::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Oase Al-Qur’an (6) Misteri Ibadah Ta’abudi, Akal Manusia Tak Memahaminya

Ahad, 27 Mei 2018 07:00 Nasional

Bagikan

Oase Al-Qur’an (6) Misteri Ibadah Ta’abudi, Akal Manusia Tak Memahaminya
Jakarta, NU Online 
Rais Majelis Ilmy Pimpinan Pusat Jam'iyyatul Qurro' Wal Huffadz Nahdlatul Ulama (JQHNU) KH Ahsin Sakho Muhammad mengatakan macam Ibadah jika dilihat dari jenisnya terbagi menjadi dua yaitu: ta'abbudi dan ta'aqquli.

Menurut dia, ta'abbudi artinya ibadah yang akal manusia tidak mengerti tentang maksud disyari'atkannya satu bentuk peribadatan seperti  jumlah rakaat pada shalat fardlu, yaitu ada yang 2 rakaat untuk Shalat Subuh, 3 rakaat untuk Shalat Magrib dan 4 rakaat untuk Shalat Dhuhur, Asar dan Isya. 

Atau, lanjutnya, kenapa setiap rakaat hanya satu ruku' dan dua sujud. Atau mengerjakan thawaf, sa'i, melontar jumrah ula, wustha dan 'aqabah masing 2 7 lontaran, atau mencukur rambut ketika tahallul dari ibadah haji atau umrah dan lain-lain. 

Pekerjaan-pekerjaan tersebut, sambungnya, jika diamati, sukar bagi akal untuk mencernanya, walaupun jika di cari-cari hikmahnya mungkin bisa seperti thawaf sebagai lambang kedekatan seorang dengan Sang Khalik. Atau sa'i sebagai lambang usaha maksimal manusia untuk mencari penghidupan. Melontar jumrah sebagai lambang perang terhadap setan  dan lain-lain. 

“Tetapi tetap saja semua itu masih mesteri. Ibadah seperti ini jelas lebih menitikberatkan pada ketaatan seorang hamba kepada Sang Khalik,” ungkapnya, Sabtu (26/5).

Menurut dia, sahabat Ali pernah berkata: jika agama itu harus bisa dicerna oleh akal, maka mengusap bagian bawah dari khuf (sejenis sepatu laras agak panjang) ketika berwudlu lebih berhak diusap dari mengusap bagian atasnya. Karena bagian bawah dari khuf adalah yang menyentuh tanah.

“Seorang hamba Allah yang taat akan melakukan apa saja yang diperintahkan oleh Allah, apakah dia mengetahui hikmahnya atau tidak. Bahkan dia tidak peduli lagi berapa pahala yang akan dia peroleh dari Allah. Orientasi ibadahnya hanya menuruti perintah Zat yang dia cintai,” pungkasnya. (Abdullah Alawi)