IMG-LOGO
Nasional

Oase Al-Qur’an (5): Macam-macam Ibadah dari Sudut Kemanfaatannya

Ahad 27 Mei 2018 4:43 WIB
Bagikan:
Oase Al-Qur’an (5): Macam-macam Ibadah dari Sudut Kemanfaatannya
Ilustrasi: angkolafacebook.blogspot.co.id/
Jakarta, NU Online 
Rais Majelis Ilmy Pimpinan Pusat Jam'iyyatul Qurro' Wal Huffadz Nahdlatul Ulama (JQHNU) KH Ahsin Sakho Muhammad mengatakan, jika dilihat dari asas kemanfaatan ibadah terbagi menjadi lazimah, dzatiyyah, dan muta'addiyah. 

Ibadah yang bersifat dzatiyyah adalah ibadah yang kemanfaatannya untuk diri sendiri seperti shalat, puasa, haji, membaca Al-Qur’an, dzikir, berkhalwat, dan lain-lain. 

“Jika seseorang melaksanakan ibadah yang bersifat dzatiyyah, kemudian dengan itu dia semakin baik sifat perangainya, semakin saleh perilakunya, semakin bijak, tidak merugikan orang lain, tidak melakukan dosa dan kemungkaran, berarti ibadahnya membuahkan hasil yang positif,” katanya, Sabtu (27/5). 

Menurut kiai asala Cirebon tersebut, itulah tujuan disyariatkannya ibadah-ibadah tersebut.  Sementara ibadah yang bersifat muta'addiyah adalah ibadah yang kemanfaatannya menyebar kepada orang lain.

Pakar Al-Qur’an tersebut mencontohkan ibadah seperti itu adalah zakat, sedekah, amal  jariyah, waqaf, menebarkan ilmu, membikin sumur dan sarana sarana yang dibutuhkan untuk kemaslahatan umum, memberikan bea siswa kepada fakir miskin, membangun tempat ibadah, madrasah, masjid, pesantren, panti asuhan, mendidik anak sehingga menjadi anak yang saleh, silaturrahim, membikin sunnah hasanah (prakarsa yang baik) dan lain-lain. 

"Semakin banyak kemanfaatan tersebar kepada masyarakat, semàkin banyàk pula pahalanya bahkan bisa mengalir terus sampai hari kiamat. Sebaik baiknya manusia adalah mereka yang paling banyak menebar kemanfaatan kepada masyarakat. Demikian kata nabi. Demikian indahnya ajaran agama islam," pungkasnya. (Abdullah Alawi)

Tags:
Bagikan:
Ahad 27 Mei 2018 22:0 WIB
Tugas Apapun Tetaplah Junjung Trilogi PMII
Tugas Apapun Tetaplah Junjung Trilogi PMII
Tangerang Selatan, NU Online
Tak sedikit alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang telah berkiprah di tengah masyarakat, baik di lembaga struktural maupun non-struktural. Meskipun demikian, trilogi PMII yakni zikir, fikir, dan amal saleh, harus tetap dalam pegangan.

"Apapun tugasnya, tetap junjung trilogi PMII dan nilai-nilai akademis," kata alumni PMII Komisariat Fakultas Syariah dan Hukum (Komfaksyahum) Ciputat, Wahiduddin Adams.

Hal tersebut disampaikan saat memberikan nasihat pada acara Tasyakur Buka Puasa Bersama di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Ahad (27/5).

Wahidudin juga berpesan kepada para kader yang masih aktif agar bersiap menyongsong kesuksesan para alumni, baik di bidang politik, akademik, maupun hukum. Untuk mencapai hal itu, ia meminta para kader agar tetap menjaga keaktifannya di organisasi tanpa melupakan tugas wajibnya sebagai mahasiswa.

"Jangan lupa dengan tugas akademik saudara-saudara," kata Hakim Mahkamah Konstitusi itu.

Terakhir, ia menegaskan kepada seluruh kader agar tetap mempertahankan soliditas yang telah dibangun selama ini. "Tetap kuat, solid, dan berlanjut," pungka pria kelahiran Palembang 64 tahun lalu itu.

Ketua PMII Komfaksyahum Arif Fadilah mengatakan pertemuan tersebut sangat berharga mengingat kehadiran kader lintas generasi.

"Momen berharga bersilaturahim keluarga dari masa ke masa," katanya saat memberikan sambutan.

Selain itu, ia juga menyampaikan syukurnya atas amanah yang diberikan kepada kader terbaik PMII Komfaksyahum untuk kembali memimpin Pengurus Cabang PMII Ciputat setelah 20 tahun berlalu.

"Kita patut bersyukur sekarang kita diberikan amanah kembali melalui kader terbaik PMII Komfaksyahum untuk menjadi Ketua PC Cabang Ciputat setelah 20 tahun," ujarnya.

Sementara itu, Ketua terpilih PC PMII Ciputat Fahmi Dzakky menyebutkan bahwa PMII masih menjadi organisasi mahasiswa Islam terbesar di Indonesia. Meskipun demikian, ia menyatakan ada kekhawatiran di benaknya, yakni kemampuan untuk mengelola potensi dan menyebarkan kadernya.

"Kekhawatiran karena ketepatan potensi dan distribusi kader," kata Fahmi.

Untuk menutup kekhawatiran itu, ia mengajak seluruh kader PMII Komfaksyahum untuk saling bersinergi untuk memberikan seluruh kemampuannya untuk seluruh kader PMII. Ia akan fokus meningkatkan khazanah keilmuan dan akademisi para kader.

Selain itu, Fahmi juga bertekad untuk menghapus jejak radikal di bumi Ciputat. "PMII Cabang Ciputat menjadi pengawal utama yang membumihanguskan paham radikal," pungkasnya.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh Direktur Sekolah Pascasarjana yang juga Rais Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Masykuri Abdillah, Ketua Jurusan Ilmu Hukum, Asep Syarifuddin dan para alumni PMII Komfaksyahum lainnya. (Syakir NF/Ibnu Nawawi)

Ahad 27 Mei 2018 21:30 WIB
Shinta Nuriyah Ajak Jaga Kerukunan dan Keutuhan Bangsa
Shinta Nuriyah Ajak Jaga Kerukunan dan Keutuhan Bangsa
Klaten, NU Online
Nyai Hj Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid melangsungkan buka bersama di Masjid Roudlotus Sholikhin, Batur, Ceper, Klaten, Jawa Tengah, Jumat (25/5).

Pada kesempatan tersebut, Shinta Nuriyah mengingatkan bahwa sekarang tinggal di Indonesia. “Maka dengan itu kita sesama warga negara Indonesia adalah saudara,” katanya. 

Menurutnya, sebagai warga negara, maka semua ibarat satu keluarga. “Dengan itu, kita harus saling menjaga kerukunan dan keutuhan bangsa Indonesia,” jelasnya.

Acara yang mengambil tema Dengan Berpuasa Kita Kembangkan Kearifan, Kejujuran dan Kebenaran dalam Kehidupan Berbangsa ini dihadiri sejumlah tokoh dan warga sekitar. 

Ada tugas suci yang harus dijalankan umat Islam manakala memasuki bulan suci Ramadhan. “Kita kembangkan sikap kearifan, artinya harus menerima semuanya dengan arif dan bijaksana serta jangan sembarangan,” ungkapnya. 

Demikian pula semua kalangan juga harus mengembangkan sifat kebenaran dan keadilan di tengah-tengah masyarakat dalam kehidupan berbangsa. “Demi keutuhan bangsa dan Negara,” jelasnya 

Kegiatan ini dihadiri segenap Pengurus Yayasan Roudlotus Sholikin, Pengurus Cabang NU Klaten, lembaga dan Banom NU, Muspida, Muspika, dan TNI-Polri. (Minardi/Ibnu Nawawi)

Ahad 27 Mei 2018 19:0 WIB
Kidung Kawedar Sunan Kalijaga Kaji Asal dan Tujuan Manusia
Kidung Kawedar Sunan Kalijaga Kaji Asal dan Tujuan Manusia
Ngaji Suluk Sunan Kalijaga, Sabtu (26/5).
Jakarta, NU Onlne
Dalam konsep tauhid Islam khas orang Jawa dikenal istilah sangkan paraning dumadi. Konsep ini berkaitan dengan kesatuan asal dan tujuan dari penciptaan manusia dan alam semesta yang hulu dan muaranya adalah Tuhan.

Sangkan paraning dumadi menjelaskan bahwa semuanya berasal dari adi kodrati yaitu Tuhan,” kata Ki Teguh Slamet Wahyudi pada Gema Ramadhan Ngaji Suluk-suluk Sunan Kalijaga, di Sanggar Suluk Nusantara, Perumahan Depok Mulya 1, Depok, Jawa Barat, Sabtu (26/5).

Ia menganalogikan, masyarakat Indonesia pada akhir Ramadhan banyak yang melakukan mudik atau pulang kampung. Hal itu dilakukan karena di kampung halaman mereka memiliki sanak saudara dan orang tua yang ingin dikunjungi. Pemudik bersilaturahim kepada yang masih hidup, dan berziarah kepada yang telah meninggal dunia. 

“Pulang kampung menjadi aktivitas setiap tahun, sebuah ilustrasi yang pada akhirnya kita akan pulang ke asal kita, yaitu Tuhan,” lanjut doktor pada bidang Matematika ini.

Dalam pemahaman orang Jawa, sangkan paran dumadi terkait dengan tiga hal, yakni asal alam semesta, tujuan manusia, dan pencipatan manusia. Ketiganya tergambar pada Serat Kawedar karangan Sunan Kalijaga, meski tidak secara ekspilisit dan tidak terlalu banyak tujuan hidup itu dijelaskan.

Pada bait sepuluh disebutkan Ana kidung rekeki Hartati/sapa weruh reke araning wang/duk ingsun ana ing ngare/miwah duk aneng gunung/ki Samurta lan Ki Samurti/ngalih aran ping tiga/arta daya engsun/araning duk jejaka/Ki Hartati mengko ariningsun ngalih/sapa wruh araning wang// Ada kidung bernama Hartati/siapa yang tahu itu adalah namaku/tatkala aku masih tinggal di ngarai/dan ketika tinggal di gunung/Ki Samurta dan Ki Samurti/berganti nama tiga kali/aku adalah arta daya/namaku tatkala masih perjaka/kelak namaku berganti Ki Hartati/Siapa yang tahu namaku.

Bait sepuluh di atas dimaknai sebagai ilustrasi hubungan Tuhan dan manusia saat masih di alam ruh. Ruh manusia yang berasal dari ruh ilahi ini memiliki kekuatan arta daya (kebijaksanaan, batin, dan welas asih) yang kemudian berada di rahim seorang ibu.

Lalu pada bait sebelas diungkapkan Sapa weruh tembang tepus kaki/sasat weruh reke arta daya/tunggal pancer ing uripe/sapa weruh ing panuju/sasat sugih pagere wesi/rineksa wong sajagad/kang angidung iku/lamun dipunapalena/kidung iku den tutug padha sawengi/adoh panggawe ala// Siapa yang tahu bunga tepus/tentu tahu yang dimaksud dengan arta daya/yang menyatu dengan kehidupannya/siapa yang tahu tujuan hidup/berarti kaya dan dipagari besi/dijaga orang sejagat/yang melantunkan kidung itu/bila dibaca dilafalkan dalam semalam/jauh dari perbuatan buruk. 

Bait sebelas berisi ajaran kepada manusia untuk memahami diri dan tujuan hidupnya. Kekuatan arta daya yang dimiliki manusia mendorong tepo seliro (toleransi). Manusia yang tahu tujuan perjalanan hidupnya akan dilindungi Tuhan seperti halnya rumah yang berpagar besi.

“Di dalam kidung ini disebutkan keutamaan, jika  manusia mengenali jati diri akan mencapai keinginan seperti disayang oleh Tuhan, digambarka dengan kehidupan seperti rumah yang berpagar besi. Pada zaman itu rumah berpagar besi adalah rumah keturunan bangsawan,” papar Ki Teguh.

Ia mencermati manusia terdiri dari aspek jasmani dan rohani. Tubuh yan meninggal akan hancur. Adapun jiwa akan kembali kepada Sang Pencipta. "Di dalam Al-Qur'an disebutkan manusia tercipta dari saripati tanah. Ketika kita makan minum dari hasil bumi kita paham maknanya. Air itu akan menjadi komposisi sel telur menyatu dengan proses perkembangan bayi di dalam rahim. Ini menjadi kata kunci dalam sangkan paran dumadi. Maka itu dapat menggambarkan asal usul dan tujuan hidup manusia yaitu Tuhan," urainya.

Agar dapat kembali kepada Tuhan sebagaimana fitrahnya, manusia harus mengendalikan napsu dengan menempa diri seperti berpuasa. Lelaku ini dijalankan untuk menempa ruhani, agar napsu badani tidak dominan. 

Suluk Kawedar Sunan Kalijaga terdiri dari 46 bait. Suluk ini dinyanyikan dengan tembang atau nada Dandanggula, salah satu jenis tembang macapat dalam sastra Jawa.

Ngaji Suluk Sunan Kalijaga menjadi salah satu agenda Gema Ramadhan yang diadakan oleh Sanggar Suluk Nusantara. Kegiatan ini diawali Sabtu (19/5) dengan materi Penghayatan Surat Al Fatihah, Surat Al Ikhlas, Al Falaq dan Annas dengan pemateri Ki Abdulazis Basyarudin. Berikutnya Pengantar Umum Suluk Kidung Kawedar oleh Ki Bambang Wiwoho, Kamis (24/5).

Pada pekan depan Kamis (31/5) diagendakan materi Jagat Kecil Jagat Besar oleh Ki Mustaqim Abdul Manan, Ajaran Hakikat Kepemimpinan dari Tembang Gundul-gundul Pacul oleh Ki Ageng Lanang (M Jasin), Sabtu (2/6). Sebagai penghujung kegiatan, Kamis (7/6) dihadirkan Keutamaan Ayat Qursi dan Shalat Daim dengan pemapar Ki Abdul Azisi Basyaudin. Pada setiap pertemuan peserta juga diajak nembang (menyanyikan) suluk-suluk yang dikaji.

Seperti diketahui salah satu media yang efektif mengenalkan Islam adalah dengan pendekatan budaya dan seni. Hal itu seperti diakukan oleh Walisongo. Pada harlah NU ke-92 bulan April lalu juga digelar wayang kulit dengan lakon Jamus Kalimasada. Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj menegaskan NU menekankan penyatuan budaya dengan Islam, dan tidak memisah-misahkannya. Budaya yang baik yang dapat menunjang ajaran Islam, harus dipertahankan, bahkan dikembangkan. (Kendi Setiawan)

IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG