IMG-LOGO
Internasional

Al-Haramain yang Ramah Difabel

Ahad 27 Mei 2018 6:30 WIB
Bagikan:
Al-Haramain yang Ramah Difabel
Di banyak tempat terpasang poster peringatan ramah difabel.
Madinah, NU Online
Beberapa hari berada di kota Madinah dan Makah, membuat saya bertanya-tanya: apakah dua kota suci itu ramah dengan keberadaan difabel? 

Seperti kita tahu, difabel adalah mereka yang memiliki fisik atau mental yang berbeda dari orang pada umumnya. Mereka yang buta, lumpuh, cacat lainnya yang membuat mereka tidak dapat berbuat sama dengan orang normal. Meski berbeda dengan difabel, orang yang lanjut usia diberikan kemudahan fasilitas karena memiliki keterbatasan.

Soal difabel ini saya menemukan pemandangan yang menarik. Pertama, di masjid Nabawi maupun Masjid al Haram, kedua tempat itu menyediakan kursi-kursi pendek yang jumlahnya sangat banyak. Artinya, orang yang shalat diberi fasilitas kursi-kursi tersebut, terutama bagi orang lanjut usia dan difabel. Kursi-kursi itu umumnya wakaf dari berbagai pihak.

Berikutnya, ketika orang masuk Raudlah di Masjid Nabawi, kita banyak mendapati orang berkursi roda yang mendapat fasilitas istimewa, yaitu masuk tanpa penghalang. Sehingga, mereka tanpa usah berdesak-desakan, bisa mencapai Raudlah dan makam Rasulullah. Berbeda dengan orang normal yang harus antre dan rela berdesak-desakan, kadang sampai berjam-jam untuk sampai di Raudlah.

(Baca: Menikmati Takjil di Masjid Nabawi Madinah)
Ketiga, di fasilitas publik seperti toilet masjid, banyak gambar untuk memprioritaskan layanan kepada orang difabel dan lanjut usia. Mereka juga tidak kesulitan masuk ke toilet serta bisa buang air besar dengan nyaman. Meski toilet di Makah kadang masih terlihat beberapa kamar yang kurang terjaga kebersihannya.

Keempat, ada fasilitas khusus di lokasi sai dan tawaf untuk para lanjut usia dan difabel yang menggunakan kursi. Di sai, di jalur tengah antar kanan kiri, adalah lajur orang difabel dan lanjut usia. Bahkan, di lantai empat tempat sai, disediakan mobil kecil untuk melakukan sai. Itu semua dilakukan dalam rangka memudahkan dan memanjakan lanjut usia dan difabel.

Para pendorong kursi roda untuk umrah di Makah bahkan lebih 'gila' lagi. Seperti dikatakan Nasrul, teman saya dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. Nasrul sudah agak lama tinggal di Makah. Dia bilang mendorong kursi para jamaah umrah dimulai dari hotel dan diantar ke hotel lagi. Nasrul biasa mendorong hingga tiga kali dalam sehari. Waktu yang digunakan umumnya dua hingga tiga jam dihitung sejak selesi miqat hingga kembali ke hotel. 
(Baca: Kiai Said Ajak Masyarakat Berdayakan Difabel)
Biaya untuk pendorong kursi seperti Nasrul sekitar 300 riyal. Meski terlihat agak mahal, namun pelayanan yang diberikan pendorong kursi asal Indonesia menjadi niai tambah. Sementara pendorong kursi dari luar Indonesia, lebih murah tapi sering kali kurang ramah dan tidak familiar. Bagi Nasrul dan para pendorong kursi lainya, menjadi pendorong kursi jamaah umrah membawa kebahagiaan tersendiri. 

Apa yang dilakukan Khadimul Haromain, Raja Salman, adalah melayani tamu dengan sebaik-baiknya termasuk tamu yang difabel dan lanjut usia. Bahkan, mereka mendapat prioritas yang khusus. Apalagi, dalam Islam sendiri, orang difabel dan orang lanjut usia yang lemah diberikan rukhsah, keringanan dalam menjalankan syariat dalam batas-batas yang dimampuinya.

(Baca: Pemberdayaan Difabel Realisasi Hasil Munas NU 2017)

Sungguh, saya sangat terkesan dengan kota Makah dan Madinah yang sangat ramah pada orang lanjut usia dan difabel. Makanya, tidak boleh ada kerisauan dan kegalauan misalnya karena difabel tidak bisa haji dan umrah.

Bagi saya sendiri, umrah di bulan Ramadhan ini memberi kesan mendalam. Membuat saya ingin kembali bisa umrah lagi.

(KH MN Harisudin, Wakil Ketua LTNNU Jawa Timur, Pengurus Pondok Pesantren Kota Alif Laam Mim Surabaya, dan Dosen Pascasarjana IAIN Jember)                
Bagikan:
Ahad 27 Mei 2018 18:30 WIB
RAMADHAN DI LUAR NEGERI
Antusias Warga Tunis Sambut Lailatul Qadar
Antusias Warga Tunis Sambut Lailatul Qadar
Jakarta, NU Online
Malam ke-27 Ramadhan menjadi malam istimewa bagi masyarakat muslim Tunisia. Mereka meyakini pada malam itu sebagai lailatul qadar, sebagaimana anggapan orang-orang Maghrib. Masyarakat Tunis menyambutnya dengan antusias. Mereka berduyun-duyung ke masjid.

"Malam itu, masjid-masjid besar penuh orang yang shalat tarawih," kata Arina Falabiba, mahasiswi Universitas Zitouna kepada NU Online, Sabtu (26/5).

Lebih dari itu, mereka juga menyiapkan hidangan besar. Kuskus, makanan khas Tunis yang biasa disajikan saat hari khusus dan besar, pun disiapkan. Artinya, malam 27 Ramadhan merupakan hari khusus dan besar bagi mereka. Tak ayal, perempuan yang akrab disapa Fela itu pun kecipratan berkahnya.

"Dibagikan kepada kami orang Indonesia yang tinggal atau kos di rumah orang Tunis," ujarnya.

Meskipun malam ke-27 sangat ramai, penyambutan kedatangan Ramadhan sendiri tidak demikian halnya. Tidak ada penyambutan khusus dalam rangka menyongsong bulan yang dirindukan muslim dunia itu. "Tidak ada tradisi. Sama seperti hari-hari biasa," kata alumnus Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Yogyakarta, itu.

Tak seperti di Indonesia, Fela dan rekan-rekannya tak bisa menghabiskan waktu menjelang Maghrib dengan ngabuburit. Sebab, di sana tidak ada tradisi demikian. Bahkan, dari toko sampai supermarket tutup menjelang terbenamnya matahari itu. Suasana kota pun sepi seakan tak ada seorang pun di jalanan.

"Dan di sana justru suasana menjadi hening dan sepi. Gak ada satu orang pun berkeliaran di jalan. Toko-toko tutup, supermarket dan semua aktifitas di luar rumah terhenti," terangnya.

Mereka, kata perempuan asal Cirebon itu, akan kembali melakukan aktifitas menjelang shalat Isya. Terlebih pada malam tanggal ke-10 dan seterusnya, selepas Maghrib sekitar pukul 21.00, pasar tradisional akan sangat ramai sampai menjelang sahur. Mereka menjual aneka hiasan dan oleh-oleh khas Tunis. Bagi mereka, aktifitas malam di bulan Ramadhan sudah biasa dan lumrah.

"Itu sangat lumrah di kalangan masyarakat tunis jika masih ada aktifitas jual beli sampai larut malam hari di bulan Ramadhan," ucapnya.

Masyarakat Tunis berbuka dengan takjil makanan khas mereka, seperti khalawiyat, kurma, susu, citrun, 'asir (jus buah). Kemudian, baru mereka menikmati makanan pokok bagette, syurbah (sup gandum), brik (seperti risol, di Indonesia, di dalamnya ada kentang, keju, gouta).

Sementara itu, orang Indonesia, katanya, tetap manyantap nasi dan lauk pauk khasnya. Dengan keterbatasan bumbu dan sayur-mayur, ia dan rekan-rekannya mengolah bahan seadanya itu menjadi makanan Indonesia.

Puasa di negeri yang mengawali terjadinya revolusi Arab itu, kurang lebih menghabiskan waktu 16 jam dari jam 3.20 sampai 19.28. Lamanya puasa itu diperparah dengan suhu sekitar di atas 30 derajat.

"Sebab, puasa jatuh di musim panas maka bulan puasa jadi terasa lebih panjang," jelasnya.

Meskipun demikian, puasa tahun ini, katanya, masih lebih baik dari tahun lalu. Sebab, suhu udara pada Ramadhan tahun lalu mencapai 40 derajat. "Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang mencapai angka 40-an," katanya.

Di balik itu semua, diam-diam bersama rekannya yang juga asal Cirebon, Aisyah Kriyani, ia merindukan suara 'ting-ting' selepas shalat tarawih. Tentu bukan sekadar suaranya yang mereka rindukan. Bawaan orang yang membunyikan suara itu yang mereka harap bisa segera dinikmati dengan lahapnya.

"Tapi sesungguhnya kami sangat merindukan 'ting-ting' penjual makanan keliling sehabis tarawih," kata perempuan berdarah Pondok Pesantren Babakan, Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat itu.

Ia mengatakan bahwa lebih syahdu Ramadhan di Indonesia. "Ramadhan di Indonesia tentu jauh lebih syahdu," pungkasnya. (Syakir NF/Ibnu Nawawi)


Ahad 27 Mei 2018 15:30 WIB
RAMADHAN DI LUAR NEGERI
Pasar Mong Kok, Pusat Oleh-oleh di Hong Kong
Pasar Mong Kok, Pusat Oleh-oleh di Hong Kong
Pasar Mongkok, Hong Kong.
Oleh: H Khumaini Rosadi

"Jangan lupa beli oleh-oleh ya! Minta tempelan kulkas dong, yang ada tulisan Hong Kong. Saya mau koleksi tempelan kulkas dari luar negeri, yang Belanda dan Italia sudah punya," begitu pesan Ismiarni, salah satu teman saya di SMA YPK Bontang Kalimantan Timur.

"Nitip gantungan kuncinya yah, yang khas Hong Kong," kata-kata serupa itu juga pasti selalu ada di setiap komentar postingan facebook, whatsapp, line, atau secara langsung diucapkan setelah merek tahu bahwa saya ke Hong Kong selama Ramadhan.

Oleh-oleh atau buah tangan adalah tanda mata untuk diberikan kepada teman agar turut mendapatkan cipratan kebahagiaan dari jalan-jalan temannya. Hukum membawa oleh-oleh tidak wajib, tetapi lebih baik membawa meskipun hanya sebatas tempelan kulkas saja. Tidak harus mahal. Tidak harus besar. Yang murah-murah saja, atau yang lucu-lucu. Oleh-oleh ini juga merupakan bentuk perhatian kepada teman karena sudah turut mendoakan agar perjalanannya lancar dan bisa memberikan manfaat.

Teringat hal itu, Kamis (24/5), saya berjalan-jalan ke Mong Kok. Mong Kok dikenal dengan ladies market, pasarnya perempuan. Pasalnya yang banyak belanja di sana adalah perempuan, meskipun ada juga laki-laki yang ikut berbelanja. Tidak jauh beda dengan pasar malam yang ada di sudut-sudut kota Jakarta. Sempit, panas, tapi banyak pilihan. Kalau mau beli oleh-oleh murah khas Hong Kong, di sinilah tempatnya. Para Buruh Migran Indonesia (BMI) pun kalau mau pulang ke Indonesia, mereka datang ke sini untuk memborong oleh-oleh sebagai tanda mata buat orang-orang yang tersayang. 

(Baca: Kerja Keras BMI di Hong Kong Pertahankan Iman)
Saya pergi ke sana tidak sendirian, karena saya ditemani oleh teman, dai Ambassador 2018 yang bertugas di Hong Kong. Lalu ada Zulfirman dan Eva Muzlipah. Serta Bu Qomariah, BMI asal Madiun yang akan pulang ke Indonesia dan tidak kembali lagi ke Hong Kong. Dia bilang ingin fokus mengurus keluarga di Indonesia.

Mongkok, terletak di Tung Choi Street. Perjalanan ke Tung Choi ditempuh dengan transportasi MTR (Mass Transit Railway) atau kereta cepat bawah tanah. Dari Causeway Bay naik MTR menuju Admiralty, lanjut lagi menuju Mongkok. Ongkos naik MRT menuju ke sana pun terbilang murah, sekitar $2,3 DHK. Seperti naik busway di Jakarta, selama belum keluar, masih di dalam batasan area masuk, tidak ada biaya tambahan.

(Baca: BMI Hong Kong Shalat di Taman Victoria)
Pedagang di Mong Kok rata-rata bisa sedikit-sedikit berbahasa Indonesia. Setiap transaksi pedagang menunjukkan harga dengan kalkulator. Tawar menawar pun dilakukan dengan menunjukkan angka jadi di kalkulator. Barang-barang yang dijual pun bermacam-macam. Mulai asesoris HP sampai asesoris mobil, pernak-pernik perempuan, tas-tas koper, dan pakaian-pakaian.

Kalau jago menawar, maka akan mendapatkan barang bagus dengan harga terjangkau. Ketika melihat bandrol harga tempelan kulkas 5 pcs seharga $25 DHK/Dollar Hongkong, saya berusaha menawar. Setelah terjadi tawar menawar harga, jadilah 5 pcs itu seharga $17 DHK. Akhirnya saya membeli 65 pcs tempelan kulkas itu seharga $200 DHK.

Dengan membawa oleh-oleh sehabis bepergian, akan menjadi pengikat keakraban dengan teman-teman. Tetapi, membawanya oleh-oleh ini jangan sampai menimbulkan kesombongan apalagi sampai penghinaan kepada teman. Saya membeli oleh-oleh itu dengan niatan menjaga silaturahmi. Sebagaimana makna silaturahmi yang berasal dari kata silatun yang berarti mengumpulkan, dan rahmun yang berarti bingkisan. Maka ketika kita mau bersilaturahmi kepada teman setelah berpergiaan yang menyenangkan, datanglah dengan bingkisan, oleh-oleh.

Penulis adalah Corps Dai Ambassador Dompet Dhuafa (Cordofa), Tim Inti Dai Internasional dan Multimedia (TIDIM) LDNU yang ditugaskan ke Hong Kong.

Ahad 27 Mei 2018 6:0 WIB
RAMADHAN DI LUAR NEGERI
BMI Hong Kong Shalat di Taman Victoria
BMI Hong Kong Shalat di Taman Victoria
Minimnya masjid di Hong Kong membuat BMI memanfaatkan tempat umum termasuk Taman Victoria untuk shalat
Oleh H Khumaini Rosadi


“Waju’ilatul ardlu masjidan.” Dan dijadikan untukku dan umatku, bumi sebagai masjid. (H.R. Bukhari Muslim).

Salah satu keistimewaan yang diberikan kepada umat Nabi Muhammad SAW adalah seluruh permukaan bumi yang suci bisa dijadikan masjid, boleh dipakai untuk tempat shalat. Dalam istilah ilmu sharaf, masjid berasal dari sajada (fi’il Madli atau kata kerja yang menunjukkan arti telah bersujud)–yasjudu fi’il mudlori’ atau kerja yang menunjukkan arti sedang bersujud) – sajdan (isim mashdar atau kata dasar yang menunjukkan arti perbuatan sujud). Masjid adalah isim makan atau kata yang menunjukkan arti tempat bersujud.

Masalahnya sekarang di Hong Kong jarang sekali ada masjid. Tercatat masjid Hong Kong hanya ada di Tsim Sa Tsui-Kowloon, Masjid Ammar di Wanchai, Masjid Stanley–Chai Wan di kawasan penjara kasus berat narapidana Hong Kong, dan Masjid Jamia di Central yang merupakan masjid tertua di Hong Kong yang dibangun tahun 1840.

Masjid-masjid tersebut, jika ditempuh dari Victoria Park, tempat Buruh Migran Indonesia (BMI) berkumpul, sangat jauh. Harus naik MTR (Mass Transit Railway)–kereta cepat bawah tanah, atau teng-teng diteruskan dengan bus. Sedangkan durasi perjalanan memberikan pengajian membutuhkan minimal tiga jam sampai enam jam. Tiga jam jika dekat dengan Causeway Bay. Enam jam jika letaknya di Yuen Long. Saya dan tim ditempatkan di kawasan Causeway Bay.

Victoria Park adalah tempat favorit berkumpulnya para BMI. Di sini, mereka bisa mengekspresikan diri, baik untuk mengisi hari libur, nongkrong-nongkrong sambil menggelar terpal, ber-selfie dan ber-video call dengan saudara di tanah air Indonesia. Jumat (25/5) siang cuacanya panas sekali. Sebelum shalat Jumat saya mendapatkan pesan WA untuk mengisi pengajian di Victoria Park. Permintaan dadakan. Tidak terdaftar pada jadwal sebelumnya.

Bu Neni, koordinator Dakwah Dompet Dhuafa memberi saya nomor kontak ketua pengajian, Bu Tina, BMI asal Klaten Jawa Tengah yang sudah dua tahun lebih bekerja menjaga nenek-nenek di Hongkong.

Pengajian digelar dimulai pukul 14.00 sampai pukul 17.00, diselingi dengan tanya jawab dan shalat ashar berjamaah. Berbeda dengan jamaah pengajian di tempat lain, shalat berjamaah ashar pun dilakukan di sini, di taman Victoria. Bukan di ruangan khusus. Bukan di ruangan tertutup. Shalat yang dilakukan di ruangan publik ini membuat banyak orang yang lalu lalang berkeliaran melihat pengajian dan shalat berjamaah yang tidak biasa ini.

(Baca: Kerja Keras BMI di Hong Kong Pertahankan Iman)
Victoria Park sendiri berada di seberang jembatan Library Hong Kong dan Halte bus Causeway Bay. Victoria Park tertata rapi dengan rimbunan pohon dan suara-suara burung merpati di sekelilingnya. Pantas saja menjadi serbuan para BMI untuk mencari tempat teduh sekalian mengadakan acara apa saja.

Semua aktivitas BMI di taman itu selalu dipantau oleh satpam. Jika ada yang sampai tertidur di taman ini, akan segera dibangunkan oleh penjaga tersebut. Ratusan bahkan ribuan BMI setiap akhir pekan berkunjung ke sini. Seperti apa yang disampaikan oleh Ana, BMI asal Indramayu yang sudah berpengalaman juga bekerja di Singapura.

BMI lebih memilih pengajian di tempat-tempat terbuka karena memang belum punya masjid sendiri, dalam hal ini yang disebut masjid Indonesia. Sementara ada masjid, mayoritas pengurus dan jamaahnya orang-orang Bangladesh. Itu pun letaknya sangat jauh. "Di sinilah kami sempatkan untuk berbuat kebaikan untuk mencari ilmu dan mengamalkan ajaran Islam," ungkap Ibu Tina, Ketua Pengajian di Victoria Park.

(Baca: Alasan Majikan di Hong Kong Khawatirkan BMI Berpuasa)
Begitulah usaha para BMI untuk mengisi Ramadhan. Meskipun di ruang terbuka, rasa malu di buang jauh-jauh. Tidak bosan-bosannya mereka mengajak teman-teman yang lain untuk ikut bergabung dalam pengajian ini. Lagi-lagi saya berdoa untuk mereka. Semoga mereka dikuatkan dan selalu diberikan kesabaran dalam menjaga dan mengamalkan ajaran Islam.

Penulis adalah Corps Dai Ambassador Dompet Dhuafa (Cordofa) anggota Tim Inti Dai Internasional dan Multimedia (TIDIM) LDNU yang ditugaskan ke Hong Kong.

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG