikannya.

Afdhol meningkatkan kapasitas untuk belajar, agar tidak menjadi kagetan. Menyikapi masalah dengan kearifan, dengan solusi. Bukan dengan memproduksi hujatan bertubi hingga menyimpulkan dengan asal suatu berita, peristiwa dengan landasan ketidaksukaan, dengan hasut (dengki), yang menurut Imam Ghazali adalah cabang dari syukh, sikap batin yang bakhil berbuat baik.

Percayalah pada Rasulullah SAW: Benci dan dengki yang merupakan penyakit-penyakit umat terdahululah yang membinasakan agama. (H.R. Ahmad dan Tirmidzi).

Fitnah dan share konten negatif di medsos bukan tren, namun hal yang harus didetoksifikasi oleh 132,7 juta pengguna media sosial (survei We Are Social dan Hootsuite, Januari 2018). Bukankah gagasan, kreativitas, inovasi, dan tindakan berdampak pada kemajuan kemanusiaan dan negara lebih dibutuhkan di kawasan amal dan dakwah bernama Indonesia?. 

Penulis, Founder Halal (Hijamah Sambil Beramal). Bergiat di Gerakan Pemuda Ansor. 

Kamis 24 Mei 2018 6:0 WIB
Trilogi Jihad Zaman Now
Trilogi Jihad Zaman Now
ilustrasi: irisindonesia
Oleh: Muhammad Basri

Bulan suci Ramadhan merupakan salah satu bulan yang senantiasa ditunggu-tunggu oleh umat Islam. Sambutan sukacita dilakukan akan datangnya bulan yang penuh ampunan dengan berbagai macam cara. Ada yang dengan pawai di jalan-jalan protokol, ada yang menyambutnya dengan membersihkan tempat ibadah dan lingkungan sekitar, serta masih banyak lagi cara. Semua itu dilakukan dengan antusiasme tinggi oleh masyarakat yang didasarkan pada kebersamaan dan kesadaran bersama.

Sayangnya, uforia menyambut datangnya bulan suci Ramadan juga dibarengi dengan dukacita dari saudara-saudara kita yaitu umat Nasrani yang mengalami musibah akibat serangan berupa peledakan bom oleh oknum tidak bertanggung jawab di berberapa daerah di Indonesia. Serangan tersebut terjadi saat mereka sedang melaksanakan sembahyang di tempat ibadah.

Penyerang berdalih bahwa apa yang mereka lakukan adalah perintah agama dan merupakan salah satu cara untuk berjuang di jalan Allah. Hal ini secara fundamental terjadi akibat dotrin-doktrin, dalil-dalil agama yang disampaikan oleh orang yang mereka yakini juga memiliki visi-misi yang sama yaitu berjuang membela agama Islam atau yang lebih popular dengan sebutan jihad.

Sebanarnya tepatkah tindakan tersebut disebut jihad? Secara sederhana dapat kita pahami, jihad sebagai suatu bentuk perjuangan yang dilakukan semata-mata untuk agama-Nya. Dalam pengertiannya, jihad memiliki makna yang beragam. Bonney (dalam Zulkifli Mubarak 2012), dalam tradisi Islam, jihad memiliki makna beragam. Namun, secara garis besar jihad dibagi menjadi dua konsep. Pertama, konsep moral, diartikan sebagai perjuangan kaum Islami melawan hawa nafsu atau perjuangan melawan diri sendiri (jihad al-nafs), yang disebut jihad al-akbar. Kedua, konsep politik, diartikan sebagai konsep 'perang yang adil', jihad al-asghar.

Memang tidak dapat dibantah bahwa jihad juga diartikan sama dengan perang yang secara kontemporer dilakukan dengan teror dalam bentuk bom bunuh diri seperti yang terjadi di berbagai daerah belakangan ini.

Di era modern seperti sekarang ini jihad bukan lagi mengangkat senjata atau menebar teror, karena jihad seperti itu sudah tidak relevan lagi dengan kondisi yang ada. Di era modern ini orang sudah tidak lagi berpikir untuk berjihad seperti zaman Rasul yang berperang melawan musuh dengan segenap persenjataan dan siap untuk mati. Orang sudah tidak lagi bersikap feodal, namun sebaliknya, mereka lebih terbuka terhadap berbagai perkembangan dan kemajuan yang terjadi secara simultan.

Ada sebuah dalil dalam agama Islam yang menyatakan bahwa menuntut ilmu adalah bagian dari berjihad. Mungkin dalil inilah yang kita cari dan relevan dengan kondisi sosial yang semakin maju meninggalkan cara-cara konvensional dalam aktivitas sehari-hari. Untuk berbicara dengan orang lain atau saudara kita yang jaraknya jauh cukup hanya mengunakan perangkat elektronik (handphone) dan internet.

Dengan mudahnya hal tersebut dilakukan karena akibat yang ditimbulkan dari dikuasainya ilmu pengetahuan dan teknologi.Jihad untuk menandingi atau bahkan mengalahkan ilmu pengetahun yang dimiliki oleh negara-negara maju dunia inilah yang merupakan refleksi jihad di era modern seperti sekarang.

Di Indonesia, umat Islam masih disibukkan dengan perkara-perkara yang bersifat turun temurun atau bisa dikatakan tidak akan selesai sampai hari akhir nanti. Umat islam di Indonesia masih saja sibuk mengurusi celana cingkrang, jenggot, sorban, dan masih banyak lagi. Sedangkan bangsa Barat sudah sibuk menerawang bulan, membuat apartemen di mars. Cara berpikir seperti inilah, etos berjihad menuntut ilmu dan menguasai teknologi yang kita tidak miliki seperti bangsa-bangsa Barat.

Selanjutnya yaitu jihad ekonomi. Penulis terinspirasi dari buku Rahimi Sabiri yang menceritakan tentang 'jihad modern'. Jihad ekonomi menurut hemat penulis dapat dipahami sebagai upaya pemenuhan terhadap kebutuhan masyarakat secara komprehensif, meningkatkan taraf hidup masyarakat, dan meningkatkan perekonomian nasional. Inilah yang dinamakan jihad di era modern.

Terakhir adalah jihad mental dan spiritual, yaitu jihad yang dapat kita pahami sebagai perbaikan dan mengkonstruksi integritas diri dan keimanan yang secara khaffah diimplementasikan dengan toleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam pidatonya pada 17 Agustus 1956, Soekarno mengatakan, "Revolusi mental adalah suatu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, dan berjiwa api yang menyala-nyala.”
 
Untuk itu, perlu  kiranya menata ulang mindset kita dalam berjihad di era modern. Jihad bukan lagi mengangkat senjata, perang, dan melakukan teror. Tetapi, menciptakan kedamaian, kemakmuran, dan kesejahteraan serta meningkatkan perekonomian secara global. Itulah jihad sesungguhnya bagi umat Islam. Trilogi jihad yang dipaparkan oleh penulis di atas, kiranya sebagai refleksi untuk umat Islam nusantara, sekaligus autokritik atas pendiskreditan terhadap bangsa Indonesia oleh bangsa lain terkhusus umat Islam.

Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik Universitas Lampung, bergiat di PMII

Rabu 23 Mei 2018 13:0 WIB
Membentengi Keluarga dari Terorisme
Membentengi Keluarga dari Terorisme
Ilustrasi
Oleh: Didik Novi Rahmanto 

Aksi terorisme yang baru-baru ini menggemparkan negeri memunculkan modus baru, yakni pelibatan anggota keluarga dalam aksi kejahatan luar biasa. Rentetan serangan teror yang terjadi di Surabaya diketahui dilakukan oleh keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anaknya. Hal ini tentu sangat memprihatinkan. Diperlukan strategi khusus untuk memastikan kejadian serupa tak terulang kembali.

Aksi serangan teror dengan melibatkan seluruh anggota keluarga memang merupakan modus baru dalam kancah terorisme. Meski begitu, benih-benihnya telah ada sejak lama, terutama dengan kemunculan ISIS. Kelompok teroris yang mulai kehabisan amunisi ini telah lama menggemakan panggilan kepada para simpatisan dan pengikutnya untuk mengajak serta seluruh anggota keluarga dalam aksi jahat yang mereka sebut jihad; terorisme. Panggilan untuk ‘hijrah’ pun diberikan bukan saja untuk suami, melainkan juga kepada para anak dan istri. 

ISIS pun telah menyiapkan peran-peran khusus untuk masing-masing anggota keluarga. Ayah atau kepala keluarga diberi peran sebagai tentara atau pejuang, sementara istri diberi peran untuk mengajari anak-anak mereka nilai-nilai ISIS serta membantu perjuangan kelompok teroris untuk mewujudkan delusi mereka mendirikan kekhalifahan tunggal untuk seluruh umat Islam di dunia.

Belakangan, para perempuan ini tak lagi mendidik dan merawat, mereka turun langsung ke ‘medan perang’ untuk menjadi syahidah. Lies Marcoes menyebut para perempuan ini ingin mencium bau surga bukan hanya melalui suami, tetapi juga melalui usaha sendiri.
Keterlibatan perempuan dalam gerakan dan aksi terorisme tentu menjadi alarm kuat untuk institusi keluarga. Perempuan adalah madrasatul ula (madrasah pertama) untuk anak-anaknya, karenanya mereka memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan arah masa depan keluarganya. Tak hanya terhadap anak-anaknya, beberapa kasus terorisme yang pernah terjadi juga menunjukkan betapa para istri telah memainkan peran besar dalam mempengaruhi suami dan anak-anak untuk turut ‘hijrah’ ke negeri antah barantah. 

Meneguhkan Peran Perempuan Sebagai Madrasarul Ula

Sebagai madrasah pertama untuk anak-anaknya, perempuan (ibu) adalah corong utama untuk segala informasi yang akan dicerna oleh anak, karenanya sudah sepatutnya para ibu mendapat asupan informasi yang baik dan benar. Dalam konteks ini, para ayah perlu mengambil peran untuk memberi arahan dan masukan, bukan perintah tanpa kesepakatan. 

Meski demikian, kemajuan teknologi informasi telah menghadirkan tantangan tersendiri bagi kesolidan keluarga. Dengan semakin berkembangnya teknologi internet, informasi dapat masuk kapan saja dan di mana saja. Anak-anak tak lagi menjadikan orang tua sebagai tumpuan informasi, segala hal yang ingin diketahui sudah terpampang bebas di internet. Padahal jamak diketahui, tak semua informasi di internet telah teruji kebenarannya. Dengan hanya bertumpu pada sisi kecepatan, internet lebih sering menyajikan informasi instan.

Sementara di waktu yang bersamaan, tuntutan ekonomi semakin menggilas waktu kebanyakan orang tua untuk bersama keluarga. Ayah, dan tak jarang ibu, lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah demi mengejar kebutuhan keluarga. Meski acap kali, kebutuhan yang dikejar tersebut bersifat artificial needs, kebutuhan yang diada-adakan atau dikesankan sebagai kebutuhan, padahal tanpanya pun orang sudah berkecukupan. Akibatnya, orang tua lepas tangan untuk urusan pendidikan terhadap anak-anak. 

Tanggung jawab pendidikan ini lantas dititipkan begitu saja kepada sekolah dan tentu saja internet. Banyak penelitian menunjukkan bahwa, bahkan sekolah pun kerap kali tak menjadi tempat aman dari radikalisme. Justeru, beberapa sekolah diindikasi kuat menjadi persemaian untuk lahir dan berkembangnya ajaran kebencian. Data dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang dirilis pada 2016 lalu menunjukkan bahwa 25% siswa dan 21% guru menyatakan Pancasila tak lagi relevan, sebagai gantinya, 84,8% siswa dan 76,2% siswa setuju dengan penerapan syariat Islam di Indonesia. 4% dari mereka bahkan menyatakan setuju dengan kebiadaban kelompok teroris ISIS.

Ini tentu harus menjadi peringatan keras bagi para orang tua untuk mampu memberikan informasi alternatif sebagai penyeimbang kepada anak-anaknya. Hal ini bukan saja perlu dilakukan dengan cara memberi bahan-bahan bacaan saja, tetapi memastikan bahwa orang tua dapat hadir dalam tiap proses pembelajaran yang dilalui oleh sang anak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sehingga, anak-anak tidak saja akan mempelajari, tetapi juga mengalami nilai-nilai luhur yang diajarkan dalam keluarga.

Dalam konteks ini, para orang tua, terutama ibu, juga dituntut untuk lebih aktif belajar dan kemudian membagikannya ke keluarga. Dalam Myths and Realities of Female-perpetrated Terrorism, (di jurnal Law and Human Behavior, 37.1, 2013), Karen Jacques dan Paul J Taylor mengonfirmasi bahwa keterlibatan perempuan dalam radikalisasi maupun deradikalisasi terkait erat dengan pencapaian pendidikan secara individual. Artinya, informasi yang didapat oleh orang tua akan menentukan nasib keluarganya.

Belajar dari kasus pelaku serangan bom bunuh diri di Surabaya, sebagaimana diakui oleh anaknya yang selamat dari ledakan bom, para anak ini tidak disekolahkan. Informasi yang mereka terima adalah monopoli orang tua. Mereka kerap diberi tontonan aksi-aksi kekerasan dan ajakan untuk berperang. Anak-anak ini pun tumbuh dengan kebencian yang ditanamkan di kepalanya. Sangat disayangkan memang.

Keluarga adalah lingkaran pertama dan utama dalam penanaman nilai-nilai yang akan dipegang teguh oleh anak-anaknya hingga waktu yang sangat lama. Karenanya, di lingkaran inilah nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian perlu ditanamkan sedini mungkin.Kita bisa melawan terorisme, dan hal itu dimulai dari keluarga.

Penulis adalah Satgas Penindakan di Direktorat Penindakan BNPT, Mahasiswa doktoral di Departemen Kriminologi UI.


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG